Optimasi Budidaya Sayuran Daun Dan Ikan Berbasis Aquaponik Sebagai Komoditi Pertanian Kota

Peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan industri dan ekonomi menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Hal ini yang mendorong terjadinya dampak dari alih fungsi lahan dalam perkembangan di sektor pertanian terutama pada hasil produksi dan perekonomian para usaha tani (Kurniawati, et al, 2020). Ketersediaan pangan menjadi akibat dari alih fungsi lahan pertanian yang sangat besar. Pemanfaatan lahan pekarangan yang sedikit dapat dilakukan untuk usaha pertanian dan perikanan skala rumah tangga. Model aquaponik menjadi solusi pertanian di lahan perkotaan yang sempit. Menurut Handayani (2018) , model ini mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran dalam satu wadah sekaligus. Menurut (Rokhmah, et al, 2014), teknologi akuaponik membuat masyarakat mampu menanam sayuran dan beternak ikan meski mempunyai keterbatasan ruang, media tanam dan waktu.
Sistem akuaponik mampu menghasilkan produk pertanian yang unggul dan memenuhi kriteria produk agroindustri. Menurut (Petrea et al., 2013), dengan sistem akuaponik hasil tanaman yang diperoleh berkualitas. (Rokhmah et al., 2014), sistem akuaponik membuat penyerapan unsur hasil limbah ikan lebih efektif, sehingga produksi tanaman meningkat dan ramah lingkungan.

Sistem ini mampu menghasilkan produk tanaman dan ikan organik (Handayani, 2018), hal tersebut dikarenakan mekanisme dari budidaya akuaponik yang menggunakan limbah organik dari sisa pakan dan kotoran ikan yang dialirkan kembali ke media tanaman sayuran sebagai sumber nutrisinya. Bahkan dengan sistem ini pengguna dapat menghemat biaya, air dan lahan(Effendi, et al, 2015). Kelebihan lain sistem ini adalah tidak ada penggantian air, karena air yang bersifat toksik terhadap ikan akan disaring oleh bakteri nitrifikasi sehingga ikan tetap sehat (Manuhara, et al, 2018).

Potensi tersebut mendorong minat masyarakat untuk meningkatkan produksi melalui budidaya secara intensif, diantaranya dengan mengatur sistem drainase dan penggunaan variasi media tanam karena dengan penerapan dua sistem (drainase dan media tanam) hasilnya akan jauh lebih baik. Sistem drainase dan pemilihan media tanam memberi pengaruh pada kualitas sayur dan ikan yang baik serta kuantitas sayuran dan ikan meningkat. Sehingga dibutuhkan manajemen pengelolaan proses produksi agar mendukung dalam sistem agroindustri berbasis urban farming.

Teknik drainase terbukti memberi peningkatan panen sayuran sawi, selada dan juga bayam. Selain itu dengan adanya drainase, jumlah dan berat panen ikan menjadi bertambah (Rokhmah et al., 2014).  Sementara studi (Kushayadi, et al, 2018) media tanam yang digunakan sebagai bahan uji adalah batu apung, akar pakis, dan serabut kelapa. Kandungan nitrit dan pospat menjadi rendah dipengaruhi penggunaan batu apung

Sistem drainase ini ditempatkan pipa kontrol di bawah media untuk mengatur pola input dan output air dari kolam ke talang plastik serta sebaliknya. Pengaturan besar kecilnya input air menggunakan kran, sementara mekanisme output air diberi saluran untuk kembali menuju kolam ikan pada dasar rak tanam yang dilubangi. Teknik drainase sebaiknya ditambah dengan instalasi penyaring solid agar semakin efektif. Penyaring ini membuat kondisi talang plastik media tanam tidak jenuh air. Sebab kondisi jenuh air pada media tanam menjadi sebab oksigen yang tersedia untuk tanaman sedikit.

Sementara untuk media tanam, pada sistem akuaponik dibutuhkan perangkat yang tersusun secara baik. Media tanam yang dapat digunakan untuk menyangga tanaman pada metode akuaponik ini sama dengan media tanam hidroponik antara lain rockwool, kerikil, hydroton, serabut Kelapa, batu apung, sekam dan akar pakis.

Beberapa studi tentang media tanam oleh (Rokhmah et al., 2014), tanaman sayuran menunjukkan respon pertumbuhan positif dan hasil panen tinggi pada media tanam zeolite. Sedangkan studi lain oleh (Kushayadi et al., 2018), batu apung merupakan media tanam terbaik dibandingkan dengan akar pakis dan serabut kelapa. Kandungan nitrit dan pospat mengalami penurunan sebanyak 65,55 % dan 94,06 % dengan penggunaan media tanam batu apung.

Manajemen produksi dan potensi sumber daya perlu dilakukan khususnya perancangan sistem akuaponik sebelum diaplikasikan, maka akan  efektif membantu untuk produksi sayur dan ikan organik. Menurut (Handayani, 2018), beberapa persiapan diantaranya:

  1. menetapkan luas lahan yang akan digunakan,

Tempat tampung ikan dan nutrisinya disesuaikan mengikuti luas lahan yang tersedia

  1. menentukan jenis ikan,

jumlah ikan tersebut akan mengikuti luas kolam atau wadah penampung ikan. Banyaknya ikan yang dibudidayakan akan berdampak pada kebutuhan nutrisi atau pakan ikan yang diberikan

  1. menentukan wadah penampung ikan,

kolam atau wadah penampung ikan dapat dibangun permanen atau memakai kolam terpal. Drum bekas biasanya digunakan pada area yang sempit.

  1. menentukan jenis dan jumlah tanaman,

Jenis tanaman dan jumlah yang akan ditanam sebaiknya dilakukan sebelum budidaya dengan sistem akuaponik dilakukan karena hal tersebut akan mempengaruhi media tanam dan juga jarak tanaman yang akan dipasang peralatan.

  1. menentukan media tanam serta sistem tanam,

Terdapat beberapa pilihan akan media tanam yang berfungsi sebagai biofilter dalam saluran pengairan akuaponik yang berasal dari air kolam ikan diantaranya adalah kerikil, pasir, zeolite, batu apung, sekam dan lainnya.

Sistem tanam sayuran yang akan digunakan untuk mengalirkan atau memberi nutrisi pada tanaman diantaranya floating/water culture, EBB, Flow dan NTF (Nutrient Film Technique).

Produksi kangkung dengan menggunakan sistem akuaponik, menunjukkan hasil terbaik dibanding dengan kangkung sistem hidroponik (Rahmadhani, et al, 2020). Sedangkan kelangsungan hidup ikan lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan produksi ikan lele dengan sistem akuaponik.

Studi oleh (Rokhmah et al., 2014), dalam waktu 3 bulan kangkung dapat dipanen sebanyak 8 kali, sawi 3 kali,  selada 3 kali, bayam 3 kali, serta ikan lele sebanyak 1 kali dengan 19, 373 kg.

Data produksi dari studi yang sudah dilakukan oleh peneliti dibutuhkan dalam merancang kebutuhan produksi dan peramalan persediaan sehingga stok bahan terkendali. Sebab konsep produk akuaponik dijual sebagai pangan segar namun berumur pendek, dan juga produksi disesuaikan permintaan konsumen.

Skema rantai pasok yaitu: Usaha sayur organik-> Retail Outlet-> Customer. Sehingga perkiraan persediaan bahan baku meliputi bibit ikan, bibit tanaman, media tanam, wadah budidaya ikan dan aerator serta pompa. Maka penentuannya dapat dilihat dari permintaan bahan serta harga bahan baku dalam menyesuaikan dengan permintaan sayuran organik.

Kesimpulan

  • Sistem drainase dan media tanam aquaponik dapat meningkatkan produksi ikan dan tanaman dengan efisiensi lahan dan air.
  • Metode akuaponik mampu menghasilkan berbagai jenis sayuran organik dan ikan organik dengan kualitas dan kuantitas yang sangat baik.

 

 

Daftar Pustaka

Effendi, H., Amalrullah Utomo, B., Maruto Darmawangsa, G., & Elfida Karo-Karo, R. (2015). Fitoremediasi limbah budidaya ikan lele (clarias sp.) dengan kangkung (ipomoea aquatica) dan pakcoy (brassica rapa chinensis) dalam sistem resirkulasi. Jurnal Ecolab, 9(2), 80–92. https://doi.org/10.20886/jklh.2015.9.2.80-92

Handayani, L. (2018). Pemanfaatan Lahan Sempit Dengan Sistem Budidaya Aquaponik. Prosiding Seminar Nasional Hasil Pengabdian, 1(1), 118–126.

Kurniawati, W., Erviana, L & Desstya, A. (2020). Solusi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Perkotaan Saat Pandemi Covid-19. In D. H. Pondo, M. P. Dr. Elsa Putri Ermisah Syafril Abid Rosadi, M.Pd. Indriansyah, M. P. Abdul Majid Fajri, M.Pd. Dedi Wijiyanto, & Yogyakarta (Eds.), Proceeding International Webinar Malay Local Wisdom in the Period and After the Plague (pp. 95–100). Yogyakarta: Creole Institute & NusaDwipa.

Kushayadi, A. G., Waspodo, S., & Diniarti, N. (2018). Pengaruh media tanam akuaponik yang berbeda terhadap penurunan nitrat dan pospat pada pemeliharaan ikan mas (cyprinus carpio). Jurnal Perikanan Unram, 8(1), 8–13. https://doi.org/10.29303/jp.v8i1.70

Manuhara, Y., Utami, E.S & Yachya, A. (2018). Aquaponic organic vegetables training through community science and scientific activities in lele livestock in lebo village , Sidoarjo. Layanan Masyarakat Universitas Airlangga, 2(1), 12–17.

Petrea, Ş. M., Cristea, V., Dediu, L., Contoman, M., Lupoae, P., Cre, M., … Coada, M. T. (2013). Vegetable Production in an Integrated Aquaponic System with Rainbow Trout and Spinach. Bulletin of University of Agricultural Sciences and Veterinary Medicine Cluj-Napoca. Animal Science and Biotechnologies, 70(1), 45-54–54. https://doi.org/10.15835/buasvmcn-asb:70:1:9485

Rahmadhani, L. E., Widuri, L. I., & Dewanti, P. (2020). Kualitas Mutu Sayur Kasepak (Kangkung, Selada, dan Pakcoy). Jurnal Agroteknologi, 14(01), 33–43.

Rokhmah, N. A., Ammatillah, C. S., & Sastro, Y. (2014). Vertiminaponik, mini Akuaponik untuk Lahan Sempit di Perkotaan. Buletin Pertanian Perkotaan, 4(2), 14–22.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *