Irigasi Tetes, Strategi Menyiasati Kekurangan Air

Air merupakan salah satu komponen terpenting di dalam pertanian. Air menjadi faktor kunci dari keberlanjutan kesuksesan hasil pertanian. Dari jumlah air yang ada di dunia, 70% digunakan untuk kebutuhan sistem pertanian. Ada banyak manfaat air, terutama di bidang pertanian yaitu sebagai berikut.

  1. Membantu tanah di dalam lahan pertanian untuk menjadi basah sehingga memudahkan petani untuk menanam dan membajak lahan
  2. Membantu menyerap unsur hara oleh akar tanaman
  3. Membantu menyuburkan tanah karena air kaya akan unsur hara
  4. Membantu sistem metabolisme tanaman sehingga berpengaruh pada produktivitas tanaman
  5. Membantu memelihara suhu tanaman

Selain manfaat air yang begitu besar bagi pertanian, timbul masalah yang cukup meresahkan para petani yaitu ketersediaan air. Ketersediaan air sangat penting, tetapi pasokan air yang tidak menentu dan tidak dapat diduga terutama pada musim kemarau dapat mengancam pertumbuhan tanaman. Maka dari itu, diperlukan sebuah upaya dan strategi untuk menyiasati permasalahan tersebut guna mempertahankan produktivitas pertanian. Salah satu strategi tersebut adalah penerapan irigasi tetes.

Dalam kehidupan pertanian, pengairan tanaman disebut irigasi. Irigasi berasal dari Bahasa Inggris yaitu ‘irrigation’ dan Bahasa Belanda yaitu ‘irrigate’ yang artinya adalah pengairan dan penggenangan. Irigasi atau pengairan adalah suatu bentuk upaya mengairi lahan pertanian untuk menunjang kerja pertanian. Ada banyak macam sistem irigasi, salah satunya yaitu irigasi tetes. Irigasi tetes (drip irrigation atau trickle irrigation) adalah salah satu jenis irigasi yang sistem pendistribusian airnya dilakukan dengan menggunakan pipa atau selang berlubang yang diatur dengan debit air dan tekanan-tekanan tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penerapan irigasi tetes bertujuan supaya air dapat langsung menuju ke akar tanaman tanpa harus membasahi lahan sehingga meminimalisir kemungkinan air yang terbuang. Irigasi tetes dapat diterapkan pada daerah yang ketersediaan airnya terbatas atau mahal, tanaman yang ditanam memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dan tanah yang sukar didatarkan. Irigasi tetes ini memanfaatkan energi gravitasi bumi untuk mengalirkan air.

Secara umum, irigasi tetes memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan sistem irigasi lainnya yaitu sebagai berikut.

  1. Menghemat tenaga kerja karena sistem irigasi tetes dioperasikan secara otomatis
  2. Menghemat waktu
  3. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemberian pupuk dan bahan kimia karena pupuk dan bahan kimia tersebut langsung dicampurkan ke air irigasi. Frekuensi pupuk dan bahan kimia dapat ditekan jumlahnya karena pendistribusiannya hanya di sekitar akar tanaman
  4. Meningkatkan nilai guna air karena air yang digunakaan cenderung lebih sedikit daripada sistem irigasi lainnya
  5. Menekan pertumbuhan gulma karena pendistribusian air terbatas yaitu hanya di sekitar tanaman

Selain keunggulan-keunggulan yang dimilikinya, irigasi tetes juga memiliki beberapa kekurangan. Namun, jika petani memikirkan investasi jangka panjang, penggunaan irigasi tetes adalah hal yang tepat. Dengan menggunakan alat dan bahan berkualitas, irigasi tetes dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Namun, bukan berarti sebagai petani kita bisa mengabaikan kekurangan tersebut.

  1. Membutuhkan perawatan yang intensif, khususnya pada emitter karena seringkali tersumbat
  2. Dapat terjadi penumpukan garam, khususnya pada air yang kadar garamnya tinggi
  3. Biaya cukup tinggi

Sebelum menerapkan sistem irigasi tetes, perlu dilakukan beberapa survei untuk mengetahui jumlah tanaman di lahan pertanian. Selain itu, survei dilakukan untuk mengetahui jarak antar tanaman agar jumlah pipa dan hal-hal lainnya dapat disesuaikan sebelum pemasangan sistem irigasi tetes. Pendistribusian air pada sistem irigasi tetes ini dilakukan menggunakan alat aplikasi yang mengatur jumlah air dan tekanan yang diperlukan di sekitar akar tanaman. Pada umumnya, sistem irigasi tetes memiliki beberapa komponen yaitu sebagai berikut.

  1. Unit utama yang terdiri atas pompa, saringan utama, tangki injeksi, dan komponen pengendali yang mencakup pengukur debit, pengukur katup, dan pengukur tekanan
  2. Pipa utama yang dipasang di atas atau di bawah permukaan tanah, biasanya terbuat dari pipa polyvinylchloride (PVC), besi cor, atau galvanized steel yang diameternya ada di antara 7,5-25 cm
  3. Pipa pembagi yang dilengkapi dengan regulator tekanan, katup solenoid, katup pembuang, dan pengukur tekanan. Pipa pembagi biasanya terbuat dari pipa polyvinylchloride (PVC) atau pipa high density polyethylene (HDPE) yang diameternya ada di antara 50-75 mm
  4. Pipa lateral yang merupakan pipa tempat penetes dipasang
  5. Penetes (emitter) yang fungsinya sebagai penyalur air dari pipa lateral ke tanah di sekitar tanaman secara kontinu, debit air rendah, dan tekanan yang mendekati tekanan atmosfer
  6. Tabung marihot yang berfungsi untuk mengalirkan air dengan mengandalkan ketinggian dan gaya gravitasi bumi. Aliran air yang mengalir akan sesuai dengan tekanan atmosfer. Tabung marihot menjadi tabung penampung air irigasi dan larutan nutrisi yang dibutuhkan tanaman

Penggunaan pipa untuk irigasi tetes terdapat banyak jenisnya, Di pasaran, terdapat tiga model pipa yang cukup mudah untuk ditemui. Model pertama yaitu pipa biasa yang belum terlubangi, berwarna bening dan hitam, harganya lebih terjangkau, tetapi petani harus melubangi sendiri pipa tersebut. Model kedua yaitu pipa yang sudah terlubangi saat dibeli. Harganya lebih mahal daripada pipa model biasa, tetapi semburan air yang dihasilkan cenderung lebih seragam. Model ketiga yaitu model pipa irigasi tetes yang kualitasnya lebih baik daripada dua pipa lainnya. Pipa jenis ini didesain meneteskan air dengan perlahan melalui lubang yang diameternya ada di sekitar 20-60 cm. Cara-cara untuk pemasangan sistem ini yaitu sebagai berikut.

  1. Pengukuran panjang seluruh bedengan yang nantinya akan dipasangi pipa agar petani mengetahui jumlah pasti panjang pipa yang dibutuhkan
  2. Menghubungkan pipa utama dengan pipa pembagi dengan sebuah penghubung yaitu shok drat dalam dan shok drat luar
  3. Shok dart yang dipasang di pipa utama lubangnya lebih besar daripada pipa utamanya supaya kuat dan tidak terjadi kebocoran air. Untuk memastikan tidak ada kebocoran, gunakan ring yang terbuat dari karet bekas ban motor
  4. Setelah shok dart dengan pipa utama dan pipa pembagi sudah terpasang, ujung pipa pembagi ditutup dan pompa dihidupkan untuk mengetahui apakah pipa pembagi dapat berfungsi dengan baik atau tidak

Kesimpulannya, irigasi tetes pada umumnya merupakan sistem irigasi yang mengutamakan penghematan penggunaan air yang cocok digunakan di daerah yang mengalami musim kemarau. Walaupun biayanya terbilang tinggi, tetapi irigasi ini merupakan sebuah bentuk investasi jangka panjang bagi petani untuk tanamannya.

Referensi

Jalan R, Flobamora GOR, Teknik J, Fst S. Jurnal Teknik Sipil Vol. III, No. 1, April 2014. 2014;III(1):13-18.

Nurseto HE, Nugraha DA. Strategi Petani Dalam Menghadapi Kekurangan Air: Studi Kasus Di Daerah Irigasi Wanir, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Agribisnis dan Sos Ekon Pertan. 2017;2(1):205-290.

Ridwan D. Model of Drip Irrigation Network with Local Material Based for Agricultural Small Land. J Irig. 2013;8(2):90. doi:10.31028/ji.v8.i2.90-98

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *