Penggunaan Terasering dan Rorak sebagai Upaya Pengendalian Erosi pada Lahan Kelapa Sawit

Lahan di Indonesia semakin berkurang, peralihan lahan dari sawah menjadi kawasan industri dan kota serta cadangan pangan masyarakat Indonesia menjadi berkurang setiap tahunnya, untuk mengatasi hal tersebut pemerintah berupaya memanfaatkan lahan tidur berupa lahan kering dan lahan rawa. Usaha budidaya pertanian dan perkebunan  memiliki dua tujuan yang pertama dalam meningkatkan produktivitas yang setinggi-tingkginya dan yang kedua adalah mendapatkan margin keuntungan yang sebesar-besarnya. Jika tanah mengalami degradasi otomatis akan menurunkan produksi yang dapat dihasilkan, oleh sebab itu usaha untuk pengawetan atau konservasi tanah itu harus selalu terus-menerus dilakukan agar tanah tetap bisa berproduksi secara berkelanjutan. Konservasi merupakan sebuah cara untuk memperbaiki atau mengawetkan tanah dan air, Perlakuan pada bidang tanah akan berpengaruh pada tata air sehingga konservasi tanah dan air berhubungan erat (Arsyad, 2006).

Tujuan dilakukannya pengolahan tanah yaitu untuk mengemburkan tanah, kemudian sistem perakaran untuk jalur efektif akan diperdalam, daya antar air dan udara dipermudah (Notohadipawiro, 2000). Konservasi tanah dilakukan terutama untuk  meningkatkan kesuburan tanah. Masalah yang sering terjadi yaitu erosi pada lahan. Erosi merupakan suatu kejadian disebabkan oleh aktivitas manusia yang disebabkan oleh tataguna lahan yang buruk, penebangan hutan, pembukaan lahan, kegiatan kontruksi yang tidak tertata. Kecepatan aliran semakin cepat jika lereng semakin curam sehingga dugaan erosi semakin besar. Jika suatu lahan diukur menunjukan lahan yang digunakan memiliki kemiringan terjal berkisar 25-40% dimana lahan tersebut memiliki potensi besar terjadinya erosi. Mengurangi terjadinya erosi bisa dengan metode konservasi tanah diantaranya dengan metode vegetatif seperti penghijauan, metode mekanik seperti terasering, metode kimiawi dengan penambahan zat kimia pada tanah. Pencegahan biasanya dilakukan dengan  salah satunya memperbesar vegetasi pada lahan tersebut atau menggunakan metode vegetative,  mekanik dan kimiawi. Manajemen lahan yang baik seharusnya dapat memperhatikan penerapan teknologi observasi tanah yang lengkap dan sesuai dengan petunjuk teknis serta berkesusaian dengan prinsip analisis mengenai dampak lingkungan. Gerakan tanah atau yang sering dikenal dengan erosi yang terjadi dengan adnaya pergerakan batuan berupa massa atau tanah yang umumnya terjadi menjadi longsor.

Penanaman kelapa sawit telah berlangsung lama di Indoneisa, kelapa sawit sangat berperan sebagai devisa negara, sekaligus memberikan kerja kepada petani (Yahya, 1990). Jika dilakukan penanaman kelapa sawit pada lahan miring, dugaan erosi akan besar atau beresiko terjainya erosi, erosi akan terjadi jikan tidak dilakukan pengendalian atau pecegahan. Konservasi tanah pada lahan penanaman kelapa sawit perlu dilakukan, karena tidak semua areal lahan itu datar. sehingga perlu dilakukan sebuah usaha yang namanya konservasi. Perubahan pola maupun frekuensi curah hujan ini dapat menyebabkan degradasi lahan sedangkan degradasi lahan sendiri menyebabkan menurunnya produksi oleh karena itu perlu teknik konservasi yang tepat untuk menangani penurunan maupun peningkatan pola curah hujan. Kekeringan yang terjadi, defisit air, kemudian banjir, erosi dan eutrofikasi merupakan faktor yang menyebabkan degradasi lahan, kemudian dengan terjadinya pengurangan deficit air dapat menurunkan produksi buah segar (Siregar et al., 2005). Run off dapat menyebabkan erosi sehingga kesuburan tanah akan hilang, lapisan tanah tersebut mengandung bahan organik dan unsur hara N dan P  (Mihara and Ueno, 2000). Teknik konservasi yang dapat dilakukan yaitu dengan teknik konservasi mekanik, salah satunya yaitu dengan pembuatan teras di areal yang memiliki kemiringan lebih dari 25 derajat, bisa berupa terasering maupun rorak. Pembuatan teras  dan rorak salah satu upaya untuk mencegah erosi maupun kekeringan defisit air karena perubahan curah hujan tersendiri selain berfungsi sebagai pencegah erosi juga bisa dipakai sebagai akses panen memudahkan untuk evakuasi produksi. sedangkan rorak juga bisa untuk menjaga kelembaban tanah atau persediaan air pada saat musim kemarau atau defisit air. Terasering itu adalah kegiatan penanaman di lahan-lahan dengan kemiringan diatas 30º. Sekitar tahun 1995, lahan-lahan itu dibuat menjadi terasering kemudian berubah menjadi lahan yang langsung ditanam dengan membujur ke bawah hal ini diakibatkan oleh adanya pengaruh dari satu metode penanaman seperti penanaman kentang dan tanaman sayur mayur secara langsung membujur ke bawah dengan tujuan adalah untuk mendapatkan kuantitas hasil sayur yang lebih banyak, namun metode penanaman ini akan berakibat kepada terjadinya erosi di lahan lahan tersebut dan menjadi tingkat sedimentasi di sungai semakin tinggi. Terasering merupakan salah satu upaya yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya longsor ataupun erosi dari lahan-lahan yang memiliki nilai kemiringan di atas 30º.

Sengkedan atau terasering merupakan upaya dalam pengendalian erosi pada lahan kelapa sawit sehingga akan dapat dilakukan penanaman dan merupakan salah satu cara dalam pemanfaatan lahan yang miring. Lahan yang cocok untuk pembuatan terasering atau sengkedan biasanya di daerah yang tanahnya berbentuk perbukitan atau gunung ada empat bentuk terasering disesuaikan dengan kemiringan lahan, pembuatan sengkedan biasanya dilakukan dengan kondisi lahan tersebut, adanya parit kecil pada sengkedan untuk menahan laju air. Dengan pengendalian pembuatan teras gulud, rorak yang dilengkapi dengan mulsa vertiKal (biopori) menyebabkan jumlah tanah yang hanyut daLam aliran menurun atau terdapat tekanan pada jumlah tanah yang hanyut tersebut, sehingga lahan tanaman sawit akan terjaga (Murtilaksono et. Al., 2011).

Menurut(Priyono,et al., 2002) rorak atau parit buntu merupakan suatu teknik konservasi tanah dan air dengan cara membuat lubang-lubang buntu dimana lubanglubanng buntu tersebut dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah, sedimen dari bidang olah dapat ditampung, dengan tujuan pembuatan lubang-lubang buntu tersebut supaya persedian air meningkat, dapat menahan tanah supaya tidak terjadi erosi.

Cara membuat rorak:

  1. Pembuatan rorak dapat dilakukan di area lahan pada bagian lereng atas yang sejajar engan kontur;
  2. Panjang dari rorak sekitar antara 50-200 cm, memiliki lebar 25-50 cm, dan kedalaman 30-60 cm; dan
  3. Pada lubang lorak tersebut dapat diisi dengan mulsa slot suoaya untuk mengurangi sedimentasi dan dapat meningkatkan kesuburan tanah.

Pembuatan lorak dapat mengurangi luas lahan karena terjadi pembuatan rorak denngan ukuran tertentu. Erosi tanah yang tidak mengenal fenomena alam ini terjadi pelan-pelan sedikit demi sedikit namun dampaknya akan dirasakan oleh banyak pihak erosi mengakibatkan degradasi lahan dan sungai dengan terkikisnya unsur-unsur hara yang penting bagi tanaman selain itu juga menyebabkan pendangkalan sungai dan waduk. Dengan pengendalian secara mekanik berupa teraseringm dan pembuatan rorak akan meminimalisis terjadinya erosi dan defisit air pada lahan kelapa sawit, sehingga produksi kelapa sawit akan stabil atau meningkat.

 

Daftar pustaka:

Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bandung: Penerbit IPB (IPB Press).

Mihara, M and T. Ueno. 2000. Nitrogen and phosporus transfer in soil erosion processes. Proceeding of The Role of Erosion and Sediment Transport in Nutrient and Contamination transfer. Waterloo, Canada.

Murtilaksono K, W.Darmosarkoro, E.S.Sutarta, H.H. Siregar, Y. Hidayat, and M.A.Yusuf. 2011. Feasibility of Soil and Water Conservation Techniques on Oil Palm Plantation. Journal of Agricultural Science 33(1).

Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Pusat Studi Sumberdaya Lahan UGM.

Priyono et al. 2002. Panduan Kehutanan Indonesia. Indonesia.

Yahya, S. 1990. Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 52 hal.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *