Penanaman Selada Secara Hidroponik Sebagai Produk Urban Farming

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia dan menduduki peringkat keempat setelah Amerika Serikat.Berdasarkan survei penduduk yang dilakukan oleh bada Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019,tercatat penduduk Indonesia sebanyak 267 juta jiwa.Diperkirakan di tahun 2020 sebanyak 70% warga Indonesia tinggal di perkotaan.Hal ini menjadi salah satu penyebab lahan kosong semakin sulit untuk ditemui di tengah-tengah kota.Lahan-lahan kosong diubah menjadi tempat perbelanjaan,gedung kantor dan lain sebagainya untuk menunjang kebutuhan masyarakat.Terlebih jika ingin membuka lahan pertanian,perlu diperhatikan dengan baik pembukaan lahan yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan di sekitarnya.Lahan pertanian juga dilakukan di dekat areal yang dekat dengan sumber air.Berbagai hambatan dalam membuka lahan pertanian ini dapat diatasi dengan melakukan kegiatan Urban Farming yang dinilai efektif untuk dilakukan di tempat yang terbatas.Urban Farming juga kini tengah diminati oleh masyarakat perkotaan.

Apa itu Urban Farming?

Urban Farming adalah suatu kegiatan bercocok tanam secara mandiri di wilayah perkotaan dengan lahan yang terbatas dan yang nanti hasilnya dapat dikonsumsi untuk kepentingan pribadi ataupun dapat dijual kepada orang lain.Kegiatan Urban Farming dapat dilakukan di halaman rumah ataupun di rooftop.Urban Farming dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu:

  1. Metode Vertikultur:Metode ini membuat penanaman secara vertikal demi memanfaatkan lahan yang terbatas.
  2. Metode Hidroponik:Metode ini menggunakan air sebagai media tanam.
  3. Metode Akuaponik:Merupakan metode yang menggabungkan sistem akuakultur dengan hidroponik dan menggunakan kotoran ikan sebagai nutrisi tanaman.

Hidroponik menjadi salah satu metode yang digemari masyarakat.Kata Hidroponik sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu hidro artinya air dan ponos yang berarti kerja.Dari gabungan kata ini menjadikan arti kata hidroponik adalah kegiatan bercocok tanam dengan air sebagai media tanam menggantikan tanah.Berbagai keuntungan dengan menanam menggunakan metode hidroponik yakni:

  • Mengurangi pemakaian pestisida
  • Tanaman tumbuh lebih cepat dengan keadaan yang baik
  • Pemakaian pupuk lebih sedikit
  • Tidak adanya kerusakan tanaman akibat perubahan kondisi alam ataupun kekeringan
  • Tanaman yang mati dapat dengan mudah diganti dengan tanaman baru

Hasil pertanian hidroponik juga dinilai lebih menyehatkan karena pelaksaannya penanamannya secara organik.Selain itu,harga jual produk hidroponik lebih tinggi dibanding produk non-hidroponik.Karena itu,pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang “Penanaman Selada secara Hidroponik sebagai Produk Urban Farming”.

Selada merupakan salah satu tumbuhan sayur hijau yang mudah ditemui di makanan.Sayur yang bernama latin Lactuca sativa L. ini sering digunakan dalam campuran salad,penghias makanan serta menjadi sayuran di dalam makanan cepat saji.Selain itu,selada mempunyai banyak manfaat bagi tubuh yaitu menjaga kesehatan jantung,mempercantik kulit,menjaga kesehatan mata serta menjaga berat badan karena selada merupakan sayuran rendah kalori.Selada mudah ditemukan serta harganya juga terbilang terjangkau.Menurut Haryanto (2007),selada terdiri dari empat jenis yaitu:

  1. Selada kepala (Head lettuce)
  2. Selada rapuh (Cos lettuce)
  3. Selada daun (Leaf lettuce/cut lettuce)
  4. Selada batang (Stem lettuce)

Berdasarkan Direktorat Gizi Depkes RI 1987,di dalam 100 gram selada terdapat antara lain:

  • Kalori 15 kal
  • Protein 1,2 gram
  • Lemak 0,2 gram
  • Kalsium 22 mg
  • Karbohidrat 2,9 gram
  • Zat Besi (Fe) 0,5 gr
  • Fosfor 25 gr
  • Vitamin B1 0,04 mg
  • Vitamin C 8 mg
  • Air 94,8 gr

Syarat menanam tumbuhan selada

Selada dapat ditanam dan di budidayakan di daerah dingin,dataran rendah dan dataran tinggi.Iklim yang tepat untuk menanam selada adalah di antara 15-25 derajat Celsius.Selada dapat ditanam di dataran rendah,namun untuk jenis selada tertentu mungkin tidak efektif.Waktu yang tepat untuk menanam selada adalah di menjelang musim hujan karena akar selada akan mengering jika ditanam di iklim yang panas.Selada membutuhkan intensitas cahaya yang cukup untuk memudahkan proses fotosintesis.Dengan cahaya yang cukup,selada dapat tumbuh dan menghasilkan hasil yang baik.

Dalam menanam selada hidroponik,terdapat empat tahap yaitu:Tahap penyemaian,tahap pindah tanam,tahap pembesaran dan masa panen.Langkah untuk menanam selada hidroponik cukup mudah Anda hanya perlu menyiapkan alat dan bahan yaitu:

  1. Rockwool
  2. Gergaji
  3. Sprayer kosong
  4. Benih selada secukupnya
  5. Lidi
  6. Nampan
  7. Air bersih

Tahap pertama yaitu penyemaian benih.Langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah memotong rockwool dengan tebal 3 cm menggunakan gergaji.Lalu bagi rocwool menjadi 18 bagian dengan cara mengiris tipis (tidak sampai terpisah) sedalam 1 cm dengan sisi pendek sepanjang 3 cm dan sisi Panjang 6 cm.Lalu lubangi kotak tadi sedalam 0,5 cm dengan lidi secara perlahan.Setelah itu masukkan sebiji benih selada ke dalamnya.Lalu basahi rockwool di atas nampan hingga seluruh bagian terkena air yang cukup.Letakkan semaian di bawah sinar matahari yang penuh dan semaian tidak ditutupi oleh apapun,biarkan tetap terbuka.

Hari ketiga dan keempat semaian sudah mulai memunculkan daunnya.Jika hal tersebut sudah terjadi,cek rockwool apakah sudah kering atau tidak.Jika sudah kering semprotkan air menggunakan  sprayer  yang telah diisi air.Rockwool harus selalu basah.

Tahap kedua adalah pindah tanam.Ketika daun sudah muncul,pindahkan semaian ke sistem hidroponik.Lalu siapkan netpot yang telah disisipkan kain flanel di dalamnya.Sistem hidroponik dapat dibuat dengan bak kecil yang diisi dengan air nutrisi dan penutup bak berlubang sesuai besar netpot.Setelah itu pisahkan rockwool sesuai dengan irisan yang telah dibuat lalu pilih tanaman yang paling bagus (berdaun 3 ataupun 4).Lalu masukkan tanaman ke netpot dan tekan hingga terkena kain flanelnya setelah itu masukkan netpot ke dalam sistem hidroponik.Ulangi hingga seluruh tanaman habis dan pastikan kain flanel terkena ke air nutrisi.

Tahap ketiga adalah pembesaran.Di hari pertama cek tanaman setiap 1 hingga 2 hari sekali untuk memastikan kepekatan air nutrisinya apakah tetap atau berkurang.Jika berkurang,tambahkan kepekatan nutrisi.Sedikit catatan,jika air nutrisi sudah terlihat kotor,segera ganti dengan yang baru.Cek tanaman secara berkala hingga hari ke-30.Di hari ke-30 air nutrisi akan lebih cepat habis terserap oleh tanaman,maka perlu untuk mengecek nutrisi secara intensif.

Tahap terakhir adalah masa panen.Di hari ke-34 ataupun hari ke-35 Anda sudah bisa memanen selada hidroponik Anda.Pemanenan jangan ditunda terlalu lama karena akan mengubah selada menjadi pahit.

Berikut adalah penjelasan saya tentang penanaman selada secara hidroponik sebagai produk urban farming.Kesimpulannya,dengan pengaplikasian urban farming di daerah perkotaan,akan menjadi efektif dengan diikuti banyaknya manfaat selada yang diberikan.Lahan yang sempit di perkotaan juga bukan menjadi halangan bagi masyarakat yang ingin mencoba pertanian.Semoga dengan adanya kegiatan urban farming,kebutuhan pangan masyrakat perkotaan dapat terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Binaraesa, N. (2017). Nilai EC (Electro Conductivity) Berdasarkan Umur Tanaman Selada Daun Hijau (Lactuca Sativa L.) Dengan Sistem Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Roidah, I. S. (2015). Pemanfaatan lahan dengan menggunakan sistem hidroponik. Jurnal Bonorowo1(2), 43-49.

Sedana, G. Urban Farming sebagai Pertanian Alternatif dalam Mengatasi Masalah Ekonomi pada Masa dan Pasca Pandemi Covid 191.

Wardani, T. J., & Arnellis, A. (2019). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakmerataan Jumlah Penduduk di Indonesia Menggunakan Analisis Faktor. UNP Journal of Mathematics2(4).

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *