Pengelolaan Sampah Pasar Organik Menjadi Komposter dan Pupuk Cair

Sampah dapat diartikan sebagai bahan yang sudah tidak berguna atau bahan yang terbuang. Sampah dapat berupa basah maupun kering.

Beberapa klasifikasi sampah diantaranya:

      1. Sampah organik

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang sebagian kandungannya senyawa organik yakni sisa tanaman, kotoran, dan hewan. Sampah organik mudah diuraikan oleh mikroorganisme.

     2.  Sampah anorganik

Sampah an-organik sangat sulit di uraikan karena berbentuk plastik dan logam.

          Sampah di pasar merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar. Sampah yang dihasilkan dipasar mayoritas adalah sampah organik bekas sayur, buah dan sisa-sisa makanan yang sudah tidak bisa dimakan. Hal ini menjadikan pasar merupakan penyumbang sampah terbanyak setiap harinya. 1 hari saja, sampah di pasar menghasilkan 3-4 truk sampah dan hal itu terus berulang setiap hari. Gagasan ini muncul karena melihat kondisi yang memprihatinkan karena sampah-sampah tersebut tidak diolah dengan baik justru hanya menimbun sampah yang semakin menggunung. Sedangkan setiap kecamatan pasti memiliki pasar besar untuk pusat jual beli secara tradisional. Menggunungnya sampah di TPS akan menyebabkan peningkatan degradasi kebersihan lingkungan karena sampah mengeluarkan gas yang berupa metan yang berakibat pemanasan global. Gas metan mempunyai daya rusak 23 kali lebih kuat dari gas karbon.

          EM4 atau disebut dengan Effective Microorganisms yaitu bahan yang dapat membantu mempercepat suatu proses pembuatan pupuk organik. EM4 memiliki manfaat untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah sehingga menjadi lebih baik untuk menyuplai unsur hara yang ada pada tanaman. Manfaat EM4 bagi tanaman diantaranya:

 1.      Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman dalam tanah

2.      Membantu meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman

3.      Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk

4.      Meningkatkan kualitas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman.

        EM4 memiliki mikroorganisme yang bersifat asli. Biasanya EM4 dapat dibuat sendiri dengan bahan yang mudah didapat.

         Di masa pendemi seperti ini, banyak masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari dengan memulai lagi bercocok tanam. Hal ini banyak juga dilakukan oleh sekelompok masyarakan untuk mengelola sampah organik menjadi kompos dan pupuk cair. Pemanfaatan sampah organik hasil pasar digagas agar terjaganya lingkungan dan bisa menghasilnya sebuah produk komposer. Sampah di pasar masih dapat diolah dengan baik dan harus dipilah terlebih dahulu. Tujuannya untuk melatih masyarakat dalam pengenalan sampah organik dan an-organik, membantu pemerintah dalam 3R yakni reduce, reuse, recycle, serta melakukan pemanfaatan sampah dengan baik dan benar oleh beberapa kelompok masyarakat. Pengelolaan ini bekerja sama dengan kelompok kebersihan pasar setempat dan pemerintah setempat dengan melakukan sosialisasi dan koordinasi untuk mencapai tujuan yang sama

         Langkah yang harus dilakukan dalam pengelolaan ini diantaranya melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan seluruh pihak yang bersangkutan, membangun rumah kompos, melakukan pengadaan barang yakni alat dan bahan, melakukan pemilahan sampah, pelatihan pembuatan kompos, melakukan edukasi terhadap pedagang sayur-mayur, buah, dan penjual makanan, untuk membuang sampah pada tempatnya, melakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos, dan memasarkan produk kompos ke masyarakat luas.          

        Kompos adalah sisa bahan organik yang diolah menjadi pupuk yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman namun secara alami karena menggunakan limbah organik. Sisa limbah organik yang ada pada TPA akan tertimbun dan dapat terurai tanpa oksigen yakni bersifat anaerob. Proses ini akan menghasilkan gas metana. Sosialisasi wajib dilakukan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah pasar ini agar seluruh penjual dipasar tau dan peduli akan  program ini dengan membangun rumah kompos, mengadakan barang alat mesin pencacah sampah dan alat bahan lainnya.

Berikut tahap-tahap dalam pengelolaan sampah pasar menjadi komposer:

     1.  Rumah kompos

          Rumah kompos harus terletak dekat dengan pembuangan sampah pada pasar tersebut dikarenakan untuk memudahkan pengangkutan sampah-sampah hasil pasar ke dalam rumah kompos. Jadi, meminimalisir mobilitas yang sangat tinggi dan menghemat waktu jika temoatnya berdekatan. Rumah kompos ini menjadi rumah produksi kompos yang nantinya ada beberapa tahapan produksi diantaranya pemilahan sampah, pembuatan kompos, pelatihan pembuatan kompos, distribusi kompos, dan berbagai kegiatan lainnya mengenai kompos dan sampah orgnaik. Alat dan bahan yang digunakan diantaranya pencacah sampah, alat penggaruk,sapu, cetok, sekop, dan lain-lain. Bahannya antara lain sampah organik hasil pasar,  larutan EM4, kayu, air, dan anyaman bambu untuk pencacah sampah.

     2. Pemilah sampah

          Pemilahan sampah dilakukan oleh beberapa orang dan biasanya sampah organik yang dipilih adalah sayuran, buah, dan sisa makanan. Sampah organik ini setiap harinya menghasilnya banyak sekali sampah terutama hari libur dan musim hujan karena sayur dan buah tidak laku dan mudah busuk. Jika sisa makanan setiap hari pasti saja ada karena banyak orang di pasar yang berjualan makanan. Pemilahan Sampah organik biasanya dilakukan saat menjelang tutup pasar yakni sore hari dikarenakan sampah yang sudah dipilah tidak terjadi penambahan lagi.

    3. Pembuatan kompos

        Pembuatan kompos dilakukan oleh beberapa petugas yang sudah ditunjuk oleh pengelola pasar untuk melakukan produksi kompos. Pembuatan kompos dilakukan melalui beberapa tahap yakni sampah diambil saat jam 15.00 WIB untuk dibawa ke rumah produksi kompos. Kemudian sampah tersebut dipilah lagi saat pukul 15.45 WIB jadi sampah-sampah yang sudah dipilah akan dimasukan ke dalam mesin pencacah sampah dengan mencampurkan beberapa bahan yang sudah disebutkan sebelumnya. Mesin pencacah berguna untuk memperkecil ukuran sampah organik yang akan diolah menjadi kompos. Setelah itu diletakan di anyaman jaring-jaring dan hasil air sampah organik dicampur dengan EM4 yang memiliki kandungan mikroba hingga basah. Pengelolaan sampah dilakukan 1 minggu sekali dalam pengelompokannya jadi setiap 1 minggu sekali sampah dikelompokkan kemudian di diamkan atau inkubasi selama 2 minggu. Setiap pagi diaduk agar mengalami pembusukan yang sangat merata. Proses ini akan mengalami penyusutan pada sampah yang sedang di inkubasi tergantung dari kadar air pada sampah organik tersebut. Selama 2 minggu ini terjadi pembusukan yang menghasilkan limbah cair yang dihasilkan ini dapat digunakan pengganti EM4 dalam melakukan pengomposan. Jadi akan menghasilkan 2 jenis yakni limbah cair pengganti EM4 dan juga kompos dari sampah organiknya (Simanungkalit, 2009).

     4.  Hasil pupuk kompos dan cair

          Kompos yang sudah diolah tadi akan memiliki warna kecoklatan atau hitam, dan masih memiliki kandungan air. Maka dari itu kompos wajib dikeringkan atau di angin-anginkan selama kurang lebih 2-3 hari. Kompos harus berukuran kecil-kecil, jika ada kompos yang masih berukuran besar makan perlu dicacah kembali dengan mesin pencacah sampah. Setelah dicacah dan sudah kering semua kompos tersebut siap di packing dan dipasarkan. Hasil kompos setiap bulan sekitar 50-70 kantong plastik berukuran sedang dengan ukuran 20 x 28 cm dengan berat 2 kg. Produk pupuk kompos diberi label sesuai ketentuan dari rumah kompos tersebut. Namun produksi kompos dilakukan tidak setiap hari.

           Pupuk cair dari sampah organik merupakan larutan dari hasil bahan organik sayang sudah busuk atau sisa yang digunakan menjadi kompos melalui beberapa tahapan. Bahan-bahan organik berasal dari sisa tanaman, manusia, kotoran hewan, dan makanan yang memiliki kandungan lebih dari 1 unsur hara. Pupuk cair memiliki kelebihan diantaranya sangat cepat mengatasi defesiensi hara, tidak mengalami permasalahan dalam pencucian unsur hara, dan sangat mampu menyediajan unsur hara dengan cepat. Sedangkan pada pupuk cair yang berasal dari bahan anorganik sangat mudah merusak tanah jika digunakan sesering mungkin. Larutan pupuk cair organik dapat langsung diberikan kepada tanaman di permukaan tanah. Pupuk cair ini berasal dari sisa proses pembuatan komposter.


Daftar Pustaka

Banowati, Eva, 2011. Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Untuk Konser- vasi Lingkungan, Laporan Penelitian, Semarang: LP2M Unnes.

Simanungkalit RDM, Suriadikarta DA, Saraswati R, Setyorini D dan Hartatik W. 2009. Teknik Pembuatan Kompos. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *