Mengenal Metode Mulsa Vertikal, Salah Satu Metode Konservasi Tanah dan Air

Sebelum kita berkenalan dengan metode mulsa vertikal, alangkah baiknya kita membahas ilmu yang menjadi induk metode mulsa vertikal itu sendiri, yaitu Teknik Konservasi Tanah dan Air.

Pertama-tama, kita perlu membahas apa makna dari konservasi itu sendiri. Konservasi memiliki makna upaya manusia untuk menjaga atau mempertahankan suatu hal dari kepunahan atau kerusakan melalui sebuah pelestarian atau pengawetan. Dalam konteks ini, yaitu tanah dan air. Ketika membahas konservasi tanah dan air, keduanya tidak bisa dipisahkan karena keduanya selalu saling bersinggungan. Tanah dialiri oleh air atau air berada di tanah. Otomatis ketika kita membahas tentang konservasi air, pasti konservasi tanah juga ikut terbahas. Begitu juga sebaliknya.

Konservasi tanah sendiri memiliki arti sebuah upaya penggunaan tanah tanpa merusak tanah itu sendiri seperti hilangnya kesuburan tanah. Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan juga bahwa konservasi tanah merupakan usaha untuk mencegah atau memperbaiki tanah dari erosi, tetapi bukan merupakan penundaan/pelarangan penggunaan tanah. Dengan menyesuaikan kemampuan tanah, seperti menyesuaikan syarat-syarat yang diperlukan, maka tanah dapat berfungsi secara lestari.

Sedangkan konservasi air secara sederhana adalah upaya pemanfaatan air tanpa merusak sumber air itu sendiri. Seperti penggunaan air secara efektif mungkin.

Dalam konservasi tanah dan air pada bidang pertanian, terdapat beberapa metode, salah satunya adalah metode mulsa vertikal. Sebelum memasuki metodenya, kita perlu bahas apa mulsa itu sendiri. Mulsa merupakan suatu residu tanaman, lembar plastik, atau susunan batu yang tersebar di permukaan tanah yang berfungsi untuk melindungi tanah dari curah hujan yang tinggi, erosi, dan menjaga kelembapan, struktur, kesuburan tanah, pH tanah, serta menghambat pertumbuhan rumput liar(gulma). Terdapat tiga jenis kategori mulsa, yaitu sebagai berikut.

  1. Mulsa residu tanaman

Mulsa residu tanaman adalah merupakan mulsa sisa tanaman yang bersifat organik seperti jerami dari padi, batang jagung, daun-daun yang jatuh, serta ranting tanaman. Mulsa ini memiliki banyak sekali manfaat bagi tanah, seperti memperbaiki struktur tanah, pH tanah, kesuburan, serta cadangan air tanah. Selain itu, mulsa juga dapat menghambat pertumbuhan rumput liar, menjaga suhu tanah agar tidak terlalu dingin atau terlalu panas, serta menjaga kelembapan tanah sehingga mengundang binatang tanah seperti cacing yang membantu mengurai dan memperbaiki struktur tanah itu sendiri.

  1. Mulsa batu

Selain mulsa residu tanaman, terdapat juga mulsa batu. Mulsa batu ini umumnya banyak ditemukan di wilayah dengan kondisi geografisnya merupakan pegunungan berbatu. Di wilayah ini, terdapat banyak batu yang dapat dimanfaatkan sebagai mulsa tanaman atau pohon-pohon. Caranya adalah dengan menutup rapat permukaan tanah dengan batu-batu yang berukuran sekitar 2-10 cm. Untuk ketebalan lapisan mulsa, tidak terlalu penting karena intinya adalah permukaan tanah yang tertutupi. Mulsa jenis ini memiliki banyak manfaat bagi upaya konservasi tanah dan air, seperti sebagai berikut.

  1. Air hujan dapat terserap lebih mudah
  2. Penguapan air dapat dikurangi karena tertutup oleh mulsa batu sehingga lahan tetap memiliki kelembapan yang baik.
  3. Menahan tanah dari butiran hujan yang besar ketika curah hujan tinggi
  4. Menghentikan pertumbuhan rumput liar.
  1. Mulsa plastik

Mulsa jenis ini sesuai dengan namanya yaitu terbuat dari plastik. Bentuknya seperti tenda yang biasa digunakan untuk tanaman tahunan. Penerapannya yaitu mulsa dipasang pada tanaman sebagai tenda sehingga pertumbuhan rumput liar dapat terhambat, menjaga kelembapan, serta mempertahankan suhu tanah agar tetap hangat.

Setelah membahas jenis-jenis mulsa, sekarang bagaimana penerapan teknik mulsa vertikal? Pertama-tama, kita membuat sebuah lubang pada lahan pertanian dengan dalam dan lebar sebesar 25cm sehingga terbentuk seperti parit. Setelah itu, masukan mulsa residu tanaman tersebut ke dalam parit. Mulsa pada parit tersebut kemudian akan berfungsi untuk menampung dan merembeskan air ke permukaan parit dan mengendapkan yang ikut terhanyut oleh air.

Setelah mulsa tersebut terbawa air, maka mulsa tanaman itu akan membusuk(terdekomposisi) menjadi kompos. Kemudian, kompos dan endapan yang terdapat di parit tersebut diangkat dan disebarkan sebagai pupuk ke bidang pertanian. Mulsa vertikal juga bisa diimplementasikan ke parit-parit teras bangku atau teras gulud untuk lebih meningkatkan efektivitas pengendalian aliran permukaan.

Teknik ini juga dapat diterapkan di bidang kehutanan meskipun teknik mulsa vertikal ini lebih familier di bidang pertanian. Padahal, jika digunakan dalam bidang kehutanan, maka akan sangat bermanfaat untuk memperbaiki fungsi tanah dan air mengingat saat ini banyak sekali hutan yang kondisinya telah terdegradasi. Di hutan, terdapat banyak limbah hutan yang dapat dikelola kembali untuk mempercepat pertumbuhan tanaman melalui teknik mulsa vertikal.

Limbah hutan itu sendiri merupakan bagian-bagian tumbuhan atau pohon  seperti ranting dan daun-daun yang merupakan residu dari pemanenan hutan. Limbah hutan itu sendiri dapat dimanfaatkan kembali seperti pembuatan arang atau balok maupun olahan lainnya. Namun, bagaimana nasib untuk daun-daun dan ranting-ranting kecil yang tersisa ketika proses pemanenan tersebut? Umumnya hanya diabaikan dan dibuang begitu saja. Padahal, bagian-bagian seperti daun dan ranting kecil ini dapat dimanfaatkan kembali untuk tujuan konservasi tanah dan air.

Adanya laju deforestasi seperti pembukaan hutan untuk keperluan manusia atau penebangan liar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab menyebabkan kerusakan hutan sehingga tata air dapat terancam. Padahal, salah satu fungsi hutan merupakan sebagai pengatur tata air. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengembalikan hutan tersebut agar dapat berfungsi kembali dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air.

Pada umumnya, mulsa tersebar merata di permukaan tanah. Tetapi mulsa vertikal sesuai namanya, maka penyebarannya dilakukan secara vertikal seperti mengisi retak-retak dan rengkah pada tanah yang biasa terjadi ketika musim kemarau. Contoh dari tanah jenis ini adalah tanah vertisol(grumosol), yang umumnya terdapat di daerah beriklim kering dan ketika musim hujan, tanahnya menjadi lengket. Tanah seperti ini sulit diolah. Oleh karena itu, pemberian mulsa pada tanah jenis ini sebaiknya dilakukan ketika musim kemarau. Mengapa harus musim kemarau? karena ketika musim kemarau tanah seperti ini dapat merekah hingga kedalaman 1 m dan lebar 5 cm. Ketika merekah, barulah dapat diisi oleh mulsa sisa tanaman dan ketika musim hujan tiba, retakan tersebut tidak akan benar-benar tertutup sehingga air dapat meresap ke dalam tanah dan mengurangi erosi.

Jadi, berdasarkan paparan-paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mulsa vertikal memiliki banyak keuntungan dalam upaya konservasi tanah dan air, antara lain sebagai berikut.

  1. Kesuburan tanah menjadi lebih baik karena mulsa sendiri merupakan bahan organik.
  2. Daya tanah untuk menyerap air dapat meningkat.
  3. Meminimalisir terjadinya erosi.
  4. Menambah kehidupan makro dan mikro di dalam tanah.
  5. Kelembapan tanah menjadi lebih meningkat.

Daftar Pustaka

Rusdiana Hutagaol, Ria. 2015. Konservasi Tanah dan Air. Yogyakarta.  DEEPUBLISH

Arsyad, Sitalana. 2009. Konservasi Tanah dan Air. Bogor. IPBPRESS

Riri Fithriadi dkk (Peny.) (1998). Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering; Kumpulan Informasi. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kehutanan.

Pratiwi. Nina Mindawati. Darwo. 2019. PENERAPAN TEKNIK MULSA VERTIKAL PADA LAHAN TERDEGRADASI DI CARITA, PROVINSI JAWA BARAT16(1). 1-57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *