Minyak Nilam : Industri Minyak Atsiri dari Pembudidaya Nilam

Kebedaradaan tanaman nilam di Indonesia sebagai komoditas utama penghasil minyak atsiri telah banyak memberikan banyak kontribusi bagi perekonomian negara. Pembudidayaan tanaman nilam pertama kali dilakukan di daerah Tapak Tuan, Aceh. Setelah itu, pembudidayaan nilam terus menyebar luas ke daerah Pantai Timur Sumatera, hingga akhirnya sampai ke Pulau Jawa. Saat ini, sentra produksi tanaman nilam terdapat di wilayah Sumatera dan berkembang juga di Pulau Jawa. Masyarakat Indonesia gemar membudidayakan tanaman nilam sebab tanaman yang satu ini mudah untuk dibudidayakan dan cepat panen. Nilam dapat dipanen dari umur tanam 6 sampai 8 bulan. Dari pemanenan ini, tanaman nilam dapat diolah menjadi minyak nilam yang memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Seperti tanaman obat keluarga lainnya, tanaman nilam termasuk tanaman yang mudah untuk dibudidayakan. Tentunya, unntuk mencapai hasil yang maksimal, tanaman nilam juga memerlukan kondidi ekologi yang sesuai untuk proses pertumbuhannya.

Tanaman nilam dapat tumbuh di dataran yang memiliki ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Namun, untuk meraih hasil yang optimal, para petani tanaman nilam lebih sering membudidayakan nilam pada ketinggian tempat antara 50 – 400 m dpl. Tanaman ini juga memerlukan suhu dengan kelembaban tertentu. Curah hujan yang merata di sepanjang tahun juga sangat membantu pertumbuhan tanaman ini. Curah hujan yang diperlukan dalam pertumbuhan tanam ini berkisar antara 2000 -2500 mm/tahun dengan penyebaran curah hujan yang merata di sepanjang tahunnya. Adapula suhu optimal untuk budidaya tanaman ini yaitu suhu dengan kisaran 24 – 28 C dengan kelembaban lebih dari 75%.

Tumbuhan nilam sangat rentang terhadap kekeringan. Maka dari itu, tanaman nilam juga perlu penyinaran matahari dengan intensitas cahaya tertentu. Intensitas peninaran tanaman nilam berkisar antara 75 – 100%. Nilam yang tumbuh di tempat yang agak terlindung akan tumbuh lebih subur dengan ukuran daun yang lebih lebar, tipis dan hijau, serta kadar minyak rendah. Sedangkan, nilam yang tumbuh di tempat terbuka akan menghasilkan tanaman yang kurang rimbun, tanaman yang relatif kecil dengan ukuran daun agak kecil dan tebal berwarna kuning kemerahan, namun dapat menghasilkan kadar minyak yang tinggi. Kadar minyak yang terkandung pada daun nilam cukup menentukan harga jualnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilam akan jauh lebih menguntungkan apabila di tanam pada lahan terbuka.

Tanaman nilam cocok ditanam pada tanah yang subur dan gembur, serta kaya akan humu, tidak tergenang dan mempunyai banyak kandungan minyak. Andosol atau latosol merupakan tanah yang memenuhi kriteria bagi tanaman nilam. Sedangkan, pada tanah yang kurang akan kandungan humus, dapat dioptimalkan dengan pemberian pupuk kandang atau konpos. Hal tersebut sangat dianjurkan guna untuk memperbaiki kesuburan dan kegemburan tanah.

Minyak Nilam

Minyak nilam merupakan salah satu minyak atsiri yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan obat dan pewangi. Seperti yang kita ketahui, minyak nilam ini memiliki harga jual yang cukup tinggi. Harga 1 kg minyak nilam dapat mencapai kisaran harga Rp. 700.000 – 830.000.
Minyak nilam mempunyai prospek yang baik sebagai komoditas ekspor utama. Hal ini dikarenakan minyak nilam selalu dibutuhkan dalam beberapa industri seperti industri parfum, kosmetik, sabun, obat-obatan dan lainnya.

Minyak nilam sangat kaya akan aroma yang meberikan kesan rasa manis, hangat serta menyengat. MInyak ini memiliki daya fiksasi yang relatif tinggi untuk bahan dasar pewangi, sehingga dapat mengikat wangi serta mencegah penguapan zat pewangi. Pengikatan wangi tersebut dilakukan supaya aroma tersebut tidak mudah hilang dan tahan lama.

Proses Pengolahan Minyak Atsiri

Minyak nilam memberikan sumbangan yang cukup besar bagi devisa negara. Namun, produksi minyak nilam di Indonesia belum maksimal. Maka dari itu, proses produksi minyak nilam ini perlu dibarengi dengan pengembangan serta pemanfaatan IPTEK yang tepat mulai dari pembibitan, penanaman, pemanenan, serta penyulingan.

Proses pengambilan minyak nilam dapat dilakukan dengan beberapa metode. Salah satunya ada metode pengambilan minyak nilam melalui microwave distillition. Metode ini merupakan metode yang dapat mempercepat proses distilasi dengan waktu yang lebih efisien serta keberadaan micromave yang mudah didapat oleh masyarakat. Dengan berjalannya metode ini, ketersedian minyak nilam tentunya akan semakin meningkat dan memenuhi kebutuhan pasar.

Dalam proses distilasinya ada beberapa yang perlu disisapkan. (1) Bahan baku, minyak nilam berbahan dasar dari daun nilam. Jenis daun nilam yang digunakan adalah daun nilam aceh varietas sidikalang yang masih segar/basah. Daun tersebut perlu dikeringkan terlebih dahulu selama 3 -4 hari dengan kadar air mencapai 14 -17%. Sebelum memaski proses distilasi, bahan yang sudah dikeringkan kemudian dirajang sesuai denga ukuran yang telah ditentukan. (2) Peralatan, ada juga beberapa alat yang perlu disiapkan seperti microwave, distiler, kondensor, pengukur suhu, dan seperangkat alat pembangkit steam. Microwave dengan panjang 50 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 40 cm, serta memiliki daya output sebesar 400 W dengan frekuensi 2450 MHz ini berfungsi sebagai alat pemanas. Kemudian distiler yang perlu disiapkan dapat berupa distiler labu leher dua yang terbuat dari kaca dan memiliki volume 1 liter. Konektor juga diperlukan untuk menghubungkan distiler dengan kondensor.

Ada pula prosedur penggunaan metode microwave distilation dengan steamer, diantaranya sebagai berikut :

  1. Timbang daun nilam sebanyak 100 gram
  2. Masukan daun nilam yang telah ditimbang ke dalam labu destilasi tanpa menambahkan air
  3. Panaskan air labu sebagai steam generator, proses pemanasan ini dibantu oleh heating mantle
  4. Nyalakan microwave, kemudian atur daya microwave sesuai dengan variabel suhu
  5. Hitung waktu destilasi mulai dari tetesan pertama keluar dari kondensor
  6. Pisahkan minyak dari air dengan corong tersebut
  7. Tampung minyak tersebut kedalam tabung reaksi
  8. Simpan dalam pendingin ruangan untuk mendapatkan minyak yang bebas dari air
  9. Hentikan proses sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
  10. Pengemasan

Pemasaran Minyak Atsiri

Ditinjau dari saluran pemasarannya, para petani nilam biasanya menjual minyak nilam ke pedagan kecil, dari pedang kecil ini minyak nilam dijual kembali ke pedagang besar, dari pedagang besarlah minyak nilam sampai ke tangan konsumen atau industri. Para petani nilam menjual minyak nilam ke pedagang kecil karena dinilai prosesnya lebih mudah dan praktis. Hal ini juga dilakukan untuk menghemat waktu dan tenanga para petani nilam.

Penjualan dari pedagang kecil ke pedagang besar dilakukan dengan cara pedagang besar yang mendatangi pedagang kecil untuk membeli minyak nilam. Kemudian, pedagang besar dapat menyortir minyak nilam kepada pabrik-pabrik besar seperti pabrik yang berjalan di industri pembuatan parfum, sabun, atau obat-obatan.

Referesi

H, N. S., & Budiarti, A. (2012). Proses Pengambilan Minyak Atsiri Dari Daun Nilam Dengan Pemanfaatan Gelombang Mikro ( Microwave ). 1(1), 1–5.

Khare, C. P. (2007). Pogostemon cablin Benth. In Indian Medicinal Plants. https://doi.org/10.1007/978-0-387-70638-2_1242

Kimia, J. T., Teknik, F., Sultan, U., & Tirtayasa, A. (n.d.). PROSES PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DENGAN METODE UAP BERBAHAN BAKU DAUN NILAM. 67–75.

Nurdin, D. R., Iswandi, R. M., & Yusria, W. O. (2017). Analisis Pemasaran Minyak Nilam dari Desa Karya Baru Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana. Jurnal Ilmiah Agribisnis, 2(1), 19–23.

Pérez, A., Santamaria, E. K., Operario, D., Tarkang, E. E., Zotor, F. B., Cardoso, S. R. de S. N., Autor, S. E. U., De, I., Dos, A., Vendas, O. D. E., Empresas, D. A. S., Atividades, P. O., Artigo, N., Gest, G. N. R. M. D. E., Para, D. E. F., Miranda, S. F. da R., Ferreira, F. A. A., Oliver, J., Dario, M., … Volk, J. E. (2017). No. BMC Public Health, 5(1), 1–8. https://ejournal.poltektegal.ac.id/index.php/siklus/article/view/298%0Ahttp://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.jana.2015.10.005%0Ahttp://www.biomedcentral.com/1471-2458/12/58%0Ahttp://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&PAGE=refe

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *