Pemanfaatan Limbah dari Air Cucian Ikan Teri Sebagai Pupuk Organik Cair

Indonesia merupakan negara berkembang yang menduduki peringkat keempat dengan jumlah penduduk paling tinggi di dunia (Worldometer, 2020). Jumlah penduduk yang tinggi ini diiringi dengan meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan tiap tahunnya, baik dari sektor rumah tangga hingga industri. Limbah merupakan sampah hasil kegiatan manusia yang yang sudah terbuang atau tidak memiliki nilai ekonomi, bahkan berpotensi bernilai negatif (Murtadho, 1988). Meskipun limbah didefinisikan sebagai sampah atau bahan yang sudah tidak dipergunakan lagi, namun perlu dikelola agar tidak memberikan gangguan terhadap lingkungan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.

Berdasarkan uraian masalah yang dijelaskan di atas, maka perlu dilakukannya suatu tindakan yang bisa menurunkan resiko terjadinya kerusakan lingkungan, misalnya dengan pengelolaan limbah. Pengelolaan limbah adalah merupakan serangkaian kegiatan yang terdiri dari pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan atau pembuangan dari material sampah yang umumnya berasal dari kegiatan manusia, baik berupa bahan solid, liquid, gas atau senyawa radioaktif yang dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan limbah dilakukan secara fisis, kimiawi, biologi atau ketiganya dengan menerapkan juga perkembangan teknologi untuk mendukung proses tersebut.

Pengelolaan limbah pada awalnya memiliki tujuan untuk menghilangkan dampak negatif yang dihasilkan, namun belakangan ini sudah ditemukan inovasi teknologi proses yang bisa memanfaatkan limbah menjadi produk yang bisa digunakan untuk lintas sektor, misalnya untuk dijadikan pupuk, umumnya Pupuk Organik Cair (POC). Salah satu bentuk limbah yang bisa dimanfaatkan kembali menjadi POC yaitu limbah cair sisa rebusan ikan. Limbah cair tersebut apabila dibiarkan bisa berpotensi menjadi pencemar ekosistem perairan yang ada di sekitarnya. Limbah cair industri perikanan mempunyai dampak yang luas, terutama pada kualitas air permukaan karena protein dan lemak pada ikan bersifat mudah larut, tersuspensi dan mudah terurai, oleh karena itu akan lebih bermanfaat jika diolah menjadi pupuk organik cair yang bisa digunakan untuk budidaya tanaman pangan, baik secara konvensional maupun hidroponik.

Komposter adalah proses pengelolaan sampah (umumnya sampah organik) untuk dijadikan sebagai pupuk dalam bentuk pupuk kompos. Limbah yang dibiarkan menumpuk dan tercampur di tempat pembuangan sangat berbahaya bagi atmosfer karena menghasilkan gas metana yang tinggi akibat zat-zat yang terurai tanpa oksigen. Selama proses pengomposan, sampah diuraikan dengan dibantu oleh kinerja dari bakteri pengurai. Penggunaan komposter akan mempercepat bahan organik terurai menjadi pupuk organik dengan membantu kecepatan penguraian dari bakteri yang bekerja di dalamnya. Selain itu, dengan menggunakan komposter akan mengurangi biaya proses penyuburan tanah. Pembuatan komposter ini umumnya terbuat dari ember atau tong yang dibenamkan ke dalam tanah, dimana dalam wadah tersebut terjadi proses pengomposan limbah dengan bantuan bioaktivator dan bakteri pengurai lainnya. Setelah melalui serangkaian tahap tertentu hingga nilai C/N rasio menunjukkan tingkat kematangan POC dan sudah memiliki nilai sesuai dengan standar yang ada pada tanah, maka bisa diaplikasikan pada tanaman.

Proses dekomposisi (pengomposan) memiliki tujuan untuk menyesuaikan nilai C/N rasio air olahan limbah dengan C/N rasio pada tanah. Nilai C/N rasio merupakan parameter berupa perbandingan unsur koarbon dengan nitrogen (N) yang menunjukkan proses metabolisme mikroorganisme pengurai selama terjadinya dekomposisi. Selama proses dekomposisi, mikroorganisme pengurai membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan nitrogen sebagai pembentuk sel mikroorgnasime melalui sintesis protein. Parameter yang penting dari proses dekomposisi yaitu ketersediaan jumlah unsur karbon untuk mikroorganisme. Dalam melakukan pengomposan oleh mikroorganisme, setiap unit nitrogen yang digunakan untuk proses produksi protein membutuhkan sekitar 30-40 unit karbon. Nilai C/N rasio ini akan berpengaruh terhadap proses pengomposan dan kompos yang dihasilkan. Nilai C/N rasio yang terlalu tinggi akan menyebabkan aktivitas bakteri pengurai akan bekerja lebih lambat dalam mengurai bahan organik kompos sehingga waktu pengomposan yang diperlukan menjadi lebih panjang. Sedangkan nilai C/N rasio yang terlalu rendah akan menyebabkan nitrogen bebas dan berubah menjadi ammonia yang berakibat menimbulkan bau tidak sedap pada kompos. Keberadaan nitrogen sebisa mungkin tidak hilang karena merupakan komponen penting dalam pengomposan (Djuarnani, 2005).

Besarnya nilai C/N rasio tergantung dari jenis sampah yang digunakan untuk proses dekomposisi. Nilai C/N rasio merupakan parameter penting dalam mengidentifikasi apakah suatu proses pembuatan pupuk cair sudah mencapai kematangan atau belum, karena pupuk cair baru bisa digunakan pada tanaman saat telah mencapai tingkat kematangan tertentu. Nilai C/N rasio yang diperoleh merupakan hasil pengamatan kondisi kadar karbon (C) dan kadar nitrogen (N) selama proses pembuatan pupuk cair. Prinsip utama dari proses pembuatan POC adalah dengan menurunkan nilai C/N rasio bahan organik hingga mendekati nilai C/N rasio yang umumnya ada pada tanah, yaitu pada rentang 10–20 (Piri, 2017). Kadar nitrogen tergantung dari proses nitrifikasi yang terjadi selama pengomposan.

Nitrifikasi merupakan proses pembentukan nitrat dari nitrit secara biologis yang dihasilkan melalui oksidasi ammonia yang dibantu oleh bakteri autotrof, dimana membutuhkan senyawa anorganik sebagai sumber energi dan karbondioksida sebagai sumber karbon (Spotte, 1979). Selama terjadinya perubahan biologis dari amonia menjadi nitrit dan nitrat mengalami tiga bentuk proses, yaitu fisis, kimiawi dan biologis. Proses pembentukan nitrat tersebut melalui dua tahapan reaksi, yaitu tahap oksidasi ammonia menjadi nitrit yang dilakukan oleh mikroba pengoksidasi ammonia (Nitrosomonas sp.), kemudian dilanjutkan dengan oksidasi nitrit menjadi nitrat oleh mikroba pengoksidasi nitrit (Nitrobacter sp.).

Proses nitrifikasi juga bisa menimbulkan kerugian jika dilakukan pada kondisi tertentu. Misalnya, pada tanah yang memiliki tekstur pasir dan curah hujan yang tinggi maka NO3 akan lebih cepat tercuci pada daerah perakaran. Karena pencucian NO3–  banyak terjadi di daerah perakaran, maka sering berakhir dalam air bawah tanah, danau, dan sungai. Hal ini dapat berakibat pada terjadinya proses eutrofikasi ataudikenal juga dengan pertumbuhan tanaman dan alga, masalah kesehatan seperti methemoglobin hewan, serta pembentukan nitrosamin yang bersifat karsinogen akibat adanya reaksi dengan senyawa nitrogen lainnya. Selain itu, gas intermediet yang dihasilkan dari proses nitrifikasi merupakan polutan bagi atmosfer (Paul, 1996).

Salah satu limbah cair yang bisa dijadikan alternatif pada pembuatan POC yaitu dengan menggunakan air sisa cucian ikan. Pada sebuah penelitian, dilakukan percobaan terhadap pengaruh limbah cair rebusan ikan teri sebanyak 5 liter/perlakuan dan 5 perlakuan yaitu konsentrasi EM4 dengan kombinasi taraf 5%, 10%, 15%., 20%, 25% pada tanaman bayam yang dibudidayakan di dalam polybag. Proses pemanenan dilakukan setelah umur tanaman mencapai 30 HST dengan cara memotong tanaman dari pangkal akar, setelah itu diukur berat basah dan berat keringnya agar dapat menunjukkan pengaruh dari penggunaan POC yang berasal dari air sisa cucian ikan tersebut. Kkarena nilai F hitung lebih besar dibanding dengan F tabel. Hasil penimbangan berat basah memiliki nilai F hitung 3,205 dan F tabel 3,11, sedangkan untuk berat kering memiliki nilai F hitung 6 dan F tabel 3,11. Berdasarkan kelima perlakuan yang dilakukan, dapat dilihat bahwa terdapat hasil yang berbeda nyata, dengan formulasi terbaik yaitu pada taraf EM4 5%. Dengan begitu, limbah cair yang digunakan pada penelitian ini bisa dijadikan referensi dalam pembuatan POC untuk budidaya tanaman sekaligus sebagai upaya pengelolaan limbah demi terciptanya keseimbangan ekosistem (Holifah, 2019).

 

PENUTUP

Limbah mengandung unsur-unsur polutan dan bersifat sebagai pencemar sehingga jika dibiarkan akan menjadi masalah yang bisa berakibat buruk untuk lingkungan. Limbah sering dianggap sebagai bahan buangan yang sudah tidak bisa digunakan kembali, namun seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini limbah bisa didaurulang menjadi produk yang kembali memiliki nilai fungsi. Sebagai contoh, limbah cair sisa cucian ikan bisa dimanfaatkan kembali menjadi POC untuk budidaya tanaman melalui proses dekomposisi (pengomposan). Dalam proses pengomposannya dibantu oleh bakteri pengurai. Dekomposisi dilakukan dengan tujuan untuk menyesuaikan nilai C/N rasio air olahan limbah mendekati C/N rasio yang ada pada tanah agar lebih mudah diserap oleh tanaman yang dibudidayakan. Dalam proses dekomposisi, terjadi proses nitrifikasi melalui dua tahapan proses dari ammonia hingga menjadi nitrat, dan dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu fisis, kimia dan biologis. Berdasarkan salah satu penelitian yang dilakukan oleh (Holifah, 2019), dapat dibuktikan bahwa penggunaan POC berbahan air sisa cucian ikan ini bisa memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bayam, dan dapat dilihat dari nilai berat kering dari tanaman tersebut. Dengan ditemukannya banyak teknologi proses yang bisa mengubah bahan terbuang menjadi produk yang reusable (dapat digunakan kembali), maka kini limbah cair sudah bukan menjadi hal yang perlu dikhawatirkan akan mencemari lingkungan ataupun merusak ekosistem perairan.

 

Sumber Referensi

Djuarnani, N., Kristiani, dan B.S Setiawan. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka : Jakarta.

Holifah, S. 2019. Pengolahan Limbah Air Rebusan Ikan Teri Menjadi Pupuk Organik Cair dan Aplikasinya Terhadap Hasil Tanaman Bayam (Amaranthus Sp.). Jurnal Agromix Vol. 10 No.2 : 100-113.

Murtadho, D., dan Sa’id, E. G. 1988. Penanganan Pemanfaatan Limbah Padat. Sarana Perkasan : Jakarta.

Paul, E. A., dan Clark, F. E. 1996. Soil Microbiology and Biochemistry. Academic Press: San Diego.

Piri, G. A., dan Mirwan, M. 2017. Pembuatan Pupuk Cair dari Limbah Pengolahan Ikan Tradisional. Jurnal Envirotek Vol. 9 No. 2 : 1-5.

Spotte, S. H. 1979. Fish and Invertebrata Culture. Willey Inter Sci. :New York.

Worldometer, 2020. Countries in The World by Populations (2020). Terdapat pada worldometers.info (Diakses pada 14 Oktober 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *