Drainase Kesuburan Lahan Rawa

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki rawa-rawa yang luas, dengan potensi rawa diperkirakan mencapai 39,4 juta hektar. Munculnya tren penurunan pasokan pangan dunia mengindikasikan bahwa krisis pangan telah mendorong pemerintah untuk meningkatkan upaya perluasan areal lahan subur di rawa-rawa sebagai sumber daya lahan.

Untuk berbagai kegiatan yang telah dimasukkan ke dalam kawasan rawa sumber daya yang tersimpan di kawasan rawa. Misalnya, dalam rangka meningkatkan fungsi dan kemanfaatan masyarakat luas, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar, telah dilakukan reklamasi dan pembukaan lahan. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, pemerataan penduduk, serta mempercepat pembangunan daerah dan ketahanan nasional.

Produksi pangan akan meningkat, Jika rawa dapat meningkatkan kesuburan tanah, maka produksi pangan akan meningkat. Sistem drainase yang ada sangat mempengaruhi keberhasilan rencana peningkatan produksi pangan dengan pemberdayaan lahan rawa. Drainase biasanya mempengaruhi kondisi tanah di pertanian, seperti kelembaban tanah, aerasi tanah, ketersediaan nutrisi dan pestisida, suhu atau suhu tanah, zat beracun dan hama, erosi dan banjir tanah, kesuburan tanaman dan hasil panen. Pengaruh ini akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan kita dalam mengelola rawa pertanian. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana mekanisme drainase atau jaringan penyediaan air di rawa akan berfungsi jika lahan rawa dijadikan lahan pertanian, sehingga diharapkan hasil pertanian dapat mendukung perekonomian seluruh masyarakat.

Dari perspektif pertanian, semua dampaknya positif dan menggambarkan nilai teknologi drainase untuk produksi pertanian. Untuk mendapatkan dampak positif dari segi pertanian, diterapkan dua konsep sistem drainase, yaitu dengan pencucian dan pembuatan saluran drainase dangkal.

Menyelesaikan masalah terhadap pengaruh aerasi tanah dalam proses drainase bawah tanah, air mengalir di antara partikel-partikel tanah, yang menyebabkan penurunan kandungan oksigen dan O2 di sekitar akar tanaman serta peningkatan kandungan karbondioksida dan CO2 di dalam tanah. Proses ini menyebabkan peningkatan aerasi tanah dan menyebabkan peningkatan serapan nitrogen oleh tanah. Semua ini akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Drainase yang baik merupakan hasil aerasi tanah yang baik. Di rawa, untuk meningkatkan aerasi tanah dapat dilakukan dengan membuat sistem kompartemen. Diharapkan air permukaan dan air tanah akan dibuang dari darat melalui sistem ini. Hal ini menyebabkan muka airtanah turun dan meningkatkan aerasi tanah.

Pengaruh kelembaban tanah yaitu permeabilitas yang rendah, kondisi medan yang datar dan waktu infiltrasi yang lama akan menyebabkan peningkatan kadar air tanah. Tanah yang mengalami kelembaban tinggi akan membuat tanah menjadi jenuh sehingga dapat menyebabkan pemadatan tanah. Akibatnya pergerakan partikel air dalam tanah terhambat, sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk mengatasi kejenuhan tanah tersebut dapat dilakukan dengan pembuatan saluran drainase permukaan dan drainase bawah tanah. Ketersediaan nutrisi dan pestisida Drainase pertanian, baik itu drainase permukaan atau drainase bawah tanah, terkadang mengandung konsentrasi nutrisi dan bahan kimia yang cukup, sehingga sangat penting untuk mencemari lingkungan. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu dibuat saluran drainase terbuka (open channel) yang mengalirkan langsung ke saluran utama. Tanah yang belum dikeringkan akan mendingin dan menghambat pertumbuhan tanaman. Di rawa-rawa, suhu tanah relatif rendah karena tanah selalu tergenang air. Begitu proses drainase terjadi yaitu airtanah dibuang maka suhu tanah akan naik dengan cepat. Untuk meningkatkan suhu tanah, drainase harus dilakukan. Bentuk drainase yang dibutuhkan adalah drainase permukaan karena proses pengolahan air akan lebih cepat.

Emisi bahan beracun dan hama membantu menghilangkan bahan beracun dan penyakit yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan menyebabkan gagal panen. Manfaat tanaman adalah tanaman hidup lebih subur dan produktif, yang pada akhirnya meningkatkan nilai ekonomi. Bentuk drainase yang dibutuhkan adalah bentuk drainase permukaan yang merupakan bentuk saluran terbuka.

Erosi tanah dan banjir untuk meningkatkan drainase bawah tanah lahan pertanian memiliki efek positif dan negatif terhadap hidrologi dan kualitas air permukaan. Dampak hidrologi yang signifikan pada drainase bawah tanah termasuk penurunan muka air tanah, memperpendek waktu banjir, meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan, dan mengurangi aliran bawah tanah. Jika rawa digunakan sebagai produksi pertanian, drainase harus diperbaiki untuk menghentikan aliran air dan menghambat erosi tanah. Drainase bawah tanah akan mengurangi risiko erosi tanah dan meningkatkan jumlah drainase untuk mencegah risiko banjir.

Konsep sistem drainase biasanya memiliki dua konsep untuk mencegah dan memperbaiki kondisi tanah dan air yang tidak menguntungkan di rawa.

  1. Pencucian Lahan (Leaching) adalah pencucian agar tidak bersifat asam, yaitu membuang zat-zat beracun (racun) di rawa melalui proses drainase. Tanah yang dicuci adalah tanah di zona perakaran. Ketinggian airtanah tetap relatif terhadap tanah dan harus selalu berada di atas lapisan tanah pirit. Jika muka airtanah lebih rendah dari pada lapisan tanah pirit maka lapisan tanah pirit tersebut akan teroksidasi. Oleh karena itu, pada akhir musim hujan akan terbentuk asam sulfat (H2SO4). Untuk menjaga muka airtanah di atas lapisan tanah pirit, digunakan pintu air. Proses pencucian tanah dilakukan dengan pemberian air baku dengan volume drainase 12-14 mm / hari. Paling efektif adalah saat musim hujan atau air pasang. Metode ini mudah diterapkan di rawa-rawa dekat sungai atau kanal-kanal besar, di mana air secara teratur akan membanjiri daratan saat air pasang. Untuk mempercepat proses pelindian dibuat pipa drainase sekunder, saluran drainase sangat rapat, banyak yang pendek. Di beberapa tempat, tanaman padi berkinerja baik di musim hujan.
  2. Drainase dangkal adalah membuang zat beracun (toksin) melalui oksidasi dan drainase daerah perakaran. Dengan membentuk parit yang dangkal, ketinggian muka airtanah dipertahankan pada kedalaman 0,40-0,60 m dari permukaan tanah. Hujan yang turun membasuh area akar (pencucian). Dalam hal ini, pencucian skala besar tidak diperlukan karena kejenuhan yang cukup dari area akar dapat mencegah pembentukan asam organik. Dengan membuat muka airtanah turun lebih dari 0,70 m dari permukaan tanah, maka tidak mungkin terjadi peningkatan kondisi asam tanah akibat oksidasi lapisan asam sulfat. Direkomendasikan untuk menggunakan metode ini untuk semua rawa (termasuk rawa yang tidak terpengaruh oleh pasang surut air laut). Padi tumbuh subur di musim kemarau. Pada dua pilihan di atas menunjukkan bahwa zat-zat beracun (toksin) akan terbawa saat proses leaching, sehingga akan mencemari air di saluran pembuangan. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pembilasan pada sistem jaringan drainase. Jika air dari saluran pembuangan juga digunakan untuk irigasi atau keperluan rumah tangga, atau bahkan untuk menyediakan air bersih, pembilasan sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

Mursaha Manan, Ir., 2002. Rancangan Sistem Drainase (Jaringan Reklamasi), Sistem Reklamasi Rawa, Saluran dan Pintu Air. Pusat Penelitian Manajemen Air dan Lahan, Lembaga Penelitian, Universitas Sriwijaya.

Lubis, Hamdani. Dkk. 2011. Perencanaan Saluran Drainase. Universitas Pasir

Haerani, Anna. Dkk. 2012. Pengelolaan Air : Kunci Keberhasilan Pertanian Rawa. http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view
=article&id=228&Itemid=5. Diakses pada 22 Maret 2018 pada pukul 20.10 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *