Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos Cair Dengan Menggunakan Komposter Sederhana – Pemanfaatan Sampah Organik

Pupuk Kompos

Pupuk kompos merupakan hasil penguraian sebagian dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara buatan oleh populasi dari berbagai macam mikroba didalam kondisi lingkungan yang memiliki suhu cukup tinggi, lembab , dan aerobik atau anaerobik. Selain itu, proses pengomposan itu merupakan sebuah proses dimana bahan organik yang mengalami penguraian secara biologis yang dilakukan oleh mikroba yang mengambil sumber energi mereka dari bahan organik . Proses Pembuatan kompos itu sendiri yaitu dengan mengkontrol proses alami dari proses pengkomposan agar kompos dapat terbentuk dengan cepat. Proses dari pengkomposan ini meliputi pembuatan campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang memadai, pemberian sirkulasi udara, dan penambahan aktivator pengomposan (Isroi, 2006).

 Manfaat Pupuk Kompos

Kompos sangat berguna untuk memperbaiki struktur tanah. Cara kerja kompos yaitu dengan meningkatkan kandungan zat bahan organik tanah sehingga di tanah kaya akan unsur hara dan dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan water holding capacity tanah. Tanah yang mengandung bahan organik kaya akan mikroba, aktivitas mikroba tanah akan memberikan dampak baik bagi penyerapan unsur hara dari tanah. Selain itu, aktivitas mikroba tanah menjadikan tanaman kuat terhadap serangan hama dan penyakit.

Tanaman yang diberi perlakuan tambahan pupuk kompos akan memiliki kualitas yang cenderung lebih baik dari pada tanaman dengan perlakuan diberi pupuk kimia. Keuntungan dari penggunaan pupuk kompos yaitu menjadikan komoditas hasil panen awet pada saat proses penyimpanan, memiliki bobot yang lebih berat dan kualitas yang lebih segar. (isroil 2006)

 Komposter

Komposter merupakan suatu perangkat yang berguna untuk membantu aktivitas bakteri pengurai pada bahan organik berupa sampah dan limbah sehingga menjadi bentuk yang baru dan dapat dimanfaatkan kembali (Setyorini,2006)

Tujuan dari komposter, sebagai berikut :

Komposter membantu proses penguraian sampah atau bahan organik oleh bakteri sehingga dapat dihasilkan pupuk organik. Pupuk organik yang dihasilkan nantinya terbagi ke dalam dua bentuk yaitu berupa pupuk cair dan puuk padat.
Komposter dapat menekan biaya untuk proses penyuburan tanah, tanah yang subur akan menjadikan tanaman lebih produktif dan hasil panen berkualitas.

 Rasio C/N

Rasio untuk C/N yang paling efektif untuk kegiatan pengomposan adalah sekitar 30: 1 sampai dengan 40:1. Mikroba yang memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan senyawa  N untuk proses sintesis protein. Saat nilai rasio C/N di antara 30 samapai dengan 40, maka mikroba akan  mendapatkan nilai senyawa C yang cukup untuk sumber energi dan senyawa N untuk proses sintesis protein. Jika nilai rasio C/N terlalu tinggi, maka yang terjadi adalah mikroba akan mengalami kekurangan senyawa N untuk proses sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat karena kurangnya energi.

Pada dasarnya, masalah utama pengomposan terdapat pada nilai rasio C/N yang terlalu tinggi, utamanya jika salah satu bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu cukup tinggi seperti sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dll. Solusi untuk menurunkan nilai C/N rasio adalah dengan perlakuan khusus, seperti menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan menambahkan bahan organik dari kotoran hewan yang mengandung banyak senyawa nitrogen.

Apa itu Nitrifikasi?

Keberlanjutan ekosistem dan penguraian bahan organik untuk proses pengomposan sangat dipengaruhi oleh proses nitrifikasi. selain pengomposan, proses nitrifikasi sangat bermanfaat bagi tanaman sebab tanaman mendapatkan suplai nitrogen yang akan diubah menjadi nitrat oleh tanaman. tanaman hanya dapat mengakses nitrogen dalam bentuk nitrat. maka dari itu proses nitrifikasi perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman dan proses pertanian.

Perbedaan Antara Nitrifikasi dan Denitrifikasi - 3

DAFTAR PUSTAKA

Isroi. (2006). Pengomposan Limbah Padat Organik. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bogor.

Setyorini, Diah et al. (2006). Kompos. Departemen Pertanian. Balittanah.go.id.

Toharisman, A. 1991. Potensi dan pemanfaatan limbah industri gula sebagai bahan organik tanah. Berita (4): 66-69.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *