Jamu, Produk Agroindustri yang Banyak Khasiatnya

Pada zaman yang serba modern ini, jamu menjadi minuman tradisional yang sudah jarang dikonsumsi oleh kaum muda. Jamu seolah tergantikan oleh minuman lain yang lebih modern karena jamu dianggap kuno, tidak enak, pahit, dan jadul. Padahal jika ditelaah dengan rinci dan mendalam, jamu memiliki beragam khasiat bagi tubuh manusia.

Tradisi minum jamu diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram yaitu sekitar tahun 1300 Masehi. Pada saat itu, jamu digunakan secara khusus bagi para wanita dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan kecantikan wajah atau kulit. Secara istilah, jamu berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu ‘jampi’ dan ‘usodo’ yang artinya penyembuhan dengan cara menggunakan obat-obatan, do’a-do’a, atau ajian-ajian. Namun, sekitar tahun 1500 Masehi, istilah ‘usodo’ sudah jarang digunakan oleh masyarakat. Istilah ‘jampi’ tercatat lebih populer digunakan di kalangan keraton. Sedangkan jamu merupakan Bahasa Jawa Tengah yang hingga kini digunakan oleh masyarakat umum yang diperkenalkan oleh para tabib pengobat tradisional.

Jamu merupakan salah satu bentuk dari pengobatan tradisional yang terkenal di Indonesia. Tercatat terdapat sekitar 70-80% populasi manusia di negara-negara berkembang yang mengonsumsi obat-obatan tradisional dari negaranya masing-masing, termasuk Indonesia. Saat ini, jamu dikenal sebagai minuman herbal turun-termurun yang berkhasiat bagi semua jenis kelamin untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan melindungi tubuh dari serangan penyakit. Namun, tradisi minum jamu seakan sudah hilang terutama bagi kaum muda termasuk para remaja dan mahasiswa karena menurut mereka, rasa jamu tidak seenak minuman kekinian lainnya. Maka dari permasalahan tersebut, munculah peluang usaha agroindustri dengan metode urban farming untuk membuat jamu yang dimodifikasi sedemikian rupa agar jamu dapat dinikmati dan dikonsumsi oleh semua kalangan usia.

Sebagai seorang mahasiswa yang harus berorientasi pada masa depan dan berpikir kritis, sudah sepantasnya kita melihat tantangan tersebut sebagai sebuah peluang besar. Tantangan untuk melestarikan tradisi minum jamu pada era ini dapat dijadikan sebuah peluang usaha. Jamu yang pada dasarnya memiliki rasa yang kurang diminati oleh kaum muda, dapat disulap menjadi minuman sehat yang tidak kalah kekiniannya dengan minuman kekinian lain.

Peluang usaha yang terbuka lebar dari permasalahan ini adalah bagaimana cara yang tepat yang dapat digunakan agar para kaum muda bisa menikmati dan mengonsumsi jamu selayaknya minuman kekinian lainnya. Oleh karena itu, jamu dapat dimodifikasi dengan cara menggabungkannya dengan bahan-bahan lain seperti susu, gula, krimer, atau bahkan dengan kopi. Bukan hal yang tidak mungkin jika nantinya hasil modifikasi tersebut dapat menghasilkan jamu modern kekinian yang rasanya tidak kalah enak dan cocok di lidah para kaum muda. Jika hasil modifikasi tersebut sudah dirasa cocok, maka akan muncul usaha-usaha baru di bidang penjualan jamu. Selain akan mendapatkan keuntungan, pemilik usaha dapat membantu melestarikan tradisi minum jamu dan meningkatkan kesehatan konsumennya karena jamu dikenal berkhasiat bagi kesehatan.

Bahan baku jamu terdiri dari berbagai bagian tumbuhan. Ada jamu yang terbuat dari akar, kulit batang, daun, atau buah. Tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk membuat jamu ada beragam jenisnya. Sebagai contoh, untuk membuat jamu beras kencur dibutuhkan beras dan kencur sebagai bahan utama. Namun, bukan hanya beras dan kencur, jamu beras kencur juga mengandung bahan-bahan lain untuk pelengkap rasa seperti biji kedawung, biji kapulogo, rimpang jahe, kayu keningar, buah asam, dan kunyit. Sedangkan untuk membuat jamu kunyit, dibutuhkan kunyit dan buah asam sebagai bahan utama. Bahan pelengkap jamu kunyit adalah daun asam muda, biji kedawung, temulawak, dan air dari perasan jeruk nipis. Sebenarnya, selain dua contohh jamu yang telah disebutkan sebelumnya, masih banyak jenis jamu lain yang tidak bisa diuraikan satu persatu karena Indonesia kaya akan jenis jamu. Beberapa bahan baku untuk membuat jamu dapat diperoleh dengan mengembangbiakkannya secara mandiri melalui metode urban farming yang telah dikenal sebagai metode yang dapat digunakan tanpa lahan yang luas. Contohnya adalah kunyit, kencur, dan jahe.

Metode budidaya kunyit terbilang mudah jika dibandingkan dengan tanaman lainnya. Hal pertama yang perlu diperhatikan yaitu dalam pemilihan bibit karena kualitas bibit berpengaruh pada kualitas hasil panen kunyit. Pilih bibit dari indukan yang umurnya mencapai 7-12 bulan. Tahap selanjutnya adalah penyemaian bibit yang bertujuan agar tanaman kunyit nantinya dapat tumbuh maksimal dan dapat beradaptasi. Penyemaian dilakukan dengan meletakkan bibit kunyit di suhu ruangan selama 1-1,5 bulan, ditambah dengan sirkulasi udara yang baik. Jika ingin bibit segera tersemai, dapat menggunakan larutan ZPT dan bibit direndam .selama 3 jam. Tahap ketiga adalah pengolahan tanah gembur dengan kompos dan pupuk kendang dengan perbandingan 2:1:1. Gunakan pot yang ideal dengan tinggi 40 cm dan diameter 20 cm. Kunyit akan dapat dipanen saat usianya mencapai 8 bulan.

Tanaman yang diolah menjadi jamu selanjutnya adalah kencur. Kencur dapat dibubidaya dengan metode urban farming. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bibit kencur. Gunakan bibit yang berusia 10 bulan yang telah memiliki calon tunas. Tahap selanjutnya adalah penyiapan tanah yang gembur dicampur dengan pupuk kendang atau kompos dengan perbandingan 4:1. Kencur akan dapat dipanen saat usianya mencapai 7-9 bulan.

Contoh tanaman terakhir yang digunakan untuk jamu adalah jahe. Seperti yang telah kita ketahui, jahe berkembang biak dengan cara rizhoma. Maka bibit jahe akan didapat dari potongan ruas jahe. Potong ruang jahe dan simpan di tempat yang lembab dan teduh hingga mata tunas muncul. Tanah dapat digantikan dengan bahan yang mudah menyerap air dan tidak menggenang contohnya sekam, arang, atau serbuk kayu. Tahap pemupukan dilakukan dengan mencampurkan Pupuk SP36 dengan KCL, perbandingannya adalah 1:1. Jahe akan dapat dipanen saat usianya mencapai 3-4 bulan.

Kesimpulannya, jamu adalah minuman yang tinggi khasiat mengingat komponen atau bahan-bahan yang digunakan di dalamnya merupakan rempah-rempah alami dari tanah Indonesia. Dewasa ini, jamu semakin surut perkembangannya karena dikenal pahit dan tidak enak. Untuk mendukung kaum muda dalam rangka melestarikan tradisi minum jamu, perlu diterapkan sebuah terobosan baru guna meningkatkan ketertarikan kaum muda tersebut. Metode urban farming dapat membantu para calon pengusaha untuk menghasilkan produk rempah-rempah bahan baku pembuatan jamu walaupun dengan lahan pertanian yang minim.

Referensi

Aslamiah S. UJICOBA HIDRIPONIK TANAMAN KENCUR DAN BAWANG DAYAK ( The Trial of Hydroponic on Kencur and Dayak’s Onion ). J Daun. 2016;3(1):46-53.

Hapsoh, Yahya H, Julianti E. Budidaya Teknologi Pasca Panen Jahe. Vol 3.; 2010.

Lavenia C, Adam AR, Dyasti JA, Ferbianti N. Tumbuhan Herbal dan Kandungan Senyawa pada Jamu sebagai Obat Tradisional di Desa Kayumas, Situbondo (Studi Ethnobotani). J KSM Eka Prasetya UI. 2019;1(5):1-9. https://ksm.ui.ac.id/wp-content/uploads/2019/10/Tumbuhan-Herbal-dan-Kandungan-Senyawa-pada-Jamu-sebagai-Obat-Tradisional-di-Desa-Kayumas-Situbondo.pdf

Anggun C, W. Budidaya Tanaman Kunyit (Curcuma domestica Val) Dan Khasiatnya Sebagai Obat Tradisional di PT. Indmira Citra Tani Nusantara JL. Kaliurang KM. 16,3 Sleman Yogyakarta. Published online 2012:1-50.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *