Pengelolaan Limbah Pertanian dan Peternakan

Tingginya angka kelahiran dan pertambahan penduduk akan berdampak pada peningkatan jumlah sampah di Indonesia. Sampah yang dihasilkan bervariasi, dan sampah perkotaan akan berbeda dengan sampah pedesaan. Sampah kota termasuk sampah organik, anorganik dan berbahaya. Sedangkan sampah pedesaan biasanya hanya berupa sampah organik, seperti sampah rumah tangga, ternak dan sampah pertanian. Pengolahan sampah di Indonesia masih banyak menggunakan cara-cara yang sederhana, bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa pengolahan sampah hanya dengan program 3P (Pengumpulan, Pengangkutan dan Pembuangan) tetapi cara ini belum bisa digunakan untuk limbah peternakan dan pertanian. Biasanya limbah ternak dan pertanian dibiarkan begitu saja, limbah ini akan menjadi masalah yang serius, baik dari segi estetika maupun kesehatan. Limbah ternak yang sering dimanfaatkan adalah kotoran sapi.. Salah satu proses yang banyak dimanfaatkan untuk limbah ternak dan pertanian adalah dengan membuat kompos atau pupuk organik dengan cara pengomposan. Kompos yang terbuat dari limbah pertanian dan peternakan mengandung kandungan nitrogen, kalium dan serat yang tinggi. Karya ilmiah ini dibuat dengan tujuan mengkaji pengolahan limbah pertanian dan peternakan menggunakan metode pengomposan sehingga menjadi produk yang bernilai dan dapat digunakan kembali.

 Sampah Peternakan

Kotoran sapi telah lama dianggap sebagai kotoran hewan yang paling ideal untuk kotoran ternak karena kandungan gizi dan bahan organiknya yang tinggi. Penambahan kotoran sapi akan meningkatkan kandungan karbon organik tanah dan menurunkan kandungan karbon organik tanah, sehingga meningkatkan aktivitas mikroorganisme menguntungkan di dalam tanah dan meningkatkan laju pemanfaatan unsur hara tanaman di dalam tanah (Zaman et al, 2017) Apabila diubah menjadi kompos, kotoran sapi menjadi pupuk kaya nutrisi. Kotoran sapi mengandung tiga unsur hara penting yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan yang sehat, yaitu Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Selain kotoran sapi, urine sapi mengandung 95% air, 2,5% urea dan sisanya 2,5% merupakan campuran garam, hormon, enzim dan mineral. Urine sapi sangat berguna untuk membunuh sejumlah bakteri, virus dan jamur yang mengotori pestisida dan herbisida. Urine sapi yang dikombinasikan dengan ekstrak tumbuhan berfungsi sebagai desinfektan yang ramah lingkungan (Ram, 2017).

Sampah Pertanian

Sampah sayuran mendominasi total sampah yang rata-rata mencapai 2 ton / hari. Komposisi limbah sayuran yang paling banyak ditemukan antara lain bayam, sawi putih, sawi, kol, dan sebagian kecil sayuran lainnya. Limbah sayuran ini biasanya akan diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), sedangkan sisanya akan ditinggalkan Limbah sayuran sisa belum diolah secara khusus, yang akan menyebabkan pencemaran lingkungan (Febriyantiningrum, 2018). Limbah sayuran memberikan nutrisi yang baik bagi mikroba, tidak mengandung patogen dan aman bagi lingkungan (Kalpana et al, 2011).

Pengelolaan Limbah Organik

Komposisi sampah perkotaan berdasarkan hasil sampling, sampah organik sebanyak 76% sedangkan sampah non organik 24%. Sampah organik berasal dari kegiatan domestik seperti sampah dapur dan kebun. Jenis sampah non organik yang ditemukan adalah plastik, kertas, logam, kaca, kain dan sampah lainnya (Revani et al, 2016). Limbah padat rumah tangga memiliki dampak langsung dan tidak langsung terhadap lingkungan dan kesejahteraan manusia. Dampak langsung terhadap kesehatan manusia, sehingga menimbulkan dampak sosial ekonomi yang signifikan. Efek tidak langsung, yaitu mempengaruhi sosial ekonomi dan keberlanjutan suatu tempat (Hakami and El-Sayed, 2015).

Sistem pengolahan sampah kota yang dilaksanakan sebagian besar masuk dalam kategori kota kecil, kota sedang, kota besar dan kota metropolitan di Indonesia, hanya pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan saja yang disebut 3P. Sampah hanya dikumpulkan dari sumbernya dan diangkut ke TPS dan akhirnya dibuang ke TPA. Masih banyak yang mengira mengolah sampah hanya dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), ada yang dengan membakar atau TPA hanya dengan Sanitary Landfill (Suprapto, 2010).

Pengomposan adalah proses dekomposisi biologis berbiaya rendah. Proses pengomposan didorong oleh aktivitas mikroba. Parameter fisik dan kimiawi meliputi suhu, kadar air, rasio C: N dan pH. Pengomposan merupakan salah satu alternatif dari sistem pengolahan limbah padat, yang dapat digunakan untuk mendaur ulang bahan organik menjadi produk yang bermanfaat. Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengendalikan peningkatan sampah. Proses ini dinilai paling efisien dan ramah lingkungan, karena kompos dapat digunakan sebagai pengkondisi tanah yang mengandung unsur hara tinggi bagi tanah. Komunitas mikroba dalam kompos seperti bakteri, jamur dan cacing juga dapat berfungsi menstabilkan bahan organik yang terdegradasi. Kinerja proses pengomposan juga bergantung pada karakteristik sampah, karena pengomposan hanya cocok untuk sampah yang dapat terurai secara hayati (Gonawala and Hemali, 2018).

Tata cara pembuatan kompos yang pertama adalah formulasi bahan bakunya. Kemudian rasio C / N dari campuran tersebut harus antara 30-35 untuk memastikan kondisi yang tepat bagi mikroorganisme untuk mengurai dan mengubah bahan organik (Sánchez et al, 2017). Pupuk organik merupakan produk utama pengomposan. Pupuk organik meningkatkan kesuburan tanah, struktur tanah, daya tampung air, sifat fisik dan kimiawi, pH tanah, aktivitas mikroba serta produksi tanaman (Muhammad dan Khattak, 2009). Standar pupuk organik yang baik untuk lingkungan diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70 Tahun 2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Perbaikan Tanah.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa pengolahan limbah ternak dan pertanian menjadi pupuk organik dengan metode pengomposan bermanfaat untuk mengurangi limbah dan mengolah limbah menjadi produk yang bernilai. Salah satu limbah ternak adalah kotoran sapi dan urine yang mengandung unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium yang baik untuk tanah, sedangkan limbah pertanian mengandung unsur hara yang baik untuk mikroba. Proses ini dinilai paling efisien dan ramah lingkungan, karena kompos dapat digunakan sebagai pengkondisi tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, struktur tanah, daya tampung air, sifat fisik dan kimia, pH tanah, aktivitas mikroba serta produksi tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Putri, Iasha Diana. 2017. Pengelolaan Sampah Peternakan dan Pertanian. Jakarta. Trisakti Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *