Pembuatan Sabun Mandi Cair Dengan Antiseptik Dari Lidah Buaya

Sekarang ini banyak pusat industri di Indonesia yang memanfaatkan lidah buaya sebagai bahan baku utama dalam pembuatan produknya. Baik industri kosmetik hingga industri makanan serta minuman. Lidah buaya sudah jadi tanaman budidaya dan sudah diolah sedemikian rupa menjadi bermacam produk, antara lain teh, kerupuk, dodol, manisan dan aneka wujud olahan yang lain. Ada pula hasil samping dari pengolahan bermacam produk tersebut merupakan bagian kulit daun lidah buaya. Kulit lidah buaya tidak dimanfaatkan serta dibuang sembarangan. Hal tersebut menjadi permasalahan penduduk yang berada di sekitar industri tersebut, dan yang paling utama yaitu bau kurang nikmat yang disebabkan terbentuknya respon pembusukan dan menganggu pemandangan para pengguna jalan.

Limbah kulit daun lidah buaya mempunyai khasiat yang belum banyak dieksplorasi oleh golongan industri terhitung warga yang tinggal di sekitar. Informasi menampilkan kalau di setiap industri yang mengolah lidah buaya tiap bulan menggunakan kurang lebih 2 ton lidah buaya dari hasil budidaya. Perihal tersebut pula menunjukkan kalau kulit lidah buaya yang tidak terpakai jumlahnya pula hendak terus menjadi besar sebab para penjual cenderung hendak mengambil bagian daging lidah buaya dan membuang bagian kulitnya. Bersumber pada hasil riset literatur yang sudah dicoba ditemui kalau kulit lidah buaya yang cuma dikenal sebagai limbah nyatanya mempunyai aktivitas antibakteri. Oleh karenanya, kemampuan dari limbah kulit lidah buaya bisa diolah lebih lanjut serta diolah sebagai produk yang bernilai jual besar dan berdampak hemat untuk warga terutama kelompok industri kecil rumah tangga apabila bisa dibuat jadi sediaan sabun cair.

Sabun cair yakni sediaan berupa cair yang digunakan selaku pembersih kulit yang dibuat dari reaksi kimia. Sabun cair yang dibuat dapat dipakai tanpa menimbulkan iritas jadi bahan-bahan yang digunakan aman untuk kulit. Bersamaan pertumbuhan era ilmu pengetahuan dan teknologi perkembangan kosmetik beralih ke arah yang lebih alami. Salah satu herbal yang bisa ditambahkan kedalam gabungan kosmetik sabun cair yakni gel lidah buaya. Pengunaan sabun cair merupakan salah satu metode untuk melindungi kulit dari infeksi kuman serta penyakit peradangan kulit. Infeksi ialah penyakit yang terjalin sebab terdapatnya kuman yang masuk kedalam badan sehingga menimbulkan kendala fisiologi badan. Hal ini mendesak pemanfaatan lidah buaya selaku antiseptik natural digunakan sebagai campuran dalam pembuatan sabun cair.

Lidah buaya (Aloe vera) mempunyai banyak khasiat yaitu selaku sumber penghasil bahan baku untuk aneka produk farmasi serta kosmetik. Lidah buaya mempunyai kandungan saponin yang memiliki kemampuan untuk mensterilkan serta bersifat antiseptik. Tidak hanya itu, lidah buaya pula mengandung accemanan yang berperan sebagai anti virus, anti kuman serta anti jamur. Accemanan pula bisa memberantas sel tumor serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan memakai lidah buaya selaku bahan pembuatan sabun cair, tidak cuma bisa membunuh bakteri, tetapi pula dapat menjaga kulit dari kekeringan. Hal ini dikarenakan sebab terdapatnya lignin yang bermanfaat untuk memelihara kelembaban kulit dan menahan air di dalam kulit. Struktur daun Aloe Vera terdiri dari 3 bagian:

1.Kulit daun

Kulit daun merupakan bagian terluar dari struktur daun lidah buaya yang bercorak hijau.

2.Eksudat

Eksudat merupakan getah yang keluar dari daun lidah buaya disaat dilakukan pemotongan. Eksudat berupa cair serta berwarna kuning. .Beberapa zat yang terkandung di dalam eksudat ialah: 8- dihidroxianthraquinone dan glikosida.

3.Gel

Gel merupakan ekstrak dari tanaman lidah buaya yang mempunyai tekstur berlendir. Gel lidah buaya merupakan salah satu bahan alami dengan fungsi penyembuh yang sangat baik.

Dari sebagian tipe lidah buaya yang banyak dimanfaatkan merupakan spesies Aloe Barbadensis Miller sebab tipe ini memiliki banyak keunggulan yaitu: tahan hama, ukurannya bisa menggapai 121 centimeter, berat per batangnya dapat mencapai 4 kilogram, memiliki 75 nutrisi dan aman dikonsumsi.

Lidah buaya yang baru dipetik wajib langsung diolah supaya tidak berlangsung respon browning. Respon browning ialah proses pembentukan melamin berwarna kuning yang hendak lekas menjadi coklat gelap. Respon ini berlangsung sebab terdapatnya oksigen serta sinar yang menimbulkan terbentuknya respon oksidasi terhadap senyawa- senyawa anthraquinone. Respon browning hendak terus menjadi reaktif dengan adanya sinar. Pembuatan corak coklat gelap tersebut hendak terus menjadi segera pada temperatur di atas 45º C.

Pembuataan Gel Lidah Buaya

Limbah Lidah buaya dicuci terlebih dulu serta dihilangkan durinya, setelah itu diambil sisa dagingnya. Sehabis itu dihaluskan dengan blender, disaring sampai diperoleh filtrat berbentuk juice lidah buaya dengan perlengkapan rotary vacuum evaporator. Gel lidah buaya yang didapatkan ditambahkan sodium benzoat dengan konsentrasi 0,1% untuk mempertahankan kestabilan gel yang didapatkan.

Pembuatan Sabun Mandi Cair

Proses pembuatan sabun cair diawali dengan pembuatan soap base (kombinasi). Minyak kelapa, akuades serta KOH ditimbang di tempat terpisah. Minyak kelapa ditimbang sebanyak kurang lebih 300 gr, akuades ditimbang sebanyak kurang lebih 228 gr serta KOH ditimbang kurang lebih sebanyak 76 gr. Minyak kelapa dipanaskan sampai mencapai temperatur 70º C serta dipertahankan pada suhu tersebut. KOH dimasukkan ke dalam akuades, diaduk sampai homogen. Larutan KOH yang sudah siap dimasukkan ke dalam minyak yang sudah dipanaskan. Campuran

tersebut diaduk memakai mixer selama 20 menit sampai kombinasi jadi tebal serta padat. Langkah berikutnya adalah memanaskan soap base. Kombinasi dimasukkan ke dalam waterbath yang

diisi dengan air yang sudah mendidih. Soap base dipanaskan selama 3 jam serta diaduk tiap 30 menit sekali. Awal mulanya soap base berupa putih susu dipanaskan hingga jadi jernih serta transparan. Hasil soap base bisa ditaruh di kulkas bila tidak langsung digunakan. Selanjutnya dalam pembuatan sabun cair ialah soap base sebanyak 200 gram ditimbang serta ditimbang pula akuades sebanyak 200 gr. Akuades dipanaskan sampai mendidih setelah itu larutkan soap base ke dalam akuades mendidih. Kombinasi tersebut diaduk terus sampai larut dengan pemanasan stabil 50º C dengan heater magnetik stirrer. Setelah kira- kira nyaris larut, tambahkan asam sitrat sebanyak 1, 84 gr yang sudah dilarutkan ke dalam akuades sebanyak 7, 36 gr yang sudah mendidih. Kombinasi diaduk selama 1 jam. Setengah jam saat sebelum pengadukan berakhir, gel lidah buaya ditambahkan ke dalam kombinasi dengan konsentrasi 15% dari berat soap base yang digunakan. Hal ini dicoba supaya bahan sebelumnya tercampur homogen terlebih dulu. Setelah berakhir pengadukan, dicoba penyaringan sampai diperoleh sabun cair yang diinginkan.

 

Referensi

Arwinda Gusviputri, N. M. (n.d.). PEMBUATAN SABUN DENGAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA) SEBAGAI ANTISEPTIK ALAMI .

http://journal.wima.ac.id/index.php/teknik/article/download/1439/pdf

 

Aryani, S. B. (2018). PENAMBAHAN GEL LIDAH BUAYA SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA SABUN MANDI CAIR BERBAHAN DASAR MINYAK KELAPA .

http://ejournal.kemenperin.go.id/bbihp/article/view/3675

 

Robiyanto, R. S. (2017). PELATIHAN PEMBUATAN SABUN CAIR LIDAH BUAYA .

https://journal.ikippgriptk.ac.id/index.php/gervasi/article/view/664

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *