Komposting sampah sisa makanan dan daun dengan metode Rotary Drum Composter

Seiring dengan perkembangan zaman, limbah menjadi permasalah utama yang tak luput diperhatikan oleh manusia. Limbah merupakan hasil sisa dari suatu kegiatan atau proses produksi yang tidak dapat digunakan dan tidak memiliki nilai guna serta berbagai macam kerugian lainnya. Oleh karena itu diperlukan adanya penanganan permasalah limbah dilingkungan sekitar kita.  Penerapan teknologi yang tepat guna untuk mengatasi permasalahan limbah padat yaitu dengan menggunakan teknologi daur ulang limbah padat menjadi kompos yang memiliki nilai guna kembali, ramah lingkungan, serta bermanfaat bagi tanaman. Menurut Sugiharto (1987) berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: limbah cair, limbah padat, limbah gas/partikel, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Menurut Effendi (2003) air limbah secara umum terdiri dari 99,9% komponen air dan 0,1% bahan padatan (Effendi, 2003). Pada bahan padatan, 70% berupa bahan organik dan 30% berupa bahan anorganik. Memisahkan sampah organik dan anorganik merupakan suatu langkah awal yang dapat dilakukan untuk mempermudah pengolahan limbah itu sendiri.

Limbah

Menurut Mahida (1984) limbah merupakan sisa dari suatu usaha maupun kegiatan yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang karena karakterisitik sifat, konsentrasi, serta jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung akan membahayakan lingkungan serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Menurut Waluyu (2010) bahan paling mudah ditemukan dalam limbah antara lain senyawa organik yang dapat terurai (oleh enzim yang dihasilkan oleh organisme hidup) maupun yang sulit terurai, senyawa organik yang mudah menguap, logam berat yang toksik, padatan tidak mudah menggumpal dan mengendap, nutrien, mikrobia pathogen, dan parasit.

Menurut Abdurrahman (2006), berdasarkan wujudnya limbah digolongkan menjadi 3 yaitu :

  1. Limbah Padat

Limbah padat merupakan limbah yang memiliki wujud yang padat memiliki sifat kering. Limbah padat ini biasanya berasal dari sisa makanan, sayuran, serbuk kayu, jerami, hasil samping atau ampas hasil industri, dan lain-lain.

  1. Limbah Cair

Limbah cair merupakan limbah yang berwujud cair. Limbah cair tentunya dapat terlarut dalam air dan mengalir. Contoh dari limbah cair ini adalah air bekas cuci pakaian dan piring, limbah cair dari industri, dan lain-lain.

  1. Limbah Gas

Limbah gas merupakan limbah yang berwujud gas. Limbah gas dapat dilihat dalam bentuk asap, selalu bergerak sehingga penyebarannya luas. Contoh dari limbah gas adalah gas buangan kendaraan, buangan gas hasil industri.

Limbah Organik

Menurut Latifa (2011) limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik skala rumah tangga, industri, pertanian, dan lain sebagainya. Limbah berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik adalah limbah yang dapat teruraikan atau ter biodegradasi secara sempurna melalui proses biologi baik aerob maupun anaerob. Limbah organik dapat mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan kecil dan berbau Limbah organik yang dapat diurai mudah membusuk, contohnya adalah sisa makanan, sayuran, serbuk kayu, dedaunan kering, limbah hasil dari pertanian seperti sisa tanaman, sisa hasil pertanian, serta limbah hasil industri.

Kompos

Menurut Sutanto (2002) kompos adalah salah satu jenis jenis pupuk yang berasal dari hasil akhir penguraian sisa-sisa hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyuplai unsur hara tanah sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki tanah. Kompos mampu menstabilkan agregat tanah, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, serta mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air, kompos dapat meningkatkan unsur hara tanah makro maupun mikro dan meningkatkan efisiensi pengambilan unsur hara tanah dan kompos dapat menjadi sumber energi bagi mikroorganisme tanah yang mampu melepaskan hara bagi tanaman. Pengomposan bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroba pada bahan organik yang hasil akhirnya berupa humus dan kompos. Pengomposan digunakan untuk menurunkan C/N bahan organic agar sama atau sesuai dengan tanah sehingga tidak bersifat beracun dan dapat diserap dengan baik oleh tanaman. Pengomposan sendiri terbagi menjadi dua berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu secara aerobik yang membutuhkan oksigen dan anaerobik yang kedap oksigen dan hanya memerlukan panas dari luar.

 

Pengomposan adalah suatu proses dekomposisi atau penguraian yang dilakukan oleh bahan – bahan dekomposer (bakteria, actinomycetes, fungi, organisme tanah). Proses pengomposan alami bahan organik yang memiliki serat lignin dan selulosa membutuhkan yang cukup waktu lama. Lama proses dekomposisi serta kualitas dari kompos bergantung pada keadaan serta jenis mikroba aktif selama proses pengomposan. Menurut Saraswati et al. (2016) kondisi optimum pada aktivitas mikroba perlu diperhatikan selama proses pengomposan, dalam hal aerasi, kelembaban, media tumbuh dan sumber makanan bagi mikroba. Proses pengomposan kemudian terbagi menjadi dua berdasarkan mekanismenya, yaitu secara aerobik dan secara anaerobik. Menurut Sutanto (2002) untuk menghasilkan pengolahan sampah yang bebas dari bau dan memiliki kualitas lindi yang lebih baik, pengomposan yang sesuai adalah secara aerobik. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerob (membutuhkan O2) dan anaerob (tanpa O2, hanya memerlukan panas dari luar). Pengomposan secara aerob menghasilkan CO2, H2O, unsur hara, dan sebagian humus, sedangkan secara anaerob menghasilkan CH2 dan CO2 dan beberapa senyawa intermediet yang sering menimbulkan bau busuk karena adanya H2S dan sulfur organik. Pengomposan secara aerobik sendiri terbagi menjadi tiga tahap mengenai perubahan suhu kompos, yaitu tahap mesofilik, termofilik, dan pendinginan. MOL atau mikroorganisme lokal merupakan sekumpulan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pendorong untuk mempercepat proses penguraian saat pengomposan. Rotary Drum Composter menggunakan sistem pengadukan untuk supplai oksigen dan termasuk kedalam sistem pengomposan aerobik. Penggunaan Rotary Drum Composter dapat mempercepat waktu pengomposan. Bahan – bahan yang digunakan diantaranya adalah sampah makanan, sampah daun, dan serbuk kayu. Faktor – faktor yang menentukan kecepatan proses pengomposan aerobik diantaranya adalah aerasi, ketersediaan oksigen, kadar air dan udara, nilai rasio karbon-nitrogen C/N dan lignin, derajat keasaman (pH), temperature dan tinggi tumpukan, dan ukuran bahan yang dikomposkan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pengomposan adalah suhu. Suhu yang tinggi dihasilkan dari aktivitas mikroba. Semakin tinggi aktivitas mikroba, dekomposisi kompos semakin cepat. Peningkatan suhu terjadi karena adanya konsumsi oksigen oleh mikroba dekomposer. Apabila suhunya tinggi, maka konsumsi oksigen semakin banyak sehingga proses dekomposisi makin cepat. Menurut Rohim & Bagastyo (2016) nilai pH yang rendah pada saat awal proses pengomposan menunjukkan terjadinya pembentukan asam organik dan amonia dari proses degradasi bahan organik. Penurunan nilai pH tersebut terjadi karena aktivitas sejumlah mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik menjadi asam organik sederhana. Ammonia kemudian terbentuk oleh senyawa – senyawa yang mengandung nitrogen. mengalami proses nitrifikasi. Proses nitrifikasi sendiri biasanya berlangsung pada pH 5.5 sampai dengan pH 10 dan pH optimumnya sekitar 8.5. Kadar air yang berlebih dapat menyebabkan unsur hara yang terkandung dalam kompos tercuci, volume udara berkurang dan akan menyebabkan fermentasi anaerobic sehingga menimbulkan bau tidak sedap (Yenie dan Komalasari, 2011).

Rasio C/N merupakan hal utama dalam proses pengomposan. Karbon dan nitrogen merupakan penyebab pembusukan bahan organik. Rasio C/N digunakan untuk mendapatkan degradasi biologis dari bahan organik yang sesuai untuk dijadikan kompos, serta menunjukkan umur dan kematangan kompos. Nilai rasio C/N sendiri menentukan lamanya proses pengomposan. Karbon organik (C) berguna untuk pemenuhan energi dan pertumbuhan, dan nitrogen (N) berguna untuk pemenuhan protein sebagai zat pembangun sel metabolisme. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 19-7030-2004, rasio C/N yang optimum berkisar antara 10-20. Berdasarkan Isroi (2008) apabila nilai C/N yang dihasilkan terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan nitrogen untuk sintesis protein menyebabkan dekomposisi berjalan lambat. Kematangan kompos menjadi faktor yang menentukan kelayakan mutu kompos dan mempengaruhi apakah kompos dapat segera digunakan ke dalam tanah. Beberapa parameter untuk menentukan kematangan kompos, yaitu karakteristik fisik (suhu, warna, tekstur dan besarnya kelarutan), C/N rasio, status kandungan hara tanaman, dan nilai kompos yang ditunjukkan oleh uji tanaman) dan  tidak berbau, bebas dari patogen parasit dan biji rumput-rumputan. Kematangan kompos sangat berpengaruh terhadap kualitas kompos.

Kesimpulan dari Composting sampah sisa makanan dan daun dengan metode Rotary Drum Composter yaitu, pengomposan adalah suatu proses dekomposisi yang dilakukan oleh agen dekomposer (bakteria, actinomycetes, fungi, dan organisme tanah) terhadap residu tanaman. pengomposan secara aerobik sendiri terbagi menjadi tiga tahap mengenai perubahan suhu kompos, yaitu tahap mesofilik, termofilik, dan pendinginan. Faktor – faktor yang menentukan kecepatan proses pengomposan aerobic diantaranya adalah aerasi, ketersediaan oksigen, kadar air dan udara, nilai rasio karbon-nitrogen C/N dan lignin, derajat keasaman (pH), temperature dan tinggi tumpukan, dan ukuran bahan yang dikomposkan. Semakin tinggi aktivitas mikroba, dekomposisi kompos semakin cepat. Nilai pH yang rendah menunjukkan terjadinya pembentukan asam organik dan amonia dari proses degradasi bahan organik.  Karbon (C) serta nitrogen (N) merupakan penyebab peembusukan bahan organik. Kematangan kompos sangat berpengaruh terhadap kualitas kompos.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, U. 2006. Kinerja Sistem Lumpur Aktif pada Pengolahan Limbah Cair Laundry. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Halaman 12.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit: Kanisius. Yogyakarta

Isroi .2008. Kompos. Makalah Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.

Mahida, U. N., 1984, Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri, Rajawali, Jakarta.

Mulyono. 2016. Membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Kompos dari Sampah Rumah Tangga. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Murbandono, L., 1997. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.

Pradini Nadya Arlieza. 2019. Komposting Sampah Sisa Makanan dan Daun dengan Metode Rotary Drum Composter (Studi Kasus: Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya). Tugas Akhir. Program Studi Teknik Pengolahan Limbah Jurusan Teknik Permesinan Kapal Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Rohim, M., & Bagastyo, A. Y. (2016). Penambahan Bulking Agent untuk Meningkatkan Kualitas Kompos Sampah Sayur dengan Variasi Metode Pengomposan. JURNAL TEKNIK ITS, Vol.5 No.2.

Setyorini, D .2003. “Pupuk Organik Tingkatkan Produksi Pertanian”. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanah. 27 (6).

Sriharti, & Salim, T. (2008). Pemanfaatan Limbah Pisang Untuk Pembuatan Kompos menggunakan Komposter Rotary Drum. Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna.

Sugiharto .1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI PRESS.

Suhastyo, & Asriyanti, A. (2011). Studi Mikrobiologi dan Sifat Kimia Mikroorganisme Lokal yang Digunakan pada Budidaya Padi Metode SRI ( System of Rice). In Tesis. Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta: Kanisius.

Syafrudin, Badrus Zaman .2007. Pengomposan Limbah Teh Hitam Dengan Penambahan Kotoran Kambing Pada Variasi Yang Berbeda Dengan Menggunakan Starter EM4 (Effective Microorganism 4), Teknik 28(2):125-131.

Waluyo, L. 2010. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. Malang: UMM Press.

Yenie, E., & Komalasari. (2011). Pembuatan Kompos Dari Sampah Sayuran Parameter Dan Waktu Pembalikan. Prosiding SNTK TOPI. Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *