Pembuatan Pupuk Cair Organik Dengan Memanfaatkan Teknologi Komposting Yang Sederhana

Kehidupan manusia tentunya tidak lepas oleh suatu benda yang tidak diperlukan kembali atau yang biasa kita sebut dengan sampah. Hal ini dikarenakan sampah merupakan masalah yang terus menerus akan hadir pada setiap waktu. Keadaan ini menuntut atau menjadikan manusia untuk memulai bahkan memikirkan bagaimana cara untuk melakukan pengolahan sampah dengan meningkatkan nilai dari sampah itu sendiri. Pengolahan tersebut tercipta dengan melaukan daur ulang yang saat ini menjadi senjata yang ampuh untuk dapat mengatasi masalah sampah ini. Dinamika sampah dalam hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dilakukan pengamatan dan penelitan untuk dapat melakukan pengembangan dalam pengolahan sampah yang ada.

Saat ini banyak orang yang beranggapan bahwa sampah merupakan masalah yang cukup besar. Hal ini dikarenakan padahal setiap saat sampah akan terus semakin bertambah dikarenakan setiap makhluk hidup terus menerus dalam memproduksi sampah. (Suwerda, 2012: 9) mengungkapkan bahwa setiap hari sampah dapat dihasilkan dari limbah rumah tangga, yang merupakan jumlah terbesar/tertinggi dalam produksi sampah itu sendiri. Penghasil sampah berikutnya dapat dihasilkan oleh sampah rumah sakit dan industri yang sangat berbahaya, juga sampah yang berasal dari tempat-tempat umum misalnya pasar, terminal, sekolah, kantor, tempat hiburan, dan lain lain. Sampah yang berasal dari tempat-tempat tersebut merupakan sampah organik yang berasal dari makanan serta minuman. Selain itu, sampah juga dapat berasal dari produk atau proses ekskresi manusia yang dapat berupa urin dan feses.

Pemanfaatan terhadap sampah haruslah lebih diprioritaskan sebelum terjadinya pencemaran yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat sertanlingkungan lainnya. Pengelolaan sampah memerlukan sebuah kegiatan yang sistematis dan menyeluruh serta berkesinambungan yang terdiri dari pengurangan dan penanganan sampah. UndangUndang RI Tahun 2008 Nomer 18 menyatakan bahwa pengelolaan sampah bertujuan agar menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Sampah

            Menurut (Panji Nugroho, 2013) sampah merupakan suatu barang yang dianggap sudah tidak terpakai lagi yang dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi bagi kebanyakan orang masih dapat dipakai apabila dilakukan pengelolaan dengan prosedur yang benar.

Sambah banyak mengalami penumpukan yang disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya karena volume sampah yang dihasilkan sangat besar sehingga dapat malebihi kapasitas daya tampungnya di tempat pembuangan sampah yang akhir atau sering disebut (TPA). Pengolahan sampah yang sering dilakukan selama ini tidak memberikan dampak yang positif kepada sebuah lingkungan serta kuranganya dukungan sebuah kebijakan yang berasal dari pemerintah.

Potensi Bahaya yang dapat Ditimbulkan oleh Sampah

             Menurut (Jaspi et al., 2015), pengelolaan pada sampah yang tidak dilakukan penanganan dengan tepat akan menimbulkan sebuah gangguan terhadap lingkungan. Adapun gangguan tersebut seperti menjadi sumber penyakit, terjadi pencemaran terhadap kualitas udara, terjadi pencemaran kualitas air dan terjadi pencemaran terhadap kualitas tanah serta gangguan pada estetika.

Pengelolaan Terhadap Sampah

             Menurut Damanhuri (2008) pengelolaan terhadap sampah merupakan  proses pengumpulan, pemrosesan, pengangkutan, pembuangan atau pendaurulangan dari material sampah. Pengelolaan ini mengacu pada sebuah material-material sampah yang didapatkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dilakukan pemrosesan untuk dapat meminimalisir dampaknya baik itu untuk kesehatan, lingkungan bahkan untuk keindahan.

Pengolahan sampah-sampah dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam metode ada. Adapun salah satu metodenya adalah pengolahan sampah dengan metode biologi. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan pengumpulan material sampah (organik), contohnya zat tanaman, sisa-sisa makanan atau juga kertas yang bisa dilakukan pengolahan dengan menggunakan proses biologis untuk memperoleh kompos, atau biasanya dikenal dengan sebuah istilah yaitu pengkomposan. Hasil yang diperoleh adalah sebuah kompos yang dapat digunakan untuk pupuk dan juga gas methana yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Unsur Hara yang Diperlukan pada Tanaman

Tanaman pada dasarnya membutuhkan unsur hara utuk melakukan pertumbuhan serta perkembangan. Unsur hara  tersebut terdiri dari dua jenis unsur hara, yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Adapun kelebihan ataupun kekurangan dari unsur hara ini baik unsur mirko maupun unsur makro yaitu dapat menyebabkan pertumbuhan akan tanaman menjadi kurang atau bahkan tidak optimal. Tanaman biasanya membutuhkan unsur hara makro berkisar antara 0,5-3% dari berat tubuh tanaman yang digunakan, sedangkan pada tanaman unsur hara mikro dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil yang hanya terdiri dari beberapa ppm dari berat kering pada tanaman. Keseluruhan unsur makro dan juga unsur mikro yang ada, unsur yang harus terdapat pada tanaman adalah unsur N, P, dan K yang cenderung dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya. Menurut  (Hadisuwito, 2007) jenis dari pupuk yang dapat memenuhi kebutuhan dari unsur hara N, P, dan K serta sangat ramah untuk lingkungan yaitu pupuk organik cair, yang diperoleh dari proses pengomposan (dekomposisi) sebuah bahan-bahan organik yang di olah dalam wadah sebuah komposter.

 

Pengolahan limbah organik yang kebanyakan berasal dari limah rumah tangga, industry, rumah sakit dan lain sebagainya  dapat dilakukan pengolahannya dengan berbagai macam cara yaitu diantaranya dengan menggunakan atau memanfaatkan komposter untuk dapat menghasilkan pupuk cair. Komposter merupakan sebuah metode/cara pengolahan terhadap sampah organik menjadi kompos yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Pada dasarnya konsep dari komposter ini sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan kerja dari bakteri untuk dapat menguraikan sampah.

            Bahan-bahan yang biasanya dapat digunakan dalam sebuah proses composting yang sederhana ini yaitu tanaman hijauan atau tanaman seperti kulit pisang, rumput liar serta tebu, daun gamal dan masih banyak tanaman hijau lainnya. Bahan-bahan dari tanaman ini biasanya mengandung unsur-unsur yang penting yang sangat dibutuhkan tanaman seperti contohnya nitrogen (N), fosfor (P) serta kalium (K). Bahan-bahan tersebut selanjutnya akan dilakukan pengelolaan dengan bahan-bahan yang lainnya seperti limbah ternak serta tambahan-tambahan yang lainnya yang dapat mengoptimalkan proses pengomposan.

             Aspek yang perlu diperhatikan atau yang paling penting untuk mempertahankan keseimbangan unsur hara total adalah rasio organik karbon dengan nitrogen (C/N Rasio). Rasio C/N yang terdapat pada bahan organik merupakan sebuah perbandingan antara jumlah kandungan yang ada pada unsur karbon (C) terhadap kandungan yang ada pada unsur nitrogen (N) yang diperoleh dari suatu bahan organik. Unsur hara tentunya memiliki mikroorganisme yang butuh karbon dan juga nitrogen dalam aktivitasnya. Jika rasio C/N tinggi, maka aktivitas biologi mikroorganismenya mengalami pengurangan. Hal ini tentunya memerlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk dapat mendegradasi kompos sehingga buth waktu lama untuk Vermikomposting sehingga diperoleh mutu lebih rendah, Menurut (Djuarnani, 2005) apabila rasio pada C/N terlalu rendah, hal ini akan menyebabkan kelebihan nitrogen yang mengakibatkan mikroorganisme tidak dapat menggunakannya sehingga tidak mampu untuk dilakukan asimilasi dan juga akan mengakibagkan kehilangan dari volatisasi sebagai terdenitrifikasi atau juga disebut sebagai amoniak.

             Menurut (Rahmah dkk., 2014), terdapat beberapa tahapan dalam melakukan pembuatan pupuk cair diantaranya adalah: (1) Tanaman Hijauan sebanyak 5 kg dilakukan penyincangan 1 cm dan selanjutnya dimasukkan ke dalam sebuah komposter, (2) campuran lain seperti kotoran pada ternak yang matang sebanyak 1 kg juga dimasukkan ke dalam komposter, (3) gula merah dan terasi masing-masing ditambahkan sebanyak 100 g dan 200 gr yang terlebih dulu dilarutkan dengan air yang selanjutnya dimasukkan ke dalam komposter juga. Terasi memiliki manfaat untuk penyubur tanah dan juga memperbaiki struktur tanah yang mengandung banyak mikroba baik yang memiliki peran untuk melakukan pengomposan tanah sedangkan gula merah berperan untuk menjadi sumber energi untuk mikroorganisme yang sifatnya  spontan (lebih mudah dimakan oleh mikrootganisme). (4) Bakteri (EM4) juga ditambahkan ke dalam komposter sebanyak 200 mL, (5) Air juga ditambahkan secukupnya ke dalam komposter sehingga akan diperoleh perbandingan campuran bahan organik dengan air sebesar 2:1, (6) Komposter yang digunakan selanjutnya ditutup rapat dan pada komposter dimasukkan ujung selang sebagai penghubung dengan botol yang berisi air. Komposter yang digunakan kemudian disimpan pada tempat yang sejuk dan teduh. Selanjutnya pengadukan terhadap bahan organik bias dilakukan apabila sudah dua hari pengomposan, (7) Apabila pengomposan yang dilakukan telah tercampur  dengan sempurna. Pengomposan yang dilakukan ini biasanya dicirikan dengan aroma tape yang sedang masak sehingga selanjutnya dapat dilakukan pemanenan pupuk. Umumnya, pupuk dapat dilakukan pemanenan setelah 12 hari dilakukan pengomposan.

            Bahan yang diperlukan dalam membuat pupuk cair ini sebelumnya juga dilakukan senuah proses nitrifikasi. Nitrifikasi ialah proses alami yang mampu mengembalikan kekondisi yang normal yang dapat dilakukan bakteri dengan cara yaitu dengan mengoksidasi serta melakukan senuah transformasi senyawa amoniak yang berpotensi sebagai senyawa yang beracun menjadi senyawa tak beracun atau nitrat sehingga baik atau aman digunakan untuk keperluan tanaman.

            Pupuk cair yang telah dihasilkan dari proses yang dilakukan selanjutnya digunakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman sehigga dapat menghasilkan kualitas yang baik. Selain itu, pemanfaatan limbah menjadi pupuk cair ini juga dapat menambah penghasilan masyarakat yang mengelolanya yaitu dengan cara menjual pupuk cair yang telah dihasilkan. Pembuatan pupuk cair ini diharapkan dapat dilakukan dikalangan orang banyak agar penumpukan sampah menjadi berkurang dan dapat menjadi sebuah penghasilan.

 

      Adapun Kesimpulan dari paper ini adalah :

  1. Pembuatan pupuk organik cair dapat dibuat menggunakan metode komposting sederhana;
  2. Produk pupuk organik cair yang dihasilkan memiliki kandungan hara makro yang beragam yang sangat tergantung pada campuran bahan organik pupuk yang digunakan; dan
  3. Limba produk pupuk yang diproduksi berasal dari campuran bahan baku hijauan dan kotoran ternak dengan bahan tambahan terasi dan gula merah serta EM4.

Referensi

Damanhuri, 2008. “Diktat Landfilling Limbah”, Institut Teknologi Bandung, Versi 2008, 40.

Djuarnani, 2005. “Cara Tepat Membuat Kompos, Agromedia Pustaka”, Jakarta.

Hadisuwito, S., 2007, “Membuat Pupuk Kompos Cair”, PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Jaspi K, Yenie E, Elystia S. 2015. “Studi timbulan komposisi dan karakteristik sampah domestik Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru”. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Riau. 2 (1): 1-6.

Kasmawan, I.G.A. “Pembuatan Pupuk Organik Cair Menggunakan Teknologi Komposting Sederhana”. Terdapat pada :  https://core.ac.uk/download/pdf/229877104.pdf. (Diakses pada 14 Oktober 2020, Pukul 18.00 WIB).

Nugroho Panji, 2013. “Panduan Membuat Kompos Cair”. Jakarta: Pustaka baru Press

Suwerda, Bambang. 2012. “Bank Sampah”. Yogyakarta: Pustaka Rihama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *