Masalah Banjir di Sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS)

Indonesia merupakan negara kepulauan karena lebih dari setengah wilayah Indonesia merupakan perairan. Tercatat ada 17.504 pulau di Indonesia. Di Indonesia juga terdapat banyak sungai yang berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, transportasi, dan menampung debit air yang turun ke tanah melalui hujan Selain itu, Indonesia juga hanya mempunyai 2 musim saja, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di Indonesia biasanya terjadi pada kisaran bulan Oktober-April. Meskipun Indonesia bukan negara dengan intensitas hujan tertinggi, tapi Indonesia memiliki curah hujan yang terbilang cukup tinggi, karena Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis ekuator sehingga Indonesia memiliki iklim tropis. Curah hujan di Indonesia rata-rata berkisar antara 2.000-3.000 mm per tahun. Sartono Marpaung dari Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN menyebutkan bahwa wilayah dataran tinggi memiliki curah hujan yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah dataran rendah. Rata-rata curah hujan pada dataran dengan ketinggian 600-1.300 mdpl berkisar antara 2.300-2.800 mm per tahun. Sedangkan rata-rata curah hujan pada wilayah dataran rendah lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah dataran tinggi. Terdapat masalah yang timbul saat curah hujan di Indonesia sedang tinggi. Salah satu masalah yang biasa timbul adalah banjir. Banjir dapat didefinisikan sebagai luapan air dalam jumlah besar yang kemudian menggenangi daratan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), luapan air dapat terjadi apabila curah hujan berada di atas 100 mm per hari.

Banjir di Indonesia sering kali terjadi di kota-kota besar. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung sudah menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan datang. Sudah banyak kasus yang terjadi terkait banjir ini, tak sedikit pula korban yang berjatuhan karena peristiwa ini. Seperti yang dikutip pada bbc.com, pada tanggal 5 Januari 2020 telah terjadi banjir dengan ketinggian 60 cm yang menggenangi wilayah perumahan Pondok Jati Permai di Jati Asih, Bekasi. Dengan korban jiwa sebanyak 9 orang. Selain di wilayah perkotaan, banjir juga bisa terjadi di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Apalagi saat musim hujan dan curah hujan yang tinggi akan mempercepat terjadinya banjir karena meluapnya air di sungai.

Kasus Banjir di Indonesia sering muncul ketika awal musim penghujan datang. Kita harus waspada jika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu yang lama, karena ini merupakan salah satu hal yang memicu terjadinya banjir. Curah hujan yang tinggi membuat sungai tidak bisa membendung volume air sehingga air akan meluap. Saat terjadi hujan deras, aliran air sungai akan terlihat surut karena tertahan oleh material longsor di daerah hulu ataupun di sepanjang aliran sungai. Kemudian, air akan meluap naik dengan cepat ke permukaan dan menerjang apapun yang dilewatinya.

Banjir dapat disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor alami dan faktor buatan. Faktor alami penyebab banjir yang pertama adalah curah hujan. Curah hujan yang tinggi dapat mengakibatkan permukaan air sungai meluap dan menyebabkan banjir. Kedua adalah pengaruh dari kapasitas sungai. Berkurangnya kapasitas volume air pada aliran sungai dapat disebabkan karena pengendapan yang berasal dari erosi DAS dan tebing sungai yang terlalu berlebihan. Sedimentasi sungai ini terjadi karena kurangnya vegetasi di sekitar DAS dan penggunaan lahan yang tidak tepat sehingga menyebabkan pendangkalan pada sungai dan mengurangi kapasitas tampungan sungai. Dan faktor alami yang ketiga adalah pengaruh dari air pasang. Pasang surut air laut dapat memperlambat aliran sungai yang menuju ke laut. Saat terjadi banjir yang bersamaan dengan air pasang maka tinggi air yang menggenang menjadi besar dikarenakan adanya aliran balik. Fenomena genangan air pasang (Rab) ini rentan terjadi di daerah pesisir pantai baik di musim hujan maupun di musim kemarau.

Sedangkan faktor buatan penyebab banjir yang pertama adalah adanya perubahan kondisi DAS. Berubahnya tata guna lahan memiliki kontribusi besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir. Pembabatan hutan, perluasan wilayah kota, usaha dalam bidang pertanian yang kurang tepat, dan perubahan tataguna lainnya dapat memperburuk kondisi DAS. Faktor buatan yang kedua adalah masih banyak kawasan yang kumuh dengan sampah yang berserakan dimana-mana. Disiplin masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya masih kurang baik sehingga masih banyak ditemui sampah yang dibuang ke sungai, dimana hal ini sering dijumpai di kota-kota besar. Sehingga dapat menyebabkan banjir karena banyaknya sampah yang menumpuk pada aliran sungai dan menghambat laju air. Faktor yang ketiga adalah hilangnya hutan atau vegetasi sebagai resapan air hujan. Maraknya illegal logging menyebabkan terganggunya siklus hidrologi sehingga dapat menyebabkan banjir

Memang banjir sulit dihilangkan, tetapi kita dapat meminimalisir genangannya. Tetapi harus ada aksi yang tepat, tidak hanya sekedar wacana. Pengendalian banjir dapat dilakukan dengan memperbaiki saluran air dengan mengeruk kembali sungai atau saluran yang mengalami pendangkalan, memelihara kebersihan sungai dari sampah; melakukan reboisasi untuk perlindungan vegetasi di sekitar DAS untuk meminimalisir terjadinya erosi; memelihara sarana pengendali banjir seperti bendungan, danau, dan normalisasi aliran sungai; dan harus berubahnya perilaku masyarakat yang dapat menyebabkan banjir seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak membangun pemukiman di pinggir daerah aliran sungai karena dengan adanya pemukiman di pinggir sungai akan menyebabkan erosi dan pendangkalan sungai.

Dalam mengatasi dan mencegah terjadinya banjir, pemerintah memiliki peran besar terhadap penanggulangan bencana banjir. Pada Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2012 tentang Pengolahan Daerah Aliran Sungai, telah diatur bahwa pemerintah bertanggung jawab untuk mengoptimalkan DAS sebagaimana fungsinya dan pemerintah wajib melakukan pengelolaan DAS secara optimal. Tetapi, masyarakat juga harus turut serta membantu pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi bencana banjir dengan meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan akan lingkungan. Jika semua orang memiliki kedisiplinan dan kesadaran yang sama, maka lingkungan kita dapat terjaga dengan baik.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa banjir adalah luapan air dalam jumlah besar yang kemudian menggenangi daratan. Banjir juga merupakan masalah yang sering dijumpai di kota-kota besar saat musim hujan tiba. Ada 2 faktor yang bisa menyebabkan banjir yaitu faktor alami dan faktor buatan. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, maka lebih baik kita mencegah terjadinya banjir daripada membiarkan terjadinya banjir baru kita menanggulanginya. Misalnya dengan memelihara daerah penyerapan dan penampungan air, menormalisasikan aliran sungai, melakukan reboisasi, dan tidak membuang sampah sembarangan. Tentu jika kita disiplin terhadap kebersihan lingkungan, maka potensi terjadinya banjir akan menjadi lebih kecil.

 

 

 

Daftar Pustaka

Sebastian, L. (2008). Banjir pada wilayah DAS. Surakarta. Pendekatan Pencegahan dan Penanggulangan Banjir. Dinamika Teknik Sipil, 8(2). Diambil dari https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/146/_9_%20LIGAL.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2020). Intensitas Curah Hujan Tinggi. Jakarta. Problabilistik Curah Hujan 20 mm (Tiap 24 Jam). Diambil dari https://www.bmkg.go.id/cuaca/probabilistik-curah-hujan.bmkg

Suryadi, N. (2020). Peran Pemerintah dalam Menanggulangi Banjir. Samarinda. Peran Pemerintah Dalam Menanggulangi Banjir di Kota Samarinda. eJoournal Ilmu Pemerintahan, 8(2). Diambil dari https://ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id/site/?p=3497

Sulikah, H. (2014). Peran Pemerintah dalam Menanggulangi Banjir. Surakarta. Peran Pemerintah Dalam Menghadapi Bencana Banjir di Kelurahan Nusukan Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Diambil dari https://core.ac.uk/download/pdf/148602686.pdf

BBC Indonesia. (2020). Kasus Banjir di Indonesia. Jakarta. Banjir Jakarta, Banten, dan Jabar: Korban Meninggal 60 Orang, Hujan Ekstrem ‘Masih Akan Turun’. Diambil dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50962493

CNN Indonesia. (2020). Penyebab Terjadinya Hujan Ekstrem. Jakarta. 4 Sebab Curah Hujan Ekstrem Hingga Banjir di Jabodetabek. Diambil dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200102201651-199-461995/4-sebab-curah-hujan-ekstrem-hingga-banjir-di-jabodetabek

Suganda, E., Atmodiwirjo, P., Yatmo, Y. A., (2009). Pengelolaan DAS. Depok. Pengelolaan Lingkungan dan Kondisi Masyarakat Pada Wilayah Hilir Sungai. Makara, Sosial Humaniora, 13(2). Diambil dari http://hubsasia.ui.ac.id/old/index.php/hubsasia/article/view/255/160

Adibtoro, T. A. (2002). Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Pengembangan Teknologi Lingkungan Dalam Pengelolaan DAS yang Berkelanjutan. Jurnal Teknologi Lingkungan, 3(1). Diambil dari http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/234

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *