Penerapan Metode Konservasi Teras Bangku dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanah

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal karena sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah di bidang pertanian. Tak salah jika Indonesia menjadi salah satu negara agraris terbesar di dunia. Tetapi selain karena sumber daya alam yang melimpah, pertanian di Indonesia didukung juga oleh masyarakat yang sebagian besar pekerjaannya berada di bidang pertanian. Berbicara bidang pertanian, pasti sudah tak asing dengan sawah yang merupakan media penanaman padi sebagai komoditas utama dan sudah diterapkan sejak dahulu. Kualitas tanah dan air sebagai media padi bertumbuh sangat penting diperhatikan jika kita ingin padi yang dihasilkan dari sawah mempunyai kualitas yang baik. Oleh karena itu, terdapat metode yang disebut konservasi tanah. Konservasi tanah merupakan kegiatan dalam upaya menjaga, melestarikan, dan meningkatkan kualitas produktivitas tanah. Tujuan dari konservasi tanah adalah meningkatkan produktivitas tanah dan mencegah terjadinya kerusakan tanah seperti erosi. Apa yang terjadi jika tanah mengalami erosi? Tanah yang terdampak erosi sangat sulit untuk digarap dan diperbaiki lagi sehingga konservasi tanah harus diterapkan. Terdapat dua metode dari konservasi tanah yaitu vegetatif dan mekanik/sipil teknis. Metode yang biasanya dijumpai pada persawahan di sebagian besar wilayah Indonesia adalah konservasi tanah mekanik yang di dalamnya terdapat metode terasering. Pada pembahasan kali ini, kita akan berfokus pada terasering jenis teras bangku.

Metode konservasi tanah teras bangku di dunia sudah ada sejak dahulu. Pada abad ke-14, orang Indian telah membangun teras bangku untuk pertumbuhan tanaman gandum. Contoh lainnya adalah sejak 1885, North California telah menerapkan metode teras bangku dalam lahan pertanian. Hal tersebut membuat banyak negara-negara yang mulai menerapkan metode teras bangku dalam berbagai kebutuhan dan tujuan. Di Indonesia sendiri, teras bangku merupakan metode yang paling sering dijumpai dan dikenali oleh masyarakat karena sudah dipakai sejak lama oleh masyarakat untuk membantu dalam irigasi. Saat ini, adopsi metode konservasi teras bangku tergolong tinggi, terutama di Pulau Jawa yang mendapat subsidi untuk penerapan metode teras bangku secara besar-besaran. Selain subsidi, metode ini memiliki tingkat penerapan yang tinggi karena aspek tradisi secara turun-temurun bagi para petani. Beberapa contoh persawahan di Indonesia yang menerapkan metode konservasi teras bangku adalah Terasering Panyaweuan di Majalengka (Jawa Barat), Terasering Trenggalek (Jawa Timur), dan Terasering Tegalalang di Ubud (Bali).

Permasalahan utama dalam terciptanya konservasi tanah adalah erosi tanah. Erosi tanah merupakan suatu peristiwa berpindahnya tanah yang disebabkan oleh angin atau air. Peristiwa tersebut ditandai dengan tidak suburnya tanah, munculnya batu-batu di permukaan, dan tanaman terkubur oleh tanah. Prinsip-prinsip konservasi tanah terhadap terjadinya erosi tanah pada dasarnya adalah mengurangi dampak terjatuhnya air hujan ke permukaan tanah, mengurangi jumlah dan kecepatan air permukaan dalam melimpas lahan, mengikatkan ketahanan tanah. Untuk menangguli gejala-gejala terjadinya erosi, kita dapat menerapkan metode konservasi teras bangku pada lahan yang akan kita garap. Mengapa harus teras bangku? Karena metode ini dianggap efektif bagi para petani dan relatif tidak mudah rusak. Teras bangku memiliki beberapa tipe atau jenis yaitu sebagai berikut.
1. Datar (jika bidang garapnya datar dan membentuk sudut 0 derajat dengan bidang horizontal)
2. Miring ke dalam atau goler kampak (Jika bidang garapnya miring berlawanan dengan arah asli lereng)
3. Miring keluar (jika bidang garapnya miring ke arah asli lereng)
4. Teras irigasi (digunakan pada sawah yang mempunyai sistem tadah hujan)

Walaupun mempunyai sifat yang tidak mudah rusak, tidak semua jenis dan keadaan tanah dapat diterapkan metode teras bangku. Tanah yang tidak cocok atau tidak dianjurkan untuk diterapkan metode ini adalah tanah yang dangkal, tanah yang akan digarap menggunakan alat dan mesin pertanian, tanah yang mengandung aluminium dan besi dengan intensitas yang tinggi, dan tanah yang mudah terjadi longsor atau pergeseran, dan tanah dengan kemiringan lebih dari 40%. Untuk itu, terdapat kondisi tanah yang ideal untuk diterapkannya metode teras bangku yaitu pada tanah yang mempunyai kemiringan 10% – 40%. Jika kita ingin meningkatkan kekuatan dan ketahanan teras bangku, kita dapat menerapkan suatu cara, dengan ditanami tanaman penguat di sekitar bibir teras. Tanaman yang bisa dijadikan penguat pada konservasi teras bangku adalah tanaman rumput seperti rumput bede (Brachiaria decumbens), rumput bahia (Paspalum notatum), rumput setaria (Setaria sphacelata), rumput gajah (Penisetum purpureum), atau akar wangi (Vetiveria zizanioides). Selain rumput, terdapat alternatif lain yang dapat meningkatkan kekuatan teras bangku yaitu tanaman legum seperti gamal (Gliricidia sepium). Cara tersebut terbukti dapat menguatkan teras bangku, salah satunya adalah pada tanah latosol (oxisols) yang berada di Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Jawa Barat, erosi yang terjadi pada tahun pertama besarnya adalah 1,2 t ha^-1 dan pada tahun kedua terjadi penurunan sampai dengan 0,4 t ha^-1 dengan menggunakan penguat yaitu tanaman rumput bede.

Teras bangku memang sudah dikenal dan diterapkan secara masif di Indonesia, mulai dari karena faktor subsidi yang diberikan untuk membangun teras bangku besar-besaran, faktor tradisi yang diturunkan dari masa ke masa, hingga faktor wisata yang menjadikan teras bangku mempunyai daya tarik tersendiri. Bahkan terdapat persawahan di Indonesia yang terkenal hingga mancanegara karena keindahan pemandangan yang diberikan dari hasil tangan dan kerja keras petani setempat. Contohnya saja adalah persawahan di Ubud, Bali yang sudah sering dikunjungi oleh turis asing yang berlibur di Bali. Seperti yang sudah disinggung di atas, karena hal tersebut menjadikan metode teras bangku berbeda dari dari metode-metode konservasi yang lain karena mempunyai ciri khas dan daya tarik di bidang wisata.

Metode konservasi teras bangku sudah sangat dikenali oleh masyarakat. Mulai dari faktor subsidi yang diberikan secara besar-besaran, faktor tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, hingga faktor daya tarik wisata yang menjadikan teras bangku sangat terkenal. Ditambah teras bangku mempunyai kelebihan yaitu relatif tidak mudah rusak menjadikan teras bangku banyak diterapkan untuk mencegah terjadinya kerusakan tanah. Dengan demikian, kita sebagai generasi yang akan melanjutkan pembangunan negara, harus bisa mempertahankan tradisi dan terus berinovasi dalam bidang konservasi tanah dan bidang-bidang lain.

Referensi :

http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/buku/buku%20lahan%20kering/05tek_konservasi_mekanik.pdf

https://www.academia.edu/43328984/KONSERVASI_TANAH_DAN_AIR

http://eprints.undip.ac.id/528/1/halaman_8-14__Anik_.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *