Embung Sebagai Alternative dalam Menghadapi Krisis Air dalam Pertanian

Air menjadi unsur penting bagi keberhasilan hidup semua makhluk, tidak hanya manusia yang membutuhkan asupan air untuk keperluaan tubuhnya, juga tanaman yang membutuhkan air dalam proses pertumbuhannya, tanah pula membutuhkan air untuk menstabilkan kadar kandungan di dalamnya. Maka perlu suatu cara untuk menjadi sarana mengatasi kekrisisan air, dan embung menjadi salah satu caranya.

Embung adalah bangunan konservasi yang berbentuk cekungan serta lebih rendah dari daratan dan merupakan salah satu cara membudidayakan pemanenan air hujan. Embung ini pula dapat dikatakan waduk yang berukuran kecil, dengan menggunakan sistem penampungan air hujan, air limpasan (runoff), maupun air berlebih dari sumber lain. Adanya embung ini dapat menjadi sumber air untuk pertanian jikalau kemarau.

Manfaat Embung

Banyak ide atau wawasan untuk mengatasi suatu problematika dalam mengatasi krisis air, dan salah satunya ialah pemanfaatan embung. Berikut beberapa manfaat yang ditimbulkan dari embung :

  1. Mengatasi kelebihan air hujan, curah hujan yang berlebih sangat tidak bagus bagi tanah, karena bisa menyebabkan erosi pada tanah. Saat hujan turun secara dratis dan terus menerus bisa mengakibatkan banjir. Oleh sebab itu embung bisa mencegah permasalahan tersebut dengan menampung air hujan yang berlebih.
  2. Mengatasi kekurangan air, saat kemarau tiba kuantitas air menjadi menurun dan penggunaan air perlu untuk dipenuhi. Maka harus ada upaya untuk mengatasi kekurangan air tersebut, sebab suatu pertanian akan mengalami kerugian akibat tanamannya yang gagal panen, atau para masyarakat yang tidak bisa mendapatkan air untuk aktivitas setiap harinya. Embung inilah yang akan menjadi irigasi bagi pertanian dan sumber air jika krisis air mulai datang.
  3. Tempat pariwisata, banyak orang yang berkunjung sekedar melihat, berfoto dan mempelajari tentang embung tersebut. Karena tempatnya yang menyatu dengan alam menjadi daya tarik sendiri para masyarakat untuk menjadikan embung sebagai tempat pariwisata, apalagi tempatnya yang sejuk, memberikan kesan ketenangan bagi para pengunjungnya.

Jenis-Jenis Embung

Ada beberapa jenis embung yang dapat kita kelola, di bawah ini merupakan jenis-jenis yang tergolong dalam 4 golongan, diantaranya :

  • Embung berdasarkan dari tujuan pembuatannya
  1. Embung tujuan tunggal (single purpose dams), yakni pembuatan embung hanya terfokus untuk satu tujuan, seperti pembuatan embung untuk irigasi saja atau pencegahan banjir saja.
  2. Embung multifungsi (multipurpose dams), ialah embung yang pembuatannya mempunyai tujuan yang beragam, seperti untuk irigasi pertanian, pencegah banjir ataupun sumber air kedua.
  • Embung berdasarkan penggunaannya
  1. Embung penampung air (storage dams), ialah embung yang berfungsi untuk menyimpan air dikala pemasukan air lebih besar daripada pengeluaran air, dan akan dipakai jika terjadi kekurangan air.
  2. Embung pembelok (diversion dams), yaitu embung yang fungsi mengalirkan air ke daerah yang memerlukan air.
  3. Embung penahan (detention dams), yakni berfungsi untuk mengurangi resiko ataupun mencegah terjadinya banjir, akibat dari hujan panjang dan deras, sehingga pasokan air berlebih.
  • Embung berdasarkan jalannya air
  1. Embung untuk dilewati air (overflow dams), sebagai bangunan yang digunakan untuk jalan pelimpasan air supaya mengalir.
  2. Embung untuk menahan air (non overflow dams), fungsinya sama dengan embung penahan, yakni hanya sebagai penahan air supaya tidak terjadi banjir, dan tidak untuk jalan air limpasan
  • Embung berdasarkan material pembentukkannya
  1. Embung urugan (fill dams, embankment dams), embung yang materi pembuatannya tidak ada campuran bahan lainnya, seperti bahan kimia. Jadi dari proses penggalian sampai jadi embung hanya bahan asli dalam pembuatan embung.
  2. Embung beton (concrete dam), material pembuatannya dari bahan beton, yaitu pencampuran pasir, kerikil, dan semen portland atau hidrolik.

Kriteria Pembuatan Embung

Pembuatan embung yang baik dapat kita lihat dalam mengikuti kriteria ataupun saran yang ada. Berikut ini kriteria pembuatan embung agar mendapatkan manfaat yang maksimal dalam pengelolaan embung.

  1. Lokasi, disarankan letak embung merupakan lahan dengan tanah yang memiliki potensi penyerapannya sedikit, agar tanah yang di tampung tidak cepat menyusut ke dalam tanah. Penempatan embung juga sebaiknya dekat dengan sumber air, supaya jikalau terjadi hujan, air yang masuk ke sumber air tidak melebihi kapasitas sumber air tersebut, dan dapat dialirkan ke dalam embung. Serta akan lebih baik lagi jikalau letak embung dekat dengan lahan pertanian, untuk memudahkan pengaliran air pada tanaman.
  2. Ukuran, untuk embung yang sifat kepemilikannya individual dapat dibuat dengan ukuran 10 m x 5 m dan kisaran kedalamnya antara 2-3 m. Embung yang sifat kepemilikannya berkelompok disarankan untuk mengkaji lebih dalam dengan beberapa pihak terkait.
  3. Bentuk, embung kecil disarankan dibuat dengan bentuk persegi ataupun persegi panjang, supaya resapan air pada tanggul dapat meresap sedikit agar tidak terjadi penyusutan air berlebih ke dalam tanah, dan untuk embung besar dapat disesuaikan dengan keadaan lahan dan alam sekitar.

Tahap Pembuatan Embung

Dalam pembuatannya, embung mempunyai tahapan dalam proses pembuatannya, ini beberapa tahapan dalam pembuatan embung :

  1. Membentuk permukaan embung, menggali embung dengan penyesuaian terhadap gambar sketsa embung sebelumnya. Pembuatan embung biasanya memiliki volume minimal sekitar 170 m3 , tergantung besar atau kecil embung tersebut.
  2. Membuat tambahan sumber air, dengan menggali atau membuat saluran penghubung antara embung dan juga sumber air lainnya seperti sungai, danau, dan aliran limpasan lainnya.
  3. Membuat dinding pingir embung, buatlah dinding yang miring ataupun tegak, sesuaikan dengan kedalaman embung, biasanya 2-3 m. Bahan pembuatan dinding dapat menggunakan beton atau batu bata.
  4. Membuat saluran pemasukan, dibuatnya saluran pemasukan agar saluruh penghubung anatara embung dan sumber air lain terarah, biasanya dapat di buat pintu pembuka atau penutup dengan sekat balok, untuk menghentikan atau mengalirkan air dari sumber lain.
  5. Membuat saluran pembuangan, pada saat ada saluran pemasukkan pasti adapula saluran pembuangan. Saluran pembuangan ini berfungsi untuk mengalirkan air kepada lahan atau daerah yang membutuhkan air.

Embung ini sangat cocok diterapkan dalam kawasan yang kebanyakan masyarakat dan petaninya mengalami krisi air ataupun kawasan yang selalu memiliki curah hujan yang tinggi, agar tidak menimbulkan kebanjiran. Selain itu untuk memanfaatkan embung dengan maksimal, kita bisa menanam tanaman di sekitar embung, contoh nya jagung, kacang tanah, kacang panjang, kedelai, maupun sayuran yang dapat diterapkan dengan irigasi tetes. Karena untuk mengurangi pengeluaran air yang berlebih.

 

Daftar Pustaka

Irianto, S. G. (2007, Januari). Pedoman Teknis Konservasi Air Melalui Pembangunan Embung. Retrieved from https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/embung/

Jagatpratista, E., & Imron, M. (2008). Perencanaan Embung Panohan Kec. Gunem Kab. Rembang. BAB 2 DASAR TEORI, 3-5.

Purwadi, A. (2020, Juli 29). MANFAAT EMBUNG DAN KATEGORI PEMBANGUNANNYA. Retrieved from https://grudo.ngawikab.id/2020/07/manfaat-embung-dan-kategori-pembangunannya/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *