Pemanfaatan Green Roof pada Kawasan Perkotaan

Berkurangnya lahan terbuka hijau di suatu tempat akan mengakibatkan keadaan yang kurang baik. Pohon jarang ditemukan, permukaan tanah sudah dilapisi semen dan beton, hingga kualitas udara yang semakin memburuk. Hal ini sudah terjadi di lingkungan perkotaan, terutama di kota-kota besar. Terpangkasnya lahan yang disebabkan oleh pembangunan yang terus-menerus dilakukan, menimbulkan potensi banjir yang cukup tinggi karena sulitnya tanah untuk menyerap air hujan. Pada kawasan hutan, air hujan dapat terserap sebanyak 95%. Dengan perbedaan yang jauh, hanya sebanyak 25%, kawasan perkotaan dapat menyerap air hujan. Terlalu banyaknya bangunan membuat banyak rumah di perkotaan minim bahkan tidak memiliki lahan kosong atau halaman. Cukup sulit untuk melakukan penanaman pada lahan yang sangat terbatas.

Dengan melihat jumlah masyarakat produktif yang terus meningkat, kebutuhan akan ruang untuk menunjang sejumlah aktivitas pun terus dibangun. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang semakin berkurang, salah satunya disebabkan oleh pembangunan yang dibuat secara horizontal. Beberapa kota besar di Indonesia saat ini mengalami penurunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kurang lebih sebanyak 25%. Perluasan kawasan terus dilakukan, jumlah pohon yang tersedia berkurang, karbondioksida pun sulit untuk diserap. Kualitas hidup dari masyarakat yang tinggal di perkotaan dapat terpengaruh dan semakin menurun.

Guna menciptakan efisiensi lahan terbatas di perkotaan, perluasan pembangunan dilakukan secara vertikal (bangunan bertingkat). Melihat lahan yang terus mengecil, hal ini dapat menjadi perubahan yang berdampak besar. Didirikannya bangunan bertingkat akan menjadikan tersedianya atap yang bisa digunakan untuk berbagai macam ruang sesuai kebutuhan. Namun, tidak jarang gedung di perkotaan memiliki luas atap yang cukup besar tetapi tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Banyak atap yang tidak terawat seperti cat yang memudar dan mengelupas, tembok yang berjamur, hingga rumput liar yang terus tumbuh dan semakin tinggi sehingga penampakannya pun kurang enak dilihat. Ketika atap dimanfaatkan, atap bisa menjadi tempat yang bisa dinikmati banyak orang karena memiliki kelebihan lebih tinggi dari bangunan lain yang dapat digunakan untuk melihat kawasan perkotaan secara luas seperti dijadikan café terbuka, taman, hingga atap hijau.

Atap hijau atau yang biasa disebut green roof merupakan suatu konsep dari green building yang sifatnya ramah lingkungan yang berkelanjutan. Green roof adalah atap dari suatu bangunan yang keseluruhan atau sebagian alasnya ditumbuhi tanaman dan terdapat sistem drainase yang diterapkan. Green roof bertujuan untuk memanfaatkan ruang terbatas dan mengurangi polusi udara yang ada di kawasan perkotaan. Biasanya, green roof diterapkan pada atap bangunan yang datar. Pada bangunan tidak datar pun bisa dilakukan, namun terdapat kemiringan yang harus diperhatikan. Untuk kemiringan yang dianjurkan yaitu dalam rentang 10% hingga 45%.

Masih banyak orang beranggapan bahwa green roof dan roof garden memiliki arti sama. Padahal, dari konsepnya sudah berbeda. Pada green roof, tanaman langsung diletakan pada permukaan bangunan, hanya dilapisi oleh lapisan anti air. Sedangkan pada roof garden, tanaman dimasukan pada media ataupun wadah dan ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah taman. Meskipun keduanya merupakan upaya yang dilakukan untuk menciptakan ruang hijau yang lebih besar di perkotaan.

Berikut manfaat dari penerapan green roof, diantaranya:

  • Dapat menurunkan suhu ruangan yang berada di dalam bangunan, adanya perbedaan sekitar 3-4 derajat celcius dengan suhu udara di bagian luar ruangan sehingga penggunaan AC dalam ruangan dapat dikurangi hingga 25%.
  • Dapat menurunkan risiko banjir dan limpasan. Sebagian air hujan tertahan oleh tanaman yang ada pada green roof, air meresap pada media tanam, air mengalami penguapan, dan sisanya air akan mengalir pada saluran pipa rangkaian sistem drainase.
  • Menghasilkan kualitas udara yang baik untuk sekitar. Banyaknya jumlah tanaman dapat menjadikan udara lebih bersih. Gas karbondioksida dapat diserap oleh tanaman dan menghasilkan oksigen.
  • Dapat meningkatkan ketahanan bagian atas bangunan. Dengan adanya green roof, bangunan dapat terlindungi dari paparan sinar matahari langsung dan konsep ini dapat memberi efek dingin yang lebih pada bangunan.
  • Menampilkan keindahan pada bangunan.

Green roof merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapisan, lapisannya terdiri dari:

  1. Selaput anti air (waterproof membrane): merupakan lapisan yang dipasang diatas beton atap guna menahan air tidak langsung mengenai permukaan bangunan yang dapat mengurangi kekuatan strukturnya. Untuk penerapannya dapat menggunakan terpal ataupun aspal.
  1. Penopang akar: alat yang akan menopang akar dengan baik, yang membantu memperlancar penyerapan nutrisi bagi tanaman.
  1. Lapisan drainase: guna meminimalisir adanya genangan pada atap, lapisan atau layer ini dapat mengatasi air yang meluap. Dapat dibuat dengan memakai batu apung dan kerikil.
  1. Filter: salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat filter atau saringan adalah polyester, berdaya serap tinggi namun memiliki ketebalan yang tipis.
  1. Media tanam: hal yang umum digunakan sebagai media tanam adalah tanah. Namun, tanah dapat memicu munculnya rumput liar yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Untuk green roof lebih baik menggunakan media tanam tanah liat atau cocopeat yang sifatnya lebih ringan.
  1. Tanaman: selain tanaman perdu, tanaman kecil hingga tanaman besar pun bisa ditanam di green roof. Hanya perlu disesuaikan dengan kapasitas dan ketahanan bangunan.

Dalam proses pemeliharaanya, green roof menggunakan irigasi tetes (drip irrigation) yang bertujuan untuk menyebarkan air ke seluruh permukaan sekitar akar tanaman. Dapat juga digunakan untuk mengalirkan pupuk.

Berdasarkan perawatan dan penanamannya, green roof terdiri atas tiga kategori, yaitu:

  1. Intensive green roof: dapat dimanfaatkan untuk menaman tanaman berukuran kecil maupun besar.
  2. Semi intensive green roof: membutuhkan struktur bangunan yang cukup kuat karena digunakan  untuk menanam tanaman besar.
  3. Extensive green roof: dapat digunakan untuk menanam tanaman kecil dan ringan sehingga atap dari bangunan rumah pun bisa digunakan.

Di Indonesia, penerapan konsep green roof ini masih sangat jarang digunakan. Melihat negara  lain yang banyak menggunakan konsep green roof beriklim subtropis, Indonesia yang memiliki iklim tropis perlu penyesuaian kembali mengenai tanaman yang akan ditanam. Tepatnya perlu pertimbangan mengenai tanaman yang sesuai dengan iklim dan kondisi cuaca tempat penerapan konsep green roof. Tanaman yang lebih cocok dipilih adalah tanaman yang tahan pada cuaca kering.

Dalam hal penyerapan panas dari sinar matahari, jenis tanaman dan media tanam sangat berperan besar.Tanaman pada konsep green roof dapat mengurangi penyerapan panas yang akan masuk ke dalam bangunan. Green roof memiliki kemampuan menyerap air hujan kurang lebih sebanyak 50%. Dengan banyaknya bangunan yang memiliki green roof, kawasan perkotaan tidak akan menampung terlalu banyak air diluar kapasitasnya.

 

Daftar Pustaka

Lestari, Endah., K., Irma Wirantina., & Hidayawanti, Ranti. (2017). Analisa Taman Atap Dalam Upaya Mengurangi Limpasan Air Hujan Pada Bangunan Perkotaan. Jurnal Kajian Ilmu dan Teknologi. 6(2), 81-87. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/269783-analisa-taman-atap-dalam-upaya-mengurang-426f3486.pdf

Makarim, Bagas., Damayanti, Elysa., Chrisvalliando, Kevin., Octa, Tria., & Septiady, Rian. (2019). Penerapan Green Roof pada Perencanaan Gedung Olahraga Universitas Pembangunan Jaya. Widyakala. Banten: Universitas Pembangunan Jaya. 6, 47-53. Diambil dari https://pdfs.semanticscholar.org/b87b/74c996f6d35a1d352280f6ef0427f4b934de.pdf

Mubarak, Muhammad., & Raharjo, Akhmadi Puguh. (2018). Simulasi Pengurangan Limpasan Permukaan Di Kawasan Penyangga Perkotaan Menggunakan Sistem Atap Hijau. Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana. 13(1), 24-33. Diambil dari: https://pdfs.semanticscholar.org/5571/e603f87743ff41f75d9c82e81631dcdb8d38.pdf

Putritama, Dewini., & Sufianto, Heru. Pengaruh Green Roof terhadap Kenyamanan Termal Bangunan Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Malang: Universitas Brawijaya. Diambil dari http://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma/article/view/510

Sakong, Uria Karlena Sely. Pemanfaatan Green Roof Sebagai Media Filter Air Hujan Di Kota Pontianak. Pontianak: Universitas Tanjungpura. Diambil dari https://media.neliti.com/media/publications/191230-ID-pemanfaatan-green-roof-sebagai-media-fil.pdf

Mewujudkan Konsep Green Roof pada Atap Bangunan. (2016). Diambil dari http://sim.ciptakarya.pu.go.id/p2kh/knowledge/detail/mewujudkan-konsep-green-roof-pada-atap-bangunan

Roof Garden, Inovasi Terkini Ruang Terbuka Hijau. Diambil dari http://firecopower.com/roof-garden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *