Pemanfaatan Limbah Sampah Domestik Organik Skala Rumah Tangga Untuk menjadi Pupuk Kompos

Limbah adalah sisa dari produk yang sudah tidak terpakai atau produk buangan yang sudah tidak dapat dipakai dari suatu proses produksi baik dari domestic (rumah tangga) maupun dari industry-industri limbah organik juga merupakah sisa-sisa dari produk yang besifat dapat diuraikan yang sebagian besar limbah ini berasal dari sisa produk hasil pertanian. Sampah merupakan permasalahan yang harus diselesaikan karena memiliki dampak negative yang sangat vital. Seiring berjalannya waktu manusia dengan sadar membuang sampah sembarangan, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi dimasa yang akan dating. Padahal, dampak dari membuang sampah sembarangan untuk sampah non organik seperti plastic, dan sifat sampah yang susah mengurai dapat menyebabkan banjir, dan untuk sampah organik dapat mengganggu kesehatan manusia terutama sistem pernafasan dan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat menghasilkan cairan yang tidak sedap yang dapat mencemari air pada tanah.

Bahwa permsalahan yang sering terjadi di ruang lingkup rumah tangga dalam skala RT adalah pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, hal ini terjadi dikarenakan terbatasnya tempat.  Timbulnya bau-bauan yang tidak sedap itu berasal dari sampah organic yang berasal dari sampah sisa-sisa sayuran, buah-buahan dan sisa sampah organic lainnya. Dari hal ini bahwa memicu sangat cepat terjadi pembusukan yang membuat lingkungan menjadi tidak nyaman. Adanya wabah Dipandemi Covid-19 ini, mengharuskan masyarakat untuk tidak berpergian sehingga dengan penuh keterpaksaan mau tidak mau harus diam dirumah apabila tidak ada hal urgent yang harus diselesaikan. Bahwa hal ini sangat membuat jenuh juga produktivitas terhambat baik dalam pekerjaan ataupun usaha. Dari hal ini seiring berjalannya waktu banyak masyarakat yang mengalihkan aktivitasnya dengan menanamkan hobi baru dengan menanam tanaman dilingkungan rumah disetiap rukun rumah tangga (RT), dengan masyarakat memiliki kebiasaan baru yaitu dengan melestarikan go green  ini dengan cara menanam bunga-bunga yang membuat lingkungan tentunya lebih baik. Karena hal ini dapat dijadikannya suatu hal baru bagi masyarakat sekitar untuk mengumpulkan sampah organik rumah tangga untuk dapat memanfaatkan sisa-sisa sayuran atau buah-buahan dikumpulkan disuatu tempat dan dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk tanaman-tanamannya.

Menurut undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 definisi yang berarti sisa dari kegiatan sehari-hari manusia atau suatu proses alam yang berbentuk padat. Kategori sampah dibagi menjadi 3 bagian yaitu sampah yang berasal dari rumah tangga, sampah yang sejenis dengan sampah rumah tangga, dan sampah yang spesifik. Sampah rumah tangga biasanya berasal dari sampah dapur yang dikategorikan sampah dari kegiatan sehari-hari. Sampah yang sejenis dengan sampah rumah tangga yaitu sampah yang yang berasal dari kegiatan industry berskala kecil sampai besar, dari fasilitas umum sampai fasilitas social, namun untuk golongan tinja ridak termasuk kedalamnya. Sedangkan sampai yang spesifik ini merupakan sapah yang berasal dari bencana social yang dapat menimbulkan B3. Bahwa menurut Haryanto, dkk (2010), sampah rumah tangga dibagi kedalam dua macam yaitu sampah organik dan sampah non-organik, berikut ini mrupakan contoh dari 2 macam sampah rumah tangga diatas :

  1. Bagian sampah organik yang dapat didaur ulang yaitu : kertas, kardus, Koran.
  2. Bagian sampah organik yang tidak bisa didaur ulang yaitu : sisa makanan, daun, sisa sayuran, namun dapat dijadikan sebagai pupuk kompos organik untuk menunjang tanaman agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.
  3. Bagian sampah non-organik yang dapat didaur ulang yaitu : logam (besi, aluminium, tembaga), botol, kaleng, plastik, kaca.
  4. Bagian sampah non-organik yang tidak dapat didaur ulang yaitu : plastik yang tidak dapat didaur ulang, baterai bekas, dll.

 

Kompos merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari suatu hasil penguraian yang berasal dari bahan organik oleh mikroorganisme aktif. Sehingga pengomposan adalah suatu proses penguraian dari bahan organik oleh mikroba secara biologis dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organik sebagai sumber energi yang dihasilkannya (Dewi, 2012). Adapun beberapa yang ada dalam penanganan sampah yaitu dengan suatu rangkaian kegiatan yang dimulai dengan cara pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah. Bahwa kegiatan penanganan sampah tersebut, tergolong dalam tiga bagian lokasi penanganan yaitu: tempat sumber sampah (salah satunya rumah tangga), tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu dan tempat pemprosesan akhir atau TPA, sehingga biaya jasa pengangkutan sampah pun menjadi relative mahal, maka dari itu upaya daur ulang sampah organik dari sisa-sisa dapur dapat dijadikan suatu hal baru yang dialih fungsikan menjadi pupuk kompos, yang mana dengan demikian upaya daur ulang sampah rumah tangga menjadi kompos menjadi sangat tepat untuk dilakukan. Bahwa upaya pembuatan kompos yang berasal dari sampah rumah tangga dengan menggunakan komposter, dapat membantu upaya pengelolaan sampah kota menjadi beberapa bentuk seperti mengurangi jumlah timbulan sampah di sumber, mengurangi biaya transportasi pengangkutan sampah.

Komposter

Komposter merupakan suatu alat pengolahan sampah, untuk sampah organik rumah tangga dengan cara pengomposan juga memanfaatkan tong bekas atau wadah yang semacam tong yang nantinya dibenamkan ke dalam tanah. Secara umum, bahwa komposter terbagi menjadi dua macam, yaitu komposter aerob dan komposter anaerob. Berdasarkan kedua jenis tersebut tentunya memiliki perbedaan berupa kebutuhan udara selama proses pengomposan dan kriteria bahan organik yang bisa dikomposkan. Komposter juga dapat diletakkan di kebun atau pun halaman yang tidak terlalu jauh dari dapur. Alat ini juga bisa diletakkan di mana saja asal tanahnya tidak tergenang air saat turun hujan. Namun, sebaiknya di letakkan di tanah yang datar agar proses pengomposan dapat berjalan stabil.

Salah satu dari alat pengompos diatas merupakan alat sederhana yang dapat dibuat oleh warga dan alat inipun dikerjakan secara manual, yang berarti proses pencacahan, pemasukan sampah dalam drum, pemberian effective organism 4, mengaduk dan juga dilakukan pengolahan seperti membalikan pupuk dengan cara manual. Proses pada pencacahan adalah hal yang sangat penting dalam proses pengomposan, karena dapat mengefisiensikan waktu dan mempercepat proses pengomposan yang mana bakteri akan dapat beraktivitas dengan aktif selama proses pengomposan. Karena proses pengomposan akan memakan waktu yang cukup lama dengan rentang waktu 20 sampai dengan 40 hari dengan rutin membalikan pupuk setiap hari ketiga sampai seterusnya dengan batas waktu yang ditentukan (Cundari, L., 2017). Dengan dilakukannya proses dekomposisi atau pembusukan pada dekomposter selama rentang waktu yang telah ditentukan kurang lebihnya 20 sampai dengan 40 hari, namun biasanya sebagian orang membuat pupuk kompos selama 30 hari.

Tabel 1. Dibawah ini merupakan nilai analisa nilai-nilai yang berpengaruh pada pembuatan pupuk organik berdasarkan Peraturan menteri No. 28/Permenten /SR.13015/2011

Analisa Persyaratan Granula Diperkaya Mikroba
Moisture (%)

Total-C (%)                                     >12

Total-P (%)

Ph

Total Zn (ppm)

CEC (cmol/kg)

Total-N%

Rasio C/N

 

10-20

>12

<6

<6

4-8

Maks 5000

<80

<6

10-25

(Sumber: Pementan, 2011)

C/N Rasio

Aspek terpenting dalam keseimbangan unsur hara total merupakan rasio organik karbon dengan nitrogen atau disebut juga (C/N Rasio). Perbandingan antara banyaknya kandungan unsur karbon (C) terhadap dari banyaknya kandungan unsur nitrogen yang ada pada suatu bahan organik yaitu disebut juga C/N rasio. Tentu kita ketahui bahwa mikroba atau mikroorganisme sangat membutuhakan karbon dan juga nitrogen agar dapat melakukan aktivitas. Besarnya nilai c/n rasio dapat mengakibatkan aktivitas organisme/mikroba untuk menguraikan kompos berkurang yang mana akan terjadinya perlambatan dalam penguraian kompos tersebut. Sehingga Vermikomposting yang dihasilkan mendapatkan mutu yang menjadi rendah, apabila nilai c/n memiliki nilai yang begitu rendah sebab hal ini terjadi akibat nitrogen yang tidak dipakai oleh mikroorganisme serta tidak dapat diasimilasi juga akan terjadinyalosses atau kehilangan zat-zat yang terkandung atau biasa disebut dengan volatisasi pada amonia (Djuarnani, 2005).

Vermicomposting adalah proses yang memanfaatan jenis-jenis cacing yang  dijadikan sebagai agen berbagai jenis cacing sebagai kompos yang melibatkan cacing-cacing yang dapat menguraikan sampah organik pada proses pengomposan (Nagavvallema et al., 2006). Karbon yang terdapat pada kompos yaitu sebagai sumber energy dan juga nitrogen sebagai sumber nutrisi, yang dapat membentuk sel-sel uniseluler maupun multiseluler yang dapat membantu selama pengomposan berlangsung. Sedangkan, untuk mikroba atau mikroorganisme membantu sebagai sumber energy dan juga dapat membantu pertunmbuhan begitupun sama untuk nitrogen, pospor, dan kalium yang kita kenal NPK yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman yang mana perannya sebagai sumber katalisator, protein dan reproduksi. Bakteri yang ada pada pelarut fosfat yang secara umum dapat membantu melarutkan unsur-unsur kalium yang terdapat dalam bahan organik. Kalium dalam pengomposan digunakan sebagai katalisator pada substrat organik atau kimia organik pada organisme. Kita ketahui bahwa dengan adanya bakteri dapat mempengaruhi peningkatan kandungan-kandungan yang terdapat pada kalium yang menjadi proses pengomposan berjalan dengan baik dengan hasil yang optimum sesuai yang diharapkan dapat menunjang pertumbuhan dengan baik (Hidayati dkk, 2011).

Adapun kalium dapat diikat juga disimpan dalam sel oleh bakteri dan jamur, yang mana organisme membutuhkan kandungan C sebanyak 25 kali lebih besar dari pada nilai N. Pupuk kompos yaitu  merupakan proses vermicomposting yang pada umumnya dimanfaatkan untuk pertanian, lansekap, dengan bahan baku pupuk cair (PAC). Spesies cacing yang paling sering digunakan pada vermicomposting adalah cacing kecil merah denngan jenis Eisenia foetida dan Eisenia Andrei. Maka sama dengan halnya Lumbricus rubellus (cacing tanah merah) dan cacing biru (Perionyx excavatus), Namaun cacing jenis ini kurang mampu beradaptasi pada tumpukan kompos yang dangkal (Angima et al., 2011).

Mutu kompos yang baik yaitu berdasarkan dari nisbah C/N yang tinggi yaitu sebesar 30 berbanding 1 pada kompos yang belum matang yang dapat menyebabkan dekomposisi yang lambat dan menghambat pertumbuhan tanaman karena kekurangan nitrogen tersedia. Nilai yang rendah atau kecil yang mana perbandingannya sebesar 15 berbanding 1 hal ini dapat menyebabkan nitrat-N yang dapat mengurangi mutu tanaman pertanian atau perkolasi ke dalam suplai air. Perlu diketahui juga bahawa mutu kompos tidak ditentukan oleh kematangan kompos tersebut dan atau kandungan hara. Namun, ditentukan oleh kandungan polutan terutama logam berat dan bahan kimia organik seperti pestisida.

Beberapa permasalahan penggunaan kompos yang tercemar oleh bahan yang mengandung polutan dalam waktu yang lama akan menyebabkan terakumulasinya bahan pencemar tersebut dalam tanah. Sehingga, dihasilkan akumulasi pada bahan polutan yang dapat menyebabkan toksik bagi tanaman, dapat diambil dan diserap oleh tanaman lalu dikonsumsi oleh hewan atau manusia sehingga bersifat toksik juga pada hewan atau manusia yang mengkosumsinya. Ada juga beberapa bahan yang dapat dikomposkan dapat merupakan masalah bagi kesehatan manusia. Sebagian besar bahwa sisa-sisa sampah organik dari manusia dan hewan mengandung berbagai macam mikroorganisme patogenik, suhu 55oC selama 2-3 hari pada waktu pengomposan dapat mematikan mikroorganisme yang ada pada patogen tersebut.

 

Proses Nitrifikasi

Definisi nitrifikasi suatu tahap proses perubahan pada nitrogen amonia dengan secara biologis untuk menjadi proses nitrasi atau nitrat. Dimana yang tahap satu disebut nitritasi yang dikerjakan oleh bakteri Nitrosomonas atau bakteri yang disebut bakteri yang dibutuhkan oleh tanaman. Proses ini merupakan proses ion nitrit yang merupakan bagian dari siklus nitrogen, yang kemudian dioksidasikan maka akan terbentuk segera diubah menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter yang kita kenal bakteri nitrifikasi yang mengubah nitrit menjadi nitrat. Proses menerangkan tentang pengelolaan limbah komposter. Proses ini yang mana nitrogen diserap oleh tanaman untuk mengurangi kekurangan nitrogen pada proses komposter agar dapat menyerap dan diserap oleh tanaman. Bahan yang bersifat organik merupakan adalah bahan yang penting sebab dapat meningkatkan nilai pada nitrogen. Bahan organik pada hal ini bahan yang penting karena salah satu pemasok nitrogen yang tinggi. Bentuk dari bahan organik ini seperti kompos yang berasala dari kotoran hewan, sayuran, dan lainnya yang bersifat organik yan dapat mengurai dan juga dapat dijadikan sebagai pupuk kompos ntuk pertumbuhan tanaman (Sanjaya, 2014). Gas yang terkandung yaitu karbondioksida untuk didapatkannya proses pertumbuhan dengan baik. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan hormone auksin yang berperan untuk pertumbuhan pada ujung-ujung batang, akar, dan pembentukan bunga. Sedangkan, hormone giberelin untuk perkembangan tanaman, dan sitokinin untuk sebagai pengatur pertumbuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Angima, S., M. 2011. Pengomposan dengan cacing. Oregon State University Extension.

Cundari, L. 2017. Pemanfaatn kompos organik rumah tangga. UNSRI : Sumatera Selatan.

Dewi, Y.S. 2012. Pengelolaan samapah domestic menggunakan metode composting. Universitas Satya Negara Indonesia : Jakarta.

Djuarnani, 2005. Cara-cara membuat pupuk kompos. Jakarta : Pustaka agromadia.

Haryanto, & dkk. (2010). Implementasi dan sosialisasi pada Undang-undang nomor 18 tahun 2008 mengenai pengelolaan .Indonesia: Universitas Terbuka.

Peraturan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang : Pengelolaan Sampah, Jakarta.

Peraturan Menteri Nomor 28/Permenten /SR.13015/2011 tentang persyaratan PH 4 sampai 8 mengenai teknis minimal pada pupuk organik. Jakarta.

Sanjaya, 2014. Pengaruh pupuk kompos pada jagung terhadap nitrogen  tanah. Universitas Kristen Satya Wacana: Salatiga

Theunissen, J., P. A. Ndakidemi, C. P. Laubscher. 2010. Potensi vermikompos yang dihasilkan dari limbah tanaman terhadap pertumbuhan dan status hara dalam produksi sayuran. Intl. J. Phys. Sci. 5(13):1964-1973.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Komposter, Alat dan Wadah untuk Membuat Kompos Sendiri agar Lebih Mudah Terdapat pada: https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/komposter-alat-dan-wadah-untuk-membuat-kompos-sendiri-agar-lebih-mudah-46. (Diakses pada Rabu, 14 Oktober 2020 Pukul 09.21 WIB)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *