Menanggulangi Degradasi Lahan Pertanian di Indonesia

Degradasi lahan adalah proses perubahan yang terjadi akibat aktivitas manusia terhadap suatu lahan tanpa memperhatikan kondisi dari lahan tersebut dan perubahan tersebut cenderung merusak. Konservasi tanah memiliki dua pengertian yaitu pengertian dalam arti yang sempit dan pengertian dalam arti yang luas. Dalam arti yang sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya mencegah kerusakan tanah yang disebabkan oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak akibat erosi. Dalam arti yang luas konservasi tanah adalah penempatan dan penggunaan setiap bidang tanah yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukanya sesuai dengan syarat yang telah ditentukan agar tanah tersebut tidak mengalami kerusakan. Perlakuan yang kita berikan pada tanah tersebut akan mempengaruhi tata air pada tanah tersebut dan tempat-tempat di hilirnya.

Degradasi tanah dapat disebabkan oleh 2 faktor yaitu, faktor alami dan campur tangan manusia. lahan subur yang harusnya dimanfaatkan untuk pertanian beralih fungsi menjadi perumahan, perkantoran, dan jalan raya. Pengalihan fungsi lahan akhirnya menggeser kegiatan pertanian ke lahan-lahan kritis yang memerlukan infut tinggi dan mahal untuk dapat menghasilkan produk pangan yang berkualitas. Degradasi tanah yang paling sering ditemukan di Indonesia adala erosi. Proses ini telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dan mengakibatkan kerusakan di lahan-lahan pertanian. Beberapa jenis degradasi lainnya adalah pencemaran kimiawi, kebakaran hutan, aktivitas penambangan dan industri, dan konversi lahan pertanian ke nonpertanian.

1. Erosi Tanah

Hasil penelitian yang dilakukan berbagai Lembaga menunjukan bahwa laju erosi tanah di Indonesia cukup tinggi dan telah berlangsung sejak kurun waktu yang cukup lama. Beberapa contoh daerah yang mengalami degradasi lahan di Indonesia adalah Citayam di Jawa Barat, Putat di Jawa Tengah, Punung di Jawa Timur, Pekalongan, Lampung. Setiap tahunya sekitar 40-250 m3 atau 35-220 ton tanah/ha lahan mengalami erosi, dengan laju peningkatan sebesar 7-14% atau 3-28 ton tanah/ha/tahun. Angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan di Amerika Serikat yang hanya 0,7 ton/ha/tahun. Data juga menunjukan bahwa luas lahan kritis di Indonesia setiap tahunya terus bertambah, yang diperkirakan telah mencapai 10,9 juta ha. Bahkan Departemen Kehutanan mengidentifikasi luas lahan kritis di Indonesia mencapai 13,2 juta ha. Penyebab utamanya adalah erosi dan longsor.

2. Pencemaran Tanah dan Kebakaran Hutan

Selain disebabkan oleh erosi degradasi lahan pertanian juga dapat disebabkan oleh penggunaan bahan agrokimia, yang meninggalkan residu zat kimia dalam tanah atau pada bagian tanaman seperti daun, buah, dan umbi. Hasil penelitian menunjukan bahwa residu insektisida pada beras dan tanah sawah di Jawa, seperti organoklorin, organofosfat, dan karbamat. Pencemaran tanah juga terjadi di daerah pertambangan emas liar di pongkor, bogor yang menyebabkan pencemaran air raksa. Pencemaran tanah juga ditemukan di Kawasan industry tekstil, kertas, baterai, dan cat. Bahan-bahan kimia yang sering ditemukan antara lain adalah Na, NH4, SO4, Fe, Al, Mn, Co, dan Ni. Selain pencemaran bahan kimia, degradasi tanah juga dapat terjadi akibat pencemaran hutan yang terjadi setiap tahunya, terutama di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Menurut data yang dihimpun dari Bakornas-PB, pada tahun 1998-2004 di Indonesia terjadi 193 kali kebakaran hutan, yang mnegakibatkan 44 orang meninggal dan kerugian harta benda mencapai RP 647 miliar. Kebakaran hutan menyebabkan material-material tanah seperti humus dan gabut ikut terbakar. Menurut Jaya et al. (2000), kebakaran hutan mengakibatkan hilangnya lapisan-lapisan tanah yang banyak mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Kebakaran hutan menimbulkan banyak kerugian baik dari segi materil maupun korban jiwa diantaranya berupa gangguan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, kesehatan manusia dan hewan, serta kelancaran transportasi (Musa dan Parlan 2002).

3. Banjir, Longsor, dan Konversi Lahan

Degradasi lahan pertanian juga dapat disebabkan oleh banjir dan longsor, material-material tanah ikut terbawa dari puncak atau lereng bukit ke bagian bawah. Kejadian ini menimbulkan kerusakan pada lahan pertanian di baik di daerah yang tertimbun longsor, di lokasi kejadian, serta alur di antara kedua tempat tersebut. Proses degradasi lahan pertanian yang sangat cepat adalah konversi lahan, konversi lahan dapat menurunkan bahkan menghilangkan produktivitas lahan pertanian.

Manusia memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengendalikan laju degradasi lahan pertanian sehingga perlu ditetapkan beberapa kriteria tertentu dalam Tindakan penanggulanganya. Salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam merancang Teknik konversi tanah adalah nilai batas erosi yang masih dapat diabaikan (tolerable soil loss). Jika besarnya erosi pada tanah lebih besar daripada angka erosi yang masih dapat diabaikan, maka Tindakan konservasi sangat diperlukan. Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga tujuan utama yaitu meningkatkan penimpanan air, mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara hanyut, dan perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir air hujan. Metode konservasi tanah dibagi menjadi empat metode yaitu, metode vegetative, teknis, mekanik, dan kimia.

4. Metode Vegetatif

Teknik konservasi tanah dengan metode vegetative adalah pemanfaatan tanaman/vegetasi ataupun sisa-sisa tanaman sebagai pelindung tanah dari erosi, peningkatan kandungan lengas tanah, penghambat laju aliran permukaan, perbaikan sifat-sifat tanah, sifat fisik, kimia, maupun biologi. Beberapa Teknik konservasi dengan metode vegetative adalah penghutanan Kembali, pertanaman Lorong, pertanaman menurut strip, strip rumput, barisan sisa tanaman tanaman penutup tanah, penerapan pola tanam, pergiliran tanaman, tumpeng sari, dan tumpeng gilir.

5. Metode Teknis

Selain metode vegetatif, konservasi pertanian lahan kering juga dapat dilakukan dengan metode teknis yaitu metode konservasi dengan mengatur aliran permukaan sehingga tidak merusak lapisan atas tanah (top soil) yang manfaat bagi pertumbuhan tanaman. Konservasi dengan metode teknis biasanya dilakukan dengan berbagai Teknik yang pemilihanya bergantung dari kondisi di lapangan. Beberapa metode yang dapat digunakan diantaranya adalah terasering, saluran air, pengolahan tanah menurut kontur, dan pembuatan gundulan.

6. Metode Mekanik

Metode mekanik adalah metode pengolahan lahan pertanian yang diperuntukan untuk lahan yang berbentuk tegalan (tanah darat) dengan menggunakan media tanah dan batu sebagai sarana konservasi tanah. Metode mekanik memiliki tujuan untuk mengalirkan dan menampung aliran air di permukaan, memperlambat aliran air di permukaan, dan mengurangi erosi.

7. Metode Kimiawi

Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah Teknik yang menggunakan bahan-bahan kimia baik organik maupun anorganik, yang memiliki tujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan menekan laju erosi. Yang dimaksud dengan metode kmiawi adalah usaha pencegahan erosi dengan pemanfaatan soil conditioner atau bahan-bahan pemantap tanah yang bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan tetap resisten terhadap erosi.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/bf0ac9c83b7f48178b541e094438d210.pdf

https://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/04/12/degradasi-tanah/

https://icel.or.id/isu/kehutanan-lahan/upaya-pemerintah-dalam-penanggulangan-degradasi-lahan-dan-kekeringan-di-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *