Pemanfaatan Sampah Pasar

Sampah merupakan permasalahan yang masih belum dapat diselesaikan di Indonesia, ditambah semakin banyak pertumbuhan penduduk maka semakin meningkat pula jumlah sampah terutama sampah organik. Sampah dianggap sebagai bahan buangan yang tidak berguna lagi, dan memerlukan pengelolaan lanjutan agar tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat (Tchobanoglous, 1993). Salah satu penyumbang terbesar sampah adalah pasar, pada dasarnya sampah yang berasal dari pasar ini meniliki jenis yang relatif seragam dimana ±95% merupakan sampah organik. Pada tahun 2015 MDGs (Millenium Development Goals) tingkat pelayanan persampahan ditargetkan mencapai 80%, namun di Indonesia sendiri menurut BPS sekitar 41,28% sampah dibuang ke TPA, 35,59% dibakar, dibuang kesungai 14,01%, dikubur 7,79%, dan hanya 1,15% yang diolah menjadi kompos (Rahayu, 2013).

Bahan organik memerlukan penanganan agar dapat digunakan, hal ini dikarenakan perbandingan C/N dalam bahan baku tersebut tidak sama (relatif tinggi) dibanding C/N tanah. salah satu cara menurunkan C/N rasio ini adalah dengan cara pengomposan (<20), hal ini diperlukan agar bahan baku tersebut dapat diserap tanaman karena nilainya sama dengan C/N tanah (10 – 12) (Erickson, 2013). Metode pengomposan secara garis bersar merupakan proses penataan dan pemberian air, udara dan bahan kaya karbon juga nitrogen serta memastikan terciptanya aerasi yang sesuai dengan cara membolak – balikkan bahan tersebut. Sedangkan bahan aerobik ini akan mengatur proses penguraian secara kimia agar mengubahnya menjadi panas, CO2, dan ammonium yang akan dikonfersi bakteri menjadi bahan makanan tanaman berupa nitrit dan nitran (proses nitrifikasi).

Sampah Pasar

Sampah merupakan bahan buangan yang dianggap tidak dapat digunakan kembali, padahal pada kenyataannya beberapa sampah dapat dikelola agar menjadi lebih bermanfaat dan tidak membahayakan jika dibuang baik untuk lingkungan maupun bagi makhluk hidup lainnya. Semakin bertambah banyak penduduk laju penumpukan sampah pun semakin besar. Setiap satu pasar di Indonesia dapat menghasilkan 5 – 8 ton sampah organik per harinya, dimana jumlah ini termasuk kedalam jumlah yang sangat banyak (Suthar, 2009). Kandungan organik pada sampah pasar membuat sampah mengalami pembusukan lebih cepat, sehingga sampah mudah terurai oleh mikroorganisme (Damanhuri dan Padmi, 2016).

Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan lebih alami dibandingkan bahan pembenah buatan. Pada umumnya pupuk organik ini mengandung unsur hara makro  N, P, K rendah tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman. Pupuk organik ini biasanya merupakan hasil pembusukan bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, limbah agroindustri, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang memiliki kandungan lebih dari satu unsur hara, dibuat dengan cara mengomposkan dan memberi aktivator pengomposan sehingga dapat dihasilkan pupuk organik yang stabil dan mengandung unsur hara lengkap (Oman, 2003)

Pengomposan

Pengomposan merupakan proses dekomposisi biologis yang dilakukan oleh mikroorganisme terhadap bahan organik biodegradable. Pengomposan bertujuan untuk mengurangi volume atau massa bahan organik dengan mengubah bahan organik biodegradable agar stabil. Proses tersebut menghasilkan residu sisa proses yang dapat dijadikan kompos organik. Proses pengomposan terdiri atas dua tahap, yaitu embuatan kompos setengah matang, perlu waktu sekitar 3 minggu dan pematangan kompos, berlangsung sekitar 4-6 minggu (Damanhuri dan Padmi, 2016). Pengomposan setengah matang dapat dipercepat dengan mengatur faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga mencapai kondisi yang optimum.

Mikroorganisme dalam proses pengomposan ini memerlukan nitrogen untuk proses penghancuran bahan dengan kandungan karbon yang tinggi, dimana rasio karbon dan nitrogen ini sangatlah penting. Semakin jauh perbandingan C/N ini maka akan semakin banyak pengaruh negatif saat pengomposan sedang berlangsung. Jika kadar C tinggi sedangkan N rendah, mikroogranisme akan kekurangan Nitrogen untuk menghancurkan sumber karbon sehingga proses pengomposan akan berlangsung sangat lambat. Namun jika kadar C rendah sedangkan N tinggi, nitrogen ini akan dengan mudah hilang melalui penguapan gas ammoniak ke atmosfer (Djuarnani, 2005).

Dalam hal ini nitrogen merupakan komponen paling penting sebagai penyusun protein. Mineralisasi N – O ini terjadi dalam tahap, yaitu amonifikasi, nutrifikasi dan nitrifikasi. Menurut Winarso (2005) protein akan diurai menjadi senyawa amina dan asam amino yang selanjutnya akan dihancurkan oleh mikroorganisme heterotof. Proses ini disebut amonifikasi yang menghasilkan senyawa amonium. Tahap selanjutnya adalah proses nitrifikasi dimana diawali dengan pembentukan nitrit (berasal dari amonium sebelumnya) lalu diubah lagi menjadi nitrat. Dalam hal ini semakin banyak mikroorganisme yang berada dalam perubahan bahan organik tersebut maka akan semakin tinggi pula kandunga niitrogen yang dihasilkan.

Larutan effective microorganism 4 yang disingkat EM4 ditemukan pertama kali Prof. Dr. Teuro Higa dari Universitas Ryukyus, Jepang. Larutan EM4 ini berisi mikroorganisme fermentasi dengan jumlah yang sangat banyak, sekitar 80 genus. Dari sekian banyak mikroorganisme, ada lima golongan utama yang terkandung di dalam EM4, yaitu bakteri fotosintetik, lactobacillus sp., Streptomyces sp., ragi (yeast), Actinomycetes. Mikroorganisme efektif atau EM adalah suatu kultur campuran berbagai mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah dan dapat memperbaiki kesehatan serta kualitas tanah (Nasution, 2013).

Proses Pembuatan

Berikut merupakan prosedur pembuatan pupuk organik :

  • Persiapan bahan

Bahan utama yang digunakan adalah bahan campuran hasil pembuangan dari pasar tradisional, dimana yang digunakan merupakan sampah organik berupa sayur – sayuran, buah – buahan, ikan dan juga daging. Sampah organik ini dipotong – potong dengan ukuran 5 – 10 cm sebanyak 100 kg. Dedak sebanyak 5 kg dan arang sekam/ serbuk gergaji 10 – 20 kg.

Untuk larutan Starter dapat menggunakan gula pasir 200 gr atau gula merah seberat 25 gram yang dilarutkan dalam 1 liter air, atau dapat menggunakan larutan molase dengan konsentrasi 40% sebanyak 5 ml dan larutan EM4 5 ml serta air secukupnya (±30 liter).

  • Pembuatan
  1. Pertama – tama campurkan seluruh bahan larutan starter menjadi satu.
  2. Campurkan bahan utama menjadi satu dan diaduk secara merata.
  3. Siram larutan starter sambil diaduk – aduk hingga campuran bahan utama menjadi basah (kadar air ±30%).
  4. Gundukan adonan tersebut di lantai kering dan tutup menggunakan karung goni selama 3 – 5 hari.
  5. Setiap harinya harus dibolak – balik dan dibiarkan terlebih dahuli 10 menit sebelum ditutup kembali, hal ini dilakukan agar kompos mendingin (pada hari kedua dan ketiga biasanya kompos mengeluarkan panas yang cukup tinggi).
  6. Pada hari ke-4 kompos telah matang, ditandai dengan panas yang tidak lagi terlalu tinggi dan adanya jamur berwarna putih. pada unur ini kompos telah dapat digunakan namun bentuk dan ukuran belum hancur sepenuhnya (masih seperti campuran bahan utama).
  7. Diamkamkan selama 21 hari agar kompos menjadi halus (setiap satu minggu sekali diaduk).

Hasil

Hasil ini didapatkan dari jurnal “Kajian Keagaan Sampah Organik Pasar Tradisional dan Potensi Pemanfaatannya Sebagai Kompos di Kota Bandar Lampung” yang dilakukan oleh Helviana, dkk dari Universitas Lampung – Bandar Lampung (Chandau, 2012). Hasil pembuatan kompos dengan bahan baku sampar organik 100 kg, dedak 5 kg, sekam padi 10 kg dan larutan starter ± 200 gr, didapat kompos sebanyak < 90 kg. Hal ini dipengaruhi dengan jenis sampah organik yang digunakan, jika terdapat banyak daun – daunan seperti daun pisang dan daun kelapa maka akan sulit hancur tapi jika jenisnya terdapat banyak sayur – sayuran yang mudah membusuk maka proses pengomposan akan lebih cepat.

Kandungan unsur hara dalam kompos ini dipengaruhi oleh bahan baku, cara pengomposan, juga cara penyimpanannya. Dari percobaan diatas didapat kandungan unsur hara sebagai berikut :

Parameter

Satuan Kompos

SNI

Nitrogen

%

0,519

0,4 – tak terhingga
Fosfor

2,981

0,1 – tak terhingga
Kalium

2,081

0,2 – tak terhingga
C – organik

11,658

9,8 – 32
C/N rasio

22,462

10 – 20

Rasio C/N ini merupakan parameter penting, dimana menentukan kualitas juga kematangan kompos tersebut. Dimana C/N ini diatur oleh SNI No. 19 – 7030 – 2004 sebesar 10 – 20, sedangkan menurut Kepmentan rasio C/N diijinkan berkisar antara 20 (Yuliani, 2010). Namun berdasarkan hasil pembahasan para Puslitbangtanak Direktorat Pupuk dan Pestisida, IPB jurusan Tanah, Depperindag, serta Asosiasi Pengusaha pupuk dan Pengguna, disepakati persaratan teknisminimal rasio C/N pupuk organik adalah 10 – 25 (Suriadikarta, 2002).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chandau, H.R., dkk. 2012. Kajian Keagaan Sampah Organik Pasar Tradisional dan Potensi Pemanfaatannya Sebagai Kompos di Kota Bandar Lampung. Prosiding SN SMAIP III. Universitas Lampung : Bandar Lampung.

Damanhuri, E. 2016. Pengolahan Sampah Terpadu. Penerbit ITB : Bandung.

Djuarnani, N., Kristiani, dan B.S Setiawan. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka : Jakarta.

Nasution, F. J. 2013. Aplikasi Pupuk Organik Padat dan Cair dari Kulit Pisang Kepok untuk Pertumbuhan dan Produksi Sawi (Brassica Juncea L.). Skripsi Program Sarjana. Universitas Sumatera Utara : Medan.

Oman. 2003. Kandungan Nitrogen (N) Pupuk Organik Cair dari Hasil Penambahan Urin pada Limbah (Sludge) Keluaran Instalasi Gas Bio dengan Masukan Feces Sapi. Skripsi Jurusan Ilmu Produksi Ternak. IPB : Bogor.

Rahayu, D.E. 2013. Kajian Potensi Pemanfaatan Sampah Organik Pasar Berdasarkan Karakteristiknya (Studi Kasus Pasar Segiri Kota Samarinda). Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan Vol. 5 (2) : 77 – 90

Suriadikarta, Ardi dan Diah Setyorini. 2002. Baku Mutu Pupuk Organik. Balai Penelitian Tanah Bogor : Bogor.

Suthar, S. 2009. Vermicomposting of vegetable-market solid waste using Eisenia fetida: Impact of bulking material on earthworm growth and decomposition rate. Ecoleng 35(1): 914-5.

Tchobanoglous, G.T. 1993. Integrated Solid Waste Management Engineering Principles and Management Issues. Singapore, Mc Graw-Hill

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gava Media : Yogyakarta.

Yuliani, Faridan dan Fitri Nugraheni. 2010. Pembutan Pupuk Organik Kompos Dari Arang Ampas Tebu dan Limbah Ternak. Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus : Kudus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *