Pengolahan Limbah Buah-Buahan Menjadi Pupuk Organik Cair

Sampah merupakan bahan yang sudah tidak terpakai atau tidak dapat dipergunakan kembali. Buah-buahan pada umunya hanya dimanfaatkan daging buahnya saja dan kemudian sisanya menjadi sampah seperti kulit dan bijinya, hal tersebut menyebabkan sampah buah-buahan menjadi melimpah. Sampah buah-buahan biasanya hanya dibuang saja tanpa dilakukan pengelolaan lebih lanjut sehingga seringkali timbul gangguan lingkungan seperti munculnya bau yang tidak sedap serta muncul berbagai penyakit. Sampah buah-buahan tersebut sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik cair apabila dikelola dan diolah dengan baik.

Pupuk organik cair merupakan larutan yang dihasilkan dari pembusukan limbah berbahan organik seperti sisa tanaman, sisa buah-buahan dan sayuran, kotoran hewan dan manusia yang memiliki kandungan unsur hara lebih dari satu unsur. Pupuk organik cair memiliki bebarapa kelebihan diantaranya dapat mengatasi defesiensi hara dan menambah hara (N dan P), dapat lebih mudah diserap oleh tanaman, dapat membantu proses pelapukan bahan mineral, dapat meningkatkan kapasitas tukar kation serta dapat meningkatkan pengikatan antar partikel sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman. Pupuk organik cair tidak menimbulkan kerusakan tanah dan tanaman walaupun sering digunakan berbeda dengan pupuk anorganik cair. Manfaat pupuk organik cair dapat dilihat dari hasil panennya misalnya pada tanaman sayuran, tanaman sayuran yang menggunakan pupuk organik memiliki hasil yang lebih segar, enak dan daya simpannya lebih lama, hal tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik cair dapat meningkatkan kualitas hasil panen.

Pembuatan pupuk organik baik padat maupun cair pada dasarnya adalah dekomposisi yang memanfaatkan aktivitas mikroba, oleh karena itu tingkat penguraian dan kualitas kompos yang didapat tergantung kepada lingkungan dan jenis mikroorganisme yang aktif pada saat proses pengomposan. Penambahan bioaktivator EM4 (Effective Microorganisms) pada limbah organik buah-buahan dapat menghasilkan pupuk organik cair biasanya dilakukan dalam wadah yang disebut komposter. EM4 merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan pupuk organik yang dapat meningkatkan kualitasnya. Selain itu, EM4 juga dapat digunakan untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah, sehingga dapat lebih memenuhi kebutuhan hara tanaman. Dengan digunakannya EM4, tanaman akan menjadi lebih sehat dan lebih subur serta relatif tahan terhadap hama dan penyakit. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM4 berpengaruh baik terhadap kualitas pupuk organik, dan waktu yang dibutuhkan bakteri untuk mengurai limbah sangat mempengaruhi pemanfaatan unsur hara dalam pupuk organik (Yuwono, 2006).

Proses fermentasi bahan organik dilakukan pada kondisi semi anaerob dengan pH rendah sekitar 3-4, kadar garam dan gula tinggi, kadar air sedang 30-40%, adanya mikroorganisme fermentasi, dan suhu sekitar 40-50oC (Indriani, 2002). Bahan organik yang berupa kulit buah-buahan kemudian difermentasi atau dikomposkan untuk menghasilkan pupuk organik cair. Air Lindi dihasilkan dari proses pemisahan bahan organik yang berbentuk padat dan dan cair pada saat pengomposan (Marjenah et al, 2018). Air lindi yang dihasilkan mengandung mikroorganisme yang dapat menguraikan bahan organik (Hanafi et al., 2014). Adapun cara melakukan pengomposan/pengolahan sampah buah-buahan menjadi pupuk cair dilakukan sebagai berikut:

  1. Memilah sampah organik dan mengumpulkan sampah buah;
  2. Potong-potong sampah berukuran besar, contohnya batang buah atau kulit buah yang keras, agar pembusukan dapat berjalan secara sempurna;
  3. Siapkan cairan bioaktivator untuk mempercepat proses pembusukan. Pembuatan larutan bioaktivator dilakukan dengan mencampurkan air dengan bioaktivator dengan perbandingan 1 liter air dicampur dengan bioaktivator sebanyak 1-2 tutup botol, kemudian larutan tersebut dikocok sampai merata didalam sprayer. Air yang digunakan pada pembuatan larutan bioaktivator sebaiknya menggunakan air sumur karena tidak mengandung kaporit. Adapun apabila menggunakan air PAM, air tersebut sebaiknya didiamkan selama satu malam agar kandungan kaporitnya dapat menguap;
  4. Setelah sampah dikumpulkan dan dipotong-potong, semprotkan larutan bioaktivator hingga merata ke seluruh sampah. Tuangkan sampah tersebut ke dalam komposter dan tutup rapat; serta
  5. Pupuk cair atau lindi baru dapat dihasilkan oleh komposter setelah dua minggu pada awal pemakaian, sedangkan untuk pemakaian selanjutnya setelah 2-3 hari lindi sudah dapat dihasilkan.

Selain itu, yang harus diperhatikan dalam pembuatan pupuk organik adalah rasio perbandingan C/N dari bahannya. Rasio C/N merupakan perbandingan nilai antara karbon dan nitrogen yang terdapat didalam bahan. Mikroba memanfaatkan karbon sebagai sumber energi sedangkan nitrogen digunakan untuk sintesis protein. Bahan organik segar pada umumnya memiliki nilai C/N yang relatif tinggi seperti daun-daunan >50 tergantung dari jenisnya; cabang tanaman 15-60 tergantung jenisnya; jerami padi sebesar 50-70; kayu yang telah tua dapat mencapai 400. Nilai C/N yang dapat diserap atau digunakan langsung oleh tanaman harus sama ataupun mendekati nilai C/N pada tanah yaitu sebesar 10-12 sehingga prinsip yang digunakan dalam pengomposan limbah buah-buahan yaitu menurunkan nilai C/N. Penurunan rasio C/N terjadi dari pelepasan CO2  ke udara oleh mikroorganisme sehingga terbentuknya ammonium menjadi nitrat selama dekomposisi yang menyebabkan nilai Ntotal menjadi naik dan nilai C-Organik menjadi turun. Nilai rasio C/N yang didapatkan juga tidak boleh terlalu rendah karena nilai C/N yang terlalu rendah dapat mengakibatkan kualitas pupuk kompos menurun dikarenakan kemampuan mikroorganisme terbatas dalam mengikat nitrogen bebas yang dilepaskan dalam bentuk gas NH3 (Nur et al, 2018).

Limbah buah-buahan menghasilkan air lindi yang memiliki kandungan konsentrasi senyawa nitrogen yang tinggi. Kandungan senyawa nitrogen yang tinggi ini dapat mengancam kehidupan apabila telah melewati standar atau baku mutu yang sudah ditetapkan. Pengolahan limbah air lindi perlu dilakukan dalam hal ini agar kandungan senyawa nitrogen yang tinggi dapat berkurang. Tahapan penting yang dapat dilakukan untuk menurunkan senyawa nitrogen secara biologis terdiri dari dua tahap yaitu proses asimilasi dan nitrifikasi-denitrifikasi. Asimilasi mengacu pada penggunaan amonia yang yang dilakukan oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk massa sel baru sehingga dapat meningkatkan kandungan nitrogen organik, sedangkan nitrifikasi-denitrifikasi bentuk-non asimilasi dimana amonia dioksidasi oleh bakteri kemoautotrof menjadi nitrit (NO2) dan nitrat (NO3), proses ini disebut nitrifikasi. Proses selanjutnya denitrifikasi, denitrifikasi merupakan pengurangan nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) yang dihasilkan menjadi gas nitrogen (N2) yang dilakukan oleh bakteri heterotrof. Pengolahan secara biologis yang terdiri dari proses nitrifikasi dan denitrifikasi, pada saat proses nitrifikasi mikroorganisme tumbuh secara tersuspensi dan berkembang dalam keadaan aerob, sedangkan pada saat proses denitrifikasi mikroorganisme tumbuh didalam suatu media pendukung dan pertumbuhan terjadi pada keadaan anaerob (Purbokuncoro, 2002).

 

Sumber Referensi:

Hanafi, Y., & Ocatvia, B. (2014). Pengaruh Penambahan Air Lindi terhadap Laju Dekomposisi Sampah Daun yang dikomposkan dalam Vessel. J. Bioedukatika2(2), 28.

Indriani, Y. H. (2002). Membuat kompos secara kilat Cet.4 Penebar Swadaya Grup.

Marjenah, M., Kustiawan, W., Nurhiftiani, I., Sembiring, K. H. M., & Ediyono, R. P. (2018). Pemanfaatan limbah kulit buah-buahan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair. ULIN: Jurnal Hutan Tropis1(2).

Nur, T., Noor, A. R., & Elma, M. (2018). PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DENGAN BIOAKTIVATOR EM4 (Effective Microorganisms). Konversi5(2), 5-12.

Purbokuncoro, A. (2002). Pengolahan limbah leachate melalui proses nitrifikasi denitrifikasi dengan menggunakan continous flow reaktor yang bermedia polyrethane. SKRIPSI-2002.

Yuwono, T. (2006). Kecepatan dekomposisi dan kualitas kompos sampah organik. Jurnal inovasi pertanian4(2), 116-123.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *