Konservasi Hutan Mangrove

Seperti yang bisa kita lihat pada saat ini lahan terbuka hijau di Indonesia sangatlah minim, khususnya pada kota-kota besar. Pesatnya pembangunan infrastruktur yang terjadi membuat sedikitinya lahan terbuka hijau yang tersisa. Dalam menanggapi kurangnya lahan terbuka hijau ini perlu dilakukan beberapa hal. Seperti misalnya, melakukan pengembangan serta strategi dalam memperbaiki ruang terbuka hijau hutan mangrove. Strategi tersebut dapat dilakukan melalui 3 aspek yang berlandaskan konsep ekowisata.

Apa saja kah yang menjadi konsep ekowisata tersebut? Aspek yang pertama mencakup tentang jenis mangrove, teknik bagaimana cara menanam mangrove tersebut beserta polanya, aspek tersebut termasuk ke dalam aspek teknis. Kemudian, pada aspek mencakup tentang jumlah kepadatan penduduk, peran yang diberikan dari setiap masyarakat, serta kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat dalam menjaga hutan mangrove tersebut. Tiga hal tersebut termasuk ke dalam aspek sosial. Kemudian, yang terakhir adalah aspek kelembagaan. Sebagaimana aspek kelembagaan tersebut mencakup dukungan dari pemerintah, dukungan Peraturan Perundangan, serta Partisipasi dari Badan Lingkungan Hidup. Dari 3 aspek tersebut, diharapkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi hutan mangrove dan ekowisata mangrove dapat terbangun.

Menurut data, luas kawasan hutan mangrove di Indonesia sendiri mencapai sekitar 8,60 juta hektar di tahun 1999 yang kemudian mengalami kerusakan sekitar kurang lebih 5,30 juta hektar. Kerusakan tersebut terjadi karena beberapa kawasan hutan mangrove yang beralih fungsi menjadi pusat pertambangan, kawasan perumahan, maupun kawasan perluasan tambak. Padahal kerusakan hutan mangrove tersebut tentulah sangat berpengaruh bagi daerah sekitar pesisir. Dalam mencapai keseimbangan ekosistem ekologi pada pantai maka dibutuhkan adanya mangrove karena disini mangrove berperan sebagai biofilter. Biofilter sendiri berperan sebagai perangkap dan penangkap polusi yang terjadi. Adanya kawasan hutan mangrove tentunya sangatlah diperlukan.

Sebelumnya, hutan mangrove adalah hutan yang biasanya berada pada pesisir pantai, muara sungai, ataupun daerah pasang surut. Tanaman mangrove ini merupakan tanaman yang unik karena ciri-cirinya yang menggabungkan ciri tanaman yang hidup di air dan di darat. Jika dilihat dari akarnya, tanaman mangrove memiliki akar yang disebut dengan akar nafas dengan ciri akarnya tersebut menonjol. Selain itu dilihat dari segi ekonomi, mangrove juga memiliki nilai ekonomis yang mana akar, batang, daun, dan buah dapat dimanfaatkan sehingga hal tersebut tentunya memiliki pengaruh guna meningkatkan perekonomian pantai meskipun secara tidak langsung.

Karena kawasan ekosistem pantai merupakan kawasan yang bisa dikatakan unik, berbagai pihak pun berlomba-lomba untuk memanfaatkan kawasan tersebut. Dikatakan unik disini, karena pada area sekitaran pantai tersebut banyak kekayaan hayati ataupun ekonomi dan pariwisata. Seperti contohnya, memanfaatkan kawasan sekitaran pantai untuk kegiatan pertambakan hal tersebut kemudian tentunya akan menggeser keberadaan kawasan hutan mangrove yang memiliki peran penting. Contoh lain, bagi masyarakat yang hidup di pesisir mata pencaharian mereka pasti bergantung pada sumber daya laut. Mereka cenderung beraktivitas dan berkegiatan dengan memanfaatkan sumber daya pesisir yang tentunya hal tersebut akan berdampak negatif bagi wilayah pesisir, karena wilayah pesisir akan mendapatkan penekanan dari masyarakat sekitar yang melakukan penambangan, penggalian, atau bahkan menangkap ikan. Padahal, disini mangrove berfungsi untuk menangkap polusi serta sebagai tameng atau pelindung dari terjadinya abrasi. Selain itu, keberadaan mangrove juga berperan sebagai penahan yang ampuh bagi tanah dan hutan mangrove juga merupakan ekosistem penyedia hara yang baik bagi perikanan pantai.

Jika dilihat dari beberapa hal di atas, maka hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang potensial dengan segudang manfaat baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologi atau lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan hutan mangrove juga menjadi peranan penting bagi kehidupan flora dan fauna disekitarnya.

Sayangnya, keberadaan luas hutan mangrove ini selalu mengalami penurunan setiap tahunnya atau bahkan bisa dibilang keberadaan hutan mangrove sudah berada pada tahapan yang kritis. Degradasi pada hutan mangrove ini disebabkan oleh adanya penebangan yang dilakukan secara terus menerus yang bahkan melampaui jumlah kelestarian dari hutan mangrove itu sendiri.

Jika ditarik dalam garis besar, terdapat dua hal yang mengakibatkan terjadinya degradasi pada hutan mangrove tersebut. Hal tersebut diantaranya:

  1. Faktor manusia, seperti yang diketahui manusia dan berbagai aktivitasnya yang menjadi penyebab utama dalam terjadinya degradasi pada hutan mangrove. Termasuk beberapa faktor yang mendorong manusia untuk memanfaatkan hutyan mangrove sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup.
  2. Faktor alam, hal-hal seperti bencana alam kemudian hama dan penyakit juga dapat dikategorikan sebagai penyebab meskipun hanya berperan kecil.

Untuk itu, dalam proses pelestarian hutan mangrove dibutuhkan dua macam hal pendekatan yaitu secara teknis dan juga non teknis.

Secara pendekatan teknis, kita dapat melakukan teknik yang disebut dengan silvofishery. Teknik silvofishery merupakan pembudidayaan bandeng, udang windu, serta kerang hijau sekaligus penghijauan yang dilakukan pada kawasan mangrove. Teknik silvofishery ini memiliki beberapa keuntungan seperti misalnya menambah lapangan pekerjaan jika dilihat dari segi ekonomi, kemudian dari segi sosial ada beberapa keuntungan seperti misalnya mengatasi masalah kekurangan pangan, dan yang terakhir jika dilihat dari sisi ekologi sendiri keuntungan yang diraih adalah terjaganya kestabilan iklim mikro dan konservasi tanah. Melalui pendekatan teknis ini diharapkan beberapa manfaat serta keuntungan dapat didapat sekaligus, diantaranya peningkatan fungsi lahan, kesejahteraan penduduk, serta kelestarian dan terjaganya kondisi lingkungan dapat diraih sekaligus. Untuk itu, pendekatan teknis merupakan pendekatan yang dirasa cukup baik karena dapat menguntungkan untuk semua pihak.

Kedua, adalah pendekatan non teknis. Pendekatan ini dilakukan dengan cara membentuk sebuah kelompok organisasi yang mana dari setiap anggota tersebut harus saling bersatu guna menjaga kawasan hutan mangrove. Organisasi tersebut harus berperan dalam pelestarian hutan mangrove, seperti dengan melakukan penanaman kembali hutan mangrove di sekitar pantai. Kelompok tersebut dapat disebut dengan Kelompok Tani Hutan (KLH). Petani-petani tersebut dibina untuk menanam tanaman hutan pada lokasi garapan mereka masing-masing. Peran koperasi dan pembinaan intensif dibutuhkan dalam pendekatan non teknis ini.

Kemudian ada satu peranan tambahan yang biasa disebut dengan “Pendekatan Bottom Up”. Dalam prosesnya kegiatan ini membutuhkan campur tangan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) beserta perangkat desa, pemimpin umat, dan beberapa tokoh lainnya.  Disini masyarakat dibimbing untuk mendapat pengertian tentang perananan hutan mangrove yang berasal dari masyarakat dan kemudian nantinya akan berguna untuk masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, diharapkan keberadaan hutan mangrove akan terjaga.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiwijaya, H. (2015). Kondisi Mangrove Pantai Timur Surabaya Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Hidup.

DAMAYANTI, S. D. TUGAS MAKALAH MATA KULIAH TEORI ARSITEKTUR II KONSERVASI MANGROVE.

Siburian, R., & Haba, J. (Eds.). (2016). Konservasi mangrove dan kesejahteraan masyarakat. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Wijayanti, T. (2007). Konservasi hutan mangrove sebagai wisata pendidikan. Surabaya: Tugas Akhir Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pembangunan Nasional” Veteran” Jawa Timur.

Yulianti, R. A., & Ariastita, P. G. (2012). Arahan pengendalian konversi hutan mangrove menjadi lahan budidaya di kawasan Segara Anakan. Jurnal Teknik ITS1(1), C1-C5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *