Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Kepok Sebagai Pupuk Kompos Organik

Pisang Kepok (Musa Paradisiaca Formatypica) merupakan salah satu buah yang banyak dikonsumsi di Indonesia, semakin tinggi konsumsi pisang kepok ini yang membuat semakin banyak limbah kulit pisang yang tebuang. Solusi yang dapat diberikan dari permasalahan ini adalah dengan mengolah kulit pisang kepok menjadi pupuk kompos organik. Unsur makro yang terdapat di kompos adalah nitrogen, fosfor, dan kalium. Unsur nitrogen diantaranya terdapat pada tanaman Leguminosae. Pupuk kompos organik ini dibuat dari bahan kulit pisang bisa dalam bentuk padat atau cair. Pengomposan yang dilakukan biasanya dibantu oleh mikroorganisme, dimana mikroorganisme ini dibagi menjadi dua jenis yaitu mikroorganisme yang membutuhkan oksigen dengan kadar yang tinggi (Aerob) dan mikroorganisme yang membutuhkan oksigen dengan kadar yang rendah (Anaerob). Sebenarnya pengomposan dapat dibuat dengan dua cara, yaitu dengan bantuan oksigen (aerobik) dan tanpa bantuan oksigen (anaerobik). Berdasarkan hasil yang didapatkan berupa bahan organik yang matang dan siap dimanfaatkan oleh tanaman. Setiap proses pembuatan pupuk kompos organik ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing saat pembuatan. Pembuatan kompos metode aerob dengan tidak menggunakan bantuan aktivator dapat berlansung 40-60 hari. Selanjutnya hasil akhir proses ini berupa bahan yang menyerupai warna dan suhu tanah yaitu hitam kecoklatan dan suhu tanah pada umumnya, gembur dan memiliki pH mendekati netral. Pengomposan aerobik umumnya sering digunakan karna tidak berbau, proses pengomposan lebih efisien dan cepat, temperatur dalam proses pengomposan tinggi yang mengakibatkan bakteri patogen dan telur cacing terbunuh sehingga kompos dapat dihasilkan dengan baik.

Cara pembuatan kompos dengan bahan limbah kulit pisang yang pertama dilakukan dengan menyiapkan EM4. Mikroorganisme pada EM4 yaitu bersifat fermentasi dimana terbagi menjadi empat kelompok mikroorganisme yaitu bakteri fotosintetik, jamur fermentasi, bakteri asam laktat, dan Actinomycetes. Dekomposisi limbah dan sampah organik dapat dipecepat dengan memberikan EM4 pada saat pengomposan yang menekan aktivitas mikroorganisme patogen. Manfaat EM4 selain dapat membantu proses pengomposan, manfaat lainnya dapat membersihkan sisa air limbah dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta dapat meningkatkan kualitas air pada tambah udang dan ikan. Selanjutnya proses pengomposan yaitu dengan memotong kecil-kecil limbah kulit pisang lalu dicampurkan dengan larutan EM4 diatas permukaan kulit pisang, kemudian diaduk hingga merata dan didiamkan. Setiap hari ke-7, 14 dan 21 diperiksa suhu dan pH kemudian kompos diambil untuk diuji kadar nitrogen, fosfor, dan kalium.

Rasio C/N pada saat pengomposan mengalami penurunan yang sesuai dengan prinsip pengomposan yaitu menurunkan rasio C/N bahan organik menjadi sama dengan nilai rasio C/N tanah. Rasio C/N yang sama dengan tanah memudahkan penyerapan kandungan kompos kedalam tanah. Kadar rasio C/N awal masa pengomposan sangat mempengaruh terhadap laju proses pengomposan. Rasio C/N rendah pada saat diawal yang membuat proses pembusukan semakin cepat dibandingkan dengan rasio  C/N tinggi pada saat diawal, hal ini dikarenakan adanya kadar karbon yang tinggi menjadikan proses pembusukan jauh lebih lama. Karbon berfungsi sebagai sumber energi dan nitrogen berfungsi sebagai pembentukan mikroorganisme saat proses pengomposan. Penguapan kadar karbon menjadi menurun pada saat proses pembentukan pengomposan CO2, kemudia kadar nitrogen meningkat yang mengakibatkan rasio C/N menurun. Proses Nitrifikasi dalam pembuat kompos dengan limbah kulit pisang dengan memanfaatkan bakteri di dalam bahan kompos yang akan menguraikan protein menjadi pepton, peptida dan asam amino melalui proses aminisasi. Amonifikasi menjadi amonia (NH3) dan amonium (NH4). Selanjutnya amonia (NH3) menjadi nitrit (NO2-) dan nitrat (NO3). EM4 berpengaruh dalam meningkatkan kadar N pada kompos, serta membuat semakin tingginya jumlah mikroorganisme pada saat proses pembuatan kompos. Proses nitrifikasi terjadi dalam tanah dan air dalam keadaan tersedianya oksigen, apabila tidak ada oksigen maka proses ini tidak dapat terjadi. Oksigen sangat penting di proses ini karena bakteri nitrifikasi membutuhkan oksigen untuk dapat berproses. Nitrat dalam tanah selain digunakan oleh tumbuhan juga dapat mengalami proses pengubahan kembali menjadi nitrogen bebas oleh bakteri. Asam amino merupakan hasil pada saat proses penguraian protein yang terdapat pada bahan limbah organik yang digunakan. Tahap ini disebut aminisasi. Asam amonia mengalami proses amonifikasi menjadi amonia (NH3) dan amoniun (NH4). Tahap ini disebut reaksi amonifikasi. Larutan EM4 berpengaruh juga dengan tingginya pH kompos yang diproses. Semakin banyak mikroorganisme, maka NH3 sejalan lurus akan semakin bertambah pula. Kompos bersifat basa karena kandungan NH3 yang tinggi. Menurut literatur SNI NO 19- 7030-2004 yang diperoleh bahwasanya standar mengenai spesifikasi pH kompos matang yaitu sebesar 6,8 – 7,49, dan dalam penelitian ini pH tidak sesuai standar yang dianjurkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, E., dan Padmi, T. 2010. Diktat Kuliah Teknik Lingkungan Pengelolaan Sampah. Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Foth, 1994. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta.

Habibi, L. 2009. Pembuatan Pupuk Kompos dari Limbah Rumah Tangga. Penerbit Titian Ilmu. Bandung

Indriani, Y. H. 1999. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta

Nasution, F. J. 2013. Aplikasi Pupuk Organik Padat dan Cair dari Kulit Pisang Kepok untuk Pertumbuhan dan Produksi Sawi (Brassica Juncea L.). Skripsi Program Sarjana. Universitas Sumatera Utara. Medan

SNI 19 -7030 -2004. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik.

Yuwono, D. 2006. Kompos. Penebar Swadaya. Depok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *