Irigasi Sistem Ponsel sebagai Jangkauan Ketertarikan Kaum Milenial

Di era saat ini, kebutuhan air sudah tidak terbantahkan lagi. Air benar-benar diperlukan oleh berbagai jenis makhluk hidup, mulai dari khalayak manusia hingga tumbuh-tumbuhan. Air merupakan salah satu elemen penting dan kunci kehidupan bagi tumbuhan, hampir seluruh tumbuhan memerlukan air sebagai unsur hara agar dapat tumbuh dan berkembang. Tanpa air, tumbuhan akan sulit bertahan hidup dan melakukan fotosintesis. Maka dari itu, air merupakan hal wajib yang harus dipertahankan keberadaannya. Sama halnya dengan perolehan air untuk tanaman di lahan pertanian.

Lahan pertanian umumnya membutuhkan air yang cukup agar dapat memberikan hasil yang lebih optimal. Jika terjadi kekeringan, peran irigasi sangat dibutuhkan supaya produksi pangan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tanpa adanya irigasi di suatu lahan yang minim air, produksi pangan akan sulit dijalankan sehingga merugikan berbagai pihak, entah pihak petani sendiri entah pihak konsumen. Petani akan sulit mendapatkan biaya hidup yang biasa ia peroleh dari hasil usaha produk pertaniannya. Sementara itu, pihak konsumen tentu saja menginginkan pangan dengan kualitas terbaik supaya bisa tetap hidup dengan sehat.

Di sisi lain daripada kesulitan-kesulitan tersebut, para petani sedang menunggu kontribusi kaum milenial untuk membangun dunia pertanian. Bagi kaum milenial, “panas, lelah, dan kotor” mungkin begitu melekat dengan kata “pertanian” sehingga mereka lebih memilih mengambil profesi selain petani. Akibatnya, peminat bidang pertanian dari generasi ke generasi kian berkurang. Namun, solusi akan selalu ada. Pertanian tidak selamanya terkait dengan 3 kata tersebut. Salah satunya adalah penggunaan teknologi berupa ponsel untuk melakukan sistem irigasi. Metode ini sudah mulai digunakan di beberapa wilayah. Hasil yang diberikan pun cukup positif. Sebelumnya, mari kita mengenali irigasi terlebih dahulu.

Irigasi atau pengairan adalah usaha menyediakan atau mengalirkan air dengan membuat bangunan dan saluran untuk keperluan pengairan lahan pertanian. Istilah irigasi sendiri diambil dari bahasa Belanda irrigate dan dalam bahasa Inggris yaitu irrigation yang berarti pengairan. Umumnya, tujuan irigasi memang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian yang minim air ataupun untuk meningkatkan produksi pangan. Namun, irigasi ternyata memiliki fungsi lain, yaitu sebagai pembersih tanah, pemberantas hama, pengatur suhu tanah, dan juga dapat meminimalisir resiko erosi tanah. Adapun jenis-jenis irigasi ada 4, yaitu irigasi gravitasi (gravitational irrigation), irigasi bawah tanah (sub surface irrigation), irigasi siraman (sprinkler irrigation), dan irigasi tetesan (drip irrigation). Akan tetapi, metode irigasi modern via ponsel secara umum menggunakan irigasi tetesan dan irigasi siraman.

Saat ini, sistem irigasi sudah sangat banyak diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai kekeringan berhasil diatasi dengan sistem irigasi, terutama di daerah minim air dan saat musim kemarau. Salah satu contohnya adalah sistem irigasi yang berlokasi di salah satu kota di Provinsi Jawa Timur. Menurut salah satu petani, sebelum diberlakukannya sistem irigasi para petani hanya bisa memanfaatkan air hujan dan memompa air dari sumur sawah yang mana debitnya bisa saja menyusut kala musim kemarau. Namun, sejak sistem irigasi dibangun oleh dinas pertanian, para petani sudah bisa mengairi beberapa hektare sawah di wilayahnya walaupun di musim kemarau.

Kini, sistem irigasi sudah lebih canggih dari sekadar pengairan. Dengan memanfaatkan fasilitas berupa ponsel dan sinyal internet, petani bisa mengendalikan sawahnya dari jarak jauh. Teknologi ini salah satunya dikembangkan oleh Habibi Garden, perusahaan yang mengembangkan berbagai inovasi di bidang teknologi pertanian. Salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah perangkat digital sistem irigasi otomatis via IoT (Internet of Things). Dengan perangkat sistem irigasi tersebut, masalah kekeringan seperti yang diberlakukan pada para petani bawang di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung berhasil diselesaikan. Jenis sistem irigasi yang dilakukan adalah sistem sprinkler irrigation, didukung berbagai fasilitas dan alat-alat sistem irigasi sebagai berikut :

  • Sprinkler

Sprinkler adalah alat utama dalam sistem sprinkler irrigation, alat ini memancarkan air yang nantinya berguna untuk penyiraman tanaman. Alat ini dipasang di wilayah lahan pertanian.

  • Selang

Alat ini yang menyalurkan air dari sumber utama ke pipa yang terhubung ke sprinkler di lahan pertanian.

  • IP Smart Camera

IP Smart Camera merupakan jenis teknologi kamera digital yang dapat terhubung ke jaringan untuk pengiriman ataupun penerimaan video. Alat ini dipasang di sekitar lahan untuk memantau perkembangan fisik tanaman dan kondisi lahan secara realtime. 

  • Habibi Ground Sensor (GS) dan Habibi Automatic Weather Stations (AWS)

Habibi Ground Sensor merupakan alat sensor yang dapat membantu memantau iklim mikro dan kondisi media tanam seperti kondisi mineral tanah, pH, suhu, dan kelembaban tanah. Sedangkan, Habibi Automatic Weather Stations yang memantau kondisi di sekitar kebun seperti kondisi cuaca, curah hujan, suhu, kecepatan angin, kelembaban, dan intensitas cahaya, yang mana data-data tersebut dapat digunakan untuk memprediksi hama dan penyakit pada tumbuhan. Setelah itu, informasi yang dikumpulkan akan dikirimkan melalui aplikasi Habibi Garden di smartphone.

  • Tower

Tower adalah tempat penyimpanan cadangan air yang nantinya akan digunakan untuk penyiraman tanaman.

  • Serta beberapa peralatan lainnya

Tujuan utama Habibi Garden yaitu ingin membantu petani dalam kegiatan irigasi yang mana semakin tahun regenerasi petani muda semakin berkurang, sehingga sulit bagi petani untuk mendapatkan tenaga kerja baru. Permasalahan lainnya adalah ketika musim kemarau masih banyak petani yang mengandalkan air hujan, sehingga akan kesulitan melakukan penyiraman. Sebelumnya, petani membutuhkan 8 orang per hektare untuk penyiraman selama 3 hari. Dengan adanya sistem irigasi otomatis ini, dengan 2 orang saja penyiraman bisa dilakukan selama beberapa jam.

Teknologi seperti inilah yang menjadi sasaran utama untuk menarik generasi milenial yang umumnya lebih mengutamakan sisi praktis untuk mencapai tujuan ataupun keinginan. Tidak hanya praktis, teknologi ini juga lebih nyaman, mudah, efektif, dan tidak melelahkan untuk digunakan oleh para petani karena lahan pertanian kini dapat dikendalikan dan di-monitoring secara mudah dari jarak jauh hanya dengan memanfaatkan sinyal internet dari ponsel yang terhubung langsung ke instalasi irigasi di lahan pertanian. Dengan cara tersebutlah dunia pertanian dapat kembali menjangkau generasi milenial untuk ikut membangun dan memajukan komoditas pangan di Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Riadi, Muchlisin. 2018. “Pengertian, Tujuan, dan Jenis-Jenis Irigasi”, https://www.kajianpustaka.com/2018/11/pengertian-tujuan-dan-jenis-jenis-irigasi.html#:~:text=Menurut%20Standar%20Perencanaan%20Irigasi%20KP,Membasahi%20tanaman, diakses pada 9 November 2020.

Nugroho, Adi. 2020. “Irigasi Tanah Dangkal Siasati Kekeringan di Lahan Pertanian”, https://radarkediri.jawapos.com/read/2020/09/21/215033/irigasi-tanah-dangkal-siasati-kekeringan-di-lahan-pertanian, diakses pada 9 November 2020.

Rajamin, Irsan. 2020. “Habibi Garden sebagai Pengembang Teknologi Sistem Irigasi”, Hasil Wawancara Pribadi: 11 November 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *