Pengembangan Jahe Sebagai Tanaman Urban Farming

Puji syukur saya panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan berkat dan karunia-Nya pada saya, saya mampu untuk menyusun karya ilmiah ini yang berjudul “Penanaman Jahe untuk Urban Farming”.

Pada kesempatan kali ini, ijinkan saya untuk memaparkan sedikit tentang karya ilmiah saya ini. Pada karya ilmiah saya ini, saya akan memaparkan tentang alasan dan keuntungan pemilihan jahe untuk urban farming dan bagaimana proses penanaman jahe untuk urban farming

Saya berharap agar karya ilmiah ini dapat memberikan informasi yang berguna pada pembaca tentang tanaman jahe. Saya menyadari bahwa karya ilmiah ini memiliki banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran pembaca sangat saya butuhkan untuk menyempurnakan karya ilmiah ini.

Alasan Pemilihan Jahe

Urban Farming sudah menjadi tren untuk saat ini dikarenakan lingkungan perkotaan yang mulai banyak mengambil lahan pertanian sehingga mengurangi kuantitas pertanian yang tumbuh. Urban Farming mengandalkan ruang terbuka yang berada di lingkungan perkotaan untuk menjadi lahan hijau yang produktif.

Salah satu tanaman yang bisa dibudidayakan untuk urban farming adalah jahe. Karena begitu banyaknya kegunaan jahe di berbagai bidang, maka jahe juga sangat berpotensial untuk dimanfaatkan sebagai urban farming. Untuk itulah pentingnya informasi tentang jahe sebagai pengembangan pengetahuan bagi yang ingin memulai budidaya tanaman sebagai urban farming

Klasifikasi dan Manfaat Jahe

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah bumbu dapur yang memiliki banyak kegunaan, contohnya sebagai tanaman obat, bumbu masak,  rempah-rempah masakan, dan minuman herbal. Jahe sangat populer di Indonesia dikarenakan fungsi yang banyak dan harganya yang terjangkau.

Jahe terdiri dari 3 jenis, yaitu jahe emprit, jahe gajah atau jahe besar, dan jahe merah. Jahe emprit memiliki ukuran terkecil dari semua jenis jahe namun paling sering digunakan pada kehidupan sehari-hari. Jahe emprit memiliki panjang akar 20,5 cm – 21 cm sedangkan panjang rimpangnya sekitar 6,13 cm dan lebarnya 6,38 cm. Jahe emprit memiliki fungsi seperti meningkatkan imunitas tubuh dan sebagai bumbu dapur. Jahe gajah memiliki ukuran paling besar dengan panjang akar minimal 12,9 cm sampai 21,5 cm untuk yang paling panjang. Ukuran rimpang jahe ini antara 15,38 cm – 32,75 cm. Jahe ini lebih banyak digunakan sebagai bahan kosmetik dibandingkan sebagai rempah-rempah masakan dan minuman herbal dikarenakan rasanya yang kurang pedas.  Jahe merah  adalah jahe yang memiliki paling banyak khasiat diantara jahe-jahe yang lainnya. Jahe merah mempunyai panjang akar sekitar 17,4 cm – 24 cm. Untuk ukuran rimpangnya adalah sekitar 12,3 cm – 12, 6 cm. Jahe ini memiliki rasa paling pedas diantara jenis yang lainnya. Jahe ini banyak digunakan untuk bahan obat tradisional, minuman herbal, dan bumbu dapur.

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Jahe

Jahe sangat cocok ditanami di lahan yang terbuka, subur, dan mengandung banyak bahan organik contohnya adalah tanah andosol. Jahe tidak boleh ditanam di tanah yang mengandung banyak genangan air karena akan menyebabkan rimpang membusuk seperti di daerah dekat rawa dan daerah yang kurang resapan air.

Jahe juga harus dijauhkan dari hama-hama seperti tanaman rambat dan serangga-serangga yang bisa mengakibatkan kekurangan nutrisi untuk tanaman jahe sehingga hasil dari jahe tidak akan terganggu. Sebaiknya untuk jahe dibuatkan sebuah lahan khusus yang terbuka di perkotaan yang memiliki tanah berorganik dan sistem drainase sehingga air mampu meresap dan tidak akan merusak rimpang jahe.

Pembibitan

Sebelum pembibitan, pastikan bibit memiliki kualitas yang baik yaitu sehat dan tidak tercampur bibit yang lain. Pemilihan benih yang baik harus dilakukan saat tanaman masih di lapangan. Rimpang yang digunakan adalah rimpang yang berumur sekitar 10 bulan. Rimpang yang dipilih sebaiknya memiliki 2-3 bakal tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 – 60 gr untuk jahe gajah,  20 – 40 gr untuk jahe emprit dan jahe merah.

Sebelum rimpang ditanam, bibit ditunaskan terlebih dahulu dengan disemaikan yaitu menghamparkan rimpang di tempat yang teduh. Selama penyamaian dilakukan penyiraman setiap hari. Rimpang yang sudah bertunas kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran tertentu. Kemudian direndam agar tidak terinfeksi bakteri. kemudian dikeringkan.

Budidaya dan Pemeliharaan

Untuk pemupukan, pupuk kandang domba atau sapi diberikan 2 – 4 minggu sebelum tanam. Digunakan juga pupuk SP-36 300 – 400 kg/ha dan KCl 300 – 400 kg/ha pada saat tanam sebanyak 1/3 dosis. 4 bulan setelah tanam, barulah digunakan pupuk kandang lagi.

Slama 6 – 7 bulan, biasanya gulma atau tanaman liar akan tumbuh. Gulma ini bisa menganggu pertumbuhan dan nutrisi pada tanaman. Untuk menghilangkannya, perlu dilakukan penyiangan secara rutin setelah 4 bulan tumbuh. Namun butuh kecermatan dalam penyiangannya agar akarnya tidak rusak.

Setelah 6 – 10 bulan dan umur rimpang 10 – 12 bulan, jahe siap untuk dipanen.

Pasca Panen

Pada pembersihan rimpang yang dilakukan pada masa pasca panen, perlu dilakukan pencucian agar sisa tanah hilang dari rimpang. Namun perlu hati-hati dalam membersihkan rimpang. Jika rimpang sobek, bias menyebabkan pembusukan.

Pada pengeringan rimpang, rimpang bias dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringanginkan untuk membuat  kadar air pada rimpang mencapai 8 – 10%.

Kemudian saat proses pengemasan, rimpang dimasukkan satu per satu secara teratur sesuai ukurannya. Jika rimpang penyusunannya berantakan, rimpang akan mudah rusak dan akan mengurangi nilai jual rimpang jahe.

Pada proses penyimpanan rimpang, pemilihan tempat untuk penyimpanan perlu dilakukan dengan baik agar rimpang tidak terkena penyakit seperti jamuran. Tempat yang bagus untuk menyimpan rimpang adalah tempat yang memiliki sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup.

Proses Produksi

  • Bubuk Jahe

Jahe kering yang telah dipanen digiling dengan hammer mill dengan ukuran 80 mesh untuk dijadikan bubuk jahe. Setelah itu sebelum sampai ke konsumen, bubuk jahe disimpan dalam kemasan bersih, tertutup rapat, bebas hama, dan jamur serta kadar airnya sekitar 10%.

  •  Minyak Jahe

Jahe kering yang telah dipanen mengalami proses penyulingan. Penyulingan dilakukan dengan cara dikukus. Penyulingan dilakukan dalam waktu 8 jam  dengan rendaman minyak sekitar 3 – 4,5%.

 

Itulah informasi tentang jahe sebagai tanaman urban farming. Kesimpulannya, jahe memiliki banyak sekali kegunaan sehingga banyak petani ingin memaksimalkan jahe sebagai tanaman urban farming.

 

Daftar Pustaka

Rostiana, Otih. Bermawie, Nurliani. Rahardjo, Mono. (2010). STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
BUDIDAYA JAHE: pertanian.go.id.

Maharani, Levina. Djuwendah, Endah. (2015). Pemilihan Proses Pengadaan Bahan Baku Jahe Merah Kering dalam Memproduksi Bandrek Instan dalam Kemasan. jurnal unitri.ac.id: Jatinangor.

Yuliani, Sri. Kailaku, Sari Intan. (2009). PENGEMBANGAN PRODUK JAHE KERING DALAM BERBAGAI JENIS INDUSTRI. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian: Vol. 5.

Murhananto, MM., Ir. Joesih Endah H. Listyarini, SP. Tri, Teguh Pribadi,SP. Seno. (2004). Khasiat dan Manfaat Jahe si Rimpang Ajaib. Depok: PT AgroMedia Pustaka, dok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *