Optimalisasi Air Irigasi Pesawahan dalam Menghadapi Musim Kemarau

Irigasi merupakan pembagian, pemberian, penyediaan, pengaliran, dan pengambilan air untuk menunjang produksi pertanian, persawahan dan perikanan dengan menggunakan sistem, saluran, dan bangunan tertentu. Secara bahasa irigasi diambil dari Bahasa Belanda irrigatie dan dalam Bahasa Inggris irrigation yang bermakna pengairan atau penggenangan. Menurut UU No. 7 Tahun 2004 pasal 41 ayat 1 tentang Sumber Daya Air, irigasi merupakan usaha dalam penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air guna menunjang pertanian dan sejenisnya.

Tersedianya air irigasi menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan dalam pertanian. Sesuai dengan yang diutarakan oleh Siregar (1981) bahwa ketersediaan air irigasi menjadi sangat penting karena air berfungsi untuk memelihara struktur tanah, mengatur tinggi rendahnya suhu  tanah, menghambat dan menakan pertumbuhan gulma, dan membawa zat hara yang dibutuhkan oleh tanaman.  Dengan sifat dan jumlah pasokan air yang sering kali tidak terduga seperti pada saat terjadinya musim kemarau air sulit untuk didapat yang dapat mengancam pertumbuhan tanaman. Namun, terkadang pada saat terjadinya musim hujan justru jumlah air melebihi batas dari yang dibutuhkan dan dapat berpotensi banjir sehingga mengancam pertumbuhan tanaman pula. Untuk itu dibutuhkan strategi yang dapat digunakan dalam menyiasati dan menjamin ketersediaan air agar mempertahankan produktifitas pertanian. Menurut Hardjono (1990) Idealnya air  pada pesawahan padi harus selalu tergenang selama kurang lebih 80 hari, dan ketika mendekati masa panen yaitu sekitar 20 hari sawah tidak memerlukan banyak air sehingga harus dilakukan pengeringan.

Air dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat bermanfaat dan mutlak dibutuhkan oleh manusia. Selain itu, air juga diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 77 Tahun 2001 Tentang Irigasi Bab I Pasal 1 ayat (1), dimana dijelaskan bahwa Air adalah semua air yang terdapa, baik dibawah atau diatas permukaan tanah, ikut kedalam pengertian  ini. Air tanah, air hujan, air permukaan, dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Selain itu, Menurut PP No. 43/2008 Pasal 47, pendayagunaan air tanah diutamakan pada pemenuhan kebutuhan pokok hidup masyarakat secara adil dan berkelanjutan dan dilaksanakan berdasarkan rencana pengelolaan air tanah serta diselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat. Dalam hal ini, salah satu upaya untuk memanfaatkan air yang lazim dilakukan oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Indonesia adalah memanfaatkan air dengan membuat suatu irigasi. Irigasi merupakan suatu proses pemberian air kepada tanaman dengan membuat suatu bangunan atau saluran yang di alirkan ke sawah atau ladang secara teratur. Irigasi air sanget bermanfaat bagi pertanian dalam mengelola pengairan dan sangat bermanfaat pada saat menghadapi kemarau panjang, karena jika melihat musim di Indonesia itu sendiri yang terdiri dari 2 musim berbeda yakni musim hujan dan musim kemarau.

 

Produksi beras nasional sekitar 86%-nya berasal dari daerah sawah beririgasi. Sehingga sawah beririgasi menjadi faktor utama dalam pencapaian ketahanan pangan nasional. Jaringan irigasi yang dikelola dengan baik akan menghasilkan produksi beras di lahan beririgasi lebih maksimal. Selain itu irigasi memiliki banyak manfaat dimana selain digunakan hanya sekedar untuk mengalirkan air ke pesawahan juga dimanfaatkan oleh kelompok tani untuk mengairi lahan pesawahan mereka ketika terjadi musim kemarau. Selain dengan asupan air yang minim pada saat musim kemarau, kehilangan air juga terjadi yang dapat dibagi menjadi 2 kategori, diantaranya, pertama kehilangan akibat fisik dimana kehilangan air dikarenakan adanya rembesan air pada saluran irigasi, lalu kehilangan akibat operasional yang disebabkan dengan adanya kelebihan air pembuangan dan pelimpasan pada saat pengoperasian saluran serta pemborosan. Kehilangan air irigasi itu sendiri dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti evaporasi permukaan air, rembesan melalui pematang sawah dan saluran, peluapan air diatas pematang sawah dikarenakan cuaca panas, limpasan melalui saluran, dan lain-lain. Meninjau dari permasalahan tersebut, salah satu kunci dari tolak ukur keberhasilan suatu irigasi itu adalah efisiensi dan efektifitas, sebagian besar permasalahan yang terjadi adalah keperluan penggunakan air yang terhitung boros, maka dari itu diperlukan efisiensi irigasi dalam system pengairan pertanian. Selain itu, penggunaan air irigasi yang di kelola secara efisien dan efektif akan mampu mengairi sawah sesuai harapan dan kebutuhan.

 

Permasalahan yang terjadi selain dari alam juga terdapat dari manusia itu sendiri. Perebutan air pada saluran irigasi sering kali terjadi pada musim kemarau. Hal ini disebabkan karena asupan air baik dari sungai maupun penampungan buatan menipis sehingga pasokan air untuk pengguna air irigasi berkurang. Perebutan air ini tidak hanya antar petani namun juga turut diramaikan oleh para pemilik running water  atau perikanan arus deras dan industri.

 

Fungsi irigasi ada banyak fungsi lainnya tidak hanya untuk mengalirkan air menuju pesawahan. Pada saat ini, terdapat banyak petani yang sangat membutuhkan air untuk lahan sawah mereka. Peristiwa terjadinya kemarau panjang akan menjadi sangat berpengaruh bagi para petani dalam melakukan strategi untuk penghematan air.

 

Terdapat banyak solusi yang dapat diterapkan untuk dapat menggunakanmair irigasi yang efektif dan efisien, diantaranya memperhitungkan kebutuhan air disawah, memperhitungkan debit air, efisiensi saluran irigasi, perkolasi, kebutuhan air untuk pengelolaan tanah, dan lain-lain. Salah satu diantanya yaitu dengan menerapkan sistem yang sesuai sebagai berikut :

 

  1. Sistem Pengairan Rotasi

Sistem Pengairan Rotasi (Rotational Irrigation) adalah teknik pengairan yang dilakukan dengan memberikan air pada suatu luasan tertentu untuk periode tertentu, sehingga terdapat areal penyimpanan air yang bisa digunakan hingga periode pengairan berikutnya.

  1. Sistem Pengairan Berselang

Sitem Pengairan Berselang (Intermittent Irrigation) merupakan pengaturan kondisi lahan yang berada dalam kondisi tergenang dan kering secara bergantian

  1. Sistem Pengairan terus menerus

Sistem pengairan terus menerus (Continuous Flow) merupakan sistem yang banyak digunakan oleh para petani di Indonesia. Sistem irigasi ini dilakukan dengan memberikan air kepada tanaman lalu dibiarkan air tergenang mulai beberapa hari setelah tanam hingga beberapa hari menjelang panen

 

Selain dengan mengatur sistem pada irigasi juga diperlukan sistem yang dapat  mengatur kestabilan pasokan air irigasi dengan suatu pengelolaan dan Kerjasama antar petani. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ostrom (2000) bahwa persoalan mengenai suber daya air yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitasnya harus turut menyadarkan pihak-pihak yang ada bahwa persoalan air perlu dikelola dengan bersama-sama.

 

 

Sumber Referensi

Abdullah, Irwan. 2004. Pengembangan Sumberdaya Sosial di Daerah; dalam Dinamika Kependudukan dan Kebijakan (editor: Faturochman dkk). Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, hal 177-196.

Hardjono, Joan. 1990. Tanah, Pekerjaan dan Nafkah di Pedesaan Jawa Barat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kurnia, Ganjar. 1997. Hemat Air Irigasi: Kebijaksanaan, Teknik, Pengelolaan, dan Sosial Budaya. Bandung: Pusat Dinamika Pembangunan.

Munawir S. Anuz. “Analisis Kerusakan Saluran Primer Di Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara”.  Radial – Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa Dan Teknologi Sekolah Tinggi Teknik (Stitek) Bina Taruna Gorontalo Volume 7 No. 1

Siregar, Dr.Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Bogor: Satra Hudaya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *