Pengelolaan Limbah Sampah Organik Menjadi Kompos Menggunakan EM4

Sampah merupakan salah satu masalah yang sering terjadi di Indonesia, karena banyaknya masyarakat Indonesia yang belum memahami dampak yang timbul akibat sampah. Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk mengolah sampah, namun cara – cara tersebut tidak dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sering diabaikan atau tidak dilakukan secara rutin. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan mengolah sampah menjadi kompos, yaitu metode daur ulang sampah yang semakin hari jumlahnya semakin meningkat (Astuti, 2008). Kompos adalah salah satu jenis pupuk hasil penguraian sampah organik (misalnya daun). Bahan baku kompos yang sangat bagus dari sampah organik yaitu bahan organik basah yang memilki kandungan air yang tinggi contohnya sisa buah-buahan atau sayur-sayuran dari limbah rumah tangga. Bahan organik ini kaya akan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Kandungan selulosa dari bahan organik semakin besar maka proses penguraian bakteri menjadi semakin lama (Purwendro, 2006). Pengomposan adalah pupuk, tidak menggunakan bahan kimia sehingga dapat menyuburkan tanaman. Mendaur ulang sampah menjadi kompos memiliki banyak keuntungan. Pertama, dapat membuang sampah secara tepat dan kedua, mengolah sampah menjadi kompos sehingga memperoleh keuntungan komersial tinggi karena harga jual kompos cukup tinggi (Sulistyorini, 2005).

  1. Komposter

Komposter sampah dirancang untuk mengurangi timbulan sampah organik. Komposter sampah memiliki keunggulan yaitu dapat menghasilkan produk yang bermanfaat (kompos dan kompos cair) dan mengurangi timbulan sampah organik, jika komposter dikelola dengan benar. Kehadiran komposter di suatu kawasan pemukiman akan membawa manfaat sebagai berikut:

  1. Kurangi sampah organik yang dihasilkan di sumbernya
  2. Sebagai media untuk publik (pengomposan) untuk menghasilkan produk yang ekonomis dan bermanfaat
  3. Meningkatkan disiplin masyarakat dalam hal klasifikasi sampah dan mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah.
  4. Membantu mengurangi efek pemanasan global

5. Berfungsi sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk mengolah sampah yang baik agar dapat dimanfaatkan kembali

Penggunaan EM4 untuk pengomposan juga akan mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi kompos. Proses pengomposan dengan menggunakan EM4 membutuhkan waktu sekitar 1-2 minggu. EM4 bisa digunakan untuk pengomposan di setiap rumah, jika tidak memungkinkan bisa dibentuk bank pengomposan di setiap RT / RW. Tugas bank kompos adalah mengumpulkan semua sampah organik. Langkah selanjutnya setelah mengumpulkan sampah organik dengan menggunakan tong / ember untuk proses pengomposan. Masukkan semua sampah organik ke dalam tong / ember dan gunakan semprotan EM4 dengan gula dan air.

EM4 harus dicampur dengan gula, dimana gula tersebut akan menjadi makanan bagi mikroorganisme pemecah bahan organik. Rumus EM4 yang digunakan adalah: 20ml EM4 + 10g gula + 1000ml air. Proses pencampuran komposisi ini disebut fermentasi, fermentasi dilakukan selama 24 jam, keuntungannya kualitas kompos lebih baik, dan karena EM4 mengandung mikroorganisme lebih banyak maka proses lebih cepat. Pada tahap fermetasi, EM4 dapat disemprotkan pada sampah organik untuk memulai proses pengomposan. Jika EM4 langsung diberikan ke sampah organik maka jumlah mikroorganisme yang akan mengurai bahan kompos sedikit, yang akan sangat mempengaruhi waktu dan kualitas kompos. Saat cairan organik keluar dari ember, biasanya berwarna coklat atau hitam, dan kompos sudah lengkap. Cairan tersebut bisa langsung digunakan untuk pemupukan tanaman (Rizki, 2016).

Langkah-langkah berikut dapat digunakan untuk melengkapi cara menggunakan EM4 untuk mengolah sampah organik menjadi kompos:

  • Kumpulkan sampah organik
  • Cobalah untuk memotong sampah menjadi potongan – potongan kecil untuk memudahkan proses penguraian
  • Simpan sampah organik yang sudah dipotong – potong menjadi kecil kedalam wadah kompos dan campur dengan daun kering menggunakan perbandingan 1 : 1
  • Penyemprotan EM4 ditingkatkan
  • Aduk setiap hari agar mikroorganisme di dala tong mendapatkan oksigen yang cukup
  • Dalam proses pengomposan, dapat ditambahkan sampah organik baru dan EM4 yang sudah dimodifikasi dapat ditambahkan juga
  1. Masalah C/N Ratio

Rasio C / N merupakan parameter penting untuk menentukan kualitas kompos. Rasio C / N merupakan perbandingan banyaknya kandungan karbon (C) dengan kandungan nitrogen (N) yang terdapat dalam suatu bahan organik. Rasio C / N merupakan parameter penting untuk menentukan kualitas kompos. Rasio ini dapat menentukan apakah kompos sudah cukup “matang” (Isroi, 2008). Sampah organik memiliki rasio C / N yang berbeda – beda. Rasio karbon dan nitrogen (rasio C / N) sangat penting untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme selama proses pengomposan.

Masalah rasio C / N pengelolaan sampah organik berupa sampah sayur dan buah memiliki rasio C / N yang lebih rendah yaitu sekitar 25,5, sedangkan rasio C / N sampah kebun seperti daun sekitar 55 (Suryati, 2014). Mikroorganisme mengikat nitrogen sesuai dengan karbon yang tersedia. Jika ketersediaan karbon dibatasi (rasio C / N terlalu rendah), tidak cukup senyawa sebagai mikroba yang dapat digunakan untuk mengikat semua nitrogen bebas sebagai sumber energi. Dalam hal ini, sejumlah besar nitrogen bebas yang dilepaskan dalam bentuk gas NH3, sehingga kualitas kompos yang dihasilkan buruk. Jika ketersediaan karbon berlebih (rasio C / N terlalu tinggi) dan jumlah nitrogen terbatas, maka hal ini akan menjadi faktor penghambat pertumbuhan mikroorganisme atau pengomposan lambat (Sutanto, 2002).

Rasio C / N menentukan keberhasilan proses pengomposan, karena prinsip pengomposan adalah menurunkan rasio C / N bahan organik menjadi sama dengan rasio C / N tanah. Kompos yang diaplikasikan pada tanah, rasio karbon / nitrogen dalam kompos harus sesuai dengan rasio karbon / nitrogen tanah, antara 8 – 15 atau rata-rata 10 – 12 (Indriani, 2001). Dalam pengelolaan sampah kota yang akan difermentasi menjadi kompos, rasio C / N yang dibutuhkan adalah 30. Demikian untuk pengelolaan limbah dalam sistem aerobik (konversi menjadi biogas), rasio C / N yang dibutuhkan adalah sekitar 25 – 30.

  1. Proses Nitrifikasi

Proses nitrifikasi merupakan proses yang dilakukan untuk mengubah senyawa amonia (NH4+) menjadi senyawa nitrit (NO2). Selain itu, nitrit yang terbentuk dioksidasi menjadi nitrat (NO3). Prosesnya dilakukan dalam suasana oksigen agar reaksi berjalan normal, diperlukan udara tambahan dari luar, seperti udara yang disediakan oleh blower. Bakteri nitrifikasi yang bekerja di sini adalah bakteri autotrofik, dan aktivitas serta pertumbuhannya membutuhkan karbon anorganik. Ini membutuhkan karbon anorganik tambahan dari luar. Biasanya dalam pembuatan kompos dilakukan secara aerobik dimana didalamnya juga terdapat proses nitrifikasi.

Proses pengomposan tanpa bantuan aktivator membutuhkan waktu 40 hingga 60 hari untuk membuat kompos dengan metode aerobik. Hasil akhir dari pengomposan aerob adalah material yang menyerupai tanah coklat kehitaman, remah dan gembur, suhunya hampir sama dengan suhu tanah, dan pH mendekati netral (Habibi, 2009). Pengomposan aerob digunakan dikarenakan tidak menghasilkan bau menyengat, waktu proses pengomposan lebih cepat dan suhu proses produksi pengomposan tinggi, sehingga dapat membunuh bakteri patogen dan telur cacing, sehingga kompos yang dihasilkan lebih higienis (Damanhuri dan Padmi, 2010).

Aroma kompos adalah ciri fisik kompos yang dapat diamati secara langsung. Aroma atau bau yang dihasilkan selama proses pengomposan mengindikasikan terjadinya aktivitas pembusukan mikroba. Jika mencium bau amonia, maka dapat menduga bahwa campuran kompos mengandung nitrogen yang berlebihan (rasio C / N terlalu rendah). Bau yang dihasilkan bisa juga berasal dari bahan yang terlalu basah sehingga perlu dihilangkan (Haffiudin, 2015). Kompos berbau seperti bahan mentah, artinya kompos tersebut belum matang (Isroi dan Widiastuti, 2005).

 

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Dwi Setyo. (2008). Efektifitas penggunaan kompos organic hasil     pengomposan dengan inokulan limbah tomat dan EM4 terhadap pertumbuhan          tanaman jagung (Zea mays)

Damanhuri, Enri dan Padmi, Tri (2010) Pengelolaan Sampah Edisi Semester I        2010/2011. Bandung: Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik     Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung.

Habibi, Latfran. 2009. Pembuatan Pupuk Kompos Dari Limbah Rumah Tangga.    Titian Ilmu, Bandung.

Isroi. (2008). Kompos. Bogor : Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.

Isroi dan Widiastuti, H. 2005. Kompos limbah padat organik. Dinas KLH Kab.     Pemalang. Pemalang, Jawa Tengah.

Purwendro, S. Nurhidayat. 2006. Mengolah Sampah Untuk Pupuk Pestisida Organik.       Jakarta: Penebar Swadaya.

Rizki, Muhammad. 2016. Komposter Sampah Organik. Terdapat pada: https://www.academia.edu/36046544/KOMPOSTER_SAMPAH_ORGANIK_BY_RIZKI_S_BANI (Diakses Pada Tanggal 14 Oktober 2020 Pukul 10.20 WIB)

Sulistyorini, Lilis. (2005). Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya        Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1, Juli 2005 : 77 – 8

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.

Suryati, T. 2014. Bebas Sampah dari Rumah. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.

Urban Hidroponik. 2017. Cara Membuat Pupuk Kompos Memakai EM4, Mudah Dan Tidak Bau. Terdapat pada: https://www.urbanhidroponik.com/2017/02/cara-membuat-kompos-memakai-em4-dekomposer.html (Diakses Pada Tanggal 14 Oktober 2020 Pukul 10.42 WIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *