Budidaya Tanaman dengan Metode Hidroponik untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan Masyarakat

Pernahkah kita mendengar kalimat “membanting tulang demi sesuap nasi” atau kalimat sejenisnya? Kalimat tersebut sangat menggambarkan kehidupan manusia yang sebenarnya. Tak bisa kita pungkiri jika diluar sana banyak orang yang bekerja mati-matian hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Hal itu tidak sepenuhnya salah karena kebutuhan manusia yang utama diantaranya adalah kebutuhan pangan.

Seringkali manusia melakukan segala cara untuk bisa menikmati sesuap nasi. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, dimana segala aspek kehidupan seperti ekonomi menurun drastis. Banyak para pekerja dan karyawan yang di-PHK dari pekerjaannya. Hal itu tentu sangat berdampak terhadap kebutuhan pangan karena banyak dari mereka yang tidak memiliki cukup uang sehingga kesulitan untuk membeli bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Banyak manusia yang tidak bisa bertahan melawan kejamnya waktu, kian hari perut mereka malah membawanya ke dunia kegelapan. Kriminalitas meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Akal pikiran sudah tidak bisa mereka kendalikan lagi. Apapun akan mereka lakukan demi bisa mengisi perut mereka entah itu dengan cara yang halal atau dengan cara yang haram. Selain itu, anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar yang membatasi kegiatan manusia untuk berinteraksi secara langsung sehingga segala sesuatu harus dilakukan dari rumah atau yang sering disebut sebagai work from home (WFH) membuat kondisi psikologis beberapa orang terganggu. Banyak orang yang sudah bosan hanya berdiam diri saja di rumahnya masing-masing, terutama bagi mereka yang memiliki jiwa petualang.

Meski demikian, tidak semua manusia berubah ke arah yang salah. Banyak dari mereka yang melakukan inovasi untuk bertahan hidup ditengah pandemi ini. Contoh kecilnya adalah mereka yang menghabiskan waktu di rumahnya untuk bercocok tanam. Seiring berkembangnya zaman, manusia bisa memanfaatkan lahan sempit sebagai tempat untuk bercocok tanam atau yang sering kita sebut sebagai Urban Farming. Contoh dari Urban Farming yang sering kita dengar adalah budidaya tanaman dengan metode Hidroponik.

Definisi dari Hidroponik adalah suatu usaha untuk bercocok tanam atau budidaya menggunakan media air tanpa tanah dengan tetap mempertahankan kandungan nutrisi yang terdapat pada tumbuhan tersebut. Sesuai dengan namanya yang diambil dari Bahasa Yunani yakni Hydro yang memiliki arti air dan Ponos yang berarti daya atau kerja. Selain itu, metode bercocok tanam secara hidroponik ini dikenal juga sebagai soilless culture atau yang berarti budidaya tanaman tanpa tanah. Itu sebabnya dalam budidaya secara hidroponik pemanfaatan air untuk menunjang pertumbuhan dan kebutuhan nutrisi tanaman sangat maksimal. Biasanya jenis tanaman yang ditanam merupakan tanaman sayuran dan tumbuhan kecil lainnya.

Ada beberapa teknik dalam budidaya dengan metode hidroponik yang bisa kita lakukan. Dalam laman web liputan6.com, dijelaskan jika ada 7 macam sistem yang bisa digunakan dalam metode hidroponik. Macam-macam sistem yang dimaksud diantaranya adalah Nutrient Film Technique (NFT), Deep Flow Technique (DFT), Hidroponik Drip atau hidroponik tetes, hidroponik pasang surut atau EBB and flow, hidroponik kultur air atau water culture system, sistem sumbu, dan aeroponik. Namun tidak semua sistem cocok digunakan bagi mereka yang hendak menjadikan kegiatan budidaya secara hidroponik ini untuk memenuhi kebutuhan pangan. Berikut penjelasannya.

  1. Hidroponik dengan Sistem Nutrient Film Technique (NFT)

Hidroponik dengan sistem ini bisa dibilang cukup sederhana. Secara sederhana konsepnya yaitu memompa nutrisi dari tempat penampungan dan dialirkan melalui saluran yang diberi lubang untuk tempat tumbuhan yang ditanam sehingga tanaman akan mendapat nutrisi dari cairan nutrisi yang mengalir tersebut melalui akarnya. Pada sistem ini nutrisi yang mengalir pada saluran tidak dalam atau bisa dibilang dangkal, sehingga akar tanaman tidak sampai tenggelam. Sistem ini memang terkesan mudah, namun dalam aplikasinya diperlukan pompa dan saluran seperti paralon sehingga sistem ini kurang cocok bagi mereka yang ingin budidaya hidroponik dengan harga rendah.

  1. Hidroponik dengan Sistem Deep Flow Technique (DFT)

Konsep dari sistem ini mirip seperti sistem NFT, bedanya hanya pada bagian nutrisi yang mengalir. Jika pada sistem NFT nutrisi yang dialirkan pada saluran dangkal, maka pada sistem DFT nutrisi yang mengalir cukup dalam. Tingginya kurang lebih 4 cm, sehingga akar tanaman bisa tenggelam. Namun dalam sistem ini terdapat kekurangan, yaitu kurang meratanya nutrisi yang didapatkan oleh tanaman karena tanaman yang paling dekat dengan sumber aliran akan menyerap lebih banyak nutrisi dan tanaman lainnya hanya mendapat sisanya.

  1. Hidroponik Drip atau Hidroponik Tetes

Sesuai dengan namanya, konsep dari sistem ini adalah memompa nutrisi dari sebuah wadah melalui pipa atau tabung ke pangkal tanaman, kemudian menetes hingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

  1. Hidroponik Pasang Surut atau Hidroponik EBB and Flow

Sesuai dengan namanya pada dasarnya konsep dari sistem ini membuat air naik (pasang) dan turun (surut). Pada sistem ini digunakan sirkulasi dimana penggunaan air digunakan secara berulang, namun penggunaan pompa tidak bekerja secara terus-menerus. Itu sebabnya sistem ini tidak semahal sistem NFT. Meski demikian, sistem ini terbilang cukup sulit untuk dilakukan karena perlu adanya pengalaman dan pengetahuan yang lebih dalam tentang fluida dan hidroponik.

  1. Hidroponik Kultur Air atau Water Culture System

Sistem hidroponik kultur air ini terbilang sederhana karena konsepnya adalah menaruh tanaman di net pot pada lubang styrofoam diatas wadah yang diberi cairan nutrisi. Namun karena akar berada di dalam air, diperlukan oksigen terlarut agar akar tetap bisa bernafas. Maka dalam hal ini diperlukan aerator untuk memberikan oksigen terlarut.

  1. Sistem Sumbu atau Wick

Sistem ini paling cocok diterapkan bagi mereka yang hendak mencoba budidaya hidroponik pertama kali karena sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana karena dalam pembuatannya bisa digunakan barang bekas seperti botol atau sejenisnya. Sesuai namanya sistem sumbu menggunakan sumbu untuk menyerap nutrisi. Sumbu yang dimaksud biasanya menggunakan kain flanel, tali fibrosa, sumbu obor tiki, tali rayon atau mop helai kepala, benang poliuretan dikepang, atau tali wol.

  1. Sistem Aeroponik.

Sistem ini bukanlah yang termudah untuk budidaya hidroponik, namun sistem ini memiliki konsep yang sederhana. Sistem ini membuat tanaman ditangguhkan di udara dan disemprotkan larutan nutrisi pada akarnya.

Kesimpulannya, kebutuhan pangan merupakan kebutuhan utama manusia yang harus dipenuhi terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini. Salah satu cara yang bisa menjadi solusi masalah tersebut adalah dengan Urban Farming metode Hidroponik dengan sistem sumbu atau wick, dimana bahan yang digunakan bisa menggunakan barang bekas yang terbilang mudah.

 

Referensi: https://hot.liputan6.com/macam-macam-hidroponik-untuk-berkebun-mudah-untuk-pemula

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *