Keterbatasan Dibalik Menjanjikannya Urban Farming

Urban farming atau juga dikenal dengan urban agriculture adalah suatu kegiatan yang melibatkan unsur-unsur pertanian yang dilakukan didaerah perkotaan. Untuk melakukannya, urban farming tidak memerlukan lahan yang luas sehingga urban farming dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin melakukannya. Penanaman ini biasanya dilakukan di rumah dengan permukaan yang vertikal, atap rumah, atau kebun indoor. Tren menggiati urban farming terus berkembang seiring dengan meningkatnya masalah ketahanan pangan yang terjadi.

Melakukan urban farming tidak hanya sebatas menanam tumbuhan pangan di lingkungan perkotaan, melainkan memiliki beberapa konsep yang bisa diterapkan seperti tanaman dinding, rooftop garden, hidroponik, indoor farming, greenhouse, community garden, dan masih banyak konsep lainnya. Tidak hanya tumbuhan, cakupan urban farming ini sangat luas meliputi peternakan (pemeliharaan ayam di kebun) hingga aquaculture (budidaya ikan di kolam buatan). Selain itu, skala urban farming pun dapat dilakukan pada skala home industry sampai commercial industry. Tentunya dari konsep tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, sehingga perlu memilih konsep yang tepat dengan mempertimbangkan biaya dan kemampuan menjalankannya.

Awalnya diciptakannya tren ini adalah untuk menunjang ketahanan pangan pada suatu regional agar masyarakat menjadi lebih mandiri menyediakan bahan pangan berskala rumah tangga atau lebih besar yang dapat langsung dijual ke masyarakat lain yang membutuhkan. Di negara-negara maju, tren ini sudah menjadi gaya hidup karena banyak masyarakat negara maju juga telah mengubah gaya hidupnya menjadi vegetarian atau hanya memakan makanan berbasis tanaman.

Di Indonesia sendiri tren ini baru mulai dilakukan oleh komunitas-komunitas pertanian di perkotaan oleh masyarakat ekonomi menengah. Kemudian mereka melihat adanya potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil yang belum memiliki mata pencaharian untuk menghidupi kehidupannya. Contohnya berada di Makassar, seorang akademisi dari Universitas Basowa Makassar melakukan penelitian sekaligus pemberdayaan masyarakat untuk menjalankan urban farming demi kesejahteraan masyarakat disana dan keberlanjutan akan kegiatan tersebut. Masyarakat yang dibina merupakan masyarakat kelas menengah kebawah yang hidup di daerah perkotaan Makassar. Pembinaan tersebut meliputi cara produksi, distribusi dan pemasaran produk hasil panen sehingga masyarakat disana dapat memperoleh pengetahuan dan skill di bidang pertanian. Pengaruh langsung dari urban farming yang dilakukan ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebesar 27,66%, memperkuat kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan sebesar 55,95%, dan menyediakan dukungan modal usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebesar 36,72%.

Meskipun penerapan urban farming dinilai memiliki manfaat positif, nyatanya urban farming tidak terlepas dari beberapa hal yang membuatnya sulit untuk diterapkan karena urban farming memiliki beberapa hal teknis yang berbeda dibandingkan dengan konsep pertanian tradisional. Beberapa hal yang menjadi keterbatasan penerapan urban farming antara lain:

  • Biaya pembuatan dan pemeliharaan cukup mahal

Untuk membangun kebun bertemakan urban farming berbeda sekail dengan membangun kebun diatas tanah seperti pada umumnya. Tumbuhan yang ditanam biasanya ditanam pada permukaan vertikal, dan hal ini menerapkan konsep yang cukup rumit sehingga butuh peran designer atau arsitek dalam melakukannya. Pada kebun yang dibangun dengan konsep indoor juga membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk membentuk sistem pengairan dengan mengadopsi sistem hidroponik. Lahan menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam industri pertanian. Jika belum memiliki lahan sendiri untuk mendirikan kebun dengan konsep urban farming, harga sewa lahan kosong di perkotaan akan lebih mahal dibandingkan dengan sewa lahan kosong yang ada di desa-desa. Selain lahan, pencahayaan untuk tanaman juga perlu diperhatikan. Beberapa cara seperti membuat cahaya buatan dengan bantuan lampu Light-Emiting Diode (LED) membutuhkan energi yang cukup besar untuk dapat menjangkau seluruh tanaman. Meskipun telah adanya lampu LED yang dapat dihubungkan dengan energi surya, instalasi lampu harus dapat terkoneksi juga dengan energi listrik dari perusahaan penyedia listrik, untuk menghindari kekurangan energi saat musim hujan yang menyebabkan sinar matahari kurang maksimal didapatkan.

  • Pengguna bukan petani yang handal

Pada dasarnya, masyarakat perkotaan masih awam atau bahkan tidak mengenal sama sekali mengenai dunia pertanian. Mengingat waktu bekerja masyarakat perkotaan yang cukup padat, kemungkinan masyarakat dapat meluangkan waktu hanya ada pada hari-hari libur atau di sela-sela akhir pekan.

  • Paparan polusi

Pembuatan kebun yang dilakukan tidak dalam ruangan atau indoor dapat menyebabkan terpaparnya buah-buahan atau sayuran yang ditanam oleh zat sisa pembakaran dari kendaraan bermotor. Zat sisa yang menempel pada buah atau sayur dapat membahayakan pengonsumsinya dalam jangka panjang. Hal ini malah mempengaruhi keamanan dari produk yang dipanen. Endapan atau residu yang diberikan oleh zat-zat kimia dikhawatirkan akan memberikan pengaruh buruk kepada pengonsumsinya seperti alergi, hingga mutasi genetik. Sama halnya terjadi dengan rumput sebagai makanan ternak yang diambil dari daerah sekitar jalan tol, tidak dianjurkan digunakan sebagai makanan ternak akibat dari banyaknya residu gas buangan kendaraan bermotor yang menempel pada permukaan rumput.

  • Harus memiliki estetika yang baik

Nilai estetika menjadi hal yang harus dipenuhi dalam pembangunan atau pembuatan urban farm, karena lingkungan perkotaan cenderung lebih terlihat rapi dan bersih dibandingkan kebun yang berada di pedesaan. Selain itu, konsep urban farm harus bisa lebih menyatu dengan lingkungan perkotaan, maka dibuatlah konsep seperti vertical garden yang hemat lahan. Design yang buruk dari urban farm yang dibangun, akan mengganggu pandangan masyarakat yang berada di tempat tersebut.

  • Peran petani tradisional dapat tergantikan

Ancaman dari dibentuknya urban farming adalah tergantikannya peran petani tradisional. Meskipun masih banyak masyarakat perkotaan yang belum mengetahui cara bercocok tanam, masyarakat perkotaan cenderung lebih mudah diedukasi dan lebih adaptif mengenai hal-hal baru. Kemungkinan produk yang dihasilkan dapat lebih unggul dibandingkan dengan produk yang dihasilkan oleh petani tradisional.

Dengan adanya keterbatasan yang ditemukan dari penerapan urban farming pada masyarakat mengengah kebawah, perlu adanya penggerak masyarakat yang bersedia untuk menginvestasikan dana dan idenya untuk menjalankan urban farming. Masyarakat tersebut diberdayakan menjadi komunitas tani yang menjalankan hal-hal teknis dalam aktivitas pertanian dengan instruksi dari ketua kelompok tani tersebut. Namun untuk masyarakat menengah keatas, hanya perlu edukasi mengenai pembuatan pertanian hidroponik atau aquaponik yang dapat dilakukan di halaman belakang rumah. Dengan itu, penerapan urban farming dapat lebih efektif dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

7 Fakta Tentang Urban Farming, Sudah Tahu Belum?

The Disadvantages Associated With Urban Agriculture

The Problem with Urban Agriculture? – A Fact Based Rebuttal to a Landscape Architecture’s Misconceptions.

Urban Farming Challenges & Advantages.

Surya, B., Syafri, S., Hadijah, H., Baharuddin, B., Fitriyah, A. T., & Sakti, H. H. (2020). Management of slum-based urban farming and economic empowerment of the community of Makassar City, South Sulawesi, Indonesia. Sustainability (Switzerland), 12(18).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *