Lubang Resapan Biopori Sebagai Alternatif Sumber Air Bersih

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat luas.Namun bagi beberapa masyarakat di indonesia ada yang belum memiliki akses air bersih atau jumlah air bersih di daerahnya belum bisa mencukupi semua kebutuhan masyarakat. Kita ambil contoh seperti di wilayah DKI Jakarta, Berdasarkan Paparan Pemenuhan Kebutuhan Air Perpipaan Masyarakat Jakarta (PAM JAYA, 2012) dan Litbang Kompas, populasi Jakarta pada tahun 2015 mencapai 10,6 juta jiwa dan diproyeksikan pada tahun 2030 mencapai 13,9 juta jiwa, sehingga kebutuhan air bersih pada tahun 2015 mencapai 29.474 liter/detik dan pada tahun 2030 mencapai 39.138 liter/detik, kapasitas produksi PAM JAYA pada tahun 2015 sebesar 17.878 liter/ detik dan pada tahun 2030 sebesar 16.500 liter/detik, maka dari itu terjadi defisit air pada tahun 2015 mencapai 10.099 liter/detik dan pada tahun 2030 mencapai 22.638 liter/detik Omar Mukhtari(2019).  Ditambah lagi di sejumlah daerah air sungai tidak bisa dijadikan sumber air bersih bagi warga sekitar dikarenakan sungai yang penuh sampah dan tercemar polusi, dan perlu dibangun fasilitas pengelolan air yang biaya pembangunannya tidak murah dan perlu ada fasilitas atau infrastruktur pendukung seperti akses jalan dan aliran listrik. Di beberapa tempat, khususnya daerah perkotaan, aktivitas pengambilan air dilakukan secara masif sehingga cadangan air di akuifer berkurang dan tidak bisa menompang tanah diatasnya.

Aktifitas pengambilan air tanah  ini dilakukan dengan jangka waktu yang lama dan secara masif sehingga cadangan air yang tersimpan didalam tanah terus berkurang, hal ini juga diperparah dengan ruang terbuka hijau yang sangat terbatas mengakibatkan air tidak bisa terserap oleh tanah dengan maksimal dan langsung menuju sungai dan akhirnya terbuang ke laut, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara jumlah air tanah yang diambil dengan yang terserap. Tidak terserapnya air kedalam tanah khususnya pada saat musim hujan juga mengakibatkan bertambanya debit air di sungai dan meningkatkan resiko banjir. Seiring dengan berjalannya waktu cadangan air tanah akan terus berkurang sehingga lapisan tanah yang berada di atas cadangan air ini akan terus menurun mengikuti akuifer yang sebagai penopang lapisan tanah diatasnya terus berkurang. Pengambilan air tanah yang terlalu banyak itu dan kurangnya pengisian air ke akuifer di bawah permukaan mennyebabkan kemungkinan Penuruan tanah Haryono, Sri Nani.(2014), terjadinya penurunan permukaan tanah ini juga meningkatkan potensi bencana banjir khususnya di daerah pesisir. Ketergantungan yang besar terhadap air tanah juga menimbulkan masalah lain yaitu kekurangan air bersih pada saat musim kemarau,

konsep pemanfaatan bioponik dalam menghadapi permasalahan ini adalah, bioponik diharapkan untuk bisa meningkatkan daya serap air tanah di luas tanah yang kecil. Ini sangat cocok untuk permasalahan yang ada di kota-kota besar mengingat terbatasnya jumlah ruang terbuka hijau. Penerapan lubang biopori ini juga cocok bagi daerah yang terpencil yang tidak memiliki sumber air bersih. Penarapan biopori ini juga cukup mudah dalam pebuatannya dan dapat diterapkan di rumah-rumah warga dan biaya relatif yang murah dalam pembuatannya. Dalam penerapan penempatan lubang resapan biopori perlu diperhatikan beberapa persyaratan, mencakup: tanah harus dapat menyerap air dengan baik; dibangun dengan tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah (water table). Dalam hal perancangan pembuatan biopori, agar kerja lubang resapan biopori bisa lebih maksimal perlu memperhatikan tempat-tempat yang selayaknya cocok seperti :alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dan di sekeliling pohon, dan pada tanah kosong antar tanaman Ria S.S (2013). Manfaat lainnya dari lubang resapan biopori adalah sebagai tempat pembuangan sampah organik, dengan ini sampah organik lebih bisa dimanfaatkan daripada hanya terbuang di tempat pembuangan sampah konvensional. Manfaat yang lainnya adalah lubang resapan biopori dapat menyuburkan tanaman di  sekitarnya, ini juga berhubungan dengan manfaat sebelumnya, sampah organik yang terdapat di lubang resapan biopori dapat menjadi kompos alami untuk tanah dan dapat menyuburkan tanah disekitarnya . Manfaat selanjutnya yang dapat dihasilkan adalah Lubang resapan Biopori dapat meningkatkan kualitas tanah, dengan adanya mikroorganisme dari hasil kompos akan menguluarkan mineral-mineral yang selanjutnya akan larut dalam air dan akan meningkatkan kualitas air Ria S.S. (2013).

Proses Pembuatan Lubang resapan Biopori

Pertama-tama dibutuhkan lubang tanah berbentuk silindris berdiameter sekitar 10-30 sentimeter dengan kedalaman lubang sekitar 30-100 centimeter dengan jarak antara lubang adalah 50-100 centimeter. Setelah lubang digali, lubang diperkuat dengan semen yang didalamnya diberi penampang besi dengan diameter 2 centimeter di keliling lubang. Setelah semen kering di atas lubang diberi penutup yang diberi lubang-lubang kecil sebagai akses masuk air dan perlu diperhatikan juga ketinggian lubang harus lebih rendah sekitar 10 centimeter agar air bisa masuk kedalam lubang resapan biopori. Bisa juga dimasukan sampah organik seperti dedauanan yang bertujuan untuk  membentuk kompos yang bisa menyuburkan tanah dan meningkatkan kualitas air. dengan penerapan dari konsep pembuatan lubang resapan biopori maka diharapkan dengan intensitas hujan sebesar 50 mm/jam (termasuk hujan deras) atau 18 liter/jam laju peresapan air per lubang biopori. Lubang resapan biopori ini juga bisa diisi dengan sampah organik, jika penerapannya di halaman rumah, maka bisa diisi sampai dengan 7,8 liter sampah organik, itu bisa dihasilkan dari sampah organik dapur yang dikumpulkan selama 2-3 hari.

Kesimpulan

Dengan daya serap yang tinggi kedalam tanah, lubang resapan biopori ini juga bisa diandalkan untuk pengendalian banjir. Manfaat lainnya dari lubang resapan ini juga bisa memanfaatkan sampah organik untuk kegunaan yang lebih baik lagi dengan mengubahnya menjadi kompos, konstruksi yang cukup mudah dan murah membuka peluang bagi masyarakat biasa untuk bisa membuat lubang resapan ini secara mandiri, dan hanya diperlukan lahan yang cukup kecil untuk penempatannya. Terlebih lagi dengan kondisi di perkotaan yang sudah padat dan ruang terbuka hijau yang sangat terbatas maka penerapan lubang resapan biopori ini akan sangat menguntungkan. Air bisa masuk dengan lebih mudah ke akuifer dan diharapkan bisa memperlambat bahkan menghentikan laju penuruan permukaan tanah.  Dengan demikian selama pemerintah belum bisa menyediakan air bersih secara menyeluruh dan terstruktur dengan baik untuk seluruh masyarakat baik itu di perdesaan atau perkotaan, masyarakat masih bisa mandiri dengan mengandalkan air tanah sebagai sumber air bersih utama untuk kehidupan sehari-hari dengan masih bisa memerhatikan keseimbangan lingkungan, dengan catatan kita juga harus bisa memakai air bersih dengan bijaksana agar penggunaannya bisa dikurangi.

 

 

Daftar Pusaka

Haryono, S. N. (2014).  Pengaruh Kenaikan Permukaan Air Laut dan Penurunan Permukaan Tanah Terhadap Fenomena BANJIR DI SEPANJANG KAWASAN PESISISR JAKARTA. Universitas Gadjah Mada

Ria S.S., H.B. (2013). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. Penentuan Lokasi dan Jumlah Lubang Resapan
Biopori di Kawasan DAS Cikapadung BagianTengah. Universitas Islam Bandung

Omar Mukhtar,P.A.P.,S.D.H (2019). Manajemen Air Tanah di Cekungan Air Tanah DKI Jakarta. Univeritas Padjajaran

Corry Yohana, D.G., S.D. (2017). Penerapan Pembuatan Teknik Lubang Biopori Resapan Sebagai Upaya Pengendali Banjir.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *