Mengoptimalkan Potensi Lahan Sempit dengan Sistem Vertikultur

Seiring pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat, semakin tinggi pula permintaan akan lahan pemukiman masyarakat. Hal ini menyebabkan peralihan fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan pemukiman. Sayangnya,alih fungsi lahan ini tidak diimbangi dengan pembukaan lahan pertanian baru. Bahkan akhir-akhir ini dapat kita sadari bahwa lahan pertanian di Indonesia semakin hari semakin berkurang,dan tergantikan oleh berbagai kompleks perumahan dan gedung-gedung perkantoran. Padahal, pertanian merupakan sektor yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin tinggi.

Untuk menangani masalah tersebut, timbulah konsep urban farming untuk menjawab tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman padat penduduk. Urban farming sendiri merupakan kegiatan bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan sempit di daerah perkotaan. Masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan umumnya tidak memiliki lahan yang luas untuk bercocok tanam, namun masih bisa dioptimalkan potensinya,seperti pekarangan di belakang rumah atau rooftop. Salah satu jenis urban farming yang cocok untuk memanfaatkan lahan sempit adalah sistem vertikultur.

Istilah vertikultur sendiri berasal dari dua kata, yaitu vertical yang berarti vertikal atau tegak lurus, dan culture yang berarti budaya. Maka vertikultur dapat diartikan sebagai budidaya tanaman dengan menempatkan media tanam yang disusun secara vertikal atau bertingkat. Sistem ini memungkinkan kita untuk memanfaatkan lahan yang sempit atau terbatas agar lebih optimal. Sistem budidaya vertikultur ini cocok diterapkan pada lahan-lahan sempit dan terbatas di daerah padat penduduk seperti perkotaan. Bahkan di rumah yang tidak memiliki halaman sekalipun,kita tetap bisa menanam berbagai jenis tanaman sekaligus tanpa menghabiskan banyak tempat. Sistem vertikultur juga memungkingkan kita untuk menanam sesuai dengan kondisi lahan lahan yang kita miliki. Biasanya vertikultur disusun dengan model persegi panjang, disusun seperti tangga,menggunakan rak, bahkan digantung atau ditempel langsung pada dinding.

Kegiatan budidaya dengan sistem vertikultur ini pada umumnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Karena perawatannya yang relatif mudah, sistem ini diminati mulai dari remaja hingga orang tua. Tujuannya pun beragam, mulai dari mengisi waktu luang,media untuk menyalurkan hobi bercocok tanam, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari atau bahkan menambah peluang bisnis. Namun biasanya sistem vertikultur ini digunakan oleh para ibu rumah tangga yang tinggal di daerah perkotaan untuk memenuhi kebutuhan sayuran atau buah-buahan sendiri tanpa harus pergi ke pasar, sehingga  dapat menghemat pengeluaran. Ditambah lagi kualitas sayur dan buah-buahan yang dipanen sendiri jauh lebih terjamin.Bahkan jika jumlahnya cukup banyak bisa dijual hingga membuka peluang bisnis.

Tanaman yang digunakan pada dasarnya tidak terbatas, mulai dari sayuran,buah-buahan, bahkan tanaman hias sekalipun. Tetapi tanaman yang dipilih sebaiknya tanaman yang tidak terlalu tinggi,memiliki umur pendek dan akar pendek. Seperti tanaman sejenis sayuran daun, karena biasanya lebih mudah ditangani dan mudah dipanen. Jenis sayuran daun yang cocok digunakan untuk metode vertikultur yaitu sawi hijau, seledri, pakcoy, bayam,selada, dan kangkung. Namun kita juga bisa menambahkan sayuran lainnya seperti kacang panjang,cabai, dan ginseng. Walaupun sayuran lebih mudah ditangani, bukan berarti kita tidak bisa menanam buah-buahan. Contoh buah-buahan yang bisa kita pilih antara lain tomat dan stroberi. jenis tanaman hias yang bisa dipilih antara lain daun sirih dan daun ivy.

Sistem budidaya dengan sistem vertikultur ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu :

  1. Membutuhkan lahan yang sedikit
  2. Jumlah tanaman menjadi lebih banyak
  3. Umur tanaman relatif pendek
  4. Menghasilkan tanaman yang bebas pestisida karena lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk alami
  5. Pemasangan dan pemeliharaan tanaman relatif lebih mudah
  6. Bahan dasarnya dapat ditemukan di sekitar kita, seperti, Pot, pipa paralon, polybag, bahkan barang bekas seperti botol plastik, karung goni, dan kaleng

Adapun proses yang perlu kita lakukan untuk memulai budidaya secara vertikultur yang pertama yaitu persemaian. Proses ini dilakukan dengan menggunakan wadah khusus persemaian benih yang disebut tray, atau dengan wadah apa saja selama dapat diisi media tanam dan memiliki lubang di bagian bawah untuk mengeluarkan kelebihan air. Persemaian bibit ini biasanya memakan waktu 2-3 minggu sebelum akhirnya dapat dipindahkan pada media tanam vertikultur.

Selama menunggu proses persemaian, kita juga dapat membangun rak vertikultur.Rak ini digunakan sebagai wadah atau tempat untuk menempatkan media tanam. Biasanya rak terbuat dari pipa paralon atau dari bambu. Caranya dengan memotong pipa sepanjang 1-1.5 meter, atau sesuaikan dengan ukuran yang kita inginkan. Lalu beri tanda untuk pembuatan lubang tanam. Bentuk dan lebar lubang biasanya bergantung pada tanaman yang akan kita tanam, namun kebanyakan tanaman menggunakan bentuk lubang bulat. Buatlah lubang tanam menggunakan bor listrik dan jangan lupa untuk memberi jarak antar lubang antara 20-30 cm untuk mencegah tanaman tumbuh secara berdesakan. Tambahkan dop di bagian bawah pipa yang akan ditanam di tanah/pondasi, dan buatlah lubang rembesan air terlebih dahulu pada dop dengan menggunakan paku atau solder.Tahapan selanjutnya adalah menyiapkan media tanam. Caranya, yaitu dengan mencampurkan antara tanah,pupuk, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Setelah dicampur, masukan media tanam pada pipa sampai penuh, namun jangan sampai terlalu padat.

Jika proses persemaian selesai, atau benih yang kita semai sudah tumbuh daun berjumlah 4-5 helai, benih sudah layak dipindah tanamkan. proses ini disebut dengan proses pindah tanam(transplanting). Sebelum bibit-bibit dipindahkan di wadah pipa, kita harus terlebih dahulu menyiramkan air pada media tanam hingga penuh, yang ditandai dengan menetesnya air keluar dari lubang rembesan air tadi. Setelah cukup, barulah mulai proses transplanting dengan menanam bibit satu demi satu.

Setelah semua proses penanaman selesai dilakukan, yang perlu kita lakukan adalah pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan sistem vertikultur ini walaupun terbilang cukup sederhana, tetap harus kita lakukan dengan konsisten agar hasil panen dapat memenuhi harapan kita. Merawat tanaman ini dapat diakukan dengan penyiraman dan pemupukan setiap hari. Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos atau pupuk kandang agar kualitas tanaman lebih sehat dan baik. Jika sudah melakukan semua tahapan, kita hanya tinggal merawat tanaman hingga tiba waktu untuk pemanenan. pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan mencabut tanaman dari akar. Setelah itu, hasil panen dapat kita manfaatkan sesuai kebutuhan

 

REFERENSI

https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/3662

http://jurnal.unmas.ac.id/index.php/agrimeta/article/view/804/749

http://darmawanpertanian10101994.blogspot.com/2014/04/vertikultur-sistem-tanam-lahan-sempit.html

https://books.google.co.id/books?id=zPjICwAAQBAJ&lpg=PP1&ots=Oq0nqVBICn&dq=vertikultur&lr&hl=id&pg=PA12#v=onepage&q=vertikultur&f=false

https://docplayer.info/30688529-Teknologi-budidaya-tanaman-sayuran-secara-vertikultur.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *