Limbah Plastik Menjadi Bahan Bangunan

Plastik dengan manusia di masa kini bagaikan surat dengan perangko, iya betul, tidak dapat dipisahkan, karna memang pada awal tahun 1907 masehi adalah tahun dimana terjadi terobosan besar pada perkembangan plastik, karna tahun tersebut dimulainya era plastik modern yang melahirkan Bakelite oleh Leo Beakeland, bakelite merupakan plastik sintetis pertama di dunia. Dapat dibilang bakelite tidak berasal dari tumbuhan ataupun hewan melainkan bersumber dari bahan bakar fosil. Selanjutnya penelitian selalu dilakukan untuk menemukan plastik yang lebih baik, karna memang baklite tidak dapat menjadi isolator sebaik seluloid. Beakeland selanjutnya menemukan polystyrene pada 1929, polyester pada 1930, polyvinylchloride (PVC) dan polythene pada 1933 dan nylon 1935. Pada perang dunia ke-2 kebutuhan plastik ikut meningkat dan industri plastik mengalami kejayaan, karna itu membuat para peneliti berlomba-lomba untuk meenemuka teknologi yang lebih baru dan lebih baik. Pada tahun 1941, polyethylene terephtgalate (PET) ditemukan. PET merupakan bahan yang membuat botol-botol minuman soda karna bahannya kuat menahan tekanan, setelahnya bahan plastik tersebut menghasilkan banyak produk seperti sarung tangan musim dingin, pembungkus bungan dan lain sebagainya.

Sebenarnya para ahli dengan mudah mengubah mengganti rakaian polimer plastik, guna memenuhi kebutuhan lain yang bertujuan beda. Misalnya botol susu yang ada di Inggris memiliki standar polyethylane atau C6H4, jika dilakukan penambahan satu unsur karbon dapat merubahnya menjadi polypropylene yaitu bahan plastik yang lebih kuat.

Jika kita mulai prihatin dengan keberadaan sampah plastik yang berada dilautan, maka bersyukurlah kita karna sadar akan limbah plastik. Namun pada masa-masa setelah perang sudah mulai terlihat limbah plastik di lepas pantai California tahun 1969 dan hal tersebut membuat otimisme banyak orang pada zaman itu yang berlebihan terhadap plastik tidak bertahan lama. Setelahnya hingga kini sampah plastik selalu menjadi limbah yang diwaspadai, namun sayangnya pengolahan sampah plastik belum sebenuhnya tertanyani dengan baik.

Indonesia menghasilkan sampah plasti per harinya sampai 5.4 juta ton per hari, dari data statistik persampahan domestik Indonesia, bahwa sampah plastik menyumbang sebesar 14% dari jumlah produksi sampah di Indonesia. Penyumbah sampah terbanyak berasal dari pemukiman dengan komposisi 75% sampah organik dan sisanya sampah anorganik. Sampah anorganik tidak lah mudah terurai oleh tanah, bahkan air laut, maka dari itu sampah anorganik jika tidak diolah dengan baik, hanya menjadi polusi, karna pembuangannya memerlukan tanah yang luas dan jika tidak dapat menjadi tumpukan sampah yang semakin meninggi. Banyak juga kesalah pahaman masyarakat mengenai penanganan limbah dapur, seperti dengan membakar sampah yang memang betul cepat proses menghilangkannya, namu sisa pembakaran yang berupa asap sangatlah berbahaya, dan kurangnya penerapan konsep daur ulang terjadi pada pembuangan sampah organik, padahal sampah dari sisa bumbu masak, kulit buah-buahan, sangat bermanfaat bagi tumbuhan karna dapat menjadi pupuk kompos.

Dengan banyaknya orang yang mulai menyadari bahayanya sampah plastik bagi bumi kita, tidaklah cukup, tetapi kita perlu juga untuk menjaganya, dengan yang termudah adalah buang sampah pada tempatnya, lebih bagus dan bijak lagi jika kita mendaur ulang, mengurangi, serta menggunakan kembali.

Kegiatan menambahkan serat plastik yang berasal dari limbah plastik pada komposisi pembuatan paving block merupakan kegiatan yang termasuk dalam menjaga bumi kita, karna terdapat kegiatan mengolah kembali sampah menjadi benda atau produk yang lebih berguna.

Penggunaan awal paving block awalnya untuk menggantikan penggunaan batu bata konvensional untuk konstruksi jalan di Belanjda sejak 1950-an.

Paving block, adalah bata beton untuk lantai, memiliki campuran bahan yang pada umumnya adalah semen hidroulis, agregat halus dan air, atau dapat juga ditambah dengan bahan tanpa mengurangi mutu dari paving block, atau seharusnya manembah nilai mutu dari paving block. 

Dalam penelitian yang pernah dilakukan dalam menguji kekuatan paving block yang ditambah komposisinya dengan plastik gelas air mineral dari begbagai merek, pengukuran kekutan diukur dengan nilai kuat tekan rata-rata (Kg/cm2) agar dapat mengatahui kekuatan dari sempel paving block yang diuji. Agregat yang digunakan dalam penilitian tidak sebagai variabel komposisi karna dari semua benda uji memiliki agrgat yang sama, melainkan serat plastik yang dignakan dijadikan sebagai variabel, karna benda uji bervariasi dalam komposisi serat plastik, antara lain 0%, 0.2%, 0.4%, 0.6%, 0.8% dari berat semen. Pasir : Semen : FAS (1:6:0.5).

Dalam proses pembuatan paving block, memerlukan peralatan yang khusus, seperti over agregat, cetakan pavin block dan lain-lain. Dengan bahan yang menjadi komposisi antara lain:

  1. Semen (PCC)
  2. Agregat Halus (pasir)
  3. Limbah Plastik
  4. Mingak pelumas
  5. Air

Pengujian yang dilakukan membentuk paving hexagonal, dengan sisinya 11.5 cm dan tebal 6.5cm. Tahan-tahapan dalam pembuatan sebagai berikut:

  1. Limbah plastik dilelehkan, kemudian dihancurkan hingga menjadi pasir atau agregat halus (lolos saringan no 200-ASTM)
  2. Berikan pelumas pada cetakan
  3. Aduk bahan-bahan dasar hingga homogen, dengan komposisi yang sudah ditentukan
  4. Isi cetakan hingga rata dengan bahan yang sudah diaduk hingga cetakan padat.
  5. Didinginkan dengan waktu tertentu setelah itu dilepas dari cetakan
  6. Hasilnya disimpan dengan metode diuapkan selama waktu tertentu
  7. Umur 28 hari paving block siap untuk diuji ketahanannya

Setelah menjalankan uji ketahanan, dihasilkan bahwa campuran dengan 0.4% konsentrasi plastik mendapatkan hasil yang optimum dengan kuat tekan sebesar 185.23kg/cm2, serta hasil terebut meningkat 41.83% dari paving normal. hasil tersebut didapatkan diumur paving 28 hari, namun pada umur yang sama dengan konsentrasi diatas 0.4%. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan konsentrasi serat plastik mempangaruhi kemasksimalan kerja bahan penyusun paving, dan ketidaksesuaian campuran membuat rongga atau celah kosong pada struktur paving.

Paving block dengan proses yang sedikit rumit, tidak menjadi jalan satu-satunya cara untuk mendaur ulang limbah plastik agar dapat menjadi produk yang dapat dipakai. Ada cara lain untuk mendaur ulang dan membuatnya menjadi produk yang dapat dipakai, yaitu disebt dengan eco bricks, prosesnya tidak memerlukan alat yang khusus, karna hanya dengan limbah botol plastik yang seragam ukurannya, kemudian isi botol tersebut dengan limbah plastik hingga padat, dengan cara ditekan-tekan menggunakan tongkat. Kemdudian disusun dan direkatkan sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Sedikit panduan dalam membuatnya, untuk ukuran botol 600 ml dipadatkan dengan plastik hingga berat lebih dari 200 gr, dan untuk ukuran 1500 ml diisi hingga berat lebih dari 500gr.

Paving block dan eco bricks dapat dijadikan salah dua dari sekian banyaknya jawaban atas pengolahan limbah plastik yang setiap hari selalu dihasilkan. Bagaimana pun juga hingga saat ini kita belum dapat dipisahkan oleh kegunaan plastik, namun kita dapat bersikap bijak dalam menggunakannya.

Referensi

http://journal.ummgl.ac.id/index.php/ce/article/view/2460

http://ojs.ummetro.ac.id/index.php/tapak/article/view/143/119

https://sains.kompas.com/read/2018/03/22/201500923/penemuan-yang-mengubah-dunia–plastik-si-serba-guna-tapi-berbahaya?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *