Dampak Pestisida dalam Pencemaran Tanah dan Air Tanah

Tanah merupakan hasil alam dari kombinasi mineral dan bahan organik di permukaan bumi. Peran tanah sebagai tempat hidup tumbuhan, menjadikan tanah sebagai fondasi dari ekosistem terestial (darat). Tanah adalah tempat bahan organik membusuk juga tempat elemen mineral kembali dalam siklus materi. Tanah juga menjadi habitat hewan, penyedia air, dan nutrisi bagi tumbuhan. Pembentukan tanah berawal dari pelapukan batuan dan mineral. Dalam proses pelapukan fisik, air, angin, suhu, dan tumbuhan berperan dalam menghancurkan batuan. Dalam proses pelapukan kimiawi, aktivitas organisme tanah, juga asam dan hujan yang dilepaskan oleh bahan organik tanah membantu menghancurkan mineral esensial (Hj. Tina Safaria Nilawati). Air tanah mengacu pada semua jenis air yang terletak di bawah lapisan tanah. Air tanah menyumbang sekitar 0,6% dari total air di bumi. Jika digabungkan, jumlah air tanah lebih banyak daripada air sungai dan danau, bahkan air yang terdapat di atmosfer. Air tanah bisa dikategorikan menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Biasanya, orang lebih sering menggunakan air tanah dangkal dengan membuat sumur dengan kedalaman tertentu. Kedalaman rata-rata air tanah dangkal adalah 9 sampai 15 meter di bawah permukaan tanah. (Sinta, 2017).

Pencemaran lingkungan merupakan perubahan besar pada situasi lingkungan yang dikarenakan adanya perkembangan ekonomi dan teknologi. Perubahan situasi tersebut melampaui batas ambang toleransi ekosistem, akibatnya polutan yang ada di lingkungan mengalami kenaikan jumlah. Pencemaran lingkungan dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Namun, faktor terbesarnya adalah kegiatan manusia. Secara sadar maupun tidak sadar, berbagai kegiatan manusia telah berkontribusi banyak dalam proses pencemaran lingkungan. Mulai dari pertambahan jumlah penduduk yang tak terkendali, hingga banyaknya sumber-sumber zat pencemaran yang tak mampu ternetralisasi oleh alam. Sebenarnya, secara naluriah ekosistem mempunyai kemampuan untuk melakukan pemurnian kembali bahan-bahan pencemar yang ada sehingga keseimbangan, keserasian, dan keharmonisan kehidupan tetap terjaga. Akan tetapi, jika jumlah bahan pencemar atau kandungan bahan pencemar dalam suatu lingkungan melampaui batas kemampuan ekosistem untuk memulihkan bahan pencemar tersebut, hal ini mengakibatkan adanya istilah melampaui daya dukung lingkungan. Pencemaran tanah sendiri terjadi karena adanya bahan kimia beracun dengan konsentrasi yang cukup tinggi di dalam tanah maka menimbulkan dampak gangguan kesehatan pada manusia dan keberlangsungan ekosistem. Saat suatu bahan kimia berbahaya atau beracun sudah mencemari permukaan tanah, maka bahan berbahaya tersebut dapat menguap, tersapu air hujan dan dapat masuk kembali ke dalam tanah. Zat berbahaya atau bahan pencemar yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap disana. Bahan beracun di tanah tersebut dapat berpengaruh langsung kepada manusia ketika adanya kontak fisik dengan kulit. Bahan berbahaya ini juga dapat mencemari air tanah, tanah, dan udara yang ada di atasnya. Pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian, ketidakseimbangan ekosistem di bumi, penurunan kualitas hasil pertanian juga kuantitasnya. Penyebab terjadinya pencemaran tanah ini dapat terjadi akibat proses alam ataupun kegiatan manusia.

Penyebab pencemaran tanah dan air tanah yang seringkali ditemukan di lingkungan adalah penggunaan pupuk anorganik dan organik yang mengandung nitrogen, logam berat, pestisida, limbah cair, limbah permukiman dan perkotaan. Salah satu kasus pencemaran tanah dan air tanah yang diakibatkan oleh ulah manusia adalah kasus pencemaran oleh penggunaan bahan kimia pestisida yang berlebihan. Sumber Pencemar Baur (SPB) pada tanah dan air tanah dianggap meningkat karena besarnya penggunaan bahan kimia pertanian modern, seperti pestisida. Melimpahnya bahan kimia pencemar tanah dan air tanah terpengaruhi oleh sifat kimia bahan pencemar juga sifat fisik, kimia, dan biologi tanah itu sendiri. Tercemarnya tanah dan air tanah tentunya memengaruhi kualitas tanaman yang akan di tanam nantinya, peningkatan salinitas tanah, dan penurunan kesuburan tanah. Hubungan antara bahan pencemar dan komponen tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat biofisika dan kimia komponen tanah dan bahan pencemar tersebut. Biasanya, interaksi antara bahan pencemar dan komponen tanah tidak semuanya dapat dipahami karena berkaitan dengan macam-macam reaksi fisik, kimia, dan biologi secara simultan. Umumnya, proses-proses serapan, pertukaran ion, pengendapan, ikatan komplek organik, dan alih rupa biologis berjalan secara simultan dan bukan secara individual. Kondisi lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh dalam mendominasi proses satu dengan yang lainnya.

Pestisida yang terperangkap di dalam tanah bersifat asing terhadap sistem tanah dan air tanah karena bahan aktifnya merupakan bahan kimia buatan. Sebenarnya, dalam kondisi lapangan yang baik, 90% residu pestisida tertentu dapat diserap oleh koloid tanah, sehingga menurunkan aktivitas pestisida dan risiko bahaya pencemaran tanah dan air tanah. Jika kondisi tanah jenuh air dalam waktu yang relatif lama menyebabkan tanah berada pada kondisi reduktif, maka senyawa organik kemungkinan besar akan mencemari air tanah. Peralihan senyawa organik di dalam tanah terpengaruhi oleh tiga proses utama, yaitu pelepasan senyawa organik dari bentukan padat menjadi cair, aliran masa air, dan difusi melalui air. Kelarutan senyawa juga menjadi faktor penting dalam peralihan pestisida di dalam tanah. Jumlah air yang diperlukan untuk mengalihkan senyawa organik terlarut sampai ke kedalaman tertentu bergantung pada perbandingan bahan organik dengan air sebagai pelarut.

Solusi terbaik dalam menanggulangi permasalahan pencemaran tanah dan air tanah ini adalah mengurangi sumber kontaminasi dan melakukan tata kelola yang baik dengan menerapkan prinsip tata guna lahan dan memperhitungkan jenis bahan pencemar. Ada pula metode yang bisa dipakai sebagai teknologi efektif yang murah untuk menanggulangi tanah yang tercemar pestisida, yaitu metode remediasi. Remediasi merupakan sebuah kegiatan yang berguna untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Terdapat dua jenis remediasi tanah, yaitu in situ (on-site) dan ex-situ (off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan yang dilakukan di lokasi pencemaran itu sendiri. Pembersihan ini tergolong lebih murah dan lebih mudah untuk dilakukan. Pembersihan on-site ini terdiri dari pembersihan venting atau injeksi. Pembersihan off-site dilakukan dengan menggali tanah yang tercemar kemudian tanah tersebut dibawa ke daerah yang aman. Setelah dibawa ke daerah yang terbilang aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat-zat pencemar. Prosesnya yaitu dengan menyimpan tanah tersebut di bak atau tangki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak atau tangki tersebut. Lalu bahan pencemar dipompakan agar keluar dari bak dan kemudian diolah menggunakan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit prosesnya. Metodenya lainnya adalah bioremediasi. Metode ini berguna untuk membersihkan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi ini bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar supaya menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun sama sekali (karbon dioksida dan air).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Atap. (t.thn.). Pencemaran Lingkungan: Pengertian, Contoh, Dampak dan Cara Mengatasi.

Hidup, E. L. (20 November 2017). Pengertian Pencemaran Tanah, Penyebab, Akibat dan Solusi.

Hj. Tina Safaria Nilawati, S. M. (t.thn.). Diambil kembali dari http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197303172001122-TINA_SAFARIA_NILAWATI/ekum_tanah.pdf

Islami, A. N. (2019). BIODEGRADASI PLASTIK OLEH MIKROORGANISME.

Safitri, E. (2018). PENCEMARAN TANAH AKIBAT PESTISIDA.

Sinta. (2017). PENGUKURAN POTENSI AIR TANAH DENGAN.

Subardan Rochmad, D. E. (t.thn.). Ruang Lingkup Pencemaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *