Penggunaan Irigasi Curah Otomatis untuk Lahan Kering

Irigasi merupakan proses pemberian air secara buatan pada tanah yang diolah dengan sistematis. Irigasi ini mempunyai tujuan agar tanaman yang ditanam pada suatu lahan dapat terpenuhi kebutuhan airnya, tidak hanya mengandalkan air alami yang didapatkan ole tanaman seperti hal nya dari pasokan air hujan atau air tanah. Hal ini dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh secara optimal dan terhindar dari kekeringan atau kekurangan air. Irigasi ini juga diharapkan sampai pada kondisi pF (retensi lengas tanah) antara 2.54 (kapasitas lapang) sampai dengan 4.2 (titik layu permanen). Kondisi pF dibawah 2 akan mengakibatkan genangan dan perkolasi pada lahan tanam, jika diatas 4.2 maka tanaman sudah tidak dapat menyerap air lagi dari tanah sehingga tanaman akan layu nantinya. Pemberian air atau irigasi terbagi menjadi empat metode, yaitu: irigasi permukaan, irigasi bawah permukaan, irigasi curah, dan irigasi tetes (Tusi, 2016).

Irigasi curah merupakan salah satu metode pemberian air pada lahan. Irigasi curah merupakan pemberian air irigasi pada lahan yang lebih efisien dibandingkan dengan irigasi permukaan dengan menggunakan pipa-pipa bertekanan tinggi untuk mencurahkannya ke udara dalam bentuk butiran yang hampir mirip dengan hujan. Komponen yang mendukung dalam pembuatan sistem irigasi curah ini antara lain: sprinkler yang berguna untuk keluaran air yang akan dicurahkan ke lahan yang akan diberikan air, pipa yang digunakan sebagai media air mengalir dari sumber air sampai ke sprinkler, pompa air yaitu berfungsi untuk mengalirkan air atau menekan air dari sumber ke sprinkler sehingga air akan terdistribusi ke lahan dengan jarak yang dikehendaki. Penambahan sistem otomatisasi akan memudahkan petani dalam pemberian air. Hal ini dikarenakan petani tidak harus selalu ke lahan untuk melakukan proses irigasi, namun diatur otomatis dengan program waktu yang telah ditetapkan sesuai hasil penelitian terkait dengan kebutuhan air pada tanaman yang ditanam, atau dapat juga dengan sensor yang diletakan pada lahan untuk mengukur kondisi pF atau lengas tanah (Saptomo, 2013).

Sistem irigasi curah cocok diterapkan untuk kondisi lahan yang kering serta lingkungan yang mengalami kekurangan sumber air dan memerlukan pasokan air yang memadai untuk kebutuhan tanaman. Daerah yang termasuk lahan kering biasanya hanya mengandalkan air hujan sebagai pengairannya karena sangat sulit untuk mendapatkan sumber air untuk irigasi. Sistem ini juga sangat tepat digunakan pada saat musim kemarau dimana air sulit sekali didapatkan, dan air yang tersedia harus cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman agar tetap mengalami pertumbuhan yang optimal. Sistem irigasi curah merupakan teknologi irigasi yang hemat air yang disuplai lebi dari 85% serta mampu meningkatkan keseragaman irigasi. Salah satu keuntungan yang didapatkan dalam penggunaan sistem ini adalah cocok digunakan pada kondisi lahan baik yang bergelombang maupun datar, hanya saja hal ini harus disesuaikan dengan sprinkler yang digunakan sehingga proses pemberian air tetap optimal. Kekurangan dari metode ini yaitu biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk permulaan sangat mahal bagi ukuran petani kecil (Fajar, 2019).

Sistem kontrol otomatis dapat membantu untuk meringankan beban petani, serta akan lebih terukur dalam pemberian air yang dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini dikarenakan dapat dipasangkan sensor untuk mengukur pF atau lengas tanah, sehingga apabila kondisi pF tanah lebih dari nilai yang ditetapkan maka irigasi akan diberikan. Otomatisasi ini juga menjadikan petani dapat fokus untuk mengecek kinerja irigasi saja dan komponen-komponen dalam sistem irigasi. Kontrol otomatis ini dapat menggunakan mikorkontroller yaitu Arduino, serta dapat dihubungkan ke komputer agar petani dapat memantau kinerja sistem irigasi berbasis otomatis ini.  Arduino UNO dapat digunakan yang merupakan pengendali mikro yang mudah digunakan. Aktuator dipasang sebagai elemen kendali yang akan merespon data dari sensor yang pada rancangan ini dapat menggunakan relay sebagai pemotong dan penyambung arus ke pompa. Pembuatan program sangat dibutuhkan untuk mengendalikan sistem otomatis yang digunakan, dimana dalam program ini diatur agar apabila nilai lengas tanah lebih dari yang dikehendaki maka sistem irigasi akan berjalan. Apabila nilai lengas tanah kurang dari yang dikehendaki maka sistem irigasi tidak berjalan. Nilai pF tanah atau lengas tanah ini didapatkan dari hasil penelitian nilai setpoint yang diperoleh dari pengujian sampel tanah (Saptomo, 2013).

Irigasi curah dapat didesain menurut Tusi, 2016 yaitu:

  1. Penentuan tata letak jaringan irigasi curah yang menyesuaikan dengan kondisi lahan yang digunakan
  2. Pipa lateral dipasang tegak lurus arah angin utama dan sejajar dengan kontur lahan
  3. Pemasangan pipa lateral diutamakan menuruni lereng karena akan memberikan keuntungan dalam hal gaya gravitasi, dan menghindari pemasangan pipa lateral yang naik sejajar dengan lereng
  4. Memasang saluran utama naik turun atau sejajar dengan lereng
  5. Disarankan memasang saluran lateral disekeliling saluran utama
  6. Apabila memungkinkan pasang sumber air ditengah-tengah area rancangan

Jumlah sprinkler yang beroperasi atau yang digunakan dalam rancangan sistem irigasi, kondisi angin, topografi, dan posisi lateral, merupakan hal yang harus diperhatikan agar sistem irigasi mempunyai tata letak yang ideal.

Kinerja dari sistem irigasi yang perlu diperhatikan agar sistem irigasi curah yang didesain sesuai dengan kondisi lahan dan tanaman. Debit sprinkler, ini merupakan volume air yang keluar dari sprinkler. Semakin banyak debit air maka semakin banyak pola air yang diberikan pada lahan. Kedua , jarak semburan yaitu jauh dekatnya butiran air jatuh ke lahan yang dihembuskan ke udara terlebih dahulu. Hal yang memengaruhi jarak ini yaitu tekanan dari pompa dan juga bukaan dari lubang nozel. Ketiga, pola distribusi yaitu pola yang terbentuk dari jatuhnya air oleh hembusan sprinkler pada lahan. Nozel yang dijalankan dengan tekanan rendah biasanya membentuk pola seperti donat, sedangkan yang dijalankan dengan tekanan tinggi biasanya membentuk pola segitiga. Laju penyiraman, yaitu laju jatuhnya air ke permukana lahan yang dihembuskan oleh sprinkler atau lubang nozel. Ukuran butir, merupakan besarnya ukuran air yang disemprotkan oleh nozel. Ukuran butiran air ini ditentukan oleh diameter bukaan nozel, namun semakin besar butiran air yang disemprotkan maka erosi pada lahan akan semakin besar (Putra, 2017).

 

DAFTAR PUSTAKA

Fajar., T.P., A.M. 2019. Rancang Bangun dan Kinerja Irigasi Sprinkler Hand Move Pada Lahan Kering. Jurnal AgriTechno. Vol. 12. No. 1.

Putra, A., I., S.C. 2017. Efisiensi Keseragaman Distribusi Air dari Variasi Ketinggian Pipa pada Sistem Irigasi Curah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah. Volume 2. Nomor 2.

Saptomo, S.K., R.I., B.I.S. 2013. IRIGASI CURAH OTOMATIS BERBASIS SISTEM PENGENDALI MIKRO. Jurnal Irigasi. Vol.8. No.2.

Tusi, Ahmad., Budianto Lanya. 2016. RANCANGAN IRIGASI SPRINKLER PORTABLE TANAMAN PAKCHOY. Jurnal Irigasi. Vol. 11. No. 1.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *