Pengembangan Sistem Irigasi Pertanian di Lahan Rawa Indonesia dalam Menunjang Kebutuhan Pangan Masyarakat

Air adalah salah satu jenis sumber daya alam yang ada di muka bumi kita. Air dikatakan penting karena air merupakan sumber kehidupan bagi setiap makhluk hidupnya. Tanpa adanya air, kita manusia termasuk hewan dan tumbuhan, tentu saja tidak akan mampu bertahan hidup. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan melestarikan keberadaannya, misalnya dengan cara tidak membuang sampah atau limbah ke sungai, danau ataupun kali, membuka ruang terbuka hijau, menghemat air, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, masyarakat seringkali menghiraukan dan melanggar peraturan tersebut, akibatnya air menjadi tercemar sehingga kualitas airnya pun menurun dan tidak dapat digunakan dengan baik lagi.

Berbicara tentang fungsi air, tentunya ada beragam banyak manfaat yang berguna bagi kehidupan manusia. Salah satunya ialah air dapat dijadikan sebagai sarana transportasi pengairan (irigasi) pada lahan pertanian dengan tujuan untuk menyuplai persediaan air bagi tanaman-tanaman pertanian pada saat musim kemarau tiba, lalu sebagai kolmatase, yaitu untuk meninggikan atau memperbaiki permukaan tanah, dan masih banyak lagi. Namun sayangnya, pengembangan saluran irigasi di Indonesia masih belum optimal karena ada beberapa jaringan irigasi yang telah rusak di beberapa wilayah Indonesia, baik dalam kondisi ringan maupun berat, seperti pembuatan konstruksi yang masih bersifat konvesional sehingga kondisi bangunannya tidak mampu bertahan lama. Oleh karena itu, pengembangan inovasi teknologi pada sistem irigasi terbarukan yang lebih efektif dan efisien, serta pemberdayaan kepada petani pun sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil pertanian dalam menopang kebutuhan pangan Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang.

Nah, salah satu upaya untuk meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan dengan cara menambah atau menciptakan lahan baru pertanian pada daerah tertentu, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanian baru di lahan rawa. Kegiatan pengembangan irigasi rawa ini dapat berupa kegiatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, dan pemeliharaan. Adapun karakteristik lahan rawa ini, diantaranya tanah bersifat lunak dan basah, serta tanah bersifat masam sehingga diperlukan penanganan khusus.

Di Indonesia, luas lahan rawa yang tersedia saat ini bisa dibilang cukup besar, yaitu hampir mendekati 30% dari seluruh luas lahan yang ada di Indonesia atau dengan kata lain memiliki jumlah lebih dari 33 juta hektar yang mana terdiri dari daerah rawa pasang surut (60%) dan juga daerah non-pasang surut (40%). Sebagian besar lahan rawa tersebut tersebar di Pulau Sumatera (10,9 juta ha), Kalimantan (10,6 juta ha), dan juga Papua (10,5 juta ha). Akan tetapi, sistem pertanian pada lahan rawa ini masih perlu ditingkatkan dan diperhatikan lebih khusus lagi oleh pemerintah agar bisa memasok kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Alternatif dari permasalahan ini yang dapat digunakan adalah dengan cara mendayagunakan sistem tata air yang lebih tepat guna dan terpadu sehingga sistem pertanian ini dapat terintegrasi dengan baik. Sementara itu, penerapan konsep pertanian lahan irigasi rawa ini sudah pernah di lakukan di daerah Kabupaten Asmat dan juga Merauke.

Menurut Balai LITBANG Rawa Indonesia, ada 3 konsep pedoman pada pengembangan lahan irigasi rawa di Indonesia, diantaranya:

  1. Tata cara pengembangan irigasi rawa pasang surut
    • Poin nomor 1 ditetapkan berdasarkan hasil penelitian yang diadakan di Kabupaten Merauke. Jadi, konsep dari pedoman ini adalah adanya karakterisitik lokal, survei, investigasi, design, dan sistem perencanaan. Nantinya, konsep pedoman dilakukan dengan membuat kriteria sistem tata air, lalu kriteria saluran desain primer, sekunder, dan drainase,  penentuan posisi intake dan outlet.
  2. Perencanaan dan perhitungan long storage dengan sistem aliran gravitasi
    • Long storage adalah bangunan penampung air berbentuk memanjang yang pada umumnya diterapkan pada lahan rawa dengan mengambil intake dari pasang surut air sungai. Fungsinya adalah sebagai penyuplai air irigasi pada saat musim kemarau dengan mengandalkan air dari sumber intake terdekat, biasanya dari sungai atau saluran air, kemudian baru dialirkan ke areal persawahan. Teknologi longstorage dibuat berdasarkan potensi daerah masing-masing. Sebagai contoh, apabila ada daerah yang jauh dari sumber airnya, metode yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan prinsip tadah hujan (water harvesting). Jadi, cara kerjanya adalah hujan akan ditampung pada kolam penampungan long storage, kemudian pada saat musim kemarau tiba atau ingin melakukan pengairan, air tersebut akan dialirkan ke sawah di sekitar long storage melalui pintu air. Namun, apabila ada kelebihan air pada long storage atau lahan, air tersebut nantinya akan dialirkan ke drainase dan didistribusikan ke sungai melalui pintu kaleb. Pengendalian air yang dibantu dengan adanya pintu air itulah dinamakan sebagai sistem aliran gravitasi. Sebagai tambahan, sistem aliran gravitasi menggunakan sistem buka tutup pintu secara manual. Maka dari itu, diperlukan pemeliharaan yang baik agar dapat bekerja secara optimal. Sementara itu, pengaliran air gravitasi ada yang membutuhkan pompa dan tidak, itu semua tergantung potensi di daerah masing-masing. Akan tetapi, lebih baik menggunakan sistem gravitasi tanpa pompa karena tidak memerlukan pengeluaran yang terlalu besar.
    • Adapun hal-hal yang harus diperhatikan ketika ingin membangun long storage, diantaranya:
      • Perhatikan lahan dengan mengidentifikasi tekstur tanahnya terlebih dahulu
      • Memperhatikan pembuatan areal pertanaman yang bergelombang dengan tingkat kemiringan yang sesuai, biasanya di antara 8%-30%
      • Membangun long storage dekat dengan saluran air agar lebih mudah dialirkan
      • Perhatikan besar ukuran long storage harus sesuai dengan areal sawah yang ingin di irigasikan
  3. Perencanaan jaringan suplesi air tanah pada lahan rawa
    • Air tanah merupakan unsur terpenting dari teknologi ini karena dapat digunakan sebagai alternatif persediaan irigasi pada lahan rawa pasang surut, baik tipe c maupun tipe d, dan juga rawa lebak. Ada tiga perencanaan dari konsep ini, diantaranya melakukan survei, investigasi, dan desain jaringan suplesi air tanah pada lahan rawa

Tahapan sistem pertanian di lahan rawa menggunakan dua skema, yaitu design dan build.

  1. Tahap design (perencanaan)
    • Pengumpulan data di lapangan
    • Pengolahan data
    • Penganalisisan dan permodelan di studio
    • Penyusunan desain ke dalam gambar kerja secara detail. Di dalam penyusunan tersebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu penyediaan dan pemenuhan kebutuhan neraca air, penguatan daya dukung tanah, dan yang terakhir adalah topografi.
  2. Tahap konstruksi
    • Pengerjaan timbunan dan galian tanah
    • Pemasangan fondasi yang kuat
    • Pemasangan struktur pintu air

Referensi:

https://www.researchgate.net/publication/337185045_Pemenuhan_Kebutuhan_Air_Irigasi_Melalui_Pembangunan_Long_Storage

Balai Teknik Rawa channel

Pengertian Irigasi, Sejarah, Tujuan, Fungsi dan Jenis-Jenis Irigasi Terlengkap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *