Penggunaan Ampas Kopi dan Ampas Teh dengan Media Hidroponik

Sebagian orang khususnya yang tinggal di Indonesia menganggap bahwa ampas kopi dan ampas teh merupakan suatu limbah rumah tangga ataupun industri dalam bidang kuliner yang kedepannya sudah tidak dapat dipergunakan kembali. Sehingga, masyarakat pada umumnya langsung membuangnya tanpa berpikir apakah bisa dipergunakan kembali. Akan tetapi, jika diproses kembali dengan metode yang tepat, ampas kopi dan ampas teh tersebut dapat dimanfaatkan kembali dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai nilai. Salah satu metode pemanfaatan ampas kopi dan ampas teh tersebut adalah dengan menggunakan hidroponik.

Read More …

Pemanfaatan Sampah Pasar

Sampah merupakan permasalahan yang masih belum dapat diselesaikan di Indonesia, ditambah semakin banyak pertumbuhan penduduk maka semakin meningkat pula jumlah sampah terutama sampah organik. Sampah dianggap sebagai bahan buangan yang tidak berguna lagi, dan memerlukan pengelolaan lanjutan agar tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat (Tchobanoglous, 1993). Salah satu penyumbang terbesar sampah adalah pasar, pada dasarnya sampah yang berasal dari pasar ini meniliki jenis yang relatif seragam dimana ±95% merupakan sampah organik. Pada tahun 2015 MDGs (Millenium Development Goals) tingkat pelayanan persampahan ditargetkan mencapai 80%, namun di Indonesia sendiri menurut BPS sekitar 41,28% sampah dibuang ke TPA, 35,59% dibakar, dibuang kesungai 14,01%, dikubur 7,79%, dan hanya 1,15% yang diolah menjadi kompos (Rahayu, 2013).

Read More …

Pemanfaatan Limbah Pisang Untuk Pembuatan Kompos Menggunakan Komposter Rotary Drum

Pisang (Musa paradisiaca L.) merupakan salah satu tanaman buah-buahan yang tumbuh dan tersebar di seluruh Indonesia. Negara Indonesia merupakan penghasil komoditi pisang terbesar di Asia. Pisang dibagi kedalam 3 golongan yaitu pisang yang dapat dikonsumsi, pisang yang diambil pelepah batangnya untuk serat dan pisang yang dijadikan sebagai tanaman hias. Pisang yang dapat dikonsumsi ada 2 kelompok, yaitu pisang yang bisa dikonsumsi secara langsung sebagai buah segar dan pisang yang perlu diolah. Pisang dapat dibuat menjadi pisang molen, keripik pisang, sale, tepung pisang dan sebagainya. Kabupaten Sumedang merupakan kabupaten penghasil sale pisang yang cukup besar. Jumlah industri sale pisang di Kabupaten Sumedang adalah sebanyak 20 unit industri dan memiliki kapasitas produksinya yang dimulai dari 500 kg sampai 2 ton bahan baku/proses. Proses pengolahan pisang itu sendiri dapat menghasilkan limbah padat berupa kulit pisang dan bonggol pisang sebanyak 38,45 % atau 192 – 769 kg/proses. Limbah dari pisang masih dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk yang berguna dan memberi nilai tambah yang cukup tinggi, seperti minuman anggur, nata de banana, pectin, keripik, bahan baku kue dan sebagai bahan baku dari pembuatan kompos, karena kulit pisang mempunyai nilai gizi yang cukup baik karena kandungan karbohidrat, protein, energy, memiliki kandungan vitamin (C dan B), dan kalsium. Keuntungan dari penggunaan kembali limbah organik untuk pengomposan antara lain adalah pengomposan berpotensi dalam mengurangi pencemaran lingkungan yang akan terjadi dan meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan. Aplikasi kompos pada lahan pertanian dapat mengurangi pencemaran karena berkurangnya kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.

Read More …

Pemanfaatan Limbah Sampah Domestik Organik Skala Rumah Tangga Untuk menjadi Pupuk Kompos

Limbah adalah sisa dari produk yang sudah tidak terpakai atau produk buangan yang sudah tidak dapat dipakai dari suatu proses produksi baik dari domestic (rumah tangga) maupun dari industry-industri limbah organik juga merupakah sisa-sisa dari produk yang besifat dapat diuraikan yang sebagian besar limbah ini berasal dari sisa produk hasil pertanian. Sampah merupakan permasalahan yang harus diselesaikan karena memiliki dampak negative yang sangat vital. Seiring berjalannya waktu manusia dengan sadar membuang sampah sembarangan, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi dimasa yang akan dating. Padahal, dampak dari membuang sampah sembarangan untuk sampah non organik seperti plastic, dan sifat sampah yang susah mengurai dapat menyebabkan banjir, dan untuk sampah organik dapat mengganggu kesehatan manusia terutama sistem pernafasan dan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat menghasilkan cairan yang tidak sedap yang dapat mencemari air pada tanah.

Read More …

Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos

Dewasa ini, banyak orang berpikiran bahwa membuang sampah organik ke tempat sampah merupakan hal yang baik karena sampah akan terurai dengan sendirinya sehingga tidak membahayakan bumi, nyatanya hal ini justru menimbulkan dampak negatif yang akan merusak lingkungan. Sampah-sampah organik yang berakhir di TPA  nantinya hanya akan bertumpukan dengan sampah-sampah lainnya, kemudian sampah tersebut akan terurai tanpa oksigen (anaerob). Proses penguraian anaerob tersebut akan menghasilkan gas metana yang berbahaya untuk bumi, dimana gas metana ini dapat menimbulkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Menurut riset dari Princenton University, gas metana memiliki bahaya 30 kali lipat dibandingkan dengan karbon dioksida. Mengompos sampah-sampah organik menjadi pupuk merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah organik agar tidak berakhir di TPA, dengan mengompos kita dapat membantu mencegah dan mengurangi pembuangan sampah ke TPA yang berpotensi menghasilkan gas metana. Selain itu, mengompos juga dapat memberikan efek positif untuk lingkungan serta memberikan nutrisi bagi tanah.

Read More …

Pengolahan Sampah Organik Daun dan Sisa Makanan Menggunakan Compost Solid Phase Microbial Fuel Cells (CSMFCs)

Sampah merupakan bentuk padat dari sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam. Sumber sampah dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu sampah domestic merupakan sampah yang berasal dari pemukiman atau sampah dari non-pemukiman seperti sampah dari pasar, sampah dari daerah komersial dan sebagainya. Sampah yang berasal bukan dari sampah atau limbah rumah tangga, melainkan limbah yang berasal dari proses industry disebut dengan sampah non domestik (Damanhuri,2010).

Read More …

Pengelolaan Limbah Organik Rumah Tangga Menggunakan Kombinasi Aktivator EM4 Dan Mol

Perubahan pola konsumsi masyarakat dan peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat dapat menghasilkan dampak dari jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan. Sampah merupakan zat-zat atau benda dalam wujud cair maupun padat yang dihasilkan dari berbagai kegiatan yang dilakukan manusia. Sampah dibagi menjadi dua yaitu sampah organic (dapat terurai) dan sampan non-organik (tidak dapat terurai). Berbagai usaha dilakukan untuk pengelolaan sampah dimasyarakat, diantaranya melakukan pembakaran sampah, membuang sampah ke sungai, atau dikumpulkan ditempat sampah terdekat yang kemudian akan diangkut oleh petugas ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Usaha tersebut dilakukan berdasarkan nilai ke praktisan karena sampah hanya akan hilang dari pandangan mata yang sebenarnya hanya akan menyelesaikan masalah sementara atau satu item dari sistem pengelolaan sampah. Tumpukan sampah yang menggunung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) akan berdampak pada degradasi kebersihan lingkungan karena mengeluarkan gas metan yang menyebabkan global warming.

Read More …

Komposting sampah sisa makanan dan daun dengan metode Rotary Drum Composter

Seiring dengan perkembangan zaman, limbah menjadi permasalah utama yang tak luput diperhatikan oleh manusia. Limbah merupakan hasil sisa dari suatu kegiatan atau proses produksi yang tidak dapat digunakan dan tidak memiliki nilai guna serta berbagai macam kerugian lainnya. Oleh karena itu diperlukan adanya penanganan permasalah limbah dilingkungan sekitar kita.  Penerapan teknologi yang tepat guna untuk mengatasi permasalahan limbah padat yaitu dengan menggunakan teknologi daur ulang limbah padat menjadi kompos yang memiliki nilai guna kembali, ramah lingkungan, serta bermanfaat bagi tanaman. Menurut Sugiharto (1987) berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: limbah cair, limbah padat, limbah gas/partikel, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Menurut Effendi (2003) air limbah secara umum terdiri dari 99,9% komponen air dan 0,1% bahan padatan (Effendi, 2003). Pada bahan padatan, 70% berupa bahan organik dan 30% berupa bahan anorganik. Memisahkan sampah organik dan anorganik merupakan suatu langkah awal yang dapat dilakukan untuk mempermudah pengolahan limbah itu sendiri.

Read More …

Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos Cair Dengan Menggunakan Komposter Sederhana – Pemanfaatan Sampah Organik

Pupuk Kompos

Pupuk kompos merupakan hasil penguraian sebagian dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara buatan oleh populasi dari berbagai macam mikroba didalam kondisi lingkungan yang memiliki suhu cukup tinggi, lembab , dan aerobik atau anaerobik. Selain itu, proses pengomposan itu merupakan sebuah proses dimana bahan organik yang mengalami penguraian secara biologis yang dilakukan oleh mikroba yang mengambil sumber energi mereka dari bahan organik . Proses Pembuatan kompos itu sendiri yaitu dengan mengkontrol proses alami dari proses pengkomposan agar kompos dapat terbentuk dengan cepat. Proses dari pengkomposan ini meliputi pembuatan campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang memadai, pemberian sirkulasi udara, dan penambahan aktivator pengomposan (Isroi, 2006).

Read More …