Dampak Penggunaan Batu Bara Sebagai Bahan Penghasil Listrik Bagi Lingkungan

Listrik merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Di Era Teknologi ini, tentunya peranan listrik sangat besar dalam kehidupan manusia sehari-hari sebagai energi pembangkit untuk alat-alat penunjang kehidupan manusia. Hasil penelitian menyebutkan bahwa di Indonesia, terdapat 30 juta anak dan remaja pengguna internet, yang tentunya membutuhkan listrik sebagai daya pengisi perangkat mereka. Tidak hanya perangkat komunikasi, peralatan rumah tangga juga pasti menggunakan alat-alat yang menggunakan listrik seperti contohnya lemari es, rice cooker, hingga kompor elektrik. Pada masa Pandemi ini, dapat kita lihat terjadinya lonjakan penggunaan listrik oleh masyarakat. Sehingga dapat kita katakan bahwa listrik telah menjadi kebutuhan utama manusia di era digital ini.

Batu bara merupakan bahan bakar yang berasal dari fosil yang diekstraksi melalui pertambangan. Pemilihan batu bara sebagai salah satu bahan bakar yang paling sering digunakan karena batu bara mudah dan murah. Batu bara sangat melimpah diberbagai negara khususnya di Cina, Amerika Serikat, India, Rusia, dan juga Indonesia. Dari segi ekonomi, investasi modal dalam industri batu bara juga dapat dikatakan rendah dibandingkan dengan sumber daya nuklir ataupun berbagai macam energi terbarukan yang membuat batu bara masih disegani sebagai bisnis jangka panjang. Batu bara pun lebih murah dibandingkan dengan diesel yaitu diesel memiliki harga 0,74 rupiah per kilokalori sedangkan batu bara hanya 0,09 rupiah per kilokalori. Batu bara juga dapat diubah menjadi bahan bakar yang dikonveriskan dalam wujud gas maupun cairan. Cadangan batu bara yang tersedia masih cukup banyak dibumi yang diprediksi sekitar 1 trilliun ton, yang diperkirakan masih membutuhkan 200 tahun untuk mengolah semua batu bara yang tersedia di bumi.

Pemerintah masih mengandalkan energi fosil khususnya batu bara sebagai bahan baku utama untuk penghasil listrik tenaga uap (PLTU). Didalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di tahun 2018 sampai 2027, batu bara masih diandalkan sejumlah 54,4% dan sisanya energi terbarukan 23% ditahun 2025, gas 22,2%, dan bahan bakar minyak sejumlah 0,4%. Berdasarkan anggaran PLN ditahun 2020, batu bara turun ke angka 87,7% dari sebelumnya 109 juta ton menjadi 95,6 juta ton hingga akhir tahun 2020. Di tahun 2021, PT PLN memperkirakan penggunaan batu bara sebagai bahan utama PLTU sebesar 98,01 juta ton dari sebelumnya diperkirakan 120,53 juta ton. Dan di tahun 2022, diprediksi mengkonsumsi 103,72 juta ton dari prediksi sebelumnya yaitu 128,54 juta ton. Dan tren kenaikan konsumsi batu bara akan naik ditahun 2025 hingga tahun 2029.

Alasan masih digunakannya batu bara sebagai andalan bahan bakar penghasil listrik, dikarenakan pemerintah sedang mengejar rasio elektrifikasi. Pentingnya pemerataan listrik di seluruh kawasan Indonesia. Terutama Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga dibutuhkan jaringan yang lebih banyak. Tetapi diharapkan bahwa Indonesia dapat mengembangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dikarenakan Indonesia merupakan negara tropis, yang berarti matahari bersinar sepanjang tahun.

Yang harus kita perhatikan bahwa pengolahan batu bara memiliki efek yang buruk bagi lingkungan lokal dan global. Menurut U.S Energy Information Administration, batu bara dengan kandungan karbon 74 persen dan nilai kalor sebesar 14.000 BTU akan menghasilkan polusi sekitar 204,3 pon karbon dioksida per 1 juta BTU. Hasil dari pembakaran batu bara sebagai sumber energi akan menghasilkan abu batu bara yang menciptakan radiasi yang mengendap disekitar area pabrik. Scientific American juga mengatakan bahwa pembangkit listrik batu bara menghasilkan radiasi 100 kali lebih banyak dibanding pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Batu bara menghasilkan merkuri, dinitrogen oksida, logam berat seperti besi, tembaga, dan berbagai senyawa kimia yang berbahaya bagi lingkungan. Bahkan batu bara bersih pun menghasilkan metana yang tinggi. Pada proses pengolahan batu bara, dapat menyebabkan berbagai macam penyakit saluran pernafasan dimulai dari asma, radang saluran pernafasan, hingga efek jangka panjang yang menyebabkan kanker paru-paru. Kebanyakan dari tambang batu bara menggunakan metode cor terbuka yang mengakibatkan kehancuran alam sekitarnya. Batu bara juga merupakan salah satu sumber daya yang tidak terbarukan.

Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau penghasil batu bara terbesar di Indonesia, khususnya di wilayah Samarinda. Lebih dari 70 persen wilayah Ibu Kota Kalimantan Timur ini merupakan kawasan pertambangan. Kapal – kapal pembawa batu bara yang melintasi sungai Mahakam kerap membuat pencemaran sungai. Dilihat dari atas, kerap ditemui bercak hitam dikarenakan kapal-kapal tersebut melintas. Kerusakan hutan yang dikarenakan pembukaan tambang juga berimbas di kota Samarinda di tahun 2013 yang menyebabkan seringnya banjir disaat musim hujan. Menurut Lembaga perlindungan alam liar WWF, pulau Kalimantan telah kehilangan setengah dari hutannya. Kebanyakan dari perusahaan pertambangan batu bara hanya meninggalkan ekosistem yang telah rusak apabila telah habis batu bara yang terdapat pada lahan tersebut.

Terdapat beberapa cara untuk menghindari kerusakan alam yang diakibatkan dari batu bara sebagai bahan utama penghasil listrik. Pemerintah dapat mengalihkan dari penggunaan PLTU beralih ke pembangkit listrik energi terbarukan. Ada beberapa Pembangkit listrik alternatif yang dapat menggantikan penggunaan batu bara yaitu pembangkit listrik tenaga air, dikarenakan banyaknya aliran air di Indonesia. Pembangkit listrik tenaga surya juga dapat dijadikan alternatif dikarenakan Indonesia merupakan negara tropis dan juga dapat ditaruh dimanapun yang terjangkau paparan sinar matahari. Bahkan sudah ditemui beberapa rumah tangga yang menggunakan panel surya sebagai salah satu sumber pembangkit listrik untuk rumahnya. Indonesia juga merupakan negara yang terletak di jalur rangakaian gunung berapi yang seharusnya kita dapat memaksimalkan geothermal sebagai salah satu pembangkit listrik yang memanfaatkan panas bumi. Didaerah pesisir pantai atau pun di kepulauan, dapat juga digunakan pembangkit listrik tenaga angin dikarenakan daerah pesisir merupakan daerah yang dikenal dengan angin yang bertiup kencang.

Tetapi apabila tetap dibutuhkannya batu bara sebagai bahan penghasil listrik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dari segi penambang. Pertama melakukan penanaman kembali lahan yang telah dipergunakan dengan vegetasi, yang dapat mengembalikan ekosistem secara cepat. Kedua pembuatan terasering pada lahan yang rusak untuk mencegah erosi. Ketiga menggunakan lahan tersebut sebagai lahan perkebunan sehingga diharapkan memiliki fungsi ganda. Sedangkan disisi pengolah batu bara untuk pembangkit listrik, diharuskan menggunakan teknologi penangkap dan penyimpan karbon untuk mengurangi potensi emisi yang disebut CCS. Teknologi ini akan menangkap dan menyimpan karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran batu bara. Scrubber dan filter juga dapat menangkap karbon dioksida sehingga tidak mencapai atmosfer yang akan membatasi jumlah pemanasan global yang dihasilkan dari penggunaan batu bara.

Referensi

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200915/44/1291910/pln-kebutuhan-batu-bara-pltu-tahun-ini-bakal-turun-signifikan

Manfaat Batu Bara dan Kerugian Penggunaannya

https://katadata.co.id/arnold/berita/5e9a559753534/kementerian-esdm-ungkap-alasan-masih-andalkan-batu-bara

https://www.voaindonesia.com/a/eksploitasi-batu-bara-rusak-kalimantan/1803156.html

https://infostudikimia.blogspot.com/2016/11/pencemaran-lingkungan-akibat.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *