Mengenal Hidroponik, Salah Satu Metode dalam Urban Farming

Jika kita mendengar kata hidroponik dan urban farming, apa yang terlintas dari pikiran kita? Yang pastinya tentang metode pertanian tanaman. Hidroponik dan urban farming itu sendiri punya peran penting sekaligus besar dalam keadaan kita sekarang yang dilanda pandemi covid-19.

Hidroponik merupakan salah satu metode dalam urban farming dan menjadi metode yang paling terkenal dan paling banyak dipakai karena kemudahan metodenya. Sebelum kita masuk ke pembahasan hidroponik, apa sih yang dimaksud urban farming?

Urban farming jika diartikan dari bahasanya, adalah “pertanian kota”. Jadi, urban farming merupakan pertanian yang dilakukan di kota. Urban farming itu sendiri baru dikenal pada abad 19 yang mana bertepatan dengan berkecamuknya perang dunia 2. Saat itu, banyak negara yang terlibat perang dunia, terdampak penurunan ekonomi yang menyebabkan negara-negara tersebut harus memikirkan cara terbaik untuk meningkatkan ekonomi negaranya. Mereka terpikirkan akan satu hal yang akan meningkatkan ekonomi sekaligus pertumbuhan pangan negaranya tersebut. Timbullah ide urban farming dengan metode yang menyesuaikan kondisi tanah dan lainnya di kota salah satu negara tersebut.

Urban farming sangat berguna untuk kelangsungan hidup manusia terutama yang tinggal di kota. Melihat bahwa sekarang terjadi pandemi covid-19 yang mengganggu banyak bidang pekerjaan. Tak terkecuali bidang pertanian dan pangan. Banyak pihak yang kehilangan pekerjaannya dan akhirnya membuka startup ataupun UMKM dalam bidang pangan.

Kenapa sih harus urban farming?

Urban farming menjadi pilihan cocok untuk pertanian di perkotaan, contoh penerapannya seperti hidroponik itu sendiri dalam mengatasi kekurangan air, lalu untuk mengatasi lahan sempit juga, ada vertical gardening (kebun vertikal) yang mana metode ini menjadikan dinding menjadi tempat bertanamnya. Selain itu, urban farming juga bermanfaat untuk mengisi kekosongan kegiatan dikala pandemi covid-19 yang mengharuskan kita untuk diam di rumah. Lalu, karena 70% populasi manusia sekarang tinggal di perkotaan, maka sudah menjadi hal yang disarankan untuk melakukan urban farming. Melihat kemungkinan tahun 2050 kebutuhan pangan di dunia kurang lebih mencapai 4,6 miliar ton atau 145% dari tahun 2020 sendiri. Karena hal tersebut, sudah sewajarnya manusia yang tinggal di kota pun ikut serta dalam peningkatan pasokan pangan dunia.

Salah satu metode atau cara urban farming yaitu hidroponik. Secara etimologis, hidroponik berasal dari dua kata berbahasa Yunani, yaitu “hydro” yang berarti air, dan “ponos” yang berarti daya. Jika diartikan, maka hidroponik berarti pemberdayaan tanaman dengan air. Hidroponik dikenal juga dengan sebutan soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Jadi, hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya, melainkan air menjadi media tanamnya.

Tanaman akan tetap tumbuh dengan baik jika pemberian unsur hara (nutrisi) yang diperlukan tanaman tersebut terpenuhi. Dari hal tersebut kita dapat melihat bahwa fungsi tanah merupakan sebagai penyangga tanaman, lalu air menjadi unsur hara (nutrisi) yang kemudiannya akan diserap oleh tanaman. Maka dari itu, penggunaan air merupakan hal yang penting dalam pemenuhan kebutuhan pada nutrisi tanaman. Dan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan air tersebut adalah dengan hidroponik.

Hidroponik ini sendiri banyak dilakukan dengan skala kecil. Seperti untuk hobi semata, dan ada pula untuk usaha komersial yang memiliki nilai ekonomis. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan juga haruslah diperhatikan karena akan berpengaruh pada nilai ekonomisnya. Berikut beberapa jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk dibudidayakan secara hidroponik.

  1. Paprika
  2. Tomat
  3. Melon
  4. Mentimun Jepang
  5. Selada
  6. Terong Jepang

Tempat penyangga tanaman untuk hidroponik itu sendiri tidak perlu menggunakan paralon. Bisa juga menggunakan pot yang terbuat dari gelas plastik atau botol plastik. Selain hemat, hal tersebut dapat mengurangi jumlah sampah plastik yang ada di dunia. Namun untuk penggunaan tempat memang disarankan atau lebih baik memakai tempat yang memanjang seperti paralon agar pendistribusian air bisa lancar dan terpenuhi semua.

Ada beberapa cara dalam penanaman hidroponik, yaitu:

  1. Pembibitan. Kita harus bisa mencari bibit unggul. Disarankan untuk menggunakan bibit hibrida agar mutu tanaman cukup optimal.
  2. Penyemaian. Hal ini berguna untuk bibit yang kita tanam tidak hanyut dan rusak karena masih kecil. Penyemaian ini bisa menggunakan pot kecil menggunakan plastik. Pot tersebut bisa diisikan campuran pasir halus, sekam bakar, kompos dan pupuk kandan dengan perbandingan masing-masing 1:1:1:1. Lalu masukkan biji tanaman dengan jarak menyesuaikan (jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dempet). Tutup dengan tisue/kain yang telah dibasahi supaya kondisi tetap lembab. Jangan lupa untuk menyiram biji saat media tanam mulai terlihat kering. Jika biji telah berubah menjadi kecambah, pindahkan ke tempat penanaman yang lebih besar. Seperti dengan pot botol plastik atau paralon.
  3. Persiapan media tanam. Media tanam ini haruslah mampu menyerap dan menghantarkan air, tidak mudah busuk, tidak mempengaruhi pH, haruslah steril juga, dll. Contoh media tanamnya ini yang bisa digunakan dapat berupa sabut kelapa, gambut, sekam bakar, ataupun rockwool (serabut bebatuan).
  4. Pupuk. Sistem hidroponik ini sebenarnya hanya berfungsi sebagai pegangan (handle) akar dan jalur perantara larutan nutrisi. Untuk mencukupi kebutuhan unsur hara makro dan mikronya itu perlu dilakukan pemupukan dalam bentuk larutan yang disiramkan ke media tanamnya. Dan kebutuhan pupuk ini sama dengan kebutuhan pupuk pada penanaman sistem konvensional.
  5. Perawatan tanaman. Perawatan sistem ini tidaklah berbeda jauh dengan perawatan pada sistem penanaman yang konvensional. Seperti pemangkasan, pembersihan gulma (tanaman pengganggu), lalu penyemprotan pupuk, dll.

Hidroponik juga punya beberapa manfaat dan kelebihan dalam penerapannya pada tanaman, contohnya:

  1. Tidak membutuhkan tanah dalam pertumbuhannya
  2. Kualitas dan hasil tanaman lebih tinggi
  3. Penggunaan air dan pupuk lebih hemat
  4. Air akan terus bersirkulasi dan bisa digunakan untuk keperluan/kegiatan lain, misalnya dijadikan akuarium, ataupun membuat akuaponik sekaligus.
  5. Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan
  6. Steril dan bersih
  7. Media tanam dapat digunakan berulang kali
  8. Mudah dalam memanen hasil
  9. Dapat mengatasi masalah tanah dan keterbatasan lahan
  10. Lebih terbebas dari hama dan penyakit

Kesimpulannya, hidroponik merupakan salah satu metode urban farming yang paling sering dijumpai. Karena caranya yang mudah dan terlihat estetik atau bagus. Selain itu, kita bisa melakukannya walaupun dengan keadaan lahan sempit. Kita bisa mencobanya seperti di atas rumah atau rooftop. Urban farming dengan metode hidroponik bisa menjadi suatu kegiatan yang punya nilai ekonomis dan sangat cocok pada saat pandemi covid-19 ini dimana kita diharuskan untuk tetap di rumah.

Referensi: gurupendidikan.co.id/pengertian-hidroponik/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *