Hutan Mangrove Sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global ( Global Warming )

Pemanasan global dikala ini jadi isu lingkungan yang sangat utama sebab memiliki dampak yang sangat besar untuk bumi antara lain perubahan iklim di bumi serta peningkatan kenaikan permukaan laut. Kenaikan karbon dioksida di atmosfer merupakan salah satu pemicu terbanyak terbentuknya pemanasan global. Salah satu pemicu timbulnya pemanasan global ini merupakan penyusutan tutupan lahan akibat penggundulan hutan baik oleh penduduk ataupun pelaksana agribisnis perkebunan yang tidak mengindahkan peraturan yang terdapat. Tetapi sektor transportasi ialah penyumbang utama pencemaran udara yang menyebabkan pemanasan global di bumi. Dulu di tahun 1990 dari total emisi partikulat( debu), serta sebagian besar Timbal, CO, HC serta NOX di bumi disebabkan oleh transportasi darat, konsentrasi utama ada di daerah dengan kondisi lalu lintas yang padat, dimana tingkatan pengeluaran CO₂ telah ataupun sudah akan melampaui Standard mutu udara. Kendala kesehatan bisa disebabkan oleh konsentrasi yang kelewatan dari pencemaran ini. Sejalan dengan perkembangan pada sektor transportasi, hingga pemakaian bahan bakar di Indonesia diproyeksikan meningkat besar. Pada tahun ini separuh dari jumlah penduduk Indonesia hendak mengalami kasus pencemaran udara di bumi, yang didominasi oleh emisi dari kendaraan bermotor. Perihal itu membuat meningkatnya temperatur di permukaan bumi. Meningkatnya suhu global diperkirakan hendak menimbulkan perubahan- perubahan antara lain

  1. Berubahnya pola arah angin
  2. Populasi dan jenis organisme penyebab penyakit bertambah semua itu akan berdampak terhadap kesehatan makhluk hidup.
  3. Siklus Hidrologi dan curah hujan mengalami perubahan
  4. Badai atmosferik meningkat
  5. Perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem alami lainnya

Terdapat salah satu pemecahan masalah yang bisa dipakai untuk mendapati pemanasan global ini ialah dengan membuat ataupun memperbanyak kemampuan hutan mangrove. Pelestarian hutan mangrove sangat berguna dicoba dalam mitigasi transformasi iklim global sebab tanaman mangrove meresap karbon dioksida serta mengubahnya jadi karbon organik yang ditaruh dalam biomassa badannya.

Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang terletak di tepi pantai yang keberadaannya dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut. Ekosistem mangrove di wilayah tepi laut yang terlindungi terletak di antara tingkat pasang naik paling tinggi sampai tingkat di dekat ataupun di atas permukaan laut rata- rata serta jadi pendukung bermacam tipe ekosistem di sejauh garis tepi laut. Khasiat ekosistem mangrove sebagai mitigasi bencana alam, semacam peredam ataupun memperkecil skala gelombang serta angin badai untuk wilayah yang terdapat di belakangnya, melindungi tepi laut dari abrasi gelombang air pasang, tsunami dan bisa jadi penetralisir pencemaran perairan.

Ekosistem mangrove pula bisa selaku obyek daya tarik wisata alam serta atraksi ekowisata dan selaku sumber tumbuhan obat. Ekosistem mangrove berperan selaku habitat bermacam tipe hewan. Ekosistem mangrove pula berfungsi penting dalam pengembangan perikanan tepi laut sebab ialah tempat berkembang biak serta membesarkan anak untuk sebagian tipe ikan. Plankton yang hidup di perairan mangrove lebih banyak dibanding di perairan terbuka. Hutan mangrove sediakan proteksi serta santapan berbentuk bahan organik. Bagian kanopi mangrove juga ialah habitat untuk bermacam tipe hewan darat. Kayu tumbuhan mangrove bisa digunakan untuk bermacam keperluan.  Berartinya peranan mangrove dalam mitigasi pemanasan global, menjadikan isyarat supaya melaksanakan konservasi terhadap ekosistem mangrove di  dunia, Indonesia khususnya.

Perkembangan tumbuhan lewat hasil fotosintesis setelah itu digunakan oleh tanaman untuk melangsungkan perkembangan ke arah horisontal serta vertikal. Oleh sebab itu, menjadi besarnya diameter diakibatkan oleh penyimpanan biomasa hasil konversi CO₂ yang terus meningkat besar bersamaan dengan terus menjadi banyaknya CO₂ yang diserap tumbuhan tersebut. Secara universal hutan dengan net growth( paling utama pohon- pohon yang tengah terletak dalam fase perkembangan) sanggup meresap lebih banyak CO₂, sebaliknya hutan dewasa dengan perkembangan yang kecil menahan serta menaruh persediaan karbon namun tidak bisa meresap CO₂ ekstra. Biomassa dari penyerapan karbon merupakan upaya hutan untuk membuat pemulihan lingkungan dengan pengurangan CO₂

Mangrove mempunyai kemampuan yang sangat besar dalam upaya mitigasi pemanasan global sebab mangrove nyatanya sanggup meresap CO yang sangat besar. Mangrove menyimpan karbon lebih banyak daripada ekosistem lainnya. Oleh karena itu, mangrove butuh dilestarikan, akan tetapi dalam upaya pelestarian mangrove ini sangat dibutuhkan kedudukan bermacam pihak supaya pelestarian dapat berjalan dengan baik serta sukses. Tidak cuma selaku upaya mitigasi pemanasan global semata pastinya namun pula memikirkan sisi sosial ekonomi serta politik dari bermacam pihak. Ekosistem pesisir tepi laut yang berbentuk hutan mangrove dan rawa pasang surut melakukan mitigasi pergantian iklim dengan metode meresap gas karbon dioksida(CO₂) dari atmosfer serta samudra dengan tingkatan yang lebih besar per satuan luas, dibanding dengan penyerapan dari hutan daratan. Saat ekosistem pesisir  dikonversikan untuk pemakaian lahan lain, dalam jumlah besar simpanan karbon biru di tanah terbuka dilepaskan seperti CO₂ ke dalam samudra dan atmosfer. Tingkatan kehilangan ekosistem pesisir yang terdapat dikala ini bisa menimbulkan 0,15–1,02 miliyar ton CO₂ dilepaskan tiap tahunnya. Ditaksir akibat gas rumah kaca dari konversi ekosistem pesisir mencakup penyusutan penyerapan serta bukan pelepasan karbon, sehingga nilainya jauh lebih rendah dari nilai aslinya. Menurut analisis terkini hilangnya 3 ekosistem penyerapan karbon biru tiap tahunnya menimbulkan emisi(0,45 Pg CO₂) yang 2 seragam dengan emisi CO₂ tahunan.

Keadaan kehancuran ekosistem mangrove di Indonesia terkategori rusak berat menggapai luas 42% serta kondisi rusak seluas 29% yang melebihi separuh dari ekosistem mangrove yang terdapat. Kehancuran ekosistem mangrove disebabkan oleh siklus alam serta kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Akibat kehancuran ekosistem mangrove mengakibatkan turunya kemampuan ekosistem untuk memilah sampah organik, menurunnya keanekaragaman hayati di daerah pesisir dan juga meningkatnya abrasi di daerah pantai yang pastinya sangat berpengaruh pada pemanasan global. Kehancuran ekosistem mangrove secara besar berdampak terhadap adanya global warming yang sangat  berpengaruh untuk keberlangsungan kehidupan makhluk hidup. Upaya yang dilakukan untuk memperkecil skala penambahan global warming yaitu bisa melalui  pendekatan kepada  masyarakat, pembangunan pelindung tepi laut, pemulihan hutan dengan reboisasi, pembuatan hutan mangrove, serta pendekatan ekonomi.

 

Referensi

Adilah Dinilhuda, A. A. (n.d.). PERAN EKOSISTEM MANGROVE BAGI MITIGASI PEMANASAN  GLOBAL

http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jtsuntan/article/download/31233/75676580269

Gunggung Senoaji, M. F. (2016). PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM . J.Manusia dan Lingkungan .

https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *