Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4 Dan Mol

Perubahan pola konsumsi masyarakat dan peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat dapat menghasilkan dampak dari jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan. Sampah merupakan zat-zat atau benda dalam wujud cair maupun padat yang dihasilkan dari berbagai kegiatan yang dilakukan manusia. Sampah dibagi menjadi dua yaitu sampah organic (dapat terurai) dan sampan non-organik (tidak dapat terurai). Berbagai usaha dilakukan untuk pengelolaan sampah dimasyarakat, diantaranya melakukan pembakaran sampah, membuang sampah ke sungai, atau dikumpulkan ditempat sampah terdekat yang kemudian akan diangkut oleh petugas ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Usaha tersebut dilakukan berdasarkan nilai ke praktisan karena sampah hanya akan hilang dari pandangan mata yang sebenarnya hanya akan menyelesaikan masalah sementara atau satu item dari sistem pengelolaan sampah. Tumpukan sampah yang menggunung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) akan berdampak pada degradasi kebersihan lingkungan karena mengeluarkan gas metan yang menyebabkan global warming.

Peraturan tentang Pengelolaan Sampah terdapat dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, yang ditetapkan dengan tujuan meningkatkan kesehatan masyarakat, kulitas lingkungan dan menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) merupakan cara pendekatan dalam mengelola sampah dari sumbernya. Pengelolaan sampah dengan prinsip tersebut sudah ditetapkan menjadi Strategi Nasional dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006. Prinsip yang pertama yaitu mengurangi timbunan sampah di sumber (reduce), prinsip ke dua yaitu menggunakan kembali bahan/material agar tidak menjadi sampah (reuse), dan prinsip ketiga yaitu mendaur ulang bahan yang tidak terpakai menjadi bahan lain yang lebih berguna (recycle) (Dias, 2009; Sony, 2010: Banowati, 2011).

Umumnya, pencemaran lingkungan disebabkan karena banyaknya jenis sampah diantaranya yaitu sampah sampah rumah tangga organik. Sampah rumah tangga organik adalah zat atau benda-benda dari hasil kegiatan manusia. Zat-zat atau benda-benda yang dihasilkan dari sampah tersebut diantaranya daun kering, sisa makanan, serta seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang sudah membusuk. Hingga saat ini, sampah rumah tangga organik masih menjadi permasalahan yang belum dapat teratasi dengan baik dan benar. Tumpukan sampah yang terus meningkat setiap harinya akan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan dan masalah lainnya. Penghancuran sampah yang dilakukan secara aerob (miskin oksigen) dapat menimbulkan bau tak sedap terhadap lingkungan dan kandungan protein yang tinggi dalam sampah akan meningkatkan bau yang dihasilkannya. Penghancuran secara aerob menghasilkan gas metana yang membawa efek buruk bagi bumi. Berdasarkan riset dari Princenton University gas tersebut memiliki bahaya 30 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gas CO2. Dampak lain yang ditimbulkan akibat adanya gunungan sampah yaitu lingkungan menjadi kotor dan kumuh. Timbunan sampah tersebut akan menjadi sarang binatang vektor seperti nyamuk, lalat dan tikus yang menjadi wabah penyakit dan membahayakan masyarakat. Permasalahan tersebut perlu adanya tindakan yang lebih lanjut dalam penanganan dan pengolahan sampah organik dirumah tangga agar tidak mencemari lingkungan sekitar dan tidak dapat menurunkan derajat kesehatan (Purnama, 2016).

KOMPOSTER

Komposter merupakan metode dalam pengelolaan sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk. Metode tersebut dapat digunakan dalam upaya pembuatan kompos sampah rumah tangga organik yang dapat membantu upaya pengelolaan sampah kota yaitu: mengurangi timbunan sampah, mengurangi biaya pengangkutan sampah, dan memperpanjang umur TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Pengkomposan dilakuan dengan pengolahan limbah padat yang mengandung bahan organik biodegradable, yaitu bahan organik yang dapat diuraikan oleh mikro organisme. Manfaat komposter selain menjadi pupuk organik, dapat juga memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap air, menahan air serta zat-zat hara, dan memperbaiki struktur tanah. Waktu yang dibutuhkan dalam pengkomposan secara alami relatif lama yaitu 2-3 bulan bahkan 6-12 bulan. Pengkomposan akan berjalan lebih cepat dengan cara fermentasi menggunakan bantuan mikro organisme (Saptoadi, 2003).

Komposter aerob adalah tempat sampah yang terbuat dari ember atau bahan berbentuk serupa yang dilubangi kecil-kecil dan ditutup rapat. Pengelolaan sampah rumah tangga organik dengan komposter aerob dapat dibuat dengan bahan-bahan yaitu net atau jaring, tong plastik 60 liter, tanah, EM4 dan MOL. Proses komposter ini dilakukan dengan cara yaitu: pertama, memilah sampah antara sampah berminyak dan bersantan, sampah tulang berulang, sampah kulit keras, serta sampah sayur dan buah (sampah sayur dan buah dijadikan satu karena dapat dengan mudah terurai). Kedua, menghancurkan atau merobek halus sampah, yang kemudian di masukan kedalam tong plastik 60 liter serta diberikan cairan EM4 dan MOL. Ketiga menutup rapat tong tersebut hingga beberapa minggu. Masa urai setiap sampah berbeda-beda. Sampah dengan tekstur keras seperti kulit durian dan tulang berulang akan membutuhkan masa urai lebih lama dibandingkan sampah sayur dan buah. EM4 berperan sebagai makanan bakteri agar mempercepat proses penguraian sampah. MOL (Mikro Organisme Lokal) merupakan aktivator yang membantu dalam mempercepat proses pengkomposan dan bermanfaat dalam meningkatkan unsur hara kompos. Pembuatan aktivator MOL dilakukan dengan menyiapkan bahan seperti gula merah, tapai singkong, dan air cucian beras. Bahan-bahan tersebut dicampurkan menjadi satu dan dilakukan fermentasi aerob selama 4-5 hari (Isro’I, 2010).

C/N RATIO

C/N ratio memiliki keterkaitan terhadap proses pengomposan. C/N ratios merupakan ratio massa Carbon (C) terhadap massa Nitrogen (N) pada suatu zat. Proses pengomposan adalah cara untuk menurunkan nilai C/N ratio bahan organik agar dapat diserap oleh tanaman. Bahan organic memiliki C/N ratio yang berbeda-beda, semakin tinggi nilai C/N ratio maka waktu yang dibutuhkan untuk proses penguraian semakin lama. Berdasarkan hasil riset Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4 dan MOL yang dilakukan oleh Mahasiswa Program Pascasarjana UNDIP, mendapatkan hasil analisis sampah rumah tangga organik menunjukan C/N ratio kandungan hara sampah cukup rendah yaitu dengan rata-rata 17,82. Pengomposan dalam kondisi ideal dengan C/N ratio 30:1, maka diperlukan penambahan bahan yang memiliki kandungan C besar diantaranya serbuk gergaji dengan C/N ratio 450:1 (Djuarni, 2005). Hasil riset tersebut menunjukan bahwa semakin lama waktu pengomposan menggunakan aktivaror (EM4 dan MOL) maka parameter C/N ratio akan menurun. Percobaan penggunaan aktivator EM4, MOL, campuran EM4/MOL dengan perbandingan 1:1, 1:2, 2:1 dapat menurunkan kadar parameter hasil kompos untuk C/N. Pemberian aktivator MOL memberikan hasil nilai C/N tertinggi, karena pada aktivator tersebut jumlah mikro organisme lebih sedikit jika dibandingkan dengan mikro organisme pada EM4. Sehingga, dengan sedikitnya mikro organisme akan membuat proses pengomposan lebih lambat. Hasil percobaan menggunakan aktivator sampuran EM4/MOL (2:1) menunjukan nilai C/N paling rendah karena campuran aktivator tersebut memiliki mikro organisme lebih banyak (Subandriyo dkk, 2012).


PROSES NUTRIFIKASI

Nutrifikasi merupakan proses penambahan satu atau lebih nutrizi ke dalam produk pangan. Nutrifikasi dibagi menjadi berbagai jenis yaitu fortifikasi, restorasi, pengkayaan, substitusi, dan standarisasi (Kurniawati, 2017). Pertimbangan yang harus dilakukan dalam proses nutrifikasi diantaranya biaya produksi harus seminimal mungkin, tidak menimbulkan efek negatif, dan zat gizinya tidak boleh bereaksi dengan bahan pangan (Martianto, 2012). Dalam pengolahan limbah terdapat proses Nitrifikasi yang akan dijelaskan dibawah ini.

  • Proses Nitrifikasi

Proses nitrifikasi merupakan proses biologi yang memiliki keunggulan karena efisiensi tinggi, kontrol proses relatif mudah, proses stabil, dan ekonomis. Proses nitrifikasi umunya dilakukan oleh bakteri autotroph yaitu Nitrobacter dan Nitrosomonas (Ubaidillah, R dan Maryanto, I., 2003). Semakin banyak dan berkembangnya industri-industri akan membawa dampak terhadap lingkungan. Salah satu dampak yang dihasilkan berupa limbah cair yang berasal dari proses-proses yang dilakukan industri tersebut. Amoniak yang terkandung dalam limbah cair pada proses industrialisasi akan semakin banyak seiring dengan berkembangnya pabrik-pabrik yang mengandung unsur nitrogen. Proses nitrifikasi merupakan proses penurunan atau penghilang zat aminiak yang menghasilkan zat polutan nitrit dan nitrat.

DAFTAR PUSTAKA

Banowati, Eva, 2011. Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Untuk Konservasi Lingkungan, Laporan Penelitian, Semarang: LP2M Unnes.

Djuarnani, N., Kristian, dan Setiawan, B.S. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Dias. Pingkan, L,.2009. Fasilitas Pengolahan Sampah di TPA Jatibarang. Tugas Akhir, Semarang: Fakutas Teknik Jurusan Arsitektur Undip.

Purnama, Sang Gede. 2016. Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga. Terdapat dalam Modul Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga. Departemen Kesehatan Lingkungan Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar.

Saptoadi, Harwin. 2003. “ Utilization Of Organic Matter From Municipal Solid Waste In Compost Industries.” Jurnal Manusia Dan Lingkungan, Vol.VIII, Desember, Hal 119 – 129.

Sony. 2008.Workshop on Community Based Solid Waste Management in Indonesia, Makalah, tanggal 16-17Januari 2008, Jakarta: Balai Kartini.

Subandriyo, Anggoro., DD, Hadiyanto. 2012. Optimasi Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga Menggunakan Kombinasi Aktivator Em4 Dan Mol Terhadap Rasio C/N. Terdapat dalam jurnal Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana UNDIP Vol 10(2): 70-75.

Ubaidillah, R., dan Maryanto, I. 2003. Profil dan Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau. PUSLIT BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENELITIAN INDONESIA

Isroi. 2010. Kompos jerami untuk solusi kebutuhan pupuk petani murah mudah cepat. (http://isroi.wordpress.com/2010/07/19/kompos-jerami-untuk- solusi-kebutuhan-pupuk-petanimurah-mudah-cepat//, diakses tanggal 14 Oktober 2020).

Kurniawati. 2017. Teknologi Suplementasi Pangan http://adelyadesi.lecture.ub.ac.id/ [Diakses pada 14 Oktober 2020].

Martianto, D. 2012. Fortifikasi Pangan. http://seafast.ipb.ac.id/lectures/MPTP-2011/ [Diakses pada 14 Oktober 2020]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *