Meningkatkan Keefektifitas Pengelolaan Air untuk Pertanian Lahan Kering

Indonesia adalah negara agraris dimana pembangunan di bidang pertanian sangatlah penting, UU No. 7 Tahun 1996 membahas tentang pangan dimana menyatakan bahwa untuk mewujudkan ketahanan pangan suatu negara adalah suatu kewajiban bagi setiap pemerintah maupun masyarakat nya. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam meningkatkan produksi pangan antara lain yaitu usaha dalam meningkatkan produksi pangan dengan memperluas areal tanam, dan intensifikasi yang artinya usaha dalam peningkatan produksi pangan dengan menggunakan lahan yang sudah ada antara lain penggunaan bibit unggul, pemberian pupuk,yang tepat serta menggunakan irigasi yang efektif dan efisien. Lahan kering di Indonesia punya banyak potensial untuk dikelola. Tapi pengelolaan itu terhambat akibat kurangnya pengairan yang ada yang disebabkan oleh turunnya hujan yang tidak merata sehingga membuat lahan tersebut kekurangan pasokan air saat musim kemarau dan produktivitas tanaman menjadi rendah. Karena itu, diperlukan perluasan dan sistem yang baru dalam jaringan irigasi untuk memberikan pasokan air yang cukup kepada lahan dan tanaman agar lahan dan produk tersebut bisa kembali produktif lagi.

Secara umum, irigasi didefinisikan sebagai alat untuk memberikan air kepada tanah untuk memenuhi kebutuhan air kepada pertumbuhan tanaman. Irigasi ini biasanya meliputi pengambilan dan penampungan air dari sumbernya, pengambilan air itu biasanya menggunakan saluran atau pipa bawah tanah dan pembuangan air berlebih. Pada pelaksanaan sistem irigasi haruslah yang efektif dan efisien, agar petani tidak dirugikan dan tidak memboroskan air. Sistem itu disebut sistem empat alternative teknik irigasi. Yang pertama (1), pemberian air kepada permukaan tanah, yang kedua (2), pemberian air kepada tanah yang ada di bawah(dalam tanah), yang ketiga (3), melakukan penyiraman, yang keempat (4), pemberian atau penyiraman air melalui pipa yang telah dibolong-bolongi kepada tanaman dengan laju aliran yang rendah. Tujuan dari irigasi itu sendiri adalah memberikan tambahan air terhadap air hujan, dan memberikan air kepada tumbuhan secara cukup dan dalam waktu yang diperlukan oleh tumbuhan itu sendiri. Ada juga permasalahan yang terjadi dalam penyediaan air irigasi yaitu dalam hal pengaturan dan pendistribusian atau arti lainnya adalah tentang operasi dan pemeliharaan.

Pembangunan saluran irigasi sangat diperlukan untuk membantu menunjang ketersediaan bahan pangan yang diperlukan, pembangunan ini digunakan untuk menyediakan air di lahan walaupun lahan tersebut jauh dari sumber air (sungai). Hal itu bisa terjadi karena adanya usaha teknik irigasi yaitu memberikan air yang bermutu bagus, tepat waktu dan tepat ruang dengan cara yang paling efektif dan ekonomis. Usaha teknik irigasi yang sangat efisien dan efektif sangat diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan pertanian lahan kering. Lahan kering adalah lahan pertanian yang sumber airnya hanya bergantung kepada air hujan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan airnya. Teknologi tersebut merupakan percampuran dari pemberian air yang optimal, teknik irigasi yang efektif dan teknik konservasi air. Sistem irigasi modern yang digunakan pada lahan kering ada 5 tergantung situasi dan kondisinya yaitu, yang pertama yaitu irigasi permukaan, yang kedua adalah irigasi sprinkle,yang ketiga, irigasi
mikro (tetes = trickle), yang keempat adalah irigasi bawah permukaan tanah (sub-irrigation), dan yang terakhir kelima adalah irigasi hybrid yang merupakan transisi dari berbagai sistem

Perubahan iklim yang terjadi saat ini adalah alasan terjadinya lahan kering karena iklim yang berubah rubah yang berdampak pada terjadinya perubahan pola hujan, peningkatan suhu yang terjadi, peningkatan muka air laut, dan memungkinkan terjadinya iklim ekstrim seperti contohnya adalah El-Nino yang bisa berdampak pada lingkungan yaitu, terjadinya penambahan frekuensi banjir dan kekeringan. Salah satu persoalan selain perubahan iklim adalah semakin berkurang dan langkanya ketersediaan air pada waktu dan keadaan tertentu. Di sisi lain jumlah permintaan air untuk bermacam macam kebutuhan pribadi cenderung meningkat sebagai akibat dari menambahnya jumlah penduduk, dan kurangnya air bersih yang bisa digunakan karena pencemaran oleh berbagai macam kegiatan manusia

Lahan kering yang terdapat di Indonesia merupakan salah satu sumberdaya yang sangat bisa dikembangkan untuk mendukung pembangunan pertanian baik dari segi luasan ataupun terbukanya peluang produksi berbagai komidtas pertanian. Pada dasarnya, Pertanian lahan kering di Indonesia adalah lahan pertanian yang sumber airnya hanya bergantung kepada turunnya air hujan, oleh karena itu diperlukan sistem irigasi yang berguna untuk pemberian air sebagai pelengkap jika curah hujan yang turun berkurang dan tidak mencukupi untuk kebutuhan air tanaman itu sendiri. Kebutuhan air untuk tanaman harus disesuaikan dengan berapa kali proses pemberian air agar irigasi menjadi efisien, kebutuhan air tanaman atau disebut dengan (crop water reqruitment) adalah jumlah kebutuhan air yang digunakan untuk memenuhi proses evapotranspirasi tanaman agar tumbuh dengan normal. Evapotranspirasi tanaman adalah kebutuhan air tanaman yang dibatasi agar tanaman bisa tumbuh dengan optimal, bebas dari penyakit, tumbuh tanpa stagnasi karena lingkungan sekitar, dan kesuburan serta keadaan tanah  sekitarnya.

Curah hujan merupakan komponen yang sangat penting dalam keadaan seperti lahan kering ini, karena air hujan merupakan sumber air yang ada selain irigasi tersebut. Dalam sistem neraca air, air hujan yang turun dapat meningkatkan kandungan lengas pada tanah. Air hujan adalah parameter utama atau bisa disebut salah satu sumberdaya air yang dapat digunakan dalam proses irigasi ini. Air yang turun ke permukaan akan masuk ke dalam tanah dan disimpan di tanah yang disebut air tanah, air ini sangat berguna sebagai alternatif bagi sistem irigasi itu sendiri. Pengambilan air tanah ini biasanya menggunakan pompa isap untuk keperluan irigasi, tetapi biasanya air tanah tidak digunakan sebagai air irigasi sawah, tetapi hanya untuk keperluan irigasi pada lahan yang kering

Lahan kering yang ada secara potensial dapat ditingkatkan produktifitasnya dengan menargetkan berbagai syarat, yang pertama mengatasi dan menimimalkan masalah fluktuaso ketersediaan air. Yang kedua kapasitas atau daya tamping air DAS dapat dimaksimalkan secara alami maupun artifisial. Yang ketiga, penggunaan air seefesiensi mungkin dan jenis komoditas yang digarap dapat dimaksimalkan dan dioptimalkan sebaik mungkin. Hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dalam menjalankan strategi implementasi penggunaan teknik irigasi di lahan yang kering adalah mendukung dan siap untuk beradaptasi dalam perubahan iklim dengan penggunaan air yang efisien, pemanfaatan sumber daya air yang ada secara optimal serta dengan memilih penggunaan teknik irigasi yang tepat dan sesuai dengan karakteristik lahan yang digarapnya.

 

referensi :

http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/prosidingsemnas2010/umi.pdf

http://repository.pertanian.go.id/bitstream/handle/123456789/2316/Teknologi%20Irigasi%20Suplemen%20untuk%20Adaptasi%20Perubahan%20Iklim%20pada%20Pertanian%20Lahan%20Kering.pdf?sequence=1&isAllowed=y

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/111/_9_%20Suroso%20%2c%20dkk.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *