Penerapan Sistem Irigasi Tetes untuk Mengoptimalkan Budidaya Tanaman Cabai

Cabai merupakan salah satu rempah – rempah yang sangat diminati oleh rakyat Indonesia. Tingkat permintaan dan penawarannya selalu tinggi setiap tahunnya tanpa mengenal musim. Cabai ini biasanya digunakan untuk keperluan dapur dan kuliner. Selain harga jualnya yang relatif murah, cabai juga dinilai sebagai bahan penyedap makanan alami dan aman untuk dikonsumsi dalam batas wajar. Nilai ekonomi cabai pun bisa dikatakan cukup tinggi mengingat luas lahan cabai terus meningkat setiap tahunnya.

Sayangnya, para petani cabai akhir – akhir ini semakin banyak yang mengalami kendala dalam memenuhi hidupnya. Hal ini dipengaruhi oleh pergeseran musim yang semakin hari semakin sulit untuk diprediksi. Pergeseran musim yang tidak menentu mengakibatkan adanya dua fenomena alam yang bernama El Nino (Kemarau berkepanjangan) dan La Nina (Hujan terus menerus). Kedua hal diatas disebabkan oleh meningkatnya efek rumah kaca, peningkatan suhu udara, dan meningginya permukaan air laut. Apalagi, pertanian merupakan salah satu sektor yang paling terdampak bila terjadi pergeseran musim secara tak tentu. Tidak heran bila kita mendengar berita gagal panen akibat perubahan musim yang tidak menentu dan tidak sedikit petani cabai yang kehilangan pendapatannya secara total akibat hal tersebut. Tidak hanya musim yang kerap kali mengalami pergeseran, tetapi juga letak geografis pun berpengaruh terhadap proses pra s.d. pasca panen cabai. Dan masalah yang paling utama, khususnya bagi pemula adalah keterbatasan modal. Tidak sedikit petani pemula yang ingin memulai usaha budidaya cabai namun terkendala dalam hal penyediaan modal.

Oleh karena itu, sistem irigasi model tetes merupakan suatu solusi bagi petani cabai yang akan memulai usahanya dengan modal seminimal mungkin dan juga untuk mengurangi rasa khawatir gagal panen akibat perubahan musim yang tidak menentu. Sistem ini dapat diterapkan pada daerah yang kerap kali mengalami pergeseran musim dan dapat diterapkan pada kondisi geografis yang lahannya cenderung kering juga landai.

Sistem irigasi tetes pada dasarnya cukup mudah untuk diterapkan karena bahan dan peralatannya sederhana serta mudah untuk didapat. Bahan yang diperlukan untuk pembuatan sistem ini hanya pipa PVC dua jenis (Diameter 3/4 inch sebagai pipa utama dan diameter 1/2 inch sebagai pipa tetes), shok drat, wadah penampung air seperti toren, keran sentral, dan selang air plastik sehingga tidak terlalu membebani petani cabai dari segi modal usaha. Hal positif lainnya adalah petani cabai bisa menghemat pengeluaran untuk tenaga penyiram tanaman setiap harinya karena dengan sistem ini, tanaman cukup disiram dua hari sekali. Sehingga, sistem ini mampu menghemat penggunaan air.

Bagaimana Cara Kerja dari Sistem Irigasi Tetes?

Cara kerjanya sangat sederhana dan mudah untuk dipahami. Mulanya, air dari bor sumur atau sungai akan dipompa dan ditampung terlebih dahulu di dalam wadah penampungan atau toren air. Aliran air dapat dibuka dan ditutup oleh petani dengan keran sentral sesuai kebutuhan. Kemudian, bukalah keran sentral sekitar 10 menit dan air akan mengalir menuju lubang yang sudah dibuat dengan mengandalkan tekanan gaya gravitasi. Lalu, air akan menetes secara perlahan dan menyebar secara rata menuju ke akar tanaman baik melalui permukaan tanah ataupun langsung menuju akar melalui jaringan katup, pipa, dan emtior. Dengan menggunakan sistem irigasi tetes, tanaman cabai bisa lebih banyak menyerap air ketimbang sistem pengairan lainnya yang kerap kali mengalami evaporasi sehingga air yang diserap oleh tanaman lebih sedikit.

Selang sudah disusun sedemikian rupa untuk mendistribusikan air. Selang yang umum digunakan oleh para petani adalah selang drip. Selang model ini stoknya cukup berlimpah baik di online store maupun toko bangunan terdekat. Kecanggihan teknologi dari sebuah selang drip dapat ditentukan melalui harganya. Selang drip model biasa harganya cukup terjangkau. Tetapi, petani harus melubanginya sendiri dengan jarum sebelum digunakan. Ada pula selang drip yang sudah dilubangi oleh pabrikannya. Harganya memang lebih mahal tetapi sebanding dengan keuntungan yang didapat karena selangnya sudah dilubangi oleh pabrikan. Sehingga, semburan airnya akan menjadi lebih seragam.

Proses instalasi irigasi tetes dapat dikatakan cukup mudah. Di bawah ini merupakan langkah – langkah instalasi dari sistem irigasi tetes jika menggunakan drip yang sudah dilubangi oleh pabrikan:

  1. Ukur panjang bedengan (tempat tumbuhnya tanaman) secara keseluruhan untuk mengetahui jumlah dari selang drip yang dibutuhkan
  2. Setiap bedeng dapat dipasangi satu hingga dua drip sesuai dengan kebutuhan
  3. Lebihkan sedikit panjang selang drip dari panjang bedengan. Misalkan panjang bedengan sekitar 10 meter, maka panjang selang drip dapat dilebihkan sekitar 1 meter
  4. Siapkan pipa PVC berdiameter 2 inch sebagai selang induk untuk dihubungkan dengan drip. Untuk menghubungkan keduanya, diperlukan shok drat dalam dan luar yang ukurannya menyesuaikan dengan diameter pipa.
  5. Siapkan pipa PVC lainnya yang berukuran 3/4 inch sepanjang 10 cm untuk menghubungkan selang drip dengan shok drat.
  6. Bila sudah selesai, ikat setiap ujung selang drip. Kemudian hidupkan pompa air untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.
  7. Pastikan untuk selalu menggunakan air bersih mengingat pipa dan selang sangat rentan tersumbat bila kita menggunakan air yang terkontaminasi.

 

Sistem irigasi tetes memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem lainnya. Diantaranya:

  1. Bahan dan alat relatif mudah untuk didapatkan
  2. Meminimalisir air yang menguap sehingga tanaman bisa menyerap lebih banyak air
  3. Air akan tersebar merata karena air menetes secara perlahan. Sehingga, akar tanaman cabai bisa mendapatkan nutrisi dalam jumlah yang lebih banyak
  4. Menghemat penggunaan air karena tanaman hanya perlu disiram dua hari sekali.
  5. Pompa air cukup dinyalakan dalam waktu singkat (Tidak perlu 24 jam menyala) untuk keperluan menyiram tanaman sehingga dapat menghemat penggunaan tenaga listrik

Meskipun sistem ini terbukti efektif untuk menghadapi perubahan musim yang tidak menentu, tidak ada ciptaan manusia yang sempurna. Karena itu ini adalah beberapa kelamahan dari sistem irigasi tetes:

    1. Rentan terjadi human error dikarenakan petani mencabut selang tetes dan bisa saja lupa untuk dikembalikan ke posisi semula. Alhasil, tanaman tidak mendapatkan nutrisi dan air.
    2. Di media tanam yang konturnya kasar dan licin seperti kerikil, air tidak mengalir secara baik ke seluruh bagian akar

Kesimpulannya, sistem irigasi tetes sangat cocok untuk diterapkan pada budidaya tanaman cabai. Hal ini dikarenakan langkah instalasinya mudah, cara kerjanya sederhana, bahan dan alat mudah didapat, dan bisa menghemat penggunaan air dan juga listrik. Selain itu, sistem ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman cabai mengingat permintaan dan penawarannya yang cukup tinggi tanpa mengenal musim.

DAFTAR PUSTAKA

https://8villages.com, Sistem Irigasi Tetes, 28 Mei 2019, https://8villages.com/full/petani/article/id/5cecd1513a4bcb6c685c98d5 (11 November 2020)

https://mongabay.co.id, Sistem Irigasi Tetes, 18 Juli 2020, https://www.mongabay.co.id/2020/07/18/ini-sistem-irigasi-tetes-dan-penyiraman-tanaman-menggunakan-ponsel/ (11 November 2020)

https://www.kompasiana.com, Mengenal Irigasi Tetes, 21 Oktober 2020 07:53, https://www.kompasiana.com/vdpsiaasindonesia/5f8f85a8d541df29aa77b452/mengenal-sistem-irigasi-tetes-drip-irrigation-system (12 November 2020)

youtube.com, Teknologi Irigasi Tetes, 26 Januari 2020, https://www.youtube.com/watch?v=6iied70eK4c, (12 November 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *