Analisis Budidaya dan Potensi Bisnis Jahe secara Vertikultur di Jawa Barat

Luas lahan pertanian merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas suatu komoditas agroindustri. Saat ini, lahan pertanian di Jawa Barat mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian.  Hal tersebut dapat dilihat dari penurunan hasil panen pertanian salah satunya yaitu pada komoditas jahe. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2019), luas panen  komoditas jahe di Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 350,98 hektar dari tahun 2017 yaitu 15. 872. 929 m2  menjadi 10.849.087 m2 pada tahun 2018. Sedangkan provinsi Jawa Barat merupakan sentra tanaman jahe dan apabila hal ini dibiarkan akan berdampak pada penurunan produktivitas jahe. Kementrian pertanian (2018) menyebutkan bahwa tingkat permintaan jahe meningkat dari tahun 2016 sampai 2018 baik dari industri pangan ataupun industri farmasi. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan hasil panen dan permintaan pasar jahe yaitu penerapan metode vertikultur. Sistem budidaya pertanian secara vertikultur merupakan konsep penghijauan di lahan terbatas yang dirancang secara vertikal atau bertingkat dan bisa diterapkan baik indoor ataupun outdoor (Jatnika, 2010).

Read More …

Teknologi Vertikultur sebagai Efisiensi Lahan dan Budidaya Sayuran di Daerah Perkotaan

Wilayah yang memiliki kegitan utama bukan pertanian melainkan sebagai tempat perumahan di perkotaan, pemusatan, distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayananan sosial, serta kegiatan ekonomi lainnya hal tersebut biasa kita kenal dengan daerah perkotaan.

Vertikultur sebagai teknik budidaya tanaman dilakukan dengan cara bertingkat atau ke atas diterapkan secara indoor maupun outdoor. Vertikultur biasanya digunakan menggunakan model atau tempat tertentu untuk penanamannya tergantung bagaimana keadaan tempat dan kemampuan setiap orang yang menggunakannya.

Negara-negara yang beriklim tropis misalnya Indonesia sudah memulai menggunakan model bercocok tanam vertikultur ini, dikarenakan hal ini dapat membantu kebutuhan pangan masyarakat yang saat ini sedang meningkat tetapi lahan tanam yang ada makin sempit atau menurun. Selain itu teknik model vertikultur ini dapat digunakan untuk dekorasi taman maupun di kota yang berisi gedung-gedung kaca.

Read More …

Vertical Farming untuk Optimalisasi Microgreens

Microgreens hadir sebagai salah satu komoditas dengan demand dan daya saing pasar yang cukup tinggi selama beberapa dekade terakhir. Microgreens dianggap sebagai solusi dari isu global kemanan pangan dan lingkungan Hal ini menjadikan microgreens sebagai harapan pengembangan agroindustri ke depannya. Potensi ini dapat dioptimalkan melalui evaluasi lapangan dan analisis pengembangan. Beberapa parameter yang dijadikan acuan, yaitu kondisi lingkungan selama budidaya (media, tingkat pencahayaan, nutrien), metode budidaya, dan penanganan pascapanen. Analisis ini dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu karakteristik Microgreens. Microgreens adalah tanaman muda yang dipanen sebelum masa kematangannya (usia tanaman 14-21 hari atau 7-14 hari setelah benih disemai). Microgreens meliputi tanaman sayuran, herbs, dan biji-bijian, seperti lobak merah, bayam, basil, chia, timun, serai, wasabi, savoy, pak choi, wortel, bawang-bawangan, kol, kembang kol, ketumbar, fennel, arugula, bunga matahari, bit, kailan, brokoli, dan lain-lain. Microgreens memiliki karakteristiktik berupa cita rasa yang kuat, warna kontras, dan tekstur yang lembut. Oleh karena itu, microgreens umum digunakan untuk menonjolkan karakter suatu produk. Selain itu, microgreens tinggi akan fitonutrien dan mikronutrien (vitamin). Microgreens memiliki 30-40% nutrisi lebih tinggi daripada tanaman yang matang sempurna. Karakteristik microgreens dapat menjawab seruan pangan organik tinggi nutrisi, pola hidup sehat, dan non-GMO product yang cukup menarik perhatian masyarakat. Selain itu, kondisi saat ini juga menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan pangan sehat global. Menanggapi isu ini, microgreens dapat menjadi salah satu solusi karena microgreens kaya akan nutrisi dan dapat dipanen dalam waktu yang singkat. Namun, microgreens umumnya baru diproduksi untuk kebutuhan domestik, padahal microgreens sangat prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut.

Read More …

Mendesain Sistem Urban Farming Berkelanjutan di Negara Tropis

Berdasarkan laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO, 2018), produksi pangan menghadapi tantangan global yang serius. Beberapa tantangan tersebut dintaranya adalah; 1) peningkatan kebutuhan pangan akibat kenaikan angka populasi manusia, pendapatan, dan urbanisasi, 2) keterbatasan dan pengurangan jumlah dan kualitas sumber daya lahan dan air untuk proses produksi pangan, dan 3) minimnya investasi pada sektor pertanian berkelanjutan. Berdasarkan laporan tersebut dapat dipahami bahwa permasalahan ini tidak hanya membutuhkan kepastian ketersediaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, namun hal ini menuntut adanya lapangan pekerjaan baru, peningkatan efisiensi rantai pasok, daur ulang sampah perkotaan, peluasan ruang terbuka hijau, dan peningkatan ketahanan kota untuk menghadapi perubahan iklim (FAO, 2020).

Read More …