Dasar dan Manfaat Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Dalam kehidupan sehari hari fungsi sungai memang sangat krusial. Sungai diperlukan oleh berbagai kalangan juga dengan berbagai kepentingan juga. Namun beberapa sungai di Indonesia masih tidak dikelola dengan baik, oleh karena itu penulis akhirnya memutuskan untuk mengangkat tema ini untuk mengedukasi agar daerah aliran sungai di Indonesia dapat dikelola dengan baik.
Sebelum memasuki materi alangkah baiknya kita mengetahui arti atau pengertian DAS itu sendiri. Di dalam tulisan ini DAS memiliki arti “keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai menjadi alur pengarus utama”. Dalam pengertian lain DAS juga bisa disebut Drainage Area,drainage basin,atau River Basing. DAS dibatasi oleh garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau lahan sedikit meninggi, ini merupakan batas antara aliran satu dengan aliran tetangganya. DAS memiliki dua bagian utama yaitu daerah tadahan menyerupai membentuk daerah hulu atau kepala sungai dan daerah penyaluran air sebetulnya merupakan lanjutan dari daerah tadahan. Daerah merupakan penyaluran air pun dibagi menjadi dua , yaitu daerah tengah dan daerah hilir.
Desentralisasi Indonesia mendorong daerah untuk mengelola sumber daya alam daerahnya masing masing dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) contoh satunya pembangunan fasilitas publik. Namun, pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan Akan merusak lingkungan Sekitar satu contohnya aliran sungai menjadi tercemar. Oleh karena itu harus ADA landasan dalam pengelolaan sumber daya alam terutama DAS itu sendiri.

HAKEKAT DAS SEBAGAI LANDASAN PENGELOLAAN

Dasarnya DAS merupakan suatu satuan hidrologi. DAS menyimpan dan mendistribusikan air melewati sistem Dari hulu ke hilir, dan berakhir di danau atau laut. DAS memiliki peranan sebagai penghubung dua waduk air alam utama, yaitu atmosfir dan laut. Hal ini yang menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. Sebagai wilayah kegiatan pendauran air maka DAS adalah suatu susunan fisik yang tepat bagi penelaahan proses proses menentukan pembentukan bentang darat (landscape) khas di berbagai belahan bumi lain. Proses proses Tersebut terjadi di dalam DAS dapat dikaji berdasar penukaran bahan dan energi.Hal ini menjadi dasar kedua untuk pengelolaan DAS. Setiap DAS memiliki sifat memperluas diri, baik dengan jalan erosi mundur atau menyamping ke daerah hulu, maupun dengan jalan endapan di daerah hilir, termasuk pembentukan jalur berkelok di dataran pantai. Dilihat aspek sini, DAS merupakan suatu satuan geomorfologi bersifat sangat dinamik. Pembentukan DAS melalui proses proses fluviatil dan memperoleh corak dan cirinya paduan dua golongan proses berlawanan. Proses pertama adalah degradasi di daerah hulu dan proses kedua adalah agradasi di daerah hilir. Hasil morfogenes penting semacam ini merupakan pembentukan bentang tanah. Hal ini merupakan dasar ketiga untuk pengelolaan DAS.

ASAS-ASAS PENGELOLAAN DAS

Pengelolaan DAS sering kali merujuk kepada pengelolaan dua anasirnya picket fence penting , yaitu sumberdaya tanah dan air. Adapun anasir lain, seperti iklim, vegetasi, timbulan dan manusia, diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Jikalau adenosine deaminase sumber daya mineral penting, hal tersebut harus masuk dalam faktor pertimbangan dalam pengelolaan. Maksud pengelolaan DAS sendiri adalah mendapatkan manfaat lengkap sebaik-baiknya DAS sesuai dengan kemampuannya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ebraneka ragam dan berganti seiring waktu. Maksud “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian sepadan dan lestari. Hal-hal lain mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh tunggal yg berarti harus bermacam macam dalam jenis tersebut. (2) pengelolaan harus memiliki banyak alternatif yang cukup.
Untuk mengarahkan pengelolaan juga, diperlukan beberapa unsur pemandu. Pertama adalah variabel variabel pemutus (decision variables). Keduanya dibutuhkan adalah objective atau maksud dan tujuan. Ketiga adalah kemungkinan kendala atau constraint, memutuskan variabel variabel penggerak dalam membuat alternatif menuju ke arah maksud dan tujuan.

PELAKSANAAN PENGELOLAAN DAS

Sebelum masuk kepada pelaksanaan sebenarnya tentu kita memerlukan sebuah knowledge sebuah penelitian atau jurnal tertentu. Setelah mendapatkan knowledge knowledge kita bisa langsung masuk ke pelaksanaan DAS. Kegiatan pengelolaan DAS sendiri tidak jauh penataan guna lahan, oleh karena itu pasti adenosine deaminase keterlibatan manusia di dalamnya. Pengelolaan oleh manusia tentu dibantu dengan mesin dan teknologi, namun masalah terjadi lebih sering timbul manusia itu sendiri sebagai contoh adalah keangkuhan kepada birokrasi, tidak taat pada aturan, atau keprimitifan atau kebodohan.
Keprimitifan sendiri bisa diartikan dengan kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang pengelolaan DAS pada pembanguan sekitar aliran sungai. Kepicikan motivasi berasal dari para pengusaha tanah pemilik mempunyai modal modal atau penduduk dengan strata sosial adalah tinggi. Birokrasi sangat berbelit belit juga mempersulit kepada para pengelola memperhatikan keadaan lingkungan karena sering terhalangi oleh pengelola ketika menyelesaikan masalah menggunakan suap. Hal tersebut yang seharusnya diperhatikan oleh PEMDA setempat karena ketika pemerintah berusaha untuk menjaga kelestarian dalam pengelolaan DAS itu sendiri Akan terjadinya efek kontinuitas pada masyarakat setempat sehingga alam Akan terus terjaga. Dalam hal ini diperlukan juga penghutanan atau penghijauan di daerah hulu.
Namun manfaat ditimbulkan penghutanan daerah hulu seharusnya tidak hanya dirasakan oleh penduduk daerah hilir saja sebab dapat menimbulkan masalah karena menimbulkan kesan sebagai saingan usaha pertanian penduduk hulu. Seperti contoh penduduk berada dibawah waduk tentu mendapat manfaat agar tercegahnya banjir dan memenuhi kebutuhan air sepanjang tahun, namun pada daerah atas waduk bisa saja fasilitas waduk dimanfaatkan mengembangkan usaha perikanan dan berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan penghasilan daerah. Karena pada kenyataannya selama ini pembangunan DAS memang melibatkan teknologi (waduk atau bendungan) selalu menimbulkan kerugian atau defisit pada penduduk di atas DAS. Penduduk hulu digusur keluar lahan mereka, ditrasmigrasikan dan ruang gerak dibatasi dengan penciptaan kawasan hutan lindung atau mereka diwajibkan menjalankan usaha-usaha pengawetan tanah dan air pada setiap lahan usaha mereka, sehingga mempersempit lahan sempit pada dasarnya sudah sempit. feedback berupa diterima oleh masyarakat hulu hanyalah penyaluran listrik menuju hilir ke hulu namun hal tersebut tetap membuat penduduk di daerah hulu tetap merasa di anak tirikan. Hal ini juga merupakan satu aspek harus diperhatikan oleh pemerintah setempat. Aspirasi aspirasi setiap setiap golongan masyarakat harus dipertimbangkan juga.

Referensi

Harmiati, Aprianty, H., Supriyono, Triyanto, D., & Alexsander. (2018). Implementasi smart Enviromental Governance dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Das) Bengkulu. JIP (Jurnal  Pemerintahan) : Kajian Pemerintahan Dan Politik , 3(2), 136–148. https://doi.org/10.24905/jip.3.2.2018.136-148

Notohadi, T. (2006). PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PROGRAM PENGHIJAUAN Tejoyuwono Noto. Repro: Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada, 1–36. http://soil.blog.ugm.ac.id/files/2009/11/1981-PengelolaanDAS1.pdf

geomorfologi-pengertian-sejarah-aspek @ geograpik.blogspot.com. (n.d.). https://geograpik.blogspot.com/2020/01/geomorfologi-pengertian-sejarah-aspek.html

repository.pelitabangsa.ac.id. http://repository.pelitabangsa.ac.id:9000/xmlui/handle/123456789/863

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *