Pengolahan Limbah Organik Pada Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos dengan Komposter Aerobik

Limbah merupakan kumpulan dari bahan-bahan yang terbuang akibat adanya aktivitas manusia ataupun dari alam itu sendiri yang pada dasarnya tidak mempunyai manfaat ekonomi dan memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan disekitarnya. Salah satunya ialah limbah organik yang merupakan limbah hasil penguraian dari bahan-bahan organik yang dapat diolah kembali atau didaur ulang menjadi sesuatu hal yang lebih bermanfaat bahkan mempunyai nilai ekonomi. Limbah organik saat ini banyak ditemukan berasal dari sampah rumah tangga atau dari kegiatan sehari-hari, seperti sisa-sisa sayuran dan buah-buahan. Sampah rumah tangga ini merupakan satu dari sekian banyak bahan organik yang sangat berpotensi untuk didaur ulang kembali menjadi kompos atau pupuk. Kompos merupakan jenis pupuk yang dihasilkan melalui proses penguraian sisa-sisa makhluk hidup, seperti hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyedia unsur hara pada tanah sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimiawi, maupun biologis tanah (Sutanto, 2002).

Read More …

EM4, Stimultor Pembuatan Kompos dari Limbah Organik

Sampah daun merupakan salah satu jenis sampah organik yang dihasilkan dari bahan hayati. Sampah daun dapat ditemukan di sekitar lingkungan, seperti lingkungan kampus Universitas Padjadjaran yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Setiap harinya, pepohonan akan menggugurkan daunnya sehingga menghasilkan sampah daun yang cukup banyak. Penanganan yang telah dilakukan adalah dengan mengumpulkan sampah daun hingga menumpuk kemudian membakarnya, proses pembakaran inilah yang membuat kegiatan pengolahan limbahnya menjadi tidak ramah lingkungan. Melihat proses penanganan sampah organik yang masih kurang efektif, perlu dikembangkan pengelolaan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat melalui proses pengomposan. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat masih belum memanfaatkan sampah daun sebagai pupuk organik. Hal ini dikarenakan proses pengomposan sampah daun melalui agen dekomposer secara alami itu membutuhkan waktu yang lama. Namun, pengomposan dapat dipercepat dengan menambah bahan stimulator. Salah satu stimultor yang umum digunakan adalah bahan stimulus berisi mikrobia terpilih Effective Microorganism 4.

Read More …

Pengelolaan Sampah Terpadu : Konversi Sampah Pasar Menjadi Pupuk Organik

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa indonesia diperkirakan menghasilkan 67 juta ton sampah pada tahun 2019, sebagian besar dari sampah ini atau 60% diantaranya merupakan sampah organik. sementara di posisi kedua ditempati plastik sebanyak 14%, sampah kertas sebanyak 9% dan karet 5,5% dan sisanya merupakan material material limbah industri lainnya. Sebagian besar sampah ini berasal dari rumah tangga dan industri, dimana hampir sebagian sampah organik berasal dari kawasan pasar-pasar tradisional. Pasar tradisional sendiri setiap harinya dapat menghasilkan ribuan ton sampah, dimana 70-90% diantaranya meruapakan bahan-bahan organik segar dengan kualitas tinggi. Hal tersebut cukup memprihatinkan mengingat proses pengolahan sampah amat minim mulai dari proses pengangkutan, hingga langsung ke pembuangan. Masalah mengenai sampah bertambah besar dan sulit dipecahkan setiap harinya, dikarenakan sulitnya melakukan pengolahan sampah menjadi barang yang dapat digunakan. Sulitnya melakukan pengolahan sampah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain keterbatasan dana, kurangnya integrasi yang baik antara pemerintah dan pengelola pasar, keterbatasan ruang serta keterbatasan keahlian dalam melakukan pengolahan sampah yang baik dan benar. Pengolahan sampah yang baik dan benar dapat menjadi solusi yang tepat untuk dapat memecahkan masalah kebersihan, kesehatan, serta memberikan keuntungan sosial ekonomi bagi komunitas pasar. Paper ini membahas mengenai program pengolahan sampah yang berasal dari pasar untuk dapat diubah menjadi pupuk organik untuk dapat dijual kembali dengan kualitas yang baik dan nilai ekonomis yang tinggi, antara lain dengan proses pengomposan.

Read More …

Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Kepok Sebagai Pupuk Kompos Organik

Pisang Kepok (Musa Paradisiaca Formatypica) merupakan salah satu buah yang banyak dikonsumsi di Indonesia, semakin tinggi konsumsi pisang kepok ini yang membuat semakin banyak limbah kulit pisang yang tebuang. Solusi yang dapat diberikan dari permasalahan ini adalah dengan mengolah kulit pisang kepok menjadi pupuk kompos organik. Unsur makro yang terdapat di kompos adalah nitrogen, fosfor, dan kalium. Unsur nitrogen diantaranya terdapat pada tanaman Leguminosae. Pupuk kompos organik ini dibuat dari bahan kulit pisang bisa dalam bentuk padat atau cair. Pengomposan yang dilakukan biasanya dibantu oleh mikroorganisme, dimana mikroorganisme ini dibagi menjadi dua jenis yaitu mikroorganisme yang membutuhkan oksigen dengan kadar yang tinggi (Aerob) dan mikroorganisme yang membutuhkan oksigen dengan kadar yang rendah (Anaerob). Sebenarnya pengomposan dapat dibuat dengan dua cara, yaitu dengan bantuan oksigen (aerobik) dan tanpa bantuan oksigen (anaerobik). Berdasarkan hasil yang didapatkan berupa bahan organik yang matang dan siap dimanfaatkan oleh tanaman. Setiap proses pembuatan pupuk kompos organik ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing saat pembuatan. Pembuatan kompos metode aerob dengan tidak menggunakan bantuan aktivator dapat berlansung 40-60 hari. Selanjutnya hasil akhir proses ini berupa bahan yang menyerupai warna dan suhu tanah yaitu hitam kecoklatan dan suhu tanah pada umumnya, gembur dan memiliki pH mendekati netral. Pengomposan aerobik umumnya sering digunakan karna tidak berbau, proses pengomposan lebih efisien dan cepat, temperatur dalam proses pengomposan tinggi yang mengakibatkan bakteri patogen dan telur cacing terbunuh sehingga kompos dapat dihasilkan dengan baik.

Read More …

Optimasi Pengomposan dengan Penambahan Kotoran Sapi

Sampah sudah menjadi masalah yang umum di masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih berpikir bahwa sampah merupakan barang yang tidak diinginkan sehingga harus segera dibuang. Persepsi masyarakat terhadap sampah itulah yang menjadi alasan mengapa sampah akhirnya hanya bisa dipindahkan dan akhirnya terakumulasi di satu tempat (seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA)). Limbah yang tidak ditangani dengan baik akan berdampak pada gangguan kesehatan berupa diare, tifus, kolera, demam berdarah dan penyakit lainnya. Membuang sampah di tempat yang tidak tepat juga dapat menimbulkan masalah sosial dan bahkan dapat berdampak lebih jauh pada masalah ekonomi. Misalnya, membuang sampah ke sungai akan mengakibatkan banjir yang sangat merugikan dari segi ekonomi.

Read More …

Pembuatan Pupuk Cair Organik Dengan Memanfaatkan Teknologi Komposting Yang Sederhana

Kehidupan manusia tentunya tidak lepas oleh suatu benda yang tidak diperlukan kembali atau yang biasa kita sebut dengan sampah. Hal ini dikarenakan sampah merupakan masalah yang terus menerus akan hadir pada setiap waktu. Keadaan ini menuntut atau menjadikan manusia untuk memulai bahkan memikirkan bagaimana cara untuk melakukan pengolahan sampah dengan meningkatkan nilai dari sampah itu sendiri. Pengolahan tersebut tercipta dengan melaukan daur ulang yang saat ini menjadi senjata yang ampuh untuk dapat mengatasi masalah sampah ini. Dinamika sampah dalam hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dilakukan pengamatan dan penelitan untuk dapat melakukan pengembangan dalam pengolahan sampah yang ada.

Read More …

Pemanfaatan Limbah Organik Berskala Rumah Tangga menjadi Kompos

Permasalahan sampah di Indonesia saat ini masih menjadi problematika yang belum terselesaikan secara meneyeluruh baik di wilayah perkotaan maupun wilayah pedesaan. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan pengelolaan sampah dan sempitnya lahan tempat pembuangan akhir menjadikan salah satu faktor yang menyebabkan tidak terselesaikannya permasalahan sampah di Indonesia. Sampah merupakan limbah padat yang terdiri dari bahan organik maupun anorganik yang sudah dianggap tidak berguna lagi, sehingga banyak masyarakat yang mengabaikannya begitu saja. Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu penyebab meningkatnya jumlah sampah di Indonesia. Penyumbang sampah paling besar saat ini adalah rumah tangga, diperkirakan setiap rumah tangga di Indonesia dapat menghasilkan sampah sebanyak 0.52 kg/jiwa/hari (Widyastuty et al., 2019). Produksi sampah yang meningkat setiap tahunnya bila tidak disertai dengan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan akan menimbulkan pencemaran, baik pencemaran tanah, air dan udara.

Read More …

Teknik Pengelolaan Limbah Organik Sayur Sawi Menjadi Kompos Dengan Metode Komposter

Sumber sampah organik terbanyak berasal dari cluster pemukiman dan pasar tradisional. Sampah pada cluster pasar yang berasal dari pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, memiliki jenis yang relatif seragam. Sebanyak 95% berupa sampah organik. Jenis sampah yang berasal dari cluster pemukiman umumnya lebih beragam, rata-rata 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya merupakan sampah anorganik. Kandungan dalam sampah sayuran yaitu senyawa dan berbagai bakteri pengurai. Senyawa dan bakteri yang terdapat pada sampah tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan cara menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah. Kandungan  pada sampah tersebut dapat dijadikan sebagai kompos organik dengan mencampurkan berbagai komponen bahan-bahan tertentu. Unsur-unsur yang terdapat pada sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan Kompos dengan berbagai metode pengolahan sampah organik, salah satunya dengan metode Komposter (Latifah et al., 2012).

Read More …

Pemanfaatan Limbah dari Air Cucian Ikan Teri Sebagai Pupuk Organik Cair

Indonesia merupakan negara berkembang yang menduduki peringkat keempat dengan jumlah penduduk paling tinggi di dunia (Worldometer, 2020). Jumlah penduduk yang tinggi ini diiringi dengan meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan tiap tahunnya, baik dari sektor rumah tangga hingga industri. Limbah merupakan sampah hasil kegiatan manusia yang yang sudah terbuang atau tidak memiliki nilai ekonomi, bahkan berpotensi bernilai negatif (Murtadho, 1988). Meskipun limbah didefinisikan sebagai sampah atau bahan yang sudah tidak dipergunakan lagi, namun perlu dikelola agar tidak memberikan gangguan terhadap lingkungan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.

Read More …