Penggunaan Akuaponik Sebagai Alternatif Pertanian di Kota

Urban farming (pertanian perkotaan) atau bertani dengan memanfaatkan lahan yang sempit atau pengurangan lahan, yang guna untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah sehari-hari bagi masyarakat pemukiman/perumahan yang berada di daerah perkotaan dan mencakup berbagai proyek dan aktivitas penghasil makanan dan kebangkitan pertanian baru-baru ini di dalam dan sekitar kota, orang telah terhubung kembali ke pertanian dengan menanam makanan sendiri dan mengunjungi pasar petani. Hal yang berkembang pesat ini berpotensi membuat masyarakat jauh lebih sehat dan menciptakan peluang ekonomi lalu pertanian perkotaan populer karena beberapa alasan seperti keberlanjutan, keterjangkauan, kesehatan, dan kenyamanan dan saat ini pertanian perkotaan ada didalam berbagai bentuk yaitu: kebun komunitas dan halaman belakang, berkebun di atap dan balkon, tumbuh di lahan kosong, taman daftarnya terus berlanjut bahwa urban farming sendiri sering disalahartikan sebagai berkebun komunita atau pertanian subsisten.

Pertanian perkotaan dapat mendukung kesejahteraan dari tiap individu maupun komunitas dengan berbagai cara memulai dari menyediakan produk segar untuk komunitas tersebut juga menciptakan rasa memiliki komunitas dan menciptakan lapangan kerja yang baru serta mempromosikan gaya hidup sehat juga bisa dikatakan urban farming adalah bentuk pertanian perkotaan menanam makanan di daerah perkotaan di darat, biasanya di halaman belakang atau di tanah kosong akan tetapi terkadang ada ruang terabaikan seperti median jalan yang biasanya tidak didedikasikan untuk memproduksi makanan. Dan pada saat ini sudah diperkirakan 50% penduduk dunia tinggal di perkotaan, dan di Indonesia sendiri saja dapat diperkirakan pada 2035 ada sekitar 65% penduduk akan menghuni perkotaan yang terutama berada di 16 kota besar di Indonesia pada 2019 dan jumlah penduduk di Indonesia mencapai sekitar 265 juta orang atau sekitar 4% dari keseluruhan jumlah penduduk dunia dan angka diatas sudah menjelaskan besarnya jumlah bahan pangan yang harus disediakan akan tetapi jika peningkatan jumlah penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan produksi makanan maka akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan pangan karena perubahan iklim global serta isu peningkatan jumlah penduduk merupakan beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh generasi maju khususnya oleh lembaga yang berkompeten. Selain itu ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut, diantaranya adalah melalui pendekatan inovasi teknologi.

Disini ada empat sub sistem urban farming yaitu sub sistem peternakan, sub sistem budidaya,  sub sistem komposting serta sub sistem perikanan dan dari keempat sub sistem urban farming ada pula 5 jenis urban farming dengan sub sistem budidaya yaitu vertikultur, hidroponik, akuaponik, vertiminaponik dan yang terakhir wall gardening dan penelitian akuaponik sendiri telah dimulai sejak tahun 1971 silam namun mulai berkembang dan dapat dilansir dari Suaramerdeka, Aquaponik berasal dari suku kata aquakultur dan hidroponik. Selanjutnya yang dilansir dari Urbangreenfarms ada tujuh komponen dasar akuaponik agar berjalan secara optimal yaitu ikan, tanaman, tangki, bakteri atau siklus nitrogen, pompa, cahaya dan media tanam.  Contoh komoditas tanaman yang bisa dibudidayakan menggunakan sistem akuaponik di antaranya adalah kangkung, bayam, selada cabai, terong, cabai, timun dan lain sebagainya lalu di jenis ikan yang cocok untuk dikombinasikan dengan tanaman pada sistem akuaponik yaitu seperti ikan lele, mujair, mas, nila, koi, udang galah dan lain sebagainya akan tetapi jenis ikan yang biasa atau yang disarankan pada sistem akuaponik itu pertama ada ikan lele lalu kedua ikan nila dan yang ketiga ikan mas.

Gabungan dari sistem budidaya antara sub sistem hidroponik dengan sub sistem akuakultur adalah definisi dari akuaponik sehingga menjadi suatu sistem produksi pangan terpadu antara tanaman dan ikan. Hidroponik sendiri merupakan budidaya tanaman tanpa tanah sedangkan aquakultur merupakan suatu budidaya ikan maka dari itu akuaponik adalah sistem pertanian yang memanfaatkan kotoran ikan yang digunakan sebagai nutrisi bagi tanaman dan juga memanfaatkan tanaman sebagai pengendali kualitas air bagi ikan dan pada saat ini akuaponik menjadi sebuah model produksi pangan berkelanjutan yang menekankan di konsep aliran nutrien yang memadukan prinsip-prinsip ekologis sehingga teknologi ini jauh lebih alami dan juga sangat ramah lingkungan, menghasilkan produk organik karena bebas dari kontaminasi bahan kimia, misalnya; disinfektan, pestisida, antibiotik, dan lain sebagainya. Adapun hal harus diperhatikan dalam sistem akuaponik budidaya tanaman yaitu pemupukan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman secara terus menerus melalui air yang dialirkan dari kolam yang mengandung bahan-bahan organik dari sisa-sisa pakan ataupun metabolisme ikan dan hal ini perlu dikontrol setiap hari agar pasokan lancar dan pengeluaran air di bak pemeliharaan tanaman tidak kurang, selain itu kitajuga perlu menjaga tanaman tetap tegak.

Untuk budidaya ikan sendiri dibutuhkan kolam dan sebaiknya luas kolam disesuaikan dengan kebutuhan budidaya dan untuk mempermudah perawatan serta penempatan lebih baik kolam tidak terlalu luas contohnya kolam sebaiknya berukuran sekitar 2 meter kali 4 meter dengan tinggi kolam minimal di 60 sampai 110 cm dan agar ikan leluasa untuk bergerak diusahakan kolam jangan terlalu dangkal juga membuat perkembangannya akan lebih optimal terkhusus untuk kolam yang terbuat dari semen itu diperlukan persiapan lebih lama dan matang lagi sebelum digunakan agar tidak ada lagi racun yang menempel pada kolam. Berikut pula susunan kerangka akuaponik secara umum terdiri atas; bak atau kolam penampung, tempat budidaya tanaman, tempat budidaya ikan, aliran air, volume kolam, keasaman air. Lalu dalam budidaya ikan pertimbangkan kerapatan ikan karena terlalu sedikit ikan berarti sedikit makanan untuk tanaman, sedangkan terlalu banyak ikan akan membuat ikan saling berebutan oksigen, menjadi kelaparan dan tingkat stres ikan menjadi tinggi, diingat pula saat memberi makan ikan, ikan harus bisa makan semua makanannya dalam waktu sekitar 5 menit maka beri pakan ikan dengan makanan yang tentunya mempunyai kualitas tinggi untuk mendapatkan suatu hasil maksimal selanjutnya periksa kualitas air, jika tingkat amonia atau nitrit menjadi terlalu tinggi untuk periode tertentu maka dapat membuat ikan sakit bahkan mati.

Maka dari itu kenapa kita harus menggunakan akuaponik karna manfaatnya yang luar biasa seperti hemat air karena menggunakan 90% lebih sedikit air daripada budidaya tanaman bermedia tanah lainnya yang mampu menghasilkan sayur, buah atau ikan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan  sehari hari maupun untuk tujuan pengiklanan yang menghasilkan keuntungan besar juga sayuran dan ikan yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dan bebas dari bahan kimia atau residu pupuk anorganik maupun pestisida kimia jadi media tanam ataupun budidaya akuaponik dapat disebut sebagai media tanam organic, dan ikan pun tidak memerlukan antibiotik.

Referensi:

https://www.dekoruma.com/artikel/82123/urban-farming-konsep-pertanian-kota

http://indonesiabaik.id/infografis/mengapa-urban-farming-harus-dikembangkan#:~:text=Urban%20farming%20untuk%20ketahanan%20pangan&text=Melalui%20pertanian%20perkotaan%2C%20ketersediaan%20bahan,diyakini%20semakin%20perlu%20untuk%20dikembangkan.

https://www.rumah.com/panduan-properti/aquaponik-30303

Cara Membuat Akuaponik Sederhana Dan Murah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *