Karakteristik Kemampuan Lahan dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

DAS merupakan ekosistem yang terdiri atas unsur biotik dan abiotik. Unsur utama dari DAS adalah tanah, air, vegetasi, serta sumber daya manusia yang saling berinteraksi untuk saling memanfaatkan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Efektif tidaknya suatu tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) dipengaruhi oleh karakteristik kemampuan DAS. Kemampuan lahan merupakan penilaian dimana lahan dikelompokkan kedalam beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat yang merupakan potensi atau penghambat dalam penggunaannya. Kemampuan lahan lebih menekankan pada kapasitas berbagai penggunaan lahan secara umum yang dapat diusahakan di suatu wilayah DAS agar kondisi tetap lestari dan sustain. Terdapat beberapa parameter yang dapat menentukan kelas kemampuan lahan. Kelas karakteristik tersebut yang kemudian menjadi titik acuan untuk mengelola DAS. Upaya pengelolan bergantung kepada hasil analisis kesesuaian penggunaan lahan terhadap kemampuannya berupa kelas-kelas dari karakteristik kemampuan DAS.

Indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik kemampuan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) ini yaitu kemiringan lereng, kepekaan erosi, kedalaman tanah, tekstur tanah, permeabilitas, drainase, dan laju run off. Analisis kemampuan lahan ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai lahan mana yang diperbolehkan untuk dipertahankan penggunaannya atau bahkan dikonservasi jika terdapat ketidaksesuaian pola penggunaan lahan.

DAS

Daerah Aliran Sungai ialah wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menangkap, menyimpan dan mengalirkan air dari siklus hidrologi dengan batasan berupa pemisah alam topografi seperti punggung bukit dan gunung. Suatu DAS terbagi lagi ke dalam sub DAS yang merupakan bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utamanya (Wicaksono, 2015).

Karakteristik DAS

Karakteristik DAS dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu:

  1. Faktor lahan yang meliputi topografi, tanah, geologi, geomorfologi dan;
  2. Faktor vegetasi dan penggunaan lahan.

Morfometri DAS adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan keadaan sifat jaringan aliran suatu sungai dari hulu hingga ke percabangannya. Morfometri DAS merupakan pengukuran bentuk dan pola DAS yang dapat dilihat dari suatu peta. Bentuk DAS mempengaruhi laju run off dan waktu sampainya aliran di daerah outlet. DAS dengan kerapatan drainase tinggi, maka debit puncaknya dapat tercapai dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan DAS dengan kerapatan drainase rendah (Asdak, 2001).

Kemampuan Lahan

Kemampuan lahan di dalam suatu DAS merupakan tingkat kemampuan suatu lahan untuk digunakan sebagai usaha pertanian tanpa menyebabkan karakteristik tanahnya menjadi rusak atau kehilangan lapisan top soilnya (Nyoman, 2016). Lahan dengan kemampuan yang baik memiliki sifat fisik dan kimia yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga akan mampu mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman secara optimal dan tidak merusak tatanan alamiah tanah yang telah ada. Sistem tersebut mempertimbangkan kelestarian lahan dalam penggunaannya untuk pertanian agar lapisan top soil tetap tersedia, seperti untuk budidaya tanaman pertanian umum, padang rumput, dan agroforestry.

Kelas Kemampuan Lahan

Kelas kemampuan lahan adalah tingkat penilaian kecocokan suatu usaha penggunaan lahan dengan kapasitas maksimal lahan tersebut. Lahan dikelompokkan menjadi delapan kelas. Lahan kelas I sampai IV merupakan lahan yang cocok untuk pertanian, sedangkan lahan kelas V sampai VIII merupakan lahan yang tidak sesuai untuk kegiatan usaha pertanian. Berikut deskripsi dari masing-masing kelas kemampuan lahan (Noor, 2020):

  • Kelas I

Lahan pada kelas I merupakan lahan dengan ciri-ciri berada di tanah datar, butiran tanah agak halus, mudah diolah, dan memiliki sistem pengairan air yang baik. Tanah kelas I cocok untuk semua jenis penggunaan usaha pertanian tanpa memerlukan tindakan konservasi, cukup memanfaatkan secara bertanggung jawab. Untuk meningkatkan kesuburan lahan tersebut, cukup dilakukan pemupukan.

  • Kelas II

Lahan kelas II merupakan lahan dengan ciri lereng landai, butiran tanahnya halus hingga agak kasar. Tanah kelas II agak peka terhadap erosi. Tanah pada kelas ini sesuai untuk penggunaan tanaman semusim, tanaman rumput, hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam. Penggunaan lahan pada kelas ini memerlukan tindakan-tindakan konservasi ringan seperti pengolahan tanah menurut kontur, penanaman dalam jalur (strip cropping) dan guludan

  • Kelas III

Lahan kelas III memiliki ciri dengan tanah yang terletak di daerah agak miring dengan sistem pengairan air yang sedikit kurang baik. Tanah kelas III sesuai untuk segala jenis usaha pertanian dengan konservasi khusus seperti pembuatan terasering, agroforestry dan sistem penanaman berjalur untuk menghindari adanya land slide akibat laju run off yang cukup tinggi saat hujan.

  • Kelas IV

Lahan kelas IV merupakan lereng yang miring dengan sistem pengairan yang buruk dengan kemiringan sebesar sekitar 12 sampai 30%. Lahan pada kelas IV ini dapat digunakan untuk tanaman semusim atau tanaman pertanian pada umumnya dengan usaha-usaha konservasi yang rumit sebagai upaya preventif terjadinya longsor dan kehilangan lapisan top soil.

  • Kelas V

Lahan kelas V bercirikan berupa lahan yang terletak di wilayah datar atau agak cekung, permukaannya banyak mengandung batu dan tanah liat. Daerah yang cekung ini cukup sering tergenang oleh air sehingga tingkat keasaman tanahnya tinggi. Tanah ini tidak cocok untuk dijadikan lahan  pertanian, tetapi lebih tepat untuk dijadikan padang rumput atau dijadikan hutan walaupun sebenarnya tidak signifikan berperan terhadap hilangnya lapisan top soil.

  • Kelas VI

Lahan pada Kelas VI ini memiliki ciri berupa ketebalan tanahnya yang tipis dan terletak di daerah  agak curam dengan kelerengan berkisar 30-45%. Tanah-tanah ini terletak pada daerah topografi datar atau hampir rata tetapi tergenang air, sering dilanda banjir, berbatu-batu atau mempunyai iklim yang tidak sesuai. Lahan kelas VI ini mudah sekali mengalami erosi.

  • Kelas VII

Kelas VII memiliki ciri berupa lahan yang terletak di wilayah yang sangat curam dengan kemiringan antara 45 sampai 65%. Tanah ini sangat tidak sesuai untuk dijadikan lahan pertanian, karena berpotensi tinggi mengalami erosi., sehingga lebih cocok untuk ditanami tanaman tahunan yang dapat mengikat tanah.

  • Kelas VIII

Kelas VIII memiliki ciri berupa lahan yang terletak di daerah dengan kemiringan diatas 65%, butiran tanah kasar, dan mudah terlepas. Tanah ini sangat rawan terhadap kerusakan, oleh karena itu lahan kelas VIII harus tetap dibiarkan secara alamiah tanpa campur tangan manusia atau dikonservasi dengan pembuatan cagar alam.

SUMBER REFERENSI

Asdak, C. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Noor, I., & Joy, B. 2020. Monograf Implikasi Model Hierarki BITZ: Konsep Penataan Ruang Wilayah untuk Mencapai Pembangunan Berkelanjutan. Inteligensia Media.

Nyoman, Dibia. 2016. Identifikasi Karakteristik DAS dan Kemampuan Lahan Untuk Menyusun Arahan Penggunaan Lahan pada Sub DAS Gunggung. Universitas Udayana. Bali

Wicaksono. 2015. Daerah Aliran Sungai (DAS). Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *