Pencegahan Erosi Tanah Menggunakan Metode Terasering

Bila sedang mengangkat pembahasan mengenai teknik tanah dan air di Indonesia, pembahasan tersebut biasanya tidak jauh dari kata konservasi lahan. Konservasi lahan itu sendiri memiliki makna yang berarti salah satu rangkaian strategi dalam mengatur dan mencari cara untuk mencegah erosi yang terjadi pada tanah di permukaan bumi. Terjadinya erosi biasanya ditandai dengan beberapa perubahan secara biologi ataupun kimiawi yang diantaranya adalah akibat dari penggunaan lahan yang bisa dibilang berlebihan, pengasaman yang terjadi pada lahan, degradasi atau salinisasi dimana garam yang terlarut dalam air terakumulasi dalam media tempat menanam, dan kontaminasi yang berasal dari faktor luar lainnya. Penerapan salah satu konservasi lahan tersebut yang ada di Indonesaia adalah terasering.

Terasering atau yang biasanya sering disebut dengan sengkedan adalah salah satu metode konservasi tanah secara mekanis yang biasa diterapkan pada lahan pertanian untuk mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng. Terasering itu sendiri dapat diterapkan dengan cara menggali tanah melintang pada lereng tempat pertanian. Metode ini didasari dengan menggunakan konsep menahan air sehingga kecepatan dan jumlah aliran air yang terdapat di atas permukaan tanah berkurang, serta memperbanyak dan memperbesar peluang dari menyerapnya air ke dalam tanah. Pengertian lain dari terasering adalah suatu teknik ataupun pola dari bercocok tanam dengan sistem bertingkat atau berteras-teras yang merupakan suatu upaya untuk mencegah erosi yang terjadi pada tanah, lebih tepatnya lagi pada lahan pertanian untuk bercocok tanam. Alasan utama diterapkannya terasering dalam lahan pertanian adalah untuk mencegah erosi yang ada pada lahan tersebut. Kata erosi diambil dari Bahasa Latin yaitu dari kata erosionem yang memiliki arti menggerogoti. Bila dilihat dari kacamata umum, erosi memiliki pengertian yang berarti proses pengikisan yang biasanya terjadi pada suatu lahan ataupun tanah di lapisan bagian atas. Erosi pada lahan pertanian bisa disebabkan oleh dua faktor yang diantaranya adalah erosi yang disebabkan oleh alam itu sendiri dan erosi yang disebabkan oleh manusia.

Erosi lahan yang disebabkan oleh alam adalah erosi yang terjadi karena alam itu sendiri yang sedang mengalami pembentukan tanah dan mempertahankan keseimbangan dari tanah pada lahan itu sendiri. Erosi yang disebabkan oleh alam biasanya juga berasal dari pengikisan oleh air pada permukaan lahan,  pengikisan oleh angin, dan juga es. Erosi lahan yang disebabkan oleh fakor manusia merupakan erosi yang biasanya dimulai dengan munculnya kerusakan yang disusul dengan keretakan pada tanah akibat ulah manusia yang menyebabkan kualitas tanah di lahan pertanian itu menurun. Hal tersebut dapat terjadi akibat perbuatan manusia yang melakukan kegiatan bercocok tanam tanpa memperhatikan serta menerapkan aturan-aturan saat mengadakan konservasi tanah pada suatu lahan. Jumlah penduduk yang besar juga merupakan alasan lain yang mengakibatkan persentase atas permintaan komoditas pangan semakin tinggi setiap waktunya, sehingga hasil yang berasal dari pertanian yang memiliki lahan datar sudah tidak dapat mencukupi permintaan masyarakat. Berasal dari alasan tersebut, tidak sedikit dari petani yang pada akhirnya beralih untuk menggunakan lokasi bercocok tanam dengan lahan yang memiliki kontur miring serta berlereng. Hal tersebutlah yang membuat keadaan semakin parah, mengingat tidak sedikit dari para petani yang kurang mempunyai keahlian, pengalaman, serta standar kompetensi untuk bercocok tanam pada model lahan tersebut.

Terasering sendiri mempunyai banyak manfaat, khususnya bagi para petani yang akan bercocok tanam di lahan ataupun lokasi yang miring. Fungsi dari terasering tersebut diantaranya adalah memperbanyak lokasi penyerapan air hujan sehingga dapat dengan baik terserap ke dalam tanah, menjaga lahan pertanian yang berlereng agar kestabilannya tetap baik dan meningkat, mempermudah petani untuk merawat lahan pertanian, mengurangi kecepatan aliran air atau biasa disebut runoff  di atas permukaan tanah, memperkecil dan mengurangi panjang serta tingkat kemiringan lereng, membantu mengendalikan arah aliran air yang nantinya akan menuju ke daerah atau dataran yang lebih rendah dari lahan pertanian itu sendiri sehingga dapat merata dan tidak tertampung di satu titik saja.

Selain dari bagian fungsinya, terasering juga memiliki berbagai macam jenis serta metode yang dapat diterapkan oleh para petani sesuai dengan lokasi lahannya masing-masing. Jenis yang pertama adalah teras datar, teras ini memiliki bentuk seperti tanggul yang letaknya dengan kontur sejajar. Teras ini diterapkan pada lokasi yang curah hujannya rendah dan kemiringan lahan sama dengan atau kurang dari 3 persen. Jenis yang kedua adalah teras kredit, teras ini merupakan salah satu jenis terasering dengan batu yang sejajar kontur dan bentuk tumpukan tanah. Teras kredit ini biasa diterapkan pada lokasi lahan yang memiliki kemiringan lereng antara 3 sampai 10 persen, memiliki kedalaman tanah tidak kurang dari 30 cm, dan daya resap tanah yang tinggi. Jenis yang ketiga adalah teras kebun, teras ini merupakan teras yang dalam proses pembuatannya sejajar kontur dengan bagian lain. Teras kebun ini biasa diterapkan pada lereng yang memiliki kemiringan 30 sampai 50 persen. Jenis yang keempat adalah teras individu, teras ini biasa diterapkan pada lokasi yang memiliki kemiringan mulai dari 10 sampai 50 persen dan dengan kedalaman tanah tidak kurang dari 30 cm, teras ini biasa ditanami dengan tanaman kayu. Jenis yang kelima adalah teras saluran, teras ini memiliki bentuk berupa lubang-lubang buntu yang fungsinya sendiri adalah untuk menampung endapan dari tanah akibat proses pengendapan yang biasanya berasal dari media air dan angin. Tanaman yang biasanya ditanam menggunakan metode teras ini adalah tanaman kayu. Jenis yang keenam adalah teras bangku, teras ini dibuat dengan memotong lereng dan akhirnya terbentuk seperti deretan bangku. Metode teras bangku biasanya ditanami rumput yang berfungsi untuk memperkokoh teras dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air.

Metode terasering sebaiknya dapat secara menyeluruh diterapkan oleh para petani pada lahannya masing-masing di Indonesia. Metode ini sangat bermanfaat untuk kedua belah pihak, baik untuk alam dan juga untuk para petani. Terasering dapat mempermudah manusia khususnya para petani dalam merawat dan membudidayakan lahan pertaniannya agar dapat selalu terjaga kondisinya dengan baik. Terasering juga memberikan dampak positif bagi alam dengan membantu mempertahankan kualitas lokasi tempat bercocok tanam tetap terjaga dari berbagai macam gangguan yang diantaranya adalah erosi tanah.

 

Referensi :

ilmugeografi.com. 2020. 8 Cara Mencegar Erosi Tanah. Diakses pada 11 November 2020, dari https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/cara-mencegah-erosi-tanah

Erosi. (2019, Desember 4). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 23:17, April 11, 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Erosi

Terasering. (2018, Desember 8). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 23:17, April 11, 2020, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Terasering#:~:text=Terasering%20atau%20sengkedan%20merupakan%20metode,peluang%20penyerapan%20air%20oleh%20tanah.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *